Hening..Sepi…
Duduk bersimpuh di tempat ini memang benar-benar memilukan. Perasaan sesak terus saja menggelayuti batinku. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku berdiam di tempat ini. Membatin, merutuki, dan menyalahkan dengan apa yang sudah terjadi. Berkali-kali hatiku mendesah. perasaan itu sungguh menyayat hati. Sedih. Sendu. Sesak. Entah, aku ini sekarang seperti apa ? mungkin, penampilan ku terlihat tak waras.
Sudah beratus-ratus waktu aku lewati dengan sesal. Dan selalu sendiri. Aku sadar, aku hanya gadis lemah tanpa ada yang mau menopang dan menemani diriku lagi. Aku tersudutkan dari dunia luar. Tapi aku tak pernah sedikit pun peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Aku hanya berharap, sebuah keajaiban akan datang. Menghampiriku, saat ini juga.
Memori masa lalu ku 4 tahun lalu, terus berputar. Tak pernah berhenti meracuni ruang kosong di dalam otakku. Sudah kali keberapa aku coba menepisnya. Namun,rasanya aku tak pernah bisa. Dan saat ini, ingatan itu kembali bergema. Menusuk-nusuk dahi ku, yang di sana ada sedikit bekas luka.
Mataku tertutup. Mencoba menghalau pikiran yang berpusar itu. Hatiku melantunkan sebait doa. Agar aku, bisa menghunus dan mengklarifikasikan memori itu menjadi potongan-potongan tak berdaya. Namun, aku tetap tak bisa.
***
Taman komplek tempat tinggal ku memang sangat indah. Aku menyukai tempat ini. Berkeliling dengan menggunakan sepeda baru, yang kemarin di belikan ayah. Aku tersenyum ramah kepada semua orang yang melihatku.
Angin sepoi di sore hari, menyibakkan rambutku yang tergerai halus. Hingga helai-helai itu berkibar elok tanpa ku pinta. Mataku berkeliling menatap satu persatu orang yang sedang nampak asik juga di taman ini. Tapi, ada yang ganjil rasanya, di sana. Di sebuah bangku kecil,terpencil dari taman. Di dekat pepohonan, seorang gadis bertopi abu tengah terduduk dengan tatapan sendu. Ia terlihat tengah mendekap sesuatu di tangannya. Aku mencoba menghampirinya,perlahan, lalu ku sapa dia dengan lembut.
“Hai,” kataku ramah dan mendudukkan diri di sampingnya. Dia menoleh, wajahnya datar. Gadis ini, aku rasa umurnya sebaya denganku. Mungkin sekitar 10 tahun. Rambutnya diikat asal. Dan seperti tadi ku bilang, dia mengenakan topi abu.
“eh, kenapa ?” tanyaku. Desahan kecil terdengar dari sela-sela nafasnya
“kamu anak orang kaya kan? Kamu mau apa dekat-dekat saya?” bahasa yang ia gunakan sangat formal. Aku berkedut heran. “Golongan macam kamu itu punya hati yang benar-benar busuk.” Jawabnya dingin sembari melirikku sinis.
“Kenapa kamu di sini? Nggak main kayak yang lain?” tanyaku mengabaikan ucapannya barusan. Dia mengacuhkan ucapanku
“Kamu kenapa sih?” Dia masih terdiam.
“Aku kesepian. Sudah berapa tahun. Terlantar dalam dunia yang begitu kejam.” Ucapnya lirih. “Aku selalu iri dengan anak-anak yang gemar bermain di taman ini. Hh..taman yang indah jika ada teman untuk bersanding.” Entah mengapa, aku menggeser dudukku. Dan aku memeluknya. Membimbingnya dalam dekapanku.
“Kamu yang sabar ya. Di dunia ini, Tuhan telah menyusun beragam macam kehidupan untuk manusia. Dan pasti, ada sisi positive juga negatif didalamnya.” Kataku dalam dekapannya. “Nama kamu siapa?” tanyaku setelah menghapus air matanya.
“Tyas..kamu?”
“Nadia. Biasa dipanggil nanad. Hehe. Lucu kan? Kesannya imut-imut gitu.” Dia terkekeh mendengar ucapanku.
“Eh, kamu mau jual koran koran itu ya? Aku bantu yuk!” dia mendelik ke arahku, setelah melihat aku yang memohon kepadanya, akhirnya dia mengiyakan ajakan ku itu.
***
“Koran..koran..” teriakku cempreng. Begini lah suaraku. Hehe. Tyas hanya tersenyum melihat perlakuan ku yang seperti itu. Ini baru pertama kali dalam hidupku berjualan koran.
Sudah berkali-kali Tyas melempar koran-koran ke rumah-rumah yang kami lewati. Aku tak mengerti apa maksudnya itu? Aku pun jelas ingin mencobanya. Mencoba hal baru yang belum pernah aku coba.
“Nah, rumah ini,aku yang lempar koran ya.” Kataku memohon kepadanya. “Yakin, nad?” aku mengangguk mantap. Ini saat-saat yang mendebarkan. Ah..apa sih aku ini? Berlebihan sekali. Tapi, ini hal yang mengasyikan sepertinya.
Aku bersiap melemparkan koran itu ke dalam rumah yang kini berada di depan mata kami. Rumah megah. Indah. Luas. Rumah yang pagarnya bercat putih pucat dan menjulang. Aku malah jadi sangsi ingin melemparkannya. “Nad, ayo cepet!” perintah Tyas membuyarkan lamunanku. Dengan mengucapkan sebait doa, koran itu pun aku lemparkan dengan mulus. Aku menyeringai.
“Hebat kan. Nanad gitu!!” tak berapa lama kemudian, kepuasaan ku memudar kala aku mendengar suara yang sudah tak asing lagi.
“GOOGG. GOGOGGG..” gonggongan anjing membuat wajahku pucat. Aku berhenti tersenyum. Tyas pun nampaknya menyadari apa yang tengah dan akan terjadi. Sepertinya, lemparanku mengenai anjing pemilik rumah besar itu. Tyas sudah bersiap mengayuh sepedanya.
“Lariiiiiiii….” Komando Tyas dan mengayuh kencang sepedanya. Aku belum terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Aku malah diam tak bergeming. Ini baru pertama kalinya dalam hidupku, aku berada dalam situasi membahayakan. Biasanya, ayah selalu ada, untuk menolongku. Tapi, sekarang siapa? Ayah mungkin lagi sibuk di kantornya, aku hanya sendiri di sini. Tuhan, tamatkah riwayatku? Tyas meninggalkanku jauh. Mungkin dia tak sadar, kalau aku belum pernah melewati tempat ini. Sekali pun aku harus berlari, ini sudah terlanjur. Otakku terasa macet. Tak mengerti apa yang tengah berlangsung.
Gonggongan anjing yang terdengar lebih keras dan lebih dekat kali ini, menyadarkan lamunanku. Aku tahu, situasi ku dalam keadaan bahaya yang kentara. Namun, kenapa rasanya susah sekali bagiku untuk mengayuh sepeda ini. Dan setelah anjing itu hampir mendekat, bodohnya aku malah meninggalkan sepedaku dan berlari sekencang mungkin. Aku tak berpikir panjang. aku merutuki perbuatanku. Jelas saja berlari lebih sulit dibandingkan mengayuh sepeda. Kenapa aku harus berlari. Ini membuang waktu saja. Dan ini tentunya mempersilahkan maut lebih dulu menjemputku. Aku berdiri. Di balik sebuah pohon besar tak jauh dari sana. Aku berusaha menyembunyikan diri. Beberapa menit, gonggongannya sudah tak terdengar lagi. Sama sekali tak terdengar. Aku menghela nafas lega.
“Lain kali, kayuh sepedanya. Bukan ditinggalin.” Sapa suara dingin yang tiba-tiba berdesir di telingaku. Aku membalikkan tubuhku, dan terperanjat. Melihat siapa yang ada dihadapanku. Aku bersiap untuk melarikan diri kembali. Aku takut, laki-laki ini akan berbuat sesuatu kepadaku. Aku teringat perkataan ayah. ‘Jangan mudah percaya pada seseorang yang tiba-tiba saja mengajakmu bicara. Apa lagi laki-laki’. Ah bodoh sekali! Dia kan masih cukup belia. Sama seperti ku. Mana mungkin, dia mau berbuat jahat kepadaku. aku Mendelik sosoknya. Memperhatikannya dari atas sampai bawah. Pakaiaannya terlihat berkualitas tinggi, namun, dia memakai baju yang asal-asalan. Rambutnya mencuat ke atas dan berantakkan. Dia nampak tak peduli.
“Kamu bukan penculik, kan?” tanyaku dengan hati-hati, dan terkesan sangat bodoh sekali. Dia terkekeh, menertawakanku, namun senyumannya tampak mengejekku. Aku jelas tersinggung. Aku merubah air mukaku, seperti menantang padanya. “Lucu,ya?” tanyaku tak kalah dingin dengannya. Dia kembali mendelik.
“Biasa aja kali. Nih sepeda lo. Lain kali, jangan ditinggal. Kalau ada anjing lagi, jangan kaya gitu. Sorry, tadi anjingnya bikin lo takut. Fluffy emang gitu. Dia sensitive banget.” Datar dan dingin. Ekspresi itu sama sekali tak kunjung berubah semenjak tadi. Aahh..ternyata itu anjingnya? Anjing yang udah bikin aku ketar-ketir setengah mati. Anjing yang ngejengkelin dan menjadi momen ‘jualan koran’ ku ancur? Pantes aja anjingnya nyebelin. Turunan dari pemiliknya kali ya. Haha.
“Eh, ngapain lo senyam-senyum? Stress lo?” katanya. Aku langsung terdiam. Mendengus kecil. “Nama lo siapa?”.
“Nadia Natural Aurora Saputri.” Jawabku seadanya.
“Lo anak komplek mana?”
“Hallows.”.
“Berani juga lo main jauh-jauh. Ngapain lo disini?”
“Jualan koran.”
“wih hebat deh lo. Baru tau gue anak rumahan macem lo, bisa jualan juga.” Huh! Bodo amat deh. Emangnya aku peduli? Aku mencoba menetralisir emosi ku yang mulai memuncak. Dengan satu tarikan nafas, aku buang perasaan itu jauh-jauh dan berusaha untuk tak menggubrisnya sama sekali.
“Oh,udah selesai kan nyudutinnya? Yaudah aku mau pulang byee.” Kataku kesal dan berlalu. Namun, selewat beberapa langkah, aku melupakan sesuatu. Langkahku terhenti. Beberapa pilihan berkelebat di benak ku. Mana yang harus ku pilih? Terus atau kembali? Namun, dia pasti akan mengejekku lagi jika aku kembali. Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?
“katanya mau pulang? Kok diem? Oh iya, lo ga tau jalan pulang ya? Pantes.” Dia tersenyum miring, ada kesan kemenangan di sana. Telak. Perkataan itu menusuk. Menjelaskan apa yang tengah aku rasakan. Aku tak tahu. Aku tak tahu harus berbuat apa? Aku bingung. Dan akhirnya, aku masih tak bergeming. Namun, dia terus melontarkan perkataan-perkataan yang menyudutkanku. Hingga aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Aku mual kalau harus mendengarkan apa yang dia ucapkan lebih lama lagi. Aku ingin muntah rasanya.
“Kamu itu siapa sih? Ada masalah apa sama aku? Aku pikir kamu bantuin aku itu ikhlas, tanpa harus bersikap kayak gini? Ga usah cari masalah deh, sipit!” balas ku dan berhasil membuatnya mati gaya. Beberapa lama dia terdiam, dan kemudian, bibirnya tersungging. Senyum meremehkan seperti biasanya.
“Enak banget lo ngatain gue sipit. Mentang-mentang mata lo kayak setan bali rumahan. Hahaha.” Argh..sial. dia selalu saja menang. Perkataannya selalu membuatku kekurangan kosa kata. Kata-kata yang dia lontarkan benar-benar menyindir.
“Pampir Sipit! Udah sipit, jelek, putih pucet, gentayangan lagi. Gak seharusnya pampir berkeliaran di komplek sore-sore gini kali ya.” Aku tertawa menang, dan berhasil membuatnya tak bergeming lagi. Namun, aku melihat tangannya terkepal. Sebetulnya, aku takut. Tapi, aku sudah muak dengan perkataannya. Dia sudah hendak membuka mulut, namun aku menyelanya. “Oh iya satu lagi, kenapa kamu gak pake itu tuh.” Kataku iseng sambil menunjuk ke arah dahi nya. Dia berkerut bingung. “Itu loh, kalau pampir yang di film-film kan suka pake tempelan di dahi gitu wkwk. Byee pampir sipit, pulang dulu yaaa.” Kataku riang dan berbalik sambil menuntun sepedaku. Aku hampir lupa kalau aku tidak tahu jalan pulang. Namun, aku tak peduli. Pertarungan sengit itu sudah aku menangkan. Dan dia tak bisa lagi melawannya.
“Hei,Nad!” aku mendengar sebuah suara memanggil ku. Langkahku terhenti. Kaget. Siapa itu yang memanggil ku? Apa tak salah dengar? Sepertinya tidak, kan? Aku berbalik hati-hati untuk memastikan. Dan ternyata, pendengaranku sama sekali tak bermasalah. Itu dia, hanya dia yang berdiri sendiri di sana. Tak ada lagi orang lain.
“Lo ga tau jalan pulang kan? Gimana lo mau nyampe rumah? Tunggu bentar ya! Gue mau ambil sepeda dulu. Gue anterin lo pulang.” Dia berlari menuju pagar putih menjulang tinggi itu. Aku masih di tempatku, dengan rasa tak percaya yang masih berkelebat bak angin puting beliung.
Terkadang, sesuatu yang terjadi di dunia ini tak pernah terbaca jelas dengan logika.
Namun itu lah kenyataannya. Dan aku heran,
Itu bisa terjadi kepadaku.
***
Angin sore memang selalu menyejukkan. Mengibaskan helaian rambutku seperti biasanya saat aku mengayuh sepedaku. Sore hari memanglah waktu yang sangat aku nanti-nanti kan. Dimana rutinitasku yang sudah menjadi kebiasaan semenjak hari itu. Di balik putaran roda, di sana lah yang membawaku ke Taman –yang menjadi tempat favorit ku- itu. Dengan kayuhan riang gembira, menuju tempat yang ingin aku kunjungi. Untuk bertemu dengan dia. Sahabatku. Perempuan tomboy yang selalu mengenakan topi abunya. Perempuan yang berhati lembut itu, kini tengah duduk di bangku yang biasanya. bangku pertama, yang menjadi saksi bisu awal mula persahabatan dengan simpul sederhana itu dimulai. Bangku dekat air mancur. Yang selalu menjadi penyangga tempat kami berbagi dan duduk bersama.
kini berbeda, delapan tahun sudah persahabatan kami berjalan. kami sudah semakin beranjak dewasa. Namun, salam perpisahan tak pernah terkoar di antara kami. Bahkan sekarang, semuanya bertambah erat. Seperti ada perekat di antara kami. Perekat yang membuat persahabatan kami semakin erat. Perekat yang menjadi alasan kami ingin selalu bersua. Dialah perekat itu, dia yang muncul setelah pertemuan singkat ku dengannya. Dia yang kini pun menjadi sahabat ku dan Tyas. Dia yang umurnya lebih tua satu tahun dari kami. Dan meskipun begitu, dia tak pernah sudi jika kami memanggilnya ‘kakak’. Dan selalu bilang “ogah banget gue dipanggil kakak. Berasa tua tau ga? Padahal gue kan ganteng dan masih muda gitu.” Dia selalu menjadi penghibur diantara kami. Dia yang tak pernah absen kehadirannya. Walau sampai saat ini, aku dan dia masih selalu bertengkar. Meski hal yang kami pertengkarkan adalah hal yang sama sekali tak masuk akal. Namun Tyas selalu menjadi penengah kala kami tengah beradu mulut.
Persahabatan indah ini dimulai ketika kami berkumpul di Taman ini. Taman Hollow. Ternyata dia mengunjungi taman itu setiap sore setelah dia mengantar ku pulang. Awalnya, aku tak suka dan selalu mendumal kesal. Dan yang paling membuatku kesal, saat Tyas selalu memaksa agar aku mau bergabung dan bermain bersama mereka –Tyas dan dia-. Aku kadang tertawa kecil kala mengingat pertemuan pertama kami. Pertemuan konyol yang sampai saat ini langit pun masih mengenangnya.
*
“Nad, kita dapet temen baru.” Teriak Tyas saat aku –datang dan- memasangkan standar sepedaku.
“Hah?” jawab ku tak acuh. Aku masih membelakangi Tyas.
“Hei,” suara itu, aku mengenalnya. Namun, ketika aku berbalik, dia langsung terdiam dan memasang muka jijik dan kesal.
“Heh pampir, ngapain disini! Mau ketemu sama aku? Sorry ya nggak ada waktu.”
“Yeehh setan bali rumahan, siapa juga yang mau ketemu lo. Dih males banget. Mimpi apa gue semalem, sampe harus berurusan sama lo lagi?”
“Loh? Kalian udah saling kenal kalau gitu?” tanya Tyas heran.
“Tau ga, yas? Dia ini pemilik anjing yang siap nerkam kita waktu itu. Biasa lah, manusia yang abnormal. Milih binatang piaran yang kayak begituan. Gak selevel banget deh sama kucing anggora punya aku dari Perancis.” Kataku menyombong,memanas-manasinya.
“Sombong banget lo jadi orang? Pantesan muka lo mirip anggora.” Katanya dengan seringaian menyebalkan.
Tanpa berpikir panjang dan –sebetulnya tanpa aku sadari pula- tanganku melayang, dan mendarat mulus di sekitar ruas wajahnya. Hingga ia jatuh tersungkur dengan wajah memerah. Tyas memekik pelan. Mungkin Tyas tak pernah menduga hal ini. Aku yang biasanya bersikap lemah lembut, childish, dan polos, kini menjadi seperti itu. Meninju orang bukanlah perilaku yang baik. Namun, untuk orang yang seperti dia, aku rasa itu hal yang sangat baik.
Ia meringis pelan. Hidungnya berdarah. Aku terpekik. Astaga..se-kriminal itu kah perbuatan yang baru saja aku lakukan? Namun, emosi masih saja mengendap dalam dinding hatiku yang terus menggedor-gedor dan minta di salurkan lagi. Tapi, sekuat tenaga berusaha ku tahan. “Sial..” geramnya. Tyas terlihat bingung dan khawatir.
“itu pembalasan yang setimpal sebagai ucapan terima kasih kemarin!” kataku tenang.
“Gue seneng bisa ketemu perempuan –yang pukulannya- hebat dan hampir sederajat kayak gue ketiban kontener. Cewek lain mana ada yang kayak gitu.” Dia tersenyum miring. “Boleh gue berteman dan kenal sama lo?” ucapnya tiba-tiba. Dan membuatku terperanjat.
“Aku nggak mau.” Sergah ku segera. “Sebelum aku tahu nama kamu siapa.” Ucapku dan langsung tersenyum menyeringai. “Oh haha..ciee mau kenalaannn…” goda Tyas sembari menaik-turun kan alis hitamnya.
“Gue Alvan..” Ucapnya langsung dan mengulurkan tangannya. Dia tersenyum sekarang. Senyum yang bersahabat. “Dan gue udah tahu nama,lo. Nadia Natural Aurora Saputri dipanggil Nanad. Jadi elo ga usah ngomong panjang lebar lagi.” Katanya dilanjutkan dengan gaya bicaranya yang semula. Aku pun tersenyum. Perasaan menggelitik menjalari sulur-sulur urat nadiku. Haha. Ternyata dia masih hafal rangkaian namaku yang panjangnya tak terhingga itu. Aku pikir, ingatannya parah.
“Tapi sori..” Alvan menyela. “Sori kenapa?” ucap ku. “Gue ga suka manggil lo Nanad.” Katanya dingin. Aku sudah punya firasat. Pasti dia akan menjelekkan namaku lagi. Pasti dia akan mengajak aku untuk ribut kembali. Ini tak salah lagi. Aku melihat seringaiannya. Dan dengan lancar dia berucap, “Gue lebih suka manggil lo Nadia. Kesannya lebih manis..”
*
semenjak sore itu, kami bertiga selalu berkeliling komplek dengan sepeda kami masing-masing. –Tyas dengan sepeda hitamnya yang sudah sedikit berkarat. Aku dengan sepeda merah muda dengan lonceng nyaring dan sebuah keranjang yang aku hias dengan untaian bunga. Dan Alvan dengan sepeda merah berpadu abu nya yang mengkilat, -. Sambil membantu Tyas menjual koran-korannya. Dan untungnya, karena bantuan aku dan Alvan, koran Tyas menjadi cepat laris.
Kala berbaring bersama di hijaunya rumput taman, kami bahkan biasanya mengingat-ingat tragedi lain yang pernah terjadi. Bahkan yang membuat ku tersenyum dalam hati. Dan membuat Tyas dan Alvan tertawa.
*
“Eh, lo tuh kalau ngendarain sepeda yang bener napa sih? Makanya, jangan deket-deket gue. Nabrak sepeda mahal gue kan jadinya.”
“Ih! Bukannya di bantuin. Sakit nih kaki. Noh kan nyampe berdarah gini. Abisnya, lain kali, ngendarain sepeda jangan lelet gitu. Kayak Putri Ayu aja sih.” Ucapku yang masih terkapar di jalanan beraspal.
“Bangun sendiri! Masih bisa kan lo?”
“Bisa dari mana? Berdarah gini juga? Tyas..bantuin.” kataku merengek kepada Tyas yang baru saja datang menghampiri tampat berlangsungnya kejadian. Tadi Tyas baru selesai menyetandarkan sepedanya.
“Manja lo! Dari dulu ga pernah berubah.” Alvan memalingkan muka dan memasang tampangnya yang seperti biasa. Err..padahal kan Cuma gara-gara aku ga sengaja nabrak sepedanya waktu kami sedang bersepeda bersama.
“Berisik amat sih mulut kamu itu,pit! Nggak usah berkicau sehari aja bisa ga sih. Mulut mu itu bawelnya nggak ketulungan.”
“suka-suka gue dong! Mulut-mulut gue! Yang nyiptain siapa? Bukan lo kan?”
“Harusnya kamu tuh jadi interview orang-orang deh. Jaman ternyata udah bener-bener berputar ya. Canggih banget pampir bisa ngomel.”
“Sekali lagi lo ngatain gue pampir..”
“Berisiiiiiiiikkkkkkkk!!!!!!!!” Tyas berteriak di tengah kicauan kami. “Bisa nggak sih jangan ribut dulu. Nad, kamu kan lagi keadaan berdarah gitu, masih aja bisa ngebales. Kamu juga! Lagian, Nanad kan nggak sengaja nabrak sepeda kamu. Makanya, kalau ngendarain sepeda jangan lelet! Pengennya sih deket-deket Nanad mulu. Niat gak sih bantuin jualin koran? Udah sore juga.” Tyas memarahi kami dengan tampang kesal. Mulut ku ternganga melihat Tyas yang seperti itu, sedangkan si sipit jelek itu, masih saja memasang tampang dinginnya.
“Apa tadi lo bilang? Sori, gue ga sudi deket-deket Nadia.” Entah mengapa, ada sebuah sakit yang mengiris. Aku pun tak mengerti, kala mendengarnya hatiku bereaksi secepat itu. Namun, aku tak pernah mempertanyakan rasa tak nyaman ini lebih lanjut lagi.
“Kamu satu tahun lebih tua dari aku dan Nanad. Kamu udah jadi sahabat kita selama satu tahun. Kamu pernah ga sih pikirin dulu apa yang mau kamu omongin sebelum mulut kamu mengatakannya? Produksikan kata-kata yang akan terluncur dengan baik. Jangan asal bicara.” Tyas menghela nafas. “Dan jangan munafik!” lanjutnya singkat. Tyas menatapnya tajam dan berpaling ke arahku. Dia berjalan mendekat dan siap membantuku bangun dari posisi ku yang tersungkur.
“Maaf…” sela Alvan dan menghentikan gerakan Tyas. “Gue salah ngomong. Gue minta maaf,yas.” Katanya. Air wajahnya kembali melunak dan memetakan permohonan.
“Aku ga ada urusan. Minta maaf sama orang yang bersangkutan.” Jawab Tyas dingin.
Terdengar sebuah helaan nafas. Orang ini, sepertinya sangat enggan berucap kepadaku. “Nadia, gue minta maaf.” Katanya berpaling ke arahku. Menatapku, menelusuri bening dan gumpalan hitam mataku. Aku balas menatapnya, dia bagai mengarungi samudera beningnya. Mendayung dalam sebuah perahu, dan tenggelam. Setelahnya, dia seperti memohon pertolongan yang akan membawanya kembali ke dalam perahu tersebut. pertolongan itu, adalah ucapan maaf dari ku.
“Nggak apa-apa kok.” Balas ku tersenyum, akhirnya. Merasa berbelas kasihan melihat permohonannya yang malang itu. Alvan balas tersenyum.
“Nah kalau gitu kan enak jadinya.” Tyas tersenyum kecil kepada kami berdua. Namun, aku rasa, tetap tak ada yang memperdulikan bagaimana aku saat ini.
“Ekhem..ini aku mau dibiarin aja kali ya kayak gini. Sampe kapan woy? Sampai perang dunia III dan akhirnya aku harus mati karena kena tembak?” kataku –yang masih tersungkur- menyindir mereka.
“Hehe..sori nad. Gara-gara Alvan nih.” Kata Tyas sembari beranjak akan menolongku –lagi-.
“Lo diem aja,yas. Biar gue yang bangunin. Lo bisa ga tuntunin sepedanya? Biar sepeda gue di sini aja. Gue bakal nyuruh sopir gue buat ngambil sepeda gue. Dan kita anterin dia ke rumahnya.” Katanya menjelaskan. Tyas lalu mengangguk singkat. Pertanda dia mengerti. Hanya aku yang terdiam. Sebenarnya, gimana mau jalan? Bahkan darah yang di keluarkan kakiku pun sudah tak terhitung dalam satuan mil.
“Van, kalau sepeda aku di bawa Tyas, aku pulang naik apa? Mending naik sepeda lah dari pada harus jalan?” kataku protes.
“Lo, gue gendong.” Telak! Tiga kata yang menjadi pembius. Menghilangkan kembali nyeri di kakiku. Dan membuat aku terlonjak kaget. Tak percaya. Apa? Bukan! Bukan karena jantungku yang akan berdetak. Bukan karena seperti yang terjadi biasanya di telenovela. Namun, tiga kata yang ditujukan untuk menolongku itu terucap kembali. Dulu, dianterin. Sekarang, mau di gendong? Manusia pampir yang satu ini, terkena jampi-jampi apa sih? Tak pernah menyangka orang stress dan abnormal seperti dia bisa membuahkan sebuah kebaikan untuk menolong orang.
“Gila! Ogah!” aku mengelak. Jangan-jangan, dia mau nyakitin aku lagi. Tahunya, nanti pas dia tolongin, aku malah di lempar kemanaaa gitu. Dia kan benci banget kayaknya sama aku. Sama sekali tak menutup kemungkinan kalau dia akan mencelakai ku di tengah jalan.
“Ga usah bawel,lo.” Jawabnya tak acuh.
“Kamu ga akan ngelemparin aku ke pohon kan nantinya?” kataku hati-hati. Tak pernah terpikirkan kata-kata yang satu itu akan terluncur. Pertanyaan yang sungguh konyol. Alvan tersenyum miring, dan Tyas terbahak mendengar pertanyaan ku yang mungkin tak masuk akal baginya namun masuk akal bagiku.
“Kebiasaan deh lo. Setiap gue bantuin, lo selalu ngelontarin pertanyaan yang bener-bener childish banget. Apa menurut sudut pandang lo itu gue sekejam itu?” aku meringis sendiri mendengar perkataan Alvan. Tyas masih terkikik, dan menekap mulutnya dengan tangannya.
“Lo tahu ga? Lo itu, manusia terpolos yang pernah gue temuin.” Kata Alvan dan bergegas menggendong ku begitu saja tanpa menunggu persetujuan dariku.
*
Tak terasa pikiranku yang berkelebatan tadi membawaku lebih dekat ke tempat tujuan utamaku. Ya di taman ini. Taman dengan dekor alam yang begitu kentara. Rangkaian bunga-bunga ephorbia di sekitar air mancur. Bunga matahari di tepi sudut, dan bermacam bunga hias lainnya yang ada. Sementara itu, di sisi lain taman, sebuah bangku bercat biru muda tengah di duduki oleh dua orang anak remaja, gadis yang memakai topi abunya sekitar berusia 18 tahun, dan laki-laki putih dengan mata sipit –yang mengajakku untuk datang ke taman sore itu- yang duduk di sebelahnya berusia 19 tahun. Mereka berdua tengah asik berbincang dan saling menguar kebahagiaan. Wah..sepertinya aku sedikit telat untuk bergabung dengan mereka.
“Cieee..mesra banget nih kayaknya.” Goda ku setelah aku berada di jangkauan jarak yang cukup dekat dengan mereka. “Ah, tahu deh yang cemburu pasti bedaa aja responnya.” Balas Alvan dengan seringaiannya yang biasa. Aku berjalan mendekat kearah mereka, lalu mendudukan diri di tengah-tengah mereka. Aku tersenyum bangga atas perlakuanku. Membalas tatapan heran dari Tyas. “Aku sama sekali ga cemburu. Oke, dan sekarang,”
“Kalau ga cemburu ngapain duduk di tengah-tengah gini? Mau jadi kuncen ceritanya?” balas Alvan sengit.
“Ih rese!.” Ucapku kesal.
“Bodo! Yang penting, intinya elo cemburu dan harus begitu.” Aku menatap Alvan heran. Sesaat, Alvan menutup mulutnya, lalu untuk menjaga image, dia cepat-cepat merubah ekspresinya dengan gelagat yang mengherankan. Wajah cuek dan datar. Aku menatap Tyas sekilas, dia nampak menahan tawa.
“Eh,pit! Dengerin dulu makanya,ya. Aku itu duduk di tengah-tengah gini bukan karena cemburu atau apa. Tapi kan ceritanya aku jadi love. Jadi, Alvan love Tyas. Yeeeaahhh..” kataku senang lalu bertepuk riang. Namun, nampaknya kedua sahabatku itu tak memberikan respon sama sekali. Mereka berdua hanya menatapku bingung.
“Kalian kapan sih jadiannya? Gak usah ngulur-ngulur waktu gitu kali. Kan udah terbukti kalau kalian punya perasaan yang sama satu sama lain, nah ngapain gak jadian-jadian coba?” aku tak tahu kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ku. “Ehiya, kamu nyuruh aku datang ke sini sore ini mau apa sih, van? Katanya penting banget. Padahal di rumah, aku lagi bantu mama bersih-bersih loh. Terpaksa harus ke sini karena paksaanmu,” dan tiba-tiba, otakku diterangi oleh sebuah lampu. “Aha! Atau jangan-jangaann…kamu mau nembak Tyas sekarang,ya? Biar aku bisa bantuin kamu kan,van? Ayo ngaku!!” paksa ku pada Alvan dan menarik-narik lengan bajunya.
“Ngomong apa dan sama siapa sih lo?” respon Alvan dingin.
“Gini nih kalau ngomong sama orang autis. Lolanya tingkat tinggi,”.
“Sialan lo, ujung-ujungnya gak enak di gue jadinya.” Protes Alvan.
“Nanad..nanad,” Tyas menggelengkan kepala. “Kamu tuh ngomong apa sih? Perkataannya nggak masuk akal sama sekali.”
“Aku berbicara sesuai fakta. Sesuai realita. Bukan dusta.” Protesku.
“Elo bakat deh kalo jadi tukang gosip. Kerjaan sehari-harinya ngegosip mulu sih.” Alvan malah menanggapinya dengan tidak serius.
“Nad, perkiraan kamu salah. Jangan jangan kamu lagi yang pengen jadian sama Alvan ya? Hayoo ngakuu!!” Tyas malah tertular Alvan dan ikut menyudutkanku. Aku memutar bola mataku. Seenaknya dia menuduhku seperti itu.
“Bodo ah! Kalian tuh ngeselin. Apa apa kompakan mulu dan selalu aja aku yang jadi korban. Males disini.” Aku marah pada mereka yang tidak menanggapi ucapan ku dengan serius.
“Cie anak mami marah.” Dan yang membuat aku lebih kesal lagi, Alvan malah terus saja menghina ku.
“Berisik!” kataku tajam dan langsung berjalan ke arah sepedaku.
“Yaahh dia beneran ngambek. Elo mah gak seru ah! Nad, tunggu!” sergah Alvan.
“Nanad, kita bercanda doang kok.” Tyas juga turut memanggilku.
“Nad, gue mau ngomongin sesuatu sama lo! Ini beneran, serius nad!” ketika sepedaku mulai melaju, Alvan masih berusaha menahanku. Dia mengejarku bersama Tyas. Mereka berlari sekencang mungkin untuk menyamakan jarak dengan sepeda yang aku kayuh dengan kecepatan tinggi.
“Nggak usah ngejar! Toh paling sesuatu yang mau kalian omongin gak berguna gak penting dan gak bermutu sama sekali.” Teriak ku kencang di sela-sela kayuhanku. Aku merasakan mereka berdua berhenti berlari. Dan dengan cepat aku kayuh lagi sepedaku agar segera sampai rumah.
*di tempat Alvan dan Tyas*
“Apa lo pikir berita kepergian gue itu nggak penting,nad?” lirih Alvan pelan sambil menyelaraskan nafasnya. Tyas menepuk pundak Alvan halus dan memeluknya. Memberinya kekuatan dan ketegaran.
“Kenapa perpisahan gue sama dia harus ancur begini,yas?” Alvin menghela napas dalam pelukan -bersahabat- Tyas. “Dia bahkan nggak tahu apa yang akan terjadi sama gue besok. Sekarang, dia pasti marah besar sama gue,yas. Err..kenapa gue kalau bercanda ke dia keterlaluan banget sihh”
“Nanad juga marah sama aku,van. Dia marah sama kita berdua yang nggak nanggepin ucapannya dan malah nyalah-nyalahin dia.” Hibur Tyas. Alvan terdiam dan memandang lurus ke depan.
“Selama gue di sana, lo jaga dia baik-baik ya! Gue nggak mau dia kenapa-napa. Lo tahu kan?”
“Aku ngerti kok,van. Kamu udah cerita kayak gitu berapa kali sih sama aku. Janji ya? Kamu harus datang empat tahun lagi. Dan kamu juga udah janji, setelah kepulangan kamu ke Indonesia, apa yang akan dan harus kamu lakuin. Nyali kamu harus kuat loh,van. Haha, nanti dikatain autis lagi loh.”
“Rese lo!”
***
Creater
"S"
Until The Very End (kisahku dibalik putaran roda) -Part 1-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar