***
Sinar matahari yang menyusup ke dalam sela-sela jendela mengusik ku kala aku tengah tertidur. Burung kecil yang mematuk matuk kaca jendela yang nampak sudah terang itu, menimbulkan Tuk..Tuk.. kecil. Ternyata sudah siang. Namun, entah mengapa suasana siang hari ini begitu sendu. Tak terdengar orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah ku. Semuanya nampak senyap. Ah, mungkin aku tak pernah memperhatikan suasana siang hari. Jadi, aku merasa begitu asing.
Perlahan, aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Dan membersihkan diri dalam waktu yang relative singkat. Tiba-tiba setelah selesai aku membasuh tubuhku, aku teringat akan pertengkaran –yang tidak jelas- antara aku dan kedua sahabatku itu. Namun aku sedang malas dan enggan memikirkan siapapun diantara mereka. Jadi, aku putuskan untuk membaringkan diri di kamar ku. Dan tidak keluar kamar seharian itu. Karena hari ini aku benar-benar malas.
Karena bosan, aku mengambil laptop ku dan ku putuskan untuk mengaktifkan kembali acc twitter ku yang sudah lama tak aku buka. Ketika aku melihat siapa-siapa saja yang ada di timeline twitter ku, di sana tertera nama sahabatku. Salah satu sahabatku ada di sana. Sebuah user dengan nama @Alvanadyas. Bahkan user itu menggambarkan seberapa sayangnya dia pada kami. Pada aku dan Tyas. Tapi,tunggu. Aku menajamkan penglihatanku kepada apa yang ditulisnya.
@Alvanadyas
OTW . Byee Indonesia. I’ll go home on several years again (y).
Hah? Apa? Apa yang dikatakannya? Aku tak mengerti. Apa ini sebuah lelucon atau kenyataan. Entah mengapa perasaanku begitu khawatir. Ini sungguh membingungkan. Apa ini yang dia ingin bicarakan? Soal keberangkatannya yang entah kemana. Rasa bersalah menggebu-gebu dalam kalbu. Di sisi lain, hatiku teriris. ‘ON SEVERAL YEARS AGAIN’. Aku tahu, karena aku bukan anak bodoh dan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia pasti akan pergi beberapa tahun. Tapi, untuk apa? Dan –yang lebih utama- adalah kenapa? Apa karena dia tak suka pada ku? Apa karena dia membenci ku begitu kuat? Sehingga dia memutuskan untuk pergi. Ah..tapi itu tak mungkin. Buktinya, dia akan kembali. Walau –aku yakin- dalam waktu yang relative panjang.
Aku berlari gelisah menuju garasi. Mengambil sepeda merah muda kebanggaan ku, dan mengayuhnya sekencang mungkin. Ke sebuah tempat yang sedari tadi sudah bergaung di otakku. Keluar komplek, dan melewati jalan raya yang –untungnya- lengang. Walau sedikit jauh, tapi aku tak peduli.
Yak! Belokan itu adalah belokan terakhir yang aku –harus- lewati untuk sampai ke depan pintu gerbang putih pucat yang menjulang tinggi. Perlahan, aku standarkan sepedaku, dan berjalan mendekati pagar tersebut. Ketika pintu pagar aku buka, anehnya, tak ada yang menjaganya. Tak ada gonggongan Fluffy seperti biasanya. Kemana anjing itu? Apa dia mati? Aku harap begitu. Ah, berpikir apa aku ini.
Aku berjalan lagi, menyusuri petak-petak bunga yang terhampar di taman depan. Aku tak peduli jika nanti ada yang mengira aku ini pencuri. Yang terpenting, aku harus memastikan bahwa semua itu hanya lelucon belaka. Dan tak ada artinya sama sekali. Hanya –akal Alvan- agar aku mencarinya. Namun, aku terus melangkah.
Rumah itu begitu sepi. Tanpa penghuni. Tak ada jejak kehidupan sama sekali. Rumah itu sama sekali tak seperti biasanya. Yang selalu menyuguhkan roman kehidupan yang begitu nyata, hidup, dan berwarna. Aku mulai gundah. Apakah ini semua benar adanya? Namun, aku belum ingin menyerah.
Ku ketukkan pintu berpelitur kayu jepara itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, bahkan hingga sepuluh kali, tak ada yang membukanya. Ku pijit bel beberapa kali. Namun percuma. Hasilnya sia-sia. Aku merosot. Menyenderkan diri di pintu depan itu. Duduk menghadap taman depan. Aku menelungkupkan kedua telapak tanganku menutupi wajahku yang frustasi. Aku benar-benar ingin menangis saat itu. Namun dengan sepenuh hati, aku tahan buliran bening untuk mengalir. Karena Alvan selalu bilang, ‘jangan nangis. Gue nggak suka kalau lihat cewek nangis. Lo mau jadi orang cengeng dan lemah?’
Walau kata-kata itu terkesan sinis, namun aku selalu mengingatnya. Ah, jika teringat oleh perkataannya, rasanya buliran kesedihan dan kepedihan Itu terus saja meraung ingin di keluarkan. Alvan, sebenernya ada apa sih? Kenapa kejadiannya tiba-tiba gini. Ah ah aaahh!! Tuh kan, air matanya ngalir. Kamu cengeng banget sih,nad! Alvan nggak akan suka kalau kamu nangis gini. Udahlah, jangan nangis.
Bodohnya aku, tak pernah terpikir! Benar! Alvan pasti di sana. Belum jauh dari sini. Karena status yang dia update masih –sekitar- 10 menit yang lalu. Aku nggak boleh nyerah. Aku pasti akan temuin Alvan.
Dengan kayuhan super dahsyat, aku menuju lokasi yang terlintas dipikiran dan perkiraanku. Alvan akan pergi meninggalkan Indonesia. Orang kaya seperti dia nggak akan mungkin lebih milih naik kapal laut. Dan dia pasti masih di Bandara. Tapi, aku ke bandara naik sepeda seperti ini? Apa nggak akan ditangkap satpam? Tak menutup kemungkinan juga. Ah, tapi, itu urusan belakangan. Yang terpenting aku harus melakukan ini. Semoga saja aku bisa menahan kepergiannya Alvan.
Selewat satu jam, setelah melewati segumpalan asap kelabu, dan rentetan suara klakson yang di padukan, akhirnya aku sampai di Bandara. Aku tahu ini sudah melampaui batas waktu. Aku tahu, mana mungkin pesawat akan menunda keberangkatannya selama 1 jam. Itu tak mungkin. Namun, aku terus berpikiran positif. Kalian boleh mencontoh perilakuku. Walau kenyataan di depan sudah tak mungkin, namun, tetaplah berpikir posistif.
Aku berlari menapaki lantai berkilau di bandara. Menubruk orang-orang yang sedang berjalan. Beberapa mendelik marah kepadaku. Mengata-ngataiku, mencemoohku yang tak punya sopan santun. Tapi, mereka sama sekali tak mengerti apa yang tengah terjadi kepadaku. Mereka sama sekali tak tahu. Lagi pula, aku pun tak mengenal mereka. Jadi, kenapa perlu dipermasalahkan?
Langkah ku tiba-tiba terhenti. Melihat siapa yang tengah terduduk sendiri di bangku pojok itu. Tangan ku terkepal. Muka ku memerah. Aku merasa terkhianati. Orang itu, tengah menunduk dan menatap sendu ke lantai-lantai yang tak bernyawa. Dan ia sama sekali tak menyadari kedatangan dan kemarahanku yang tengah menderas.
Sesampainya berada tepat di depan orang itu, aku terdiam. Menatapnya lekat-lekat. Namun, dia masih tak mengangkatkan kepala. Entah apa yang ia lihat di lantai sehingga begitu enggan untuk merubah posisinya itu. Namun, beberapa detik kemudian, ia mendongak. Untuk melihat siapa yang tengah berdiri di depannya. Ia terbelalak menatapku. Dan aku menatapnya tajam dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan.
Aku tak menyadarinya, tiba-tiba saja, tanganku yang terkepal mendarat mulus di kedua pipi nya yang berderai air mata. Mungkin cukup keras. Karena tamparan itu cukup membuatnya –begitu- terlonjak dan pipinya memerah. Beberapa helai rambut menempel pada pipinya yang sembab. Ia nampak begitu kusut, lusuh, dan seperti orang yang tidak waras.
“Nad?” lirihnya perlahan. Ia masih memegang pipi nya yang memerah. “Apa yang kamu,”
“Harusnya gue yang nanya itu. Apa yang lo lakuin?” bentakku keras. Bahkan, entah mengapa, aku merubah gaya bahasaku dengan otodidak.
“Maksud kamu apa?” dia terisak kecil.
“Elo ga punya otak apa gimana? Apa yang udah lo lakuin?” kataku lebih keras dari sebelumnya menanggapi ucapannya yang terkesan begitu lugu.
“Aku salah apa,nad? Aku sama sekali nggak ngerti.”
“Lo tuh sahabat apa pengkhianat sih? Lo tega banget tau gak sama gue! Lo tega ngebiarin gue sendirian yang nggak tahu akan kabar ini. Lo tega biarin Alvan pergi tanpa pamit ke gue. Lo sengaja kan ngebiarin ini,hah? Biar lo yang bisa nganter Alvan sendiri. Biar lo yang bisa ngasih perhatian ke Alvan seorang diri. Itu kan maksud lo? Gue sama sekali nggak habis pikir. Elo yang selama ini lugu, rendah hati, dan penyayang, ternyata punya hati yang busuk! Elo ngerti kan, nad? Di sini yang berperan bukan Cuma elo, tapi juga gue. Kita bertiga yang menjadi tokohnya.” aku tahu ini sama sekali tak sopan dan seharusnya tak aku ucapkan. Namun, lidah ku pun ternyata sudah terbakar sulur-sulur emosi itu.
“Aku sama sekali nggak berniat kayak gitu,nad. Sama sekali nggak!”
“Gue nggak nyangka ya,yas. Elo tahu kan Alvan itu sahabat kita? Dan elo tahu dia juga berarti buat gue. Bukan hanya buat lo. Kita berdua sayang sama dia. Kita berdua udah nganggap dia kayak gue nganggep elo dan sebaliknya kan,yas? Tapi kenapa lo lakuin ini sama gue?” emosi ku belum juga surut.
“Aku juga mau ngasih tahu kamu,nad. Aku udah bujuk Alvan biar izinin kamu tahu semua ini.” Tyas menatapku lirih. Air mata yang ia produksi semakin banyak.
“Terus kenapa nggak lo lakuin? Kenapa harus minta persetujuan Alvan? Biar lo terkesan baik kan di depan dia? Gue tahu,yas. Gue tahu lo suka sama Alvan. Meskipun lo nggak pernah cerita sama gue akan hal itu. Gue tahu lo selalu ingin dapetin perhatiaannya Alvan. Mata lo nunjukkin itu,yas. Dan gue waktu itu pengen bantu lo.” Jelasku.
“Dugaan kamu salah,nad. Aku sama sekali nggak nyimpen perasaan sama Alvan. Sama sekali nggak. Karena aku yang lebih tahu dari kamu. Aku tahu kamu pun menkodratkan Alvan lebih special di hati kamu,kan?” iuh, bicara apa sih orang ini.
“Nggak usah sok tahu deh,lo. Gue bahkan nggak pernah akur kan sama dia. Perasaan gue ke Alvan tuh biasa aja. Bukannya elo ya yang luar biasa?” ucapku sinis. “Dan tadinya, gue harap Alvan pun punya perasaan yang sama ke elo. Gue harap kalian jadian. Tapi, toh sekarang gue nggak ngarepin itu semua bakal terjadi. Karena,”
“Karena tanpa kamu sadari, sebenarnya yang nyimpen perasaan ke dia itu kamu. Dan begitupun dengan dia.” Potong Tyas.
“Nggak usah ngelantur deh kalau ngomong.”
“Aku sama sekali nggak ngelantur. Alvan sering ceritain itu sama aku. Kenapa aku yang lebih dekat dengan dia? Kenapa dia selalu ngajak kamu untuk adu mulut? Apa kamu sama sekali nggak peka? Dia itu ingin ngedapetin perhatian kamu. Dia nggak betul-betul benci kamu. Dan dia selalu ceritain itu ke aku. Begitu pun dengan aku. Aku selalu kasih solusi yang baik buat dia.” Aku terdiam mendengar penjelasan Tyas, kenapa semuanya terdengar begitu mengada-ngada?
“Aku bingung.” Respon ku singkat.
“Kamu tahu? Kemarin sore itu, dia berniat untuk ngasih tahu kita apa yang akan terjadi padanya. Apa kamu lupa kalau dia udah kelas 12 dan berhasil meraih kelulusan? Orang tuanya memutuskan akan menyekolahkan dia ke London. Dan mereka sekeluarga juga akan ikut dengannya. Kamu nggak tahu kan kalau dia sedih dan nyesel banget pertemuan terakhirnya dengan kamu begitu ancur dan berantakkan. Sedangkan dia harus ketemu lagi sama kamu setelah 4 tahun ke depan. Karena saat itu, dia sudah meraih gelar sarjana.”.
“Tapi itu nggak mungkin. Aku sama sekali nggak percaya.” Volume suara ku mengecil dan nyaris tak terdengar.
“Dan kamu juga nggak tahu, tentang rencana dia dan janji dia sama aku. Sebetulnya, bukan kamu yang berusah mendekatkan aku dengan Alvan. Tapi aku yang berusaha melakukan itu. Dan aku suruh dia janji, kalau setelah 4 tahun itu berlangsung, dia akan nemuin kita lebih dahulu. Terlebih kamu,nad. Dan dia bakal ngungkapin sesuatu ke kamu hari itu juga.” Tyas mengakhiri ucapannya dan dia tersenyum kea rah ku yang masih saja mematung. Ini benar-benar di luar dugaanku. Ini tak mungkin. Ini mimpi kan?
“Mana Alvan?” tanyaku singkat. Tyas terdiam.
“Mana Alvan?” tanyaku lebih keras.
“Dia udah pergi.”
“Maksudnya?”
“Pesawatnya berangkat pukul 07.00. pagi sekali.”
“Dan kamu sedang apa?”
“Aku nunggu kamu. Karena aku percaya, kamu akan datang.”
“4 jam kamu nunggu? Di sini? Kenapa?”
“Cuma untuk ngasih ini. Ini titipan dari Alvan buat kamu. Dan ini dari aku, sebagai ucapan permintaan maaf dari aku karena bikin kamu kesel kemarin. Tapi sepertinya, hadiah ini tak akan berarti bagi kamu. Karena sekarang, aku kembali membuat kamu marah. Maaf nad.” Tyas menunduk, air matanya mengalir lebih deras lagi. Namun aku tak mau ambil pusing sama sekali. Aku tinggalkan dia begitu saja. Aku ingin pulang. Aku capek. Aku lelah. Dan aku sama sekali tak menyentuh barang-barang yang Tyas pegang. Baik dari Alvan maupun darinya.
“Nad!” bahkan aku sama sekali tak menoleh waktu ia panggil
***
Ketukan halus dari pintu membuyarkan lamunanku. Dengan malas, aku beranjak dari tempa tidur ku dan membukakan pintu perlahan. Ternyata mama berdiri di sana dengan tersenyum. Ada apa gerangan pagi-pagi begini membangunkanku? Apakah beliau belum berangkat bekerja? Ternyata mama memberi tahuku, bahwasanya Tyas datang dan ingin bertemu denganku. Aku menolak untuk menemuinya. Namun, mama membujukku agar aku menemuinya.perlahan –masih dengan tangan terkepal- aku keluar kamar mendatangi Tyas yang sedang terduduk di kursi tamu.
Tyas tersenyum menatapku. Namun aku menatapnya dingin. Dan masih tak peduli.
“Aku nggak mau kesalahan yang sama terjadi. Walau kemarin kamu nolak ini, sekarang akan aku usahain kalau kamu nerima ini.” Kata Tyas langsung, sembari menyodorkan sesuatu yang sama seperti kemarin.
“Pergi.” Kataku singkat. Tyas terdiam.
“Nggak ngerti apa yang baru aja aku bilang?” Tyas melangkah mundur melihat tatapan ku yang kian geram.
“Pergi sekarang!” perintahku lagi.
“Tapi,nad, apa kamu sama sekali nggak mau nerima ini? Alvan udah nitip sama aku dan ini berarti amanah yang harus aku laksanakan.” Tyas mengelak.
“Nggak usah sok SUCI.” Aku tetap saja keras kepala dan enggan mendengarkannya.
“Kamu tahu? Alvan buatin kamu ini semalaman sebelum dia pergi ke London.” Aku terdiam. “Dan sekarang kamu nggak mau nerima ini?”
“Kenapa sih kamu selalu tahu apa yang Alvan lakuin. Kenapa sih aku nggak pernah tahu sama sekali. Bahkan semua tentang dia, rahasia dia, dan apapun yang kamu tahu tentang dia, aku nggak pernah tahu dan di beri tahu. Apa artinya kata-kata ‘sahabat tempat untuk berbagi’ ?” sinisku keras.
“Nad, please ! aku nggak mau bertengkar lagi sama kamu. Yang aku mau, kamu terima ini dan aku akan langsung pergi.” Katanya memohon dengan tangan tertangkup.
“Oke, biar kamu cepet pergi, aku terima pemberian Alvan. Dan sori, aku nggak sudi nerima pemberian kamu. Pasti Cuman sampah yang terbuat dari Koran.” Tuhan, kenapa aku begitu kejam pada sahabat ku sendiri? Kenapa aku tak punya hati? Tyas tersenyum perih mendengar ucapanku yang –aku duga- pasti begitu menyakitkan untuk dilontarkan.
“Nggak apa-apa nad. Asal kamu mau nerima pemberian dari Alvan. Ini (Tyas memberikan sesuatu itu) dan aku pulang sekarang,ya.”
Aku hanya mengangguk singkat melepas kepergiannya meninggalkan rumahku. Perlahan, meski tak ia ketahui, aku mengikutinya dari belakang dan melihatnya mengambil sepedanya dan pergi begitu saja. Aku kembali masuk ke dalam rumahku, dan duduk di ruang tamu. Penasaran juga apa yang Alvan berikan kepadaku.
Belum sempat aku membuka bungkusan itu, Bi Inah lari tergopoh-gopoh ke arahku. Aku menatapnya heran. Kenapa ia? Dari air wajahnya, ia terlihat begitu gelisah. “Kenapa bi?” tanyaku langsung. “Maaf,non. Bibi tahu non marah sama neng Tyas,” .
“Nggak perlu bicarain dia sekarang,bi, aku lagi males.”
“Tapi Neng Tyas kecelakaan non.” Sambung bibi.
“Orang tadi dia baik-baik aja kok. Jangan-jangan bibi sekongkol” Responku tak peduli.
“Bibi lagi beli sayur di depan non, lalu, bibi lihat, Neng Tyas meninggalkan rumah ini dengan bersimbah air mata. Bibi Tanya kenapa gerangan. Dan dia hanya bilang “Salah aku,bi. Salah aku yang udah ngecewain Nanad.”. setelah itu, dia pamit, katanya mau jualin Koran-korannya lagi. Namun, saat keluar komplek ini, truk besar menabraknya yang sedang melamun saat dia mengayuh sepeda. Hingga ia menjadi hancur berkeping kep,”
“Cukup bi! Aku nggak mau denger lagi. Cukup!” kataku keras dan menutup telingaku. Apakah yang bi Inah katakan adalah kenyataan? Apa benar Tyas…..
Dengan sendu yang menggebu gebu, aku keluar rumah dan mengambil sepedaku. Ketika tengah mengayuh sepeda, aku melihat dengan jelas menggunakan mata kepala ku sendiri, orang-orang tengah berlarian kea rah depan komplek. Aku tak mau ini semua terjadi. Aku harap penglihatan Bi Inah tak normal. Dan sebenarnya yang tertabrak adalah orang lain. Bukan Tyas
Namun, setelahnya sampai di depan komplek, aku melihat para warga tengah bergerumul. Dan aku tak bisa melihat jelas siapa yang tengah mereka gerumpuli. Aku mendorong mereka untuk mundur agar aku bisa melihat siapa yang ada di sana. Dan aku harap, bukan Tyas.
Namun, aku mencelos. Ketika melihat sepeda yang aku kenal terguling di sana. Di samping seseorang yang keadaannya tak bisa aku jelaskan sama sekali. Karena aku tak tahan dan benar-benar tak berani mengatakannya. Aku mendekati korban itu. Menatap matanya dengan mataku yang sudah bergumpal mutiara perak. Air mata ku tak tertahankan lagi. Aku memeluknya. Tak peduli darah darah yang melekat ke tubuhku. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap ke arahku. Aku hanya ingin, orang yang tengah aku peluk ini, akan kembali hidup dan ia selalu ada di dekatku. Hanya itu Tuhan. Apa aku bersalah?
“Tyas,” panggilku lirih kepadanya. Namun,ia tak kunjung bereaksi. Tuhan, tolong, aku mohon, walau hanya untuk beberapa saat, hidupkanlah kembali sahabatku. Sadarkan dia. Aku hanya ingin menatap matanya untuk yang terakhir kali. Mata indah yang selalu menyuguhkan kebahagiaan kepadaku. Mata indah yang dengannya aku bisa melihat dunia yang sebenarnya. Aku mohon Tuhan untuk kali ini saja, jabahlah doaku. Aku tak akan sanggup untuk melihatnya seperti ini.
“Tyas bangun! Aku minta maaf Tyas. Yas, ayo bangun! Aku sayang sama kamu. Maaf yas maaf. Aku bener bener minta maaf dan aku tahu kalau sikap aku keterlaluan sama kamu. Yas, kamu kan udah janji, kalau kita bakal nunggu Alvan bersama-sama. Untuk 4 tahun mendatang kan yas? Ayo yas, bangun.” Aku mengguncang tubuhnya yang mengeluarkan begitu banyak darah. Aku menangis dan tersedu begitu dahsyat. Tubuhku bergetar keras. Tak ada yang aku pedulikan sekarang, dibanding kesadaran Tyas.
Mungkin ini keajaiban atau anugerah dari Tuhan. Perlahan,Tyas membuka matanya dan tersenyum ke arahku. Meski tatapan itu begitu letih, namun, dengan bergairah aku terus menatapnya. “Kamu nggak salah nad. Maaf ya.” Bisiknya kecil. Sahabatku ini, adalah sahabat yang paling hebat di dunia. Bahkan, saat maut tengah meregang nyawanya, dia pun masih bersikap seperti ini. Aku rela menukar apapun, agar dia tetap berada di sampingku. “Tyas jangan pergi,yas. Aku nggak mau ini terjadi. Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu.”. “Maaf nad, mungkin ini harus terjadi. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal kamu untuk tunggu Alvan selama 4 tahun lagi?” ia terus mengumbar senyum di depanku. Dan aku tak sampai hati melihatnya. Aku sudah memarahinya. Ini semua karena aku. Kecelakaan ini nggak akan pernah terjadi jika aku tak memarahinya. Ini semua tak akan pernah terjadi.
“Kamu tahu,nad (Tyas menyeringai kecil), aku lebih pilih mati kalau kamu bisa bersikap baik lagi sama aku. Aku senang ini terjadi. Karena dengan ini, aku melihat ketulusan sahabatku ada di sini. Dan sinar ketulusan itu akan menjadi penerang untuk menuntun hidupku di masa yang lain.” Tolong Tyas hentikan! Hentikan semua yang kau katakan! Aku tak tahan. Sama sekali tak tahan. Aku ingin melaknat semua kejadian ini. Aku ingin meminta kepada Tuhan semuanya kembali. Aku belum cukup siap untuk sendiri,yas. Belum.
“Aku pamit ya,Nad.” Dengan satu tarikan nafas, segala anganku sirna. Angan untuk menghadapi dunia bersama. Karena kini, kata ‘bersama’ tak akan pernah ada lagi. Yang ada hanya aku sendiri. Sendiri dan akan tetap sendiri. Aku menutup mataku. Mencoba menetralisir segalanya yang terjadi secepat lorong waktu membawanya. Sebenarnya dunia ini apa sih? Mengapa ia mengambil orang yang kita sayangi? Mengapa?
Sesuatu tergeletak tak jauh dari sana. Bungkusan merah muda dengan pita emas. Aku mengambil bungkusan itu. Memeluknya erat. Seperti ingin memeluk pembuatnya. Yang kini sudah tak bernyawa. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar ingin menghukum diriku sendiri.
“Selamat jalan,yas. Walau aku nggak tahu, setelah saat ini, siapa lagi yang bakal nemenin aku bersepeda.” Batinku sambil menatap langit biru dengan mata sembab ku.
Apakah Engkau sedang melaknatku Tuhan?
Apakah Engkau benci padaku?
Hingga sesuatu paling berharga dalam hidupku pun telah kau ambil
Siapa lagi setelah ini Tuhan?
Aku tak sanggup jika harus merasakan kepedihan yang sama
Satu yang kau ambil, segudang kepiluan yang membara.
***
Aku terduduk lesu sambil terus mendekap Tape kecil hitam. aku masih terus merutuki diriku. Aku yang sudah salah besar. Aku yang sudah tega melakukan hal sekejam itu kepada orang yang berhati mulia seperti dia. Aku yang harusnya tertabrak truk itu, dia sama sekali tak pantas untuk mendapatkan kecaman itu.
Aku kini betul-betul merasa sepi dan sendiri. Aku pun tak pernah tahu bagaimana kabar sahabatku yang satunya. Ia tak pernah mengabarkan suatu hal apapun. Terkadang, aku merasa khawatir. Apa yang sedang terjadi kepadanya? Aku tak ingin dia mengalami hal yang sama seperti wanita mulia itu. Dan aku, telah melewati masa-masa –dimana aku seharusnya melakukan itu bersama Tyas- menanti 4 tahun mendatang. Semua itu telah aku lewati dengan setegar mungkin. Namun, dalam setapak jalan, aku hanya bisa menangis. Hingga tanah yang aku jejaki terkena genangannya. Dan sebetulnya, aku masih bisa bersyukur. Karena aku masih bisa terus melangkah, walau orang normal melangkah dalam tiga langkah sekalipun, dan aku hanya mampu berjalan setengah langkah, aku tetap bahagia. Padahal, bagiku, boro-boro untuk melangkah menapaki jalan-jalan di depan yang suram. Berdiri saja aku sangsi dan sangat lemah dan letih. Karena air mata yang aku keluarkan entah telah berapa mil selama beberapa tahun ini.
Kalian mungkin tak tahu, apa yang aku lakukan untuk menghukum diriku. Kalian mungkin tak akan tahu apa yang setiap harinya aku perbuat. tape kecil hitam pemberian Tyas, tak pernah aku putar. Aku tak tahu apa yang ada dalam tape kecil itu. Dan aku hanya menggunakannya, untuk memukul mukul dahiku hingga akhirnya terbentuklah bekas luka di dahiku. Aku selalu melakukan itu kala aku teringat Tyas. Mungkin ini suatu hal yang bodoh. Mungkin ini tak masuk akal. Mungkin ini tak setimpal dengan nyawa Tyas. Mungkin ini belum cukup untuk menghukum diri. Namun, setelah aku mendapati bekas luka tepat di mana aku selalu memukul dahiku, aku merasa cukup puas. Tapi entah karena kekuatan magis atau apa, setiap teringat Tyas, luka itu selalu sakit. Menusuk-nusukku. Hingga aku merasa tersiksa sekali. Mungkin, ini cara yang benar. Mungkin Tyas akan senang dengan aku menghukum diri seperti ini. Dan di kala luka itu terasa sakit, aku kembali memukulkan tape kecil hitam hingga akhirnya, nyeri nya pun hilang.
Dan sama seperti saat ini, luka itu kembali terasa nyeri. Dengann segera, aku memukul-mukulkan lagi tape kecil hitam ke dahiku. Aku merasa pusing akan pukulanku sendiri. Aku menatap puas ke arah gundukkan tanah yang tepat berada di depanku. Di sana, sebuah papan dengan ukiran nama Tyas terpampang. Aku tersenyum bangga kepadanya. “Aku senang ngelakuin ini selama 4 tahun,yas. Dengan ini membuat aku bertahan.”
“Bodoh.” Sebuah suara dingin menyapa gendang telingaku. Aku tercekat. Meneliti lebih jauh lagi suara yang aku kenal. Ya..ini tak salah, sama sekali tak salah lagi. Itu suara dia. Orang yang telah aku tunggu kehadirannya selama ini. “Tyas nggak mungkin seneng dengan apa yang kamu lakuin.” Apakah selama di luar sana, dia diajari sopan santun? Hingga bisa selembut ini. aku masih menatap lurus kea rah gundukan tanah di depanku.
“Dan mulai sekarang, jangan lagi hukum diri kamu sendiri seperti ini.” aku berbalik. Mendapati dirinya yang tengah tersenyum ke arahku. Aku bangkit berdiri. Namun, tak bergerak lagi. Aku dan dia sama sama terdiam. Aku benar-benar tak menyangka dia kembali tepat pada waktunya. Dia kembali, setelah aku pikir ada yang tak beres dengannya. Dia kembali dengan keadaan yang tak tergores sedikit pun. Dia kembali –dan aku mengakuinya- dengan lebih tampan dari sebelumnya.
Aku benar-benar merindukkan dia. Dia yang semula terasa begitu jauh, dan kini menjadi nyata. Berdiri di depanku dengan menggunakan kaus putih. Rasa rindu ini terus bergemuruh. Dia yang tersisa yang aku miliki ketika yang lain telah pergi. Kaki ku membawaku, ke arahnya. Aku berlari kepadanya, memeluknya seerat mungkin. Dan tak ingin kehilangannya. Dia kaget melihat gerakkan ku yang mendadak. Namun, dia tersenyum kepadaku. Dan mengusap usap rambutku. Aku pun balas tersenyum kepadanya.
“Ini salah aku,” kataku memulai.
“Bukan, ini kecelakaan.” Balasnya.
“Tapi karena aku,”
“Aku tahu. Mama kamu udah cerita.”
“Maaf,”
“Nggak ada yang perlu di salahkan.”
“Tapi, karena aku, yang tadinya ‘kami’, hanya berarti menjadi kita. Cuma kita. Gara-gara aku, Tyas harus pergi tanpa pamit sedikit pun sama kamu. Gara-gara aku, pertemuan di taman itu, jadi pertemuan terakhir kalian. Dan gara-gara aku, kamu kehilangan cinta pertama kamu.” Kataku lirih.
“Apa kamu masih belum ngerti?”
“Aku tahu, dan Tyas udah ngasih tahu. Tapi, aku pikir itu terlalu aneh untuk dijadikan sebuah kenyataan. Itu aneh kalau kamu, kalau kamu,”
“Kalau aku sayang sama kamu?” balasnya dengan menatap mataku dalam. Aku menunduk, menyembunyikan gurat kemerahan yang mulai terpeta. “Apa kamu sama sekali nggak percaya?” Tanya Alvan dan memegang erat kedua pundakku. “Tatap aku,nad.” Paksanya dan mengangkat daguku. Aku menelan ludah. Aku tak tahu ini apa maksudnya. Alvan kerasukan apa?
“Aku udah janji sama Tyas. Aku janji setelah kepulangan aku ke sini, aku bakal ngungkapin ini ke kamu. Di depan Tyas. Dan terbukti, aku udah nepatin janjinya Tyas.” Kata Alvan sungguh-sungguh.
“Ngungkapin apa?” kataku berpura.
“Nadiaa mohon banget deh, nad! Kali iniii aja bantuin gueee.” Wajah Alvan memelas.
“Hah? Bantuin apa sih?”
“Jadi mau terima apa nggak?” ini orang kenapa sih. Perkataannya meracau banget. Nggak masuk akal.
“Terima apanyaaa? Kalau ngomong yang bener napa sih? Kayak alien bahasanya.”
“Sumpah nyebelin banget sih,nad. Oke, nad, aku suka sama kamu, jadi gimana?” katanya dengan satu tarikan nafas.
“mau ngomong apa balap lari?”
“Kentut,nad.” Aku hanya menahan geli mendengar perkatannya. “Nadia please.” Katanya memohon lagi. Dan dia merendahkan diri di hadapanku. Dengan memasang tampang memelas dan ekspresi yang menggelikan.
“Apaan sih van? Gak jelas banget tingkahnya.” Kataku sinis.
“Oke deh oke. Aku ngerti kok. Kamu kan sama sekali nggak punya perasaann yang sama. Kasihan banget deh aku yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau nggak diterima gapapa kan, nad? Yang penting aku udah nepatin janji aku untuk ngungkapin semua ini ke dia. Tapi, dianya aja ngeselin banget.” Kata Alvan berbicara kepada nisan Tyas.
“Cie yang curhat. Iya deh iyaaaa, aku terima kok.” Kataku dengan seringaian jahil. Tapi Alvan tak berekpresi apa-apa. Dia hanya tersenyum sendiri mendengar ucapanku. “Heh, kok diem aja sih?” protesku. “Nggak seneng? Bukannya loncat-loncat kek apa kek peluk aku kek. Ini nggak ada responnya sama sekali. Cuma gitu doang? Beuh, tahu gitu nggak aku terima aja kali.” Decakku kesal.
“Wah nggak ikhlas. Tapi, kalau pengen dipeluk gapapa kok (“Dih genit” kataku). Lagian, aku udah tahu dari Tyas kamu bakalan bilang apa. Tyas udah bilang dulu, kalau kamu juga punya rasa yang setimpal. Jadi, ya, kenapa harus kaget?” dia tertawa melihat ekspresi ku.
“Ahhh siaall” teriakku kencang. Alvan terus saja tertawa, sampai-sampai aku, ia abaikan begitu saja. Tapi tiba-tiba, ia bangkit berdiri dan menatap wajahku lekat. Namun tatapannya terarah ke bekas luka di dahiku.
“Harusnya aku hukum Tyas.” Katanya sambil meraba luka itu.
“Loh kenapa?” kataku kaget
“Tyas udah janji, kalau aku pulang nanti, kamu dalam keadaan baik dan nggak lecet sedikit pun. Tapi nyatanya, nih ada bopeng di dahi kamu. Tapi, tetep manis kok. Nadia Natural Aurora Saputri, nama terindah yang pernah aku dengar.” Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya yang nggak jelas sama sekali. Setelah itu, kami duduk bersama di depan makam Tyas sebagai saksinya. Dan tertawa bahagia atas rintangan Tuhan yang telah kami lewati.
Hai Nad,
Aku sama Alvan minta maaf ya sama kamu
Aku tahu kalau kamu marah besar
Tapi, aku nggak mau sampai persahabatan kita hancur
Kamu tahu Nad?
Sesuatu yang paling berharga bagi aku, adalah kamu
Kamu itu bagai matahari
Terang dan tak pernah redup
Ceria dan tak pernah Sayup
Bersinar namun tak pernah sirna.
Aku selalu ingin berada di dekat kamu,nad
Kalau aku udah ke surga nanti dan ternyata kamu masih marah,
Aku cuman mohon maaf sama kamu
Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba ingin bikin rekaman ini
Aku punya sebuah firasat yang aku pun tak mengerti nad
Aku nggak mau persahabatan kita terhenti sampai di sini
Alam yang berbeda tak menyebabkan semua nya akan terputus kan
Karena aku selalu ada di sana
Di hati kamu,
Until The Very End.
KLIK.
***
Until The Very End (kisahku dibalik putaran roda) -Part 2-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar