The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams :)

RSS

Surat Kecil untuk Allah

Dear Allah,

Aku tahu, aku bodoh. Benar-benar bodoh. Aku tak berdaya, sama sekali tak memiliki kekuatan apapun. Aku manusia kecil, lemah, tak berarti. Aku tak bisa apa-apa. Karena selama ini, yang aku lakukan, yang aku jalani, itu semua berkat kekuatan dari-Mu ya Rabb. Sungguh, hanya Engkau yang Maha Segalanya.

Dear Allah, 
Maafkan aku. Aku yang tak berdaya ini, telah dikendalikan oleh sebuah rasa yang aku sendiripun tak mampu menjelaskannya. Sungguh, aku tak mengerti. Dengan raungan hati yang tak masuk akal ini. Mengapa? Ya, karena, apa yang hati katakan memang terkadang tidak sesuai dengan logika.

Dear Allah,
Engkau yang telah menciptakan tubuh ini, jiwa ini, ruh ini, termasuk hati ini. Kau tanamkan anugerah bagi umat-Mu, termasuk aku. Akupun menerimanya. Ya, itu adalah sebuah hasrat. Hasrat untuk merasakan sebuah perasaan yang.....ah, terlalu sulit bagiku untuk menjabarkannya. Aku dilanda bimbang. Bukankah kita tak boleh mencintai makhluk-Mu dengan berlebihan?

Dear Allah,
Izinkan aku bercerita. sebuah pengakuan dari rahasia hatiku selama ini. Pengakuan yang mungkin tak penting. Tapi, sungguh, masalah hati ini, sangat mengganggu. Tahukah Engkau, bahwa setiap malamnya, aku bahkan terkadang susah tidur. Aku terus bertanya-tanya, apa sebetulnya yang sedang terjadi padaku. Aku merasakan sebuah romansa yang berbeda. Apakah ini sebuah rasa......ah, akupun tak berani untuk mengatakannya. Karena, aku belum tahu banyak tentang hal ini.

Dear Allah,
Aku tahu, mungkin, Kau berpikir aku gila. Aku selalu mendoakan orang yang bahkan mungkin tidak pernah menyebutkan namaku, dalam munajatnya pada-Mu. Aku tersenyum hanya karena mengingat kisah yang lalu. Dan terkadang, aku bisa tiba-tiba menangis. Sungguh, apa namanya aku ini kalau bukan gila? Dan semua ini, karena orang yang sama. Betapa gilanya, bukan?

Dear Allah,
Bahkan secarik pesan kecil darinya pun, bisa membuatku sungguh tak berdaya. Hanya beberapa kata yang dia tulis, atau hanya sapaan 'hai' yang ia berikan, tapi itu berdampak besar bagiku. Terkadang, aku merutuk sendiri. Mengapa aku bisa sebodoh ini? Apa, aku terlalu berlebihan? Aku rasa, tidak. Atau bahkan....iya? Akupun tak tahu. Siapa yang menginginkan dirinya menjadi gila? Tak ada bukan? 

Dear Allah,
saat ingatanku kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih bisa dengan rutin menatap secara sembunyi akan senyuman kecilnya, ada sesuatu yang berdesir halus. Menggelitik. Tapi, indah. Sesuatu itu aku rasakan tepat di ulu hatiku. Dan aku selalu bertanya pada-Mu saat itu. "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?". Ingatanku pun kembali ke waktu yang telah lalu itu, waktu dimana aku selalu merasa tenang ketika berada dalam naungan mata teduhnya. Cahayanya, tak pernah redup. Iya, karena hingga sekarangpun (disaat aku tak lagi bisa bertemu sumber cahaya itu secara langsung) aku masih bisa merasakannya. Menerangi kegelisahanku. Dan saat itu, aku kembali bertanya "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?". Lagi-lagi, aku terbayang-bayang saat yang telah terlewati itu, saat aku selalu terkesima dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya. Dan, saat tawanya merekah, ya Rabb.....sungguh itu menghadirkan sepercik bahkan berjuta-juta percik rasa bahagia bagiku. Akupun kembali bertanya, "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?".

Dear Allah,
Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku. 
Karena aku, tak pernah ingin mencoba menghapus dirinya dari alam khayalku. Karena aku terus mempertahankan bayangannya, walaupun kenyataannya, ia tak peduli denganku. Karena aku, kadang tak bisa khusyu ketika berkomunikasi dengan-Mu, hanya karena makhluk ciptaan-Mu itu.

Dear Allah,
sampai saat ini, aku masih terus berharap. Lagi-lagi, mungkin semua orang mengira aku gila. Karena aku berharap untuk sesuatu yang semu. Yang bahkan kepastiannya pun belum jelas adanya. Allah selalu tahu, apa harapanku, karena harapan itu selalu aku katakan dengan hati tulus ketika aku merendah dihadapan-Nya. Ketika aku bersujud pada-Nya. Harapan itu, tak pernah luput sedikitpun. Lagi-lagi, memang benar, aku ini gila dan tidak normal.

Dear Allah,
tapi aku tak peduli. Karena, dengan begini saja, aku sudah bahagia. Dengan bermimpi saja, aku merasakan itu seperti sebuah kenyataan. Walaupun semu. 

Dear Allah,
Aku mohon, jaga dia dan jaga hatinya :----).

NB: Yang membaca ini, tolong jaga rahasi ya, jangan sampai dia tahu. HEHEHE:)))


Regard,
Syifa Ahliya
-SA-

Follow me on twitter
@syifahliya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Absurd-_-


Sebuah rasa yang menyesakkan, adalah rasa sayang dari seorang penggemar terhadap idola mereka. Memang, kita tak boleh mengidolakan seseorang dengan terlalu berlebihan bukan? begitu pula yang disyariatkan oleh agama Islam. Seseorang yang patut diidolakan hanyalah Rasulullah SAW.

Lantas, harus aku beri nama apa perasaan ini? gejolak candu, menerjang dalam sekejap. Hanya karena, rona bahagia itu sudah kian mendekat. Iya. Lelaki yang satu   ini, betul-betul aku rindukan. Hari itu, kedua sudut kecil dibibirku, tak henti-hentinya membentuk lengkungan semu. Yang mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Tetapi, tak tahukah mereka? Seberapa kuat aku menahan buncahan rasa bahagia saat menanti waktu itu tiba.

Aku tak ingin sedikitpun melewatkan aksinya saat itu. dan aku mulai menerka, akan segila apakah aku ketika waktu itu telah tiba? Ah, ingin rasanya aku mencabik hatiku saat itu juga. Bukan apa, hanya sekedar meredakan detakan yang sangat tak beraturan itu. 

Sudah beberapa lama ini kunanti. Keeksistensiannya di layar kaca itu, aku bersungguh-sungguh tak akan pernah melupakannya. Bahkan saat itu, rasanya, aku ingin menitikan air mata. Saat mengetahui, bahwa benteng jarak antara kita kembali menebal dan semakin sulit untuk dihancurkan. Dan aku tahu, mungkin itu bukan waktu yang tepat. Tak ada lagi harapan. Kegelapan menghancurkan angan yang selalu aku susun sendiri. Hanya sendiri. Tanpa dia. Haha. Bicara apa aku ini? ia tak mungkin bersedia menyusun angan ini bersama. Aku mungkin terlalu egois. Berharap, takdir akan mempertemukan kita dalam jangka waktu yang dekat ini. tapi aku sadar, apalah daya, aku tak bisa. Sebesar apapun usaha yang aku lakukan. Mungkin, saatnya belum tiba. Saat bahagia itu. ketika aku dapat menyadari, bahwa dia bukan hanya pangeran dalam mimpi.

Lalu, apakah aku bersalah? Ketika aku tak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Saat aku selalu membawa alam khayalku kedalam realita. Aku sering secara tak sadar, menganggap bahwa aku dan dia adalah kita. Hingga akhirnya, aku kembali harus terbentur oleh takdir realita. Aku dan dia. Tak akan pernah mungkin menjadi kita. Sampai kapanpun. 

Dia mungkin berbeda. Aku tak pernah memiliki perasaan sehangat ini terhadap lelaki lain. Karena aku mencoba untuk tidak menyukai lawan jenis dalam beberapa waktu kedepan. Aku hanya ingin bermunajat dengan penciptaku. Kecuali, hingga waktunya telah tiba. Saat aku benar-benar harus memilih tentang pangeran hatiku. Tapi, aku benar-benar berada dalam status kegagalan. Aku tak bisa terus menerus bermunafik, bahwa aku tidak menyukai –ehm tepatnya menyayangi- dirinya. Maksudku, dia yang berada di layar kaca sana. Apa, seperti inikah perasaan seorang penggemar terhadap superstar? Apa benar sekuat ini? atau……..benarkah ini perasaan dari seorang penggemar? 

Andaikan. Andaikan. Dan andaikan. Andai, aku dan dia berada di jalan yang sama. Mungkin, tak akan seberat ini. kau tahu? Kita berbeda iman. Aku mencintai Allah-ku. Dan dia, mencintai Tuhannya. Dan saat menyadari hal ini lah, bibir ini tak lagi bisa mempertahankan lengkungannya. Ia terkunci rapat. Ia bungkam, terbujur kaku, dingin, pucat. Tak ada lagi senyuman seperti biasanya. Apakah, betul hipotesa ku? Bahwa kita memang tak mungkin bertemu –maksudku untuk bersatu-_-V?

Ah, mengapa rasanya harus begini menyesakkan. Kala  hati ingin menyapa. Akan tetapi, hati diseberang sana tak peduli dengan kegalauan ini. kapan, aku bisa menjadi pemilik dari setiap senyum yang engkau tunjukkan untuk publik? Entah, aku tak bisa berteriak seperti penggemarmu yang lainnya ketika melihat aksimu itu. saat itu, aku hanya terdiam. Terpaku. Dingin. Layaknya benda tak bernyawa. Bahkan, untuk sekedar mengeja namamu pun, tak semudah biasanya. Obat bius apa yang engkau pakai, sehingga menimbulkan efek yang sedemikian rupa pada diriku?

Jadi, bagaimanakah dengan perasaanku yang satu ini? layakkah ia diserukan sebagai seorang idola? Atau, pantaskah ia dinobatkan sebagai seorang pangeran? Sebetulnya, siapa dia? Mengapa dia begitu berarti? Pasalnya, kehadirannya –walau hanya sekedar dari layar kaca- dapat mengobati sesuatu yang terasa sakit di relung hati ini.

Tuhan, bagaimana mungkin perasaan ini terus tumbuh dan menancap semakin dalam. Bagaimana mungkin aku bisa menyayanginya? Padahal, aku terus meyakinkan diriku, bahwa-aku-hanya-sekedar-menyukainya? Oh tidak! Aku belum berani untuk mengoarkan kata cinta. Karena untuk saat ini, kata cinta hanya pantas ditujukan untuk-Mu, Rasulku, orang tuaku, dan keluargaku.


-Entah mengapa, malam ini, anganku tentangnya semakin terlihat nyata. Aku harap dia akan kembali datang. Dalam dunia mimpiku. Selamat malam. Aku menyayangimu…….pangeran gsd<3-




Regard,
Syifa Ahliya
-SA-

Follow me on twitter: @syifahliya
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Symphoni of Sense (Part 2): Keresahan Hati


Bahkan, di sela-sela gemericik hujan
Diantara cakrawala senja
Senyumanmu, masih jelas
Disana, di relung hati.
**
“Langit, bisakah kau menjawab pertanyaanku malam ini? Apa maksud dari semua yang telah aku alami ini? Mungkinkah hal itu dinamakan keajaiban? Atau bahkan, musibah? Disaat aku berharap sosok itu mendekat, namun yang aku temui, malah sosoknya dalam wujud yang sangat berbeda. Dia bukan lagi seseorang yang aku tunggu itu. Dia telah berubah.”.
**
            Aku harus menemuinya, aku tak boleh mengulur waktu lagi. Ya, aku harus berani menemuinya. Batin Intan berkoar-koar. Ia tak tahu mengapa keputusan hatinya begitu kuat. Yang ia tahu hanyalah, ia harus menemui orang itu. Ya, orang yang telah membuat hatinya kalut semalaman. Masa lalu, yang tengah menanam benih untuk kembali.
            Pagar putih itu, telah ia capai. Namun, langkahnya terhenti. Kiranya, keberaniannya cukup sampai disini. Didepan pagar itu saja. Tanpa berani selangkah pun memasuki rumah luas itu. “Sial, kunaon aku teh takut kieu atuh lah.” Kata Intan putus asa. Ia masih bertanya-tanya. Masuk atau pulang. Masuk atau pulang. Masuk atau pulang. Hanya itu yang ada dipikiran Intan. Karena saat ini, Intan harus memikirkan keinginannya matang-matang. Baginya, bertemu dengan sosok itu, seperti masuk ke kandang macan.
            Tanpa disadarinya, dari dalam jendela rumah, seseorang berkacamata tengah menilik figurnya. Memperhatikan dan sedikit mewaspadainya. Takut-takut, ia adalah seorang pencuri yang sedang menyamar. Namun akhirnya, ia putuskan untuk keluar rumah. Dan menemui gadis yang tengah berdiri di depan pagar rumahnya.
            “Siapa kamu?” Intan tersentak mendengar suara itu. Ada seseorang yang tiba-tiba saja memanggilnya. Intan berniat lari, karena rasa takutnya sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, ia urungkan niatnya setelah melihat sosok Pak Darmo berdiri di ambang pintu. “Assalamu’alaikum, pak.” Katanya lembut, sambil mengulum senyum ramah kepada Pak Darmo. “Wa’alaikumsalam, eh Nak Intan. Ada apa?” sapa Pak Darmo tak kalah ramah. Karena mata Pak Darmo memang sudah presbiopi, maka tadi ia tak melihat jelas siapa orang yang tengah berdiri di depan rumahnya (yah, walaupun ia sudah memakai kaca mata berlensa rangkap). ‘Rasanya sungguh aneh, jika lelaki itu adalah cucu Pak Darmo. Sifat mereka berbeda sekali. Bahkan dua ribu kali.’ Batinnya.
            “Anak muda jaman sekarang, ditanya malah melamun.” Pak Darmo terkekeh geli, melihat tingkah Intan. “Eh, anu pak, saya….mm…saya…” Intan berpikir sejenak. Apakah ia akan benar-benar melaksanakan niatnya? Kalung itu, ia dekap dalam-dalam. Berharap siempunya dapat merasakan. “Yasudah, sini masuk dulu, tan.” Dengan ragu, Intan melangkahkan kaki ke rumah putih itu. Matanya memandang sekitar, terlihat sangat waspada. Berharap, orang itu tak akan muncul. Ia juga tak mengerti, mengapa niatnya berubah begitu saja. Perlahan tapi pasti. Semakin ia melangkah ke dalam rumah itu, semakin rasa rakut itu menghadangnya. Menyergap dalam-dalam.
            “Pak, saya sebenarnya ingin melamar kerja. Saya ingin kerja di kebun teh bapak.” Kata Intan malu-malu, sambil menyusupkan rambutnya ke belakang telinganya (Intan pun tak mengerti, mengapa tiba-tiba yang ia tanyakan adalah perihal ini). Pak Darmo sedikit terkejut mendengar pernyataan Intan. Namun, tak berapa lama kemudian ia tersenyum. “Kamu sudah dewasa sekarang, tan. Berapa lama bapak tidak bertemu denganmu? Yah, mungkin semenjak kejadian itu, hubungan keluargaku dan kamu semakin merenggang.” Intan bungkam mendengar jawaban Pak Darmo. Jujur saja, ia tak mengerti.
            “Maksud bapak?” Tanya Intan. “Apa kamu tidak ingat?” Pak Darmo malah balik bertanya. “Saya tidak mengerti, pak.” . “Apa kamu ingat dulu kita sangat sering berjumpa. Bahkan, kamu pernah duduk di sini, dipangkuan saya.” Intan mencoba mengingat apa yang Pak Darmo katakan. Bukannya ingat sesuatu, ia malah semakin dibuat bingung. “Ahaha, saya tahu, mungkin semenjak kepindahanmu itu ya?” dulu, Intan memang pernah menetap di Jakarta. Namun hanya sementara. 5 tahun saja. Dan itu pun terpaksa. Ia harus mengikuti kemauan kakaknya. Karena Teh Ina bilang, di Jakarta mah banyak lowongan pekerjaan. Tapi, ia tak yakin pernah bermain atau bahkan duduk di pangkuan Pak Darmo. Toh rasanya, sekarang masih sangat canggung ketika berbincang dengannya.
“Maaf, pak, tapi saya benar-benar nggak paham.” Kata Intan jujur. “Hm begini…”.
            “Pa, there’s a calling for you.” Suara wanita paruh baya tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka. Intan menengok ke arah datangnya suara, dan ia ternganga melihat siapa dia. “Tunggu sebentar ya, tan.” Pak Darmo beranjak dari tempat duduknya, dan masuk ke dalam rumah untuk menerima panggilan itu. “YOU??? What’s up?” Tanya Ibu tersebut kepada Intan (setelah ia memastikan Pak Darmo masuk ke dalam menerima panggilannya). “Ehehe, ketemu lagi sama tante yang bengong itu. Saya ada perlu sama bapak, tante.” Kata Intan polos. “Saya minta, sekarang juga kamu pergi dari sini!” Merry mempersilahkan Intan untuk meninggalkan kediamannya. “Loh? Kenapa tan? Saya ingin berbicara dengan Pak Darmo!” . “Pasti masalah itu kan yang akan kamu bicarakan dengan papa saya? Agar kami mau menerimamu kembali? Iya?” Spontan, Merry menutup mulutnya. Dan ia mengutuk dirinya pelan.
            “Maksud tante apa sih? Saya betul-betul nggak paham. Tadi Pak Darmo berbicara aneh. Dan sekarang tante. Ini rumah atau gua misterius sih?” intan mulai kesal. “Saya minta kamu pergi sekarang juga.” . “Tapi tante…”. “Ini rumah saya, dan saya berhak bertindak semau saya. Karena ini bukan urusanmu. Sekali lagi, saya minta kamu pergi dari rumah ini. Dan saya harap, saya tidak akan melihat tampangmu lagi. GO AWAY!” telak, Intan tak bisa lagi berkutik dengan penekanan yang diberikan oleh Merry. Walau ia tak mengerti mengapa ia tiba-tiba diusir, tapi tetap saja, Intan harus menurut. Karena, semakin ia diam, semakin ia tertindas.
**
“Aku sedikit berharap, celah itu masih ada. Walau hanya setitik. Karena, hm kau tahu? Aku selalu bertanya-tanya. Masihkah kau menyimpan sederet namaku di hatimu yang sekarang membeku?”     
**
            “Teh, teteh….” Panggil Intan kepada kakaknya. “Apa sih tan?” Ina keluar dari dapur dengan langkah tergesa. “Teteh nggak ngebun?” Tanya Intan penasaran. “Sekarang kan teteh libur, tan.”. “Apa kita pernah ada hubungan dekat dengan keluarga Pak Darmo?” Ina terdiam seketika, mendengar pertanyaan Intan. “Hubu..ngan katamu? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?” . “Teh, teteh nggak perlu tahu kenapa Intan nanya gini. Sekarang yang penting, teteh jawab pertanyaan Intan!” nada bicaranya meninggi, menandakan ia sedang sungguh-sungguh. “Teteh nggak tahu, tan.” Jawab Ina lemah. “Apa? Teteh nggak tahu? Teteh serius kalau teteh nggak tahu? Teh, sebelum kita pindah ke Jakarta, itu pasti ada suatu hal yang teteh sembunyikan dari aku kan? Jawab teh jawab!”
            “Teteh bener-bener nggak tahu, tan. Sungguh.”. “Kenapa sih, dari dulu, teteh selalu ngerahasiain sesuatu dari Intan? Kenapa teteh nggak pernah mau jujur. Dulu, pas Intan tanya, dimana orang tua kita, teteh cuman ngasih tahu mereka udah nggak ada. Tapi, setelah Intan mencari tahu, ternyata kan kita adalah anak yang diusir. Kenapa sih teh, teteh nggak mau jujur sama Intan? Memangnya Intan itu anak kecil apa?”
            “Bukan gitu maksud teteh, tan. Kamu, kamu cuman….”. “Iya, Intan tahu, Intan tahu kalau Intan cuman remaja bodoh yang nggak bisa ngelanjutin sekolah. Yang bisanya cuman mikirin masa kecilnya yang gak jelas itu kan? Iya kok, Intan nyadar diri. Intan mau pergi saja.” Intan marah. Sangat marah. Ia merasa, ia adalah gadis terbodoh yang ada di desa itu. Ia hanya gadis yang diciptakan bagai seonggok kayu, yang tidak tahu apa-apa. Sebetulnya, apa yang terjadi dengan Intan?
**
            Intan berlari ke kamarnya. Memasukkan baju-bajunya kedalam tas besar. Tas satu-satunya yang ia miliki. Ia ingin pergi ke panti jompo saja. Tinggal bersama neneknya lebih baik, dari pada ia terus saja diam ditempat yang dipenuhi dengan fakta-fakta palsu dan kebohongan. Tempat yang membuat ia semakin lama, semakin merasa terasingkan dari dunia luar. Hm, ralat, sepertinya bukan dunia luar. Sungguh, ia tak peduli dengan dunia di luar sana. Dengan dunia di sekitarnya, ia tak peduli. Karena, ia hanya peduli dengan teman kecilnya. Dengan masa lalunya, yang mungkin tidak berharga bagi orang lain yang menyaksikan kisah Intan. Tapi, siapa kira? Baginya, masa lalunya, masa kecilnya, adalah masa depannya. Karena, bukankah orang bilang masa depan penuh dengan bahagia? Dan, tentu saja, ia hanya bisa menemukan kebahagiaannya dengan masa lalunya. Mungkin ini bodoh, tapi ia tak peduli. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia hanya ingin menenangkan pikirannya. Mungkin neneknya bisa membantu.
            “Tan, Intan! Kamu teh jangan ambekan kitu atuh (jangan marah-marah kaya gitu). Emangnya kamu mau pergi kemana gitu, tan?” Ina mendekati adiknya, dengan cara yang lebih lembut. “Nenek.” Jawab Intan singkat, tapi mampu membuat kakaknya terkesiap. “Sekarang, kasih tahu Intan, dimana Panti Jompo nenek!” matanya menatap tajam, tepat dimata kakak sulungnya itu. Ina memalingkan wajah, mencoba mencari-cari alasan. “Kamu, serius?” Tanya Ina untuk meyakinkan adiknya itu. “Aku lebih baik tinggal bersama nenek. Dari pada disini, sama teteh, yang selalu nyembunyiin segalanya dari Intan. Teteh pikir Intan teh masih kecil kitu?” gurat kekecewaan terpata jelas diwajahnya.
            “Tan, teteh lupa dimana panti nenek.” Ucap Ina lirih, akhirnya. Intan memandang wajah kakaknya tak percaya. “Gimana bisa teteh lupa? Gimana bisa teh? Itu NENEK KITA! Nenek yang teteh bilang cuman satu-satunya keluarga yang kita miliki. Nenek yang teteh bilang dulu merawat kita, setelah kita diusir mama papa. Dan, sekarang, teteh bilang LUPA?” Emosi Intan kembali menggebu-gebu.
            “Rahasia apa lagi yang teteh sembunyiin dari aku teh?” kata Intan akhirnya. Ia terduduk lesu. Menatap nanar jendela kamarnya. Memikirkan hidupnya yang berantakan ini. “Tan…” Ina ikut duduk disebelah adiknya. Merangkulnya. Mengusap pundaknya. “Maafin teteh…” kata Ina pelan dan melepas rangkulannya di pundak adiknya itu. Suaranya seperti sebuah bisikan. Ah tunggu, suara apa itu yang menggelitik pendengaran Intan. Apakah itu sebuah…..isakan?
            Intan menoleh, mendapati kakaknya yang sekarang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuh Ina bergetar hebat. Titik-titik air matanya, berjatuhan ke lantai. “Untuk?” Jawab Intan dingin, berusaha tak peduli. “Selama ini, teteh banyak bohongin kamu. Selama ini, teteh bilang bahwa……”. “Kenapa teh?” Dahi Intan semakin berkerut. “Sebenarnya…….”
**
Thanks a lot, yang mau ngeluangin waktunya buat baca cerita ini. Tidak ada maksud apapun, hanya ingin menuliskan imajinasi yang ala kadarnya ehehe =D. Mohon apresiasinya yaa:).

Regard,
-SA-
(Syifa Ahliya).

Follow me on twitter @syifahl

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My friends make random video :D

Let's enjoy! xixixi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Symphony of Sense (part 1): Siapa dia?


Ini hanya fiksi belaka. dan semata-mata dari imajinasi penulis. jadi tidak ada sangkut paut dengan tokoh yang berperan dalam cerita ini.

**

“Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya. Kepada pohon berbunga itu”-Sapardi Djoko Damono.
**
“Kamu mungkin tak akan pernah tahu. Apa yang selalu aku harap dan nantikan di malam hari. Ku tatap bintang-bintang, penduduk langit yang selalu Nampak ceria setiap malam tiba. Ku alihkan pandanganku pada pohon-pohon rindang, yang bergoyang tertiup angin. Orkestra alam, bersahutan dengan merdu. Semuanya terasa damai. Tapi, ada satu hal yang aku tidak mengerti. Mengapa air mata ini selalu jatuh saat malam tiba. Dan aku menyadari satu hal, bahwa ada yang hilang dari hidupku. Yaitu kehadiranmu.”
**
            “Kamu janji kan?” lensa matanya mencembung. Lapisan tipis, mulai terpeta disana. Bocah lelaki dihadapannya tak kuasa melihat sahabat kecilnya ini menangis. “Ayas, kamu kenal aku kan? Kita udah lama jadi sahabat. Aku nggak pernah sedikit pun bohong sama kamu, kan?” bocah lelaki berkulit sawo matang itu pun tersenyum dengan tulus.
            “Tapi, kalau nggak ada kamu, nanti aku cerita-cerita lagi sama siapa?” gadis manis itu, kembali mengungkapkan kekhawatirannya. “kamu cerita aja sama benda mati, mungkin kamu nggak percaya, tapi, itu nyata. Mereka bisa buat hati kamu tenang”. “Mana mungkin.”. “aku serius, yas…”
            “kakak, ayo cepat! Papa dan mama sudah menunggu!” seruan dengan nada tergesa dari halaman depan , meyakinkan kedua insan ini, bahwa perpisahan yang selalu mereka takutkan belakangan ini, sudah ada di depan mata. Jarak antara mereka, akan terhapus. Tak ada, tentu tak akan ada lagi kebersamaan seperti dulu. Semuanya sudah berbeda, hidupnya, bagai berakhir begitu saja. Dunia memang tidak adil, gugatnya.
**
Pohon ikut berdendang,
Angin tak bisa lagi dihadang,
Sedangkan, baginya, semua keindahan alam ini tidak berarti.

            “Hayu atuh bangun! Kamu teh jangan tidur mulu. Katanya mau bantuin teteh kerja di kebun teh Pak Darmo?” Ina, perempuan berkulit putih itu membangunkan adiknya, yang paling susah jika dibangunkan dalam tidur nyenyaknya. Tubuhnya, menggeliat malas. “Males ah teh. Besok aja ya, mulai kerjanya.” Katanya membantah. “Kamu mah dari kemarin juga, bilangnya kaya gitu mulu. Hayu ah! Pokoknya mah, kamu harus kerja.” Ina, sebagai kakak sulung yang bertanggung jawab, menarik paksa lengan adik bungsu satu-satunya itu. Dengan muka kesal, adiknya mengambil handuk, dan bersiap untuk mandi.
            Udara di luar benar-benar sejuk. Sebetulnya, setiap hari pun seperti ini. Tapi, entah mengapa, Intan (adik Ina) merasa, hari ini betul-betul berbeda dari biasanya. kerikil-kerikil kecil di sepanjang jalan setapak yang ia lewati, tersenyum ramah menyapanya. Dengan anggun, Intan pun balas tersenyum kepada mereka.
            Inilah kebiasaan Intan sedari dulu, ia selalu menceritakan isi hatinya kepada benda-benda mati disekitarnya. Walau ia hanya bercerita dalam hati, tapi, sejauh yang ia rasa selama ini, hal itu membuatnya tenang. Mungkin, awalnya pendapat ini berasal dari sebuah sugesti. “Dasar gila emang ya kamu. Kerikil, disenyumin.” Intan hanya membalas tanggapan kakaknya dengan seringaian lebar.
            Beberapa langkah lagi, mereka hampir sampai di perkebunan yang mereka tuju. Dari kejauhan, sudah terlihat beberapa petani, sedang sibuk bekerja. Intan menghentikan langkahnya seketika, Ina menatap heran pada adiknya yang lagi-lagi bertingkah aneh. “Aku nanti ngapain teh?” Intan menggaruk tengkuknya. “Ngapain aja boleh. Udah hayu ah, kesana dulu. Lagian, kamu kan baru, jadi harus lapor dulu ke Pak Darmo. Terus, nantinya, kamu bakalan kerja, sesuai yang Pak Darmo perintahin ke kamu, tan.” Intan mengangguk mengerti. 
            “Teteh mau kerja dulu, sok kamu ke sana.” Ina menunjuk ke kediaman Pak Darmo, yang kebetulan memang tidak jauh dari kebun teh itu. Jika dilihat-lihat, rumah Pak Darmo , adalah rumah terluas yang ada di Desa Pacitan ini. “Aduh, geuning sepi pisan ya?” Intan menatap sekeliling, tak ada orang sama sekali di rumah bercat putih itu. Hanya desiran angin yang terdengar, menyapa lembut pipi ranumnya.
            “I don’t care! But, I just want to leave this boring village. I miss my lovely Birmingham. I don’t want to live here, mom!” Intan malah dikagetkan, oleh suara seorang laki-laki yang tengah berdebat dengan ibunya, sepertinya. Intan rasa, mereka orang asing. Intak tak pernah melihat mereka di sini. “Itu siapa ya?” Tanya Intan bermonolog dengan dirinya sendiri.
            “But dear, it’s your father’s command. Instead, in Birmingham, is not safe anymore.” Balas suara seorang wanita paruh baya, yang tingginya tidak jauh berbeda dengan anak lelakinya itu. “MOM. YOU DON’T UNDERSTAND. It’s, ough! This village is disgusting.” Lelaki tersebut memandang jijik, kepada pot-pot kecil, yang dialokasikan di rumah putih itu. “Please David, please listen to me.” Ibunya, memandang lelaki itu dengan tatapan memohon. Si anak lelaki terdiam. Ia tahu, sebetulnya, sang ibu pun –mungkin- tidak ingin tinggal di sini. Tapi, apa daya. Tak ada seorang pun yang bisa merubah keadaan.
            Tanpa sengaja, karena terlalu asik mendengarkan-walaupun ia hanya mengerti sedikit dari beberapa kalimat yang baru saja ia dengar- Intan tak sengaja menginjak kaleng kosong, yang berada tidak jauh dari pijakan kakinya. Alhasil, kedua manusia yang tengah berargumentasi di teras sana, kompak menatap Intan, dengan tatapan tajam.
            “Who are you?” Tanya sang anak lelaki. “and, what do you want, poor and stupid girl?” ada nada tajam yang terselip dari omongan lelaki itu. Berbeda dengan David, Ibu David (Merry) malah terdiam. Entah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Nampaknya, ia sangat kaget, ketika melihat Intan. Merry memaksa otaknya berpikir keras. Iya, ia merasa ada suatu firasat aneh, ketika ia melihat wajah Intan. Merry terus melamunkan atau lebih tepatnya, mengingat sesuatu yang ia rasa tak asing lagi baginya.
            Intan mengerti, jelas. Walau ia tidak melanjutkan Sekolah Menengah Atasnya, tapi, ia selalu membaca majalah-majalah bekas, yang diberikan oleh tetangganya kepadanya. Dan di majalah itu, ada suatu bab khusus yang membahas tentang kosa kata dalam bahasa Inggris. 
            Sekali lagi, mungkin perlu ditekankan. Intan mengerti jelas, apa yang lelaki tadi katakan kepadanya. Dengan pandangan menghina, ia memanggilnya ‘poor girl’? ralat, yang lebih menyakitkan adalah ketika ia dipanggil ‘stupid girl’. “Tidak tahu saja ia, bahwa aku selalu menjadi juara umum di SMP dulu” batin Intan sakratis. Luka kecil tergores di sana. Dalam lubuk hatinya. Selama ini, belum pernah ada yang menghinanya serendahan itu.
            “Saya hanya ingin bertemu Pak Darmo.” Kata Intan langsung, karena ia tahu, apabila ia melawan perkataan ‘lelaki sok’ itu, bukanlah suatu hal yang menguntungkan baginya. “I think that, you will steal my grandpa’s gold.” Lelaki menyebalkan itu, tersenyum miring. ‘Untuk apa di Indonesia ada perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia, jika aku diperlakukan seperti ini. Huh, sabar Intan. Sabaaarr.’ Batinnya menggebu-gebu.
            “Saya ada urusan penting.” Jawab Intan tak acuh, dingin. “Mom, where’s he?” lelaki tengil itu, bertanya kepada mamanya, yang ternyata sedari tadi masih terbuai dalam ayal khayalnya. “MOM! Do you listen me?” . “David! Don’t speak loudly like that. That’s not polite you see!”. “It’s not my fault. But, it’s yours. Now, I think, you must serve this hell girl.” Katanya semakin menjadi-jadi. “Dia cari kakek, mom. Apa mom nggak dengar? She’s your business.” David, meninggalkan teras dan berjalan dengan santai ke dalam rumah.
            “CUKUP! Lelaki berwajah tomcat!” Intan sudah tak tahan lagi menahan amarahnya. Ini benar-benar keterlaluan. Stupid, poor, and the last, dia mengatai Intan ‘hell girl’, Intan tidak terima. David yang hendak masuk rumah, menghentikan langkahnya. Dan terdiam sebentar. Lalu, ia berbalik badan. Menatap Intan dengan tajam. “Can you repeat it?” . “Aku bilang cukup! Apa kamu tuli, hah? Ohiya,aku lupa, orang bule pantes aja tuli, setiap hari aja kupingnya dijilatin Anjing. Binatang yang haram dan menjijikan.” Kata Intan sangat tajam. Matanya, menatap tajam, tepat di mata David. Ia menantang cucuk Pak Darmo yang satu itu ternyata. Intan sama sekali tidak takut. Lagi pula buat apa takut? Dia bukan Tuhan.
            “Don’t Insult my dog!” David memberikan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan, hal ini membuat amarah Intan semakin memuncak. Bisa-bisanya dia membela seekor anjing. “Aku nggak habis pikir, ada ya orang yang membanggakan binatang haram sebegitunya. Iyuh,” . “Gue juga nggak habis pikir. Gue kira, orang kampung kayak lo, nggak ngerti bahasa inggris. Pinter juga lo.” . “ohiya, gue lupa. You say that, you seek my grandpa. Do you really want to meet him?” david tersenyum miring untuk yang keberapa kalinya. Intan tahu, ini pasti ada rencana lain dibalik senyumannya yang misterius itu.
            “You must,kiss my foot! If you don’t, I won’t tell you where my grandpa is.” Ia tersenyum bangga, dengan penuh kemenangan. Oh shit! Ini benar-benar jebakan. Intan harus bagaimana. Tapi, Intan pun butuh pekerjaan ini. Teh Ina pasti bakalan ngomel lagi. Tapi, apa itu bukanlah suatu hal yang gila? Berlutut di hadapannya? Cih, seperti manusia yang tidak punya harga diri saja.
            “Brave?” Tanya nya lagi. Intan semakin bingung. Mengapa ada manusia sekejam ini? Hati Intan berontak. Seluruh organ tubuhnya, meneriakkan kata-kata permintaan tolong. Entah pada siapa, yang ia harap, dapat menyelamatkannya sekarang juga. Kalau bisa, membawanya pergi jauh dari tempat itu.
            “Mom, kakek bilang, kepulangannya dari Jakarta dipercepat. Besok pun, ia mungkin akan pulang.” Seorang anak remaja, berusia –sekitar- 14 tahun, tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Oh tunggu, apa tadi ia bilang? ‘kakek akan pulang dari Jakarta esok hari’, itu tandanya, Pak Darmo tidak ada di rumah. Ah, sial. Intan menggerutu lagi. Ternyata, ia dikerjai oleh lelaki menyebalkan ini. “HAHAHAHA, you’re lucky then. You don’t kiss my foot yet. Oke, you know what? My grandpa is out there, not here.” Dia tertawa bangga. Intan memandangnya jengkel. Benar-benar jengkel. Tangan Intan terkepal, mungkin, jika tidak ia tahan, ia siap meluncurkan pukulannya kepada pemuda itu.
            Intan berlalu pergi, tanpa mempedulikan lagi bagaimana reaksi kakaknya, ketika mendapati ia, tak bertemu dengan Pak Darmo. Namun, sebetulnya, ada satu hal yang tidak Intan mengerti.
“Ada apa dengan ibu, si lelaki sialan itu?”
**
“Malam, malam, dan selalu, malam kembali datang. Aku benci malam. Aku benci ketika matahari mempersilahkan tahtanya, untuk diduduki dengan bintang-bintang penghias itu. Aku benci ketika langit biru, dengan bijaksana, undur diri dari angkasa. Dan digantikan oleh langit hitam pekat. Aku benci, karena, malam selalu membuatku merasa, bahwa penantianku semakin panjang.”
**
            “Kamu nanti kapan temuin aku lagi disini? Kapan kita bakalan sering main bareng, cerita bareng kaya dulu lagi. Apa kamu nggak bakalan kangen sama aku?” gadis kecil berambut panjang ini, menunduk pilu. Air matanya tak bisa lagi ia tahan. Padahal, ia sudah membuat komitmen sebelumnya, dengan air matanya. Tapi, ternyata, butiiran bening itu, mengingkari janjinya. “Aku akan kembali. Menemanimu, bermain, dan aku janji, senyuman ini, akan kembali aku persembahkan, buat menghapus kesedihanmu. Tapi, aku mohon, jangan menangis lagi. Karena nanti, tak akan ada aku, yang bisa menghapus kembali air matamu, Ayas.”. “Iya, tapi aku takut kamu bohong.”. “Aku nggak akan bohong. Aku berjanji, bintang-bintang di angkasa, akan menjadi saksi kepulanganku ke sini.” Bocah lelaki berkulit sawo matang itu, perlahan menghapus air mata peri kecilnya. Membuat senyuman manis itu, kembali lagi terpeta di sana.
**
            Sinar mentari menyusup, melewati celah-celah jendela yang sedikit terbuka. Menyoroti wajah gadis manis yang masih meringkuk diatas ranjangnya. Suara tuk tuk kecil dari jendela, membangunkannya perlahan. Seekor burung kutilang, mematuk matuk jendela dengan paruhnya. Gadis ini tersadar. Ia ikat rambutnya yang ia biarkan tergerai semalaman. Perlahan, ia mendekat ke arah satu-satunya cermin –yang kelihatannya sudah kusam- yang ada di kamarnya. Ia terkejut. Matanya basah. Apa semalam ia habis menangis? Tapi, kapan? Ia berpikir sejenak. Tak lama tersadar, pasti akibat mimpi itu. Ahhhh, mengingatnya saja, membuat dadanya semakin sesak.
            “Tumben, tan udah bangun.” Ina memasuki kamar Intan, tanpa mengetuk terlebih dahulu. “Teteh, aku nggak mau kerja di kebun teh nya Pak Darmo. Aku mau cari kerjaan lain saja.” Kata Intan ketus. “Kemarin kamu kenapa langsung pulang atuh, tan?”. “Males.” Jawab Intan tak acuh. “Terus kamu mau kerja apa?” Tanya Ina sedikit khawatir. “TKW aja sekalian. Toh yang jadi TKW banyak duit. Lagi pula, lumayan aku bisa pergi jauh dari sini. Siapa tahu, suatu hari, aku bisa….mmm –Intan menggigit bibirnya-…aku….ketemu, dia.” Ina mengerti kemana maksud perkataan Intan barusan. “Kamu nggak usah berharap sama temen kecil mu itu lagi, tan. Dia pembohong.” Kata Ina mencoba menasihati, namun kata-kata itu, Intan rasa adalah sebuah hinaan.
            “Teteh teh nggak boleh atuh bicara seperti itu. Sampai sekarang pun, Intan masih percaya kalau dia pasti bakal kembali.”. “Coba atuh sekarang? Ada nggak buktinya? Toh, itu cuman masa lalu kamu, tan.”. “Dia itu bukan cuman sekedar masa lalu Intan, teh! Dia dunia Intan.” Amarah Intan, sudah di luar batas normal. “Euleuh-euleuh, kamu lebay pisan.” Ina menggeleng kecil, mendengar penuturan adiknya. “Teteh nggak ngerti, selama ini teteh cuman ngasih tahu aku, ngasih aku motivasi. Tapi, teteh sama sekali nggak tahu kan perasaan aku teh seperti apa?” sial! Lagi-lagi, air matanya mengalir lagi. Dan sama seperti sebelumnya, air mata itu, selalu untuk orang yang sama.
            “Intan, masa lalu itu, cuman sebagai sisipan yang Tuhan kasih, buat melengkapi hidup kita. Yang harus kamu pikirkan itu, adalah masa depan, bukan masa lalu. Masa lalu itu nggak penting. Toh, dia cuman bisa buat kamu nangis seperti ini, kan? Apa kamu nggak lelah?” . “Terserah apa kata teteh. Aku nggak mau dengar.” Intan berlari keluar rumah, berlari, berlari, dan terus berlari. Ia tak peduli kemana kakinya, membawanya melangkah. Sungguh, ia tak peduli. Yang ia yakini adalah satu, menyendiri, adalah hal paling baik saat ini.
            Mungkin kalian bertanya, mengapa kedua kakak beradik ini hidup hanya berdua? Ya, mereka tak punya siapa-siapa lagi. Mereka hanya tinggal bersama nenek mereka. Orang tua? Ah, mereka mungkin tidak peduli dengan kedua kata itu. Ayah dan bunda mereka telah tega mengusir mereka berdua dari rumah. Entah apa maksudnya (saya juga tidak tahu). Keduanya memutuskan untuk pergi ke Pacitan. Tempat di mana nenek mereka tinggal. Dan sekarang, nenek yang mereka miliki satu-satunya itu, dititipkan di panti jompo. Karena, mereka tak punya cukup uang untuk membeli makanan.
            Telapak kaki Intan terus berlari, menyusuri sebuah jalan setapak yang lebih kecil. Jalan itu, tidak berbelok. Hanya terus lurus, dan entah ujungnya dimana. Intan menyibak semak belukar yang menghalangi langkahnya, di depannya, terlihat sebuah sungai dengan air yang –benar-benar- masih bebas dari kata pencemaran. Sungai Pacitan ini, yang selalu membuat hati Intan tenang. Karena, gemericik alirannya, menghadirkan gemuruh-gemuruh kedamaian bagi siapapun  yang mendengarnya.
            “aaaaaaaaaaaaa” teriak Intan setibanya di sana. “hiks…hiks, harus berapa lama lagi aku nunggu kamu? Aku capek tahu gak, capeeeeeekkkkkk…..” intan mengeluarkan semua amarahnya, dihadapan aliran sungai, dan batu-batu besar yang ada di sana. “Kenapa? Kenapa kalian hanya diam? Kenapa tak ada satu pun yang menjawab pertanyaanku?” gugatnya, kepada benda-benda tak bernyawa itu. “Dia bilang, jika aku bercerita dengan benda mati seperti kalian, hatiku akan tenang. Tapi apa buktinya? Hah, lagi pula, aku bodoh sekali mempercayai perkataannya yang tak bermutu itu.” Intan terduduk lemas. Ia sembunyikan mukanya, di kedua telapak tangannya. Hatinya benar-benar membutuhkan penenang saat ini. Rasanya, ribuan bongkahan batu besar dijejali dengan paksa ke dalam dirinya.
            “haha, Crazy.” Intan diam sesaat. Mencoba menajamkan pendengarannya. Jika tak salah dengar, seperti ada yang berbicara. Intan mengalihkan pandangan ke sekeliling, tak ada seorang pun dibelakangnya. “I’m here, crazy.” Ya, Intan tahu sekarang, suara siapa itu. Tidak salah lagi.
            “Ngapain kamu?” Tanya Intan dingin. “I’m walking alone. I just wanna know, the nature in this village. My mom says, it’s very good. And I want to prove it. But then, I find a crazy girl, near the river.” Katanya, tapi tidak menatap Intan. “Bisa nggak sih pake bahasa Indonesia aja? Kamu lagi ada di Indo, bukan di luar kota!” cerca Intan tajam. “Nggak bisa! I love Birmingham –my country- more than this disgusting village.” Intan bangkit dari duduknya. Mendekat perlahan, ke arah lelaki yang sangat  mengganggunya dari kemarin. Dan menatapnya tajam.
            “You-are-so-damn” kata Intan sinis. “You more.” Balas David tak kalah sinis. “Aku mohon kamu pergi sekarang juga.”. “Oke, I will go. But I want to ask something to you.” Dahi Intan berkerut, mendengar perkataan David. Sesuatu apa yang akan lelaki di hadapannya ini tanyakan. “Do you really crazy and stupid girl? Gue heran, apa gunanya cerita sama benda mati. Mereka nggak guna.” . “Aku diberi tahu oleh seseorang, itu lebih baik, dari pada kita bercerita kepada manusia yang mungkin tidak bisa menjaga rahasia.” Balas Intan yakin. “That person is stupid then, same with you.” Tanpa berkata-kata lagi, David meninggalkan tempat itu.
            “Jangan menghina dia.” BUGG! Intan mendorong lelaki –yang telah berjalan meninggalkannya- itu. Hingga membuat lelaki itu tersungkur, jatuh terperosok, di tanah yang becek. Seluruh badannya, sekarang di dominasi dengan nuansa kecoklatan. “Sial! Apaan sih lo?”. “Aku nggak akan biarkan siapapun menghina dia.”. “But, that’s the fact. You are same with him. And now, LOOK! Semua badan gue kotor. Tahu nggak lo? Biaya perawatan kulit gue tuh mahal! Lo pun nggak akan sanggup untuk bayar itu.”
            “Aku kasih tahu ya ke kamu. Jadi orang, jangann sombong. Karena sebetulnya, kekayaan yang kamu punya itu hanya titipan dari Tuhan. Actually, you’re nothing.”. “Argh, that’s up to you. Lama-lama gue bisa gila.” David dengan segera benar-benar meninggalkan sungai itu. Sungai yang mempertemukannya dengan makhluk yang paling aneh sedunia, menurutnya. David berlari sangat kencang, ia harus menyelamatkan kulitnya. Ia tak akan membiarkan secuil kuman pun hidup di tubuhnya. Apa lagi, sampai kuman itu menjadikan kulitnya, tempat bersalin(?)
            “Sombong banget sih manusia itu. Kenapa aku harus bertemu orang seperti dia.” Kata Intan kesal. Ia pun, berniat untuk pulang. Namun tak sengaja, kaki nya menginjak sesuatu. Intan memungut sesuatu itu. Kalung putih, diukir dengan gambar elang. Sang elang tengah melebarkan sayapnya dengan perkasa. Sepertinya, itu termasuk kalung yang mahal.
            Tidak, bukan dari segi mahalnya yang Intan lihat. Seketika, hati Intan berdegup saat melihat kalung itu. Pikirannya bercabang tak menentu. Ribuan pertanyaan terselip dalam otaknya. Ia merasa mengenal kalung itu. Bahkan, bukan hanya ‘merasa’, tapi ia tahu pasti, siapa yang pernah mengenakan kalung yang sama seperti yang ada di genggamannya saat ini. “Is this David’s?” Tanya nya entah pada siapa. “Tapi….tapi aku tahu betul, kalung ini benar-benar mirip dengan yang punya…..” Intan memegang dadanya. Sesak itu kembali menyelubungi dirinya. Ada rasa tidak percaya terhadap pernyataan yang baru saja ia hadapi. Setetes butiran tipis, kembali mengaliri pipi ranumnya. Entah mengapa, euphoria itu datang lagi menyergapnya. Dan menimbulkan kegalauan yang akut.

“Tapi, tapi, hhh…tapi aku tahu persis, ini kalung milik Eko.” Intan mendekap kalung itu erat. Dan mencoba menelaah arti dibalik semua ini

 **
Random? ya! Absurd? Ya! Jelek? ya! auah, ini apaan._.V. jangan tanya saya kapan lanjut. kemungkinan besar abis UN. kemungkinan kecil minggu depan.

Follow me:
@sipsyifaa

Regard,
-SA-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kata-kata terakhir penulis

Hai sobat blogger, khususnya yang suka baca cerpen-cerpenku. *PD*. Aku kan bentar lagi mau UN nih, ya maklum lah sekarang sibuk banget *sok sibuk*, jadi untuk sementara sampai mau UN, bakalan vakum dulu nih dari dunia tulis menulis. walaupun harus diakui sih, yaaa nggak rela juga. huaaa :"((. bisa-bisa aku mati kalau vakum nulis. tapi tapi tapi ya mau gimana lagi coba, ya-___-. sekarang, mau PDKT dulu nih sama rumus-rumus fisika. Jangan cemburu gitu dong ah. tenang aja, nulis tetep jadi pemilik hati ku kok *lho?*

Tidaaaakk, aku masih nggak rela kalau nggak nulis ternyata. masih gak rela harus vakum selama itu. sebenernya nggak lama sih ya. huhuhu. missyouu my soul :*. Oh iya, mau cerita dikit nih, hari ini hasil TO dibagiin. hasilnya? waw, amazing! gila Fisika bener-bener minta digorok. udah belaajar pusing-pusing sana sini. sampe sampe sebelum TO itu, aku bolos BBC *xixixi* gara-gara belajar bareng hanya buat FISIKA. nah! kurang cinta apa coba aku sama Fisika-__-. pulang-pulang rambut aku sama temen-temen ku pada berubah kaya Einsten. kita sampe harus ke salon bo *sumpah ini nggak penting banget*. Eh, tahunya apa? Nilai IPA aku paling rendah men. catat, RENDAH. bener-bener ngajak ribut Fisika itu ya. nggak ngerti apa perjuangan ku untuk memperbaiki keturunan dengan fisika seperti apa *ini apa banget*.

*tiba-tiba Fisika nyamar jadi hantu*

Ampun fisikaaa, aku nggak ngejelek-jelekin kamu kok. aduh, kamu kok jadi pelajaran nyenengin banget sih. aku cinta mati sama kamu *Jangan dicontoh. ini orang gila*

But Fortunatelly, English nya cukup memuaskan. hagzhagzhagz. Seneng banget dapat nilai English segitu. Kamu memang kekasih sejati :3.

Nah, jadi ya ceritanya, aku vakum dari dunia tulis menulis itu, untuk berjuang dan mendapatkan hati nya si Fisika itu. Dia susah banget deh ditaklukin. sampe sampe aku nggak bisa tidur semaleman. Jadilah aku mencari makanan di malam yang sesunyi ini *berasa kalong*. Tapi sih, mending berjuang untuk mendapatkan hati nya si Fisika. dari pada cinta pertama aku tuh, hobinya bikin sakit hati mulu *eh._.V *ini sebenernya ngomongin apa, aku juga nggak tahu. oke, cukup*.

And the last, pokoknya sehabis UN, aku bakalan bales dendam, deh. Nanti sehari bikin 100 tulisan bahkan. wkwkwk. lebay abis. Kamunya jangan marah ya my lovely blog, jangan salahkan aku, jadi siapa yang seharusnya disalahkan? Noh Pemerintah! suruh siapa ngadain ujian nasional. jadinya kan aku harus ninggalin kamu. hiks, jadi ingat kenangan-kenangan yang udah kita laluin selama ini. antara aku dan kamu. kita memang pasangan setia, ya. I Love youuu :*** *big hug*

Wish me Luck for Final Examination on 2012 !!!!

I can do it. I can pass it, and get the good result

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Just Flashback

Tau tidak ? aku benar benar benci hari ini. Hari yang sungguh menyebalkan yang pernah aku alami. Hari yang membuat seluruh hatiku berawan kelabu. Dari tadi pagi, semua orang di kelas sudah buat aku kesal setengah mati. Yaaa memang tidak semuanya, tapi yang paling mendominasi ‘keruhnya hari hariku’ itu, adalah “S”. gara gara dia,kesal sekali rasanya. Masa iya,dia tidak menepati janji. Sungguh janji yang palsu. Kemarin malam, dia membuat janji denganku dan teman teman sekelompok drama ku yang lainnya. Tapi sungguh, dia benar benar menjengkelkan. Bilangnya, mau ngirim lewat pesan fb tentang naskah drama bahasa inggris. Tapi, tak kunjung ada pemberitahuan di pesan fb ku. Aku benar benar sebal dengannya. Dari pagi, aku cuekin dia. Bodo amat ah ! walau pun anggota kelompok drama ku yang lain tidak berbuat begitu. Terlihat begitu jelas bahwa aku sedang kesal padanya. Beberapa kali dia mengajakku bicara. Ah tapi…peduli apa ? aku sungguh tak peduli. Dan aku terus menyindir nyindirnya. Namun, dengan cara yang tidak langsung .

“Eh,emang kalian udah hapal belum sama drama nya ?” tanyaku pada teman teman yang lain.
“Ya…belum lah emang kapan coba mau ngapalinnya ?” jawab salah satu diantara mereka.
“Noh.kalian tahu kan ? kita belum hapal . mana bisa kita menghapal ini semua dengan waktu yang sebegitu singkat ?” tanyaku, ada nada tajam menyindir di sana.
“Ya..semoga aja kita ga akan tampil hari ini.” Jawab yang lain santai sementara raut wajahnya juga menggambarkan kecemasan.
“Ya itu kan Cuma bisa berharap.” Kataku lagi dengan memutar bola mata.
“Kan mungkin aja,kita bisa minta waktu sama Mrs kali,syif. Nggak gitu juga kali.” Kata si ‘terdakwa’
“Yaudah lah Ter-se-rah. Emangnya aku pikirin gitu ? bodo ah.” Jawabku –sedikit- tidak sopan -dengan gaya bicara yang masih menajam- lalu berlalu keluar tanpa mempedulikan apa apa lagi.

Tiba-tiba, guru PLH masuk kelas. Aku langsung duduk di tempatku. Huh…ingin rasanya aku pulang ke rumah saat itu juga. Karena entah mengapa,semenjak tadi pagi, suasana hatiku sudah tak enak. Ya Allah..harus berapa lama aku menahan hasrat ingin pulang, sedangkan ini baru jam pertama pelajaran ?
“Mana tugas kalian ?” begitu yang dikatakan guru PLH,kala ia memasuki kelas. Lalu ia berjalan menyusuri setiap meja yang –sangat tiba tiba menjadi rusuh masuk dalam kelompok- mulai  megerjakan tugasnya kembali.
“sedikit lagi,pak.” Jawab salah satu anggota kelompok yang kerap ditanyai oleh guru itu.
Lalu,guru PLH itu, mendekat ke arah kelompok ku. “Udah ?” tanyanya dengan wajah datar.
“udah dong,pak.” Jawab salah satu teman sekelompokku.
“Mana sini bapak liat ?” beliau mengambil kertas kelompok kami.
“Ini ada yang kurang nih. Harusnya ada dampak positifnya. Ayo tambahin.” Guru  itu –mengembalikan tugas kami kepada kami dan- kembali berlalu ke meja meja lain yang masih berhara huru mengerjakan kembali tugasnya
“ih…jadi gimana dong ?” teman ku yang sedikit kesal,mengeluh.
“Tahu tuh ih. Padahal kita udah susah nyari nyari ya.” Aku merenggut.
“males ah..” kata yang lainnya.
“Yaudah lah, mau gimana lagi coba ? mending kita kerjain aja dari pada gak dapet nilai.” Aku pasrah.

Setelah beberapa menit berkutat dengan –melengkapi- tugas kami, Pak Guru itu kembali mendatangi meja kami.
“ Mana ? udah belum ?” katanya.
“Ini udah pak.” Jawabku sambil mengangsurkan kertas itu. Beliau menerimanya, dan berlalu begitu saja. Huh…spele sekali mungkin dipikirannya. Hanya menerima tugas itu dan pergi begitu saja.

Setelah itu, kami bercakap ria. Membicarakan apa pun yang ada di pikiran kami. Bahkan sesuatu yang tidak –begitu- penting. Tiba-tiba, seorang temanku –yang tidak satu kelompok- mengeluarkan sebuah teko kecil untuk drama bahasa inggris nanti . dia menunjukkannya dan tertawa tawa sambil membicarakan scenario dramanya. Aku tertarik dengan teko itu. Lalu aku meminjamnya dan berniat –keluar kelas lalu- mengisikan air ke dalamnya. Akhirnya, aku diantar seseorang keluar kelas. Untung saja, pak guru itu telah menghilang entah kemana. Jadi, mungkin aku akan lebih leluasa untuk melakukan kejahilan ku pada seseorang.

Melangkah ke luar kelas, dengan jejak yang begitu ringan. Dengan mimic yang lebih ceria dari pada tadi pagi. Namun,begitu terkejutnya aku ketika baru saja beberapa meter dari kelas,-saat aku melihat kea rah lapangan- aku melihatnya ! ya Tuhan… aku sungguh tak pernah menduga hal ini sebelumnya. Ini sangat diluar perkiraanku. Ini tak pernah ku bayangkan. Walau ia berjalan beberapa meter dari tempat ku berdiri, walau dia hanya dapat ku lihat dari samping saja –ketika dia melangkah dengan tas yang tersampir menuju ke kelasnya, walau aku tidak melihat ‘siapakah sebenarnya dia?’ tapi,aku bisa menebaknya. Aku bisa mengenalnya walau hanya dilihat dari samping –dan dalam jarak yang terbilang relative jauh.-, aku bisa –dengan segera- mengulas memori memori otakku yang telah 1 tahun ini merekam raut wajahnya . padahal, sudah 1 bulan lebih aku tidak pernah bertemu dengannya…
“Innalilahi…Astaghfirullah..” dua kata itu,dengan spontanitas aku ucapkan kala melihat sosok tersebut.
Teman yang tengah berjalan bersandingan –santai- denganku, dengan segera menoleh –terkejut- ke arahku kala aku melontarkan dua kalimat itu. Dia menatapku heran. Karena dia melihatku terus menatap ke arah lapangan, dia ikut mengikuti kemana arah mataku tertuju. Untungnya saja, objek yang –sekejap- tadi aku perhatikan telah menghilang. Aku menghembuskan nafas lega.
“Ada apa ?” Tanya nya masih heran.
“Hehehe nggak. Bercanda doang.” Kataku dan segera mengubah mimic kekagetanku dengan seringaian lebar. “Tadinya mau ngagetin kamu. Kamu kan orangnya suka kagetan.” Kataku menambahkan, agar dia tidak keheranan. Dan setelah itu, dia kembali melangkah dan tak membahas apa apa lagi.
Akhirnya, kami sampai ke tempat tujuan kami. Karena,kami sudah melihat di depan kami nampak sebuah kran air sedang berdiri tegak menunggu siapapun yang membutuhkannya. Teman ku itu,mengisi teko tersebut dengan air. Sementara aku, berusaha melihat lihat ke sekelilingku. Namun, entah mengapa, mataku menyusuri ke arah kelasnya. Aku terperanjat. Dan,hatiku tertohok. Aku kerap merutuki mataku –yang malah menyorot wajah itu-. Aku meneguk ludah. Mataku terpejam. Kejadian yang baru saja terjadi sepersekian detik itu, langsung menghantui pikiranku. Tuhan..mengapa aku harus melihatnya ketika dia sedang menghadap ke arah ku ? mengapa pandangannya harus bertemu –lagi- dengan kedua bening cair ku. Mengapa juga sekarang pandangan itu terus mengisi penuh pikiranku. Semua memori yang pernah terjadi dan berkaitan dengan aku dan dia kembali berkumandang.

Tatapan sinis,senyuman ramah,kebaikan hati,sikap tak acuh,seringaian lebar,kesenduan mata,semua nya tentang dia kembali berayun di setiap ruang ruang kecil otakku. Aku mendecak kesal,dan langsung mengalihkan pandangan ku. Ke arah yang lain. Apa sih maksudnya itu ? argh ! sungguh tak mengerti. Tak pernah bisa ku tebak jalan pikirannya. Tapi, siapa peduli ? pandangan dinginnya satu bulan yang lalu benar benar mematahkan hatiku. Aku kembali meneriakkan dan mengingat goresan goresan kepedihan yang pernah ia torehkan. Agar membuat perasaan ‘berbahaya’ itu kembali menyeruak. Terus berkumandang. Sisi lain hatiku terus menyuap relung jiwa yang kini –dengan tiba-tiba saja- dipenuhi ruam ruam kesenangan. Sisi lain hatiku terus menyulut sesuatu yang pernah ia lakukan hingga sakit yg kurasa. Agar relung jiwa tak terpengaruh oleh kedua mata tersebut.

Teman ku mengalihkan pandangan. Oh..ternyata dia sudah selesai mengisi air. Dan ia menepuk ku pelan. Hingga membuyarkanku dari lamunan itu. Aku sungguh bersyukur bisa mengakhirinya. Mengakhiri pikiranku yang sedang berpetualang kemana mana. Mengakhiri hatiku yang mulai –kembali- bertalu talu. Hingga akhirnya, aku berjalan dan kembali masuk ke dalam kelas. Dan berusaha sekeras hati agar tidak memberi tahu apa yang baru saja aku lihat dan aku alami. Lalu, aku akan melakukan rencana –menjahili temanku- ku dengan membasahi –baju- nya menggunakan air yang telah aku (temanku) isi.

‘Tuhan..mengapa ini harus terjadi
Saat memori yang dulu dipenuhi oleh dirinya
Saat hati yang terkuras habis karenanya
Saat kerinduan yang selalu menggebu gebu
Mulai menghapus jejaknya
Saat aku mulai berhasil menghapus dan memupuskan segalanya
Saat aku hampir berhasil menghilangkan sosoknya dalam gelapku
Saat aku selalu berusaha tidak berpikir apa pun tentangnya
Mengapa semua kembali hadir dalam waktu yang sangat singkat
Dalam itungan yang relative kilat
Mengapa perasaan berdegup itu kembali mengetuk
Padahal sebentar lagi aku akan mencapai puncak garis final
Saat aku akan mengibarkan bendera kemenangan
Dan menyatakan dengan sangat bangga bahwa aku telah berhasil menguburnya dalam dalam
Bahwa aku berhasil tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya
Bahwa aku berhasil mencetak rekor
Hahaha
Harusnya aku tertawa bangga saat mencapai garis final itu
Namun, semuanya tidak berjalan dan sangat terhambat
Hanya tinggal beberapa jengkal menuju kemenangan
Rintangan kembali hadir dan menghadang
Menjatuhkan sesongsong harapan yang telah terangkai
Menyuburkan sedikit demi sedikit –lagi- perasaan yang pernah membekas
Menjadikan semuanya tidak berjalan selaras  dalam jalurnya
Oh Tuhan..
Aku akui,
Memang beberapa hari itu, aku merasakan romansa kesenduan
Karena kerinduan terus bersenandung
Karena mataku sudah terus memohon agar dipersuguhkan bayangan indah
Tapi, dengan kerja keras..
Dengan tekad kuat
Sisi lain hatiku terus menyerang
Menyakiti hati kecilku
Agar dia merasakan kembali bagaimana rasanya sedih kala itu
Bagaimana rasanya tak diacuhkan dan diabaikan
Sisi lain hatiku terus meneguhkan tugasnya yg seharusnya
Mengalahkan segala hasrat rindu
Dan akhirnya,
Selangkah lagi..
Namun, dia menyerah karena sosok itu tiba tiba saja lagi hadir tanpa permisi
Hati kecil ku bersorak ria
Karena akhirnya kemenangan jatuh ditangannya
Tapi, aku sungguh tak bisa menutupi
Kalau aku ingin menangkap bayangan itu lagi,
Walau hanya dalam sekejap dan akhirnya
Dia benar benar akan terbang dan pergi sangat jauh’


“Sekeras mungkin hati menutupi,tapi Tuhan tak bisa dibohongi. Tuhan,aku ingin melihatnya”-Nikki Murniathi
**
Regard,
-SA-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

YUI-Tomorrows way

Ima wo kowashite shimaitai
Ima ni sugaritsuite itai
Jibun no koto wa wakaranai

Yari naoseru hazunai yo
Shiranai machi ni kakurete mite mo
Mado goshi ni tada ima wo omou

Nige dashitai shoudou kara
Nige dasu made no koujitsu ni mayou

Chigireta kioku wo tadoreba
Ano koro ni datte modoreru
Itsu ka no shounen mitai ni

Kanaeru tame umarete kita no
Osanaki hibi ni egaita uchuu
I'm a baby nakitaku mo naru
Te ni ireru tame no
Itami nara so good

Ikiru koto ga tatakai nara
Kachimake mo shikata ga nai koto
Sonna koto kurai wakatte iru yo
Naki dashitai shougeki kara
Hashiri dashita asu e to kodou ga sawagu

Massugu ni ikite yukitai
Tada massugu ni ikite itai
Ano hi no shounen mitai ni

Kanaeru tame umarete kita no
Osanaki hibi ni kanjita kokyuu
I'm a baby nakitaku mo naru
Te ni ireru tame no
Itami nara so good

Dare ka no kotoba ni tsumazukita kunai
Madowasaretakunai...

Ashita mo kitto kagayaite iru
Osanaki hibi ni modora nakute ii
Tomorrow's way of life kowagari dakedo
Hikikaesenai michi ni tatteru

Kanaeru tame umarete kita no
Osanaki hibi ni egaita uchuu
I'm a baby nai tarishinai
Te ni ireru tame no
Itami nara so good

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS