Hai^^, datang lagi nih cerpen terbaruku. yang ini sih, gak jelas nya lebih nggak jelas dan lebih random dari biasanya. kalau penasaran, baca aja, check it out
#NB : biar nggak pusing bacanya, kalau misalkan tanda * berarti itu FlashBack, tapi kalau ada tanda ** berarti kisah sebenarnya. thx bfr^^
**
“Excelent” Aku mencoba tersenyum, mendengar penuturan jujur yang terucap dari mulutnya. “Cie Shelly..” sekeraspun aku menutupi, tapi sesungguhnya, mata tetap saja tak bisa berbohong. Dan disudut sana, sepertinya seseorang telah membaca raut mukaku. “Ahsan-Shelly. Hahaha.” Kak Emil tertawa dan terus saja menggodaku. Hari ini ujian musik, di kursus musikku. Dan aku, mendapatkan nilai tertinggi. Aku tersenyum mendapati hal itu. akhirnya, Tuhan mendengarkan doaku. Dan, Kak Ahsan memuji hasil tesku itu. aku memang mengagumi Kak Ahsan. Beliau 3 tahun lebih tua dari aku, tapi kalau sudah bercanda dengan Kak Ahsan, rasanya, seperti sepantar dengan dia. “Apaan sih,” sahutku dengan malu.
**
“Kamu, sepertinya ada masalah?” aku tersentak mendapati Kak Kevin yang sudah ada di sebelahku. Kak Kevin juga teman satu kursusku, dan dia sobat karibnya Kak Ahsan. Kak Kevin orang yang lucu, pintar, dan sangat perhatian terhadap siapapun. “Eh, kakak belum pulang?” tanyaku mengalihkan. “Shel, kayak ke siapa aja sih?” Kak Kevin memutar bola matanya. Aku hanya tersenyum malu. Selama di kursus, aku memang paling dekat dengan Kak Kevin. Tapi, kami dekat hanya sebatas kakak-adik. Sedang, antara aku dan Kak Ahsan, sebetulnya kami tak ada hubungan apa-apa. Hanya saja, teman-teman sekelas, gemar meledek aku dengan Kak Ahsan. Hingga akhirnya, membuat kami dekat.
“Aku pulang duluan ya, kak.” Kataku cepat. Kak Kevin menarik tanganku, dan menahanku. Aku hanya mendesah melihat perlakuannya. “Cerita, yuk. Beban bakal lebih ringan kalau kita mau berbagi dengan orang lain.” Aku tersenyum. Kakak ku yang satu ini, memang paling mengerti bagaimana keadaanku. “Maaf kak, aku nggak bisa, aku harus pulang.” Sesungguhnya, yang membebani pikiranku adalah suatu hal yang sangat privasi. “Shel, kalau kamu nggak mau cerita, it’s all right. Nggak apa-apa kok. Tapi, asal kamu tahu, kamu nggak sendiri. Masih banyak orang yang peduli sama kamu.” Apa Kak Kevin orang yang tepat? Apa dia bisa meringankan beban aku? Tapi tandanya, aku harus menceritakan semuanya dari awal. Semuanya.
“Kak, tunggu!” kak Kevin yang sudah berjalan menuju motornya, menghentikan langkahnya dan menengok ke arahku. “Ayo kita ke Kafetaria. Aku ingin menceritakan sesuatu.” Kak Kevin tersenyum. Dan menghampiriku.
**
“Jadi, kamu kenapa?” Kak Kevin menatapku serius. Disana, dikedua bola matanya, aku menemukan sebuah kehangatan. Dia, benar-benar kakak ku. Walau aku tak memiliki saudara laki-laki, tapi aku sudah menganggapnya seperti kakak ku sendiri. “Kemarin, dan hari ini, aku bertemu dengan seseorang dari masa lalu..” kataku memulai
*
Aku mengayuh sepedaku dengan tergesa. Sepertinya, aku sudah telat. Tidak ada yang membangunkan ku pagi ini, karena orang tuaku sedang tak ada dirumah, dan akhirnya beginilah. Aku sudah tak lagi memikirkan sarapan. Aku sudah lupa dengan tugas-tugas apa saja yang harus aku bawa hari ini. yang aku ingat hanyalah, hari ini, pelajaran Pak Duta. Guru yang sangat terkenal dengan kedisiplinannya.
Sampai-sampai, aku tak melihat, di depanku ada sebuah kubangan lumpur. Karena, aku tak sempat mengerem sepedaku, akhirnya terpaksa aku terjatuh. Tapi untungnya, aku tidak terperosok dikubangan lumpur itu. “Argh, segala pake jatuh pula. Ini sih nambah telat, huh..” aku mendengus kesal. Dan merutuki diriku atas kecerobohan yang telah aku lakukan. “Pagi-pagi udah ngomel aja.” Seseorang menghampiriku, dan mencemooh atas apa yang baru saja aku alami. Aku mendongak, menatapnya kesal, tapi, sebelumnya, aku kaget. “Kak Rio?” kataku sangat pelan. Bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.
“Lo kenal gue?” perkataan itu, mengusik partikel-partikel halus dalam tubuhku, hingga membuat aku heran dengan apa yang baru saja ia katakan. “Kak Rio lupa sama aku?” tanyaku sedikit kecewa. Kak Rio diam sebentar, ia nampak berpikir. Dan akhirnya, menggeleng. Aku mendesah kecil. Bodoh sekali aku mengatakan hal seperti itu pada Kak Rio. Ya, tentu saja kan? tentu saja Kak Rio tidak dan tak akan pernah mau kenal kepadaku. “Eh, sini gue bantu.” Kak Rio membangunkan ku dan sepedaku. Aku semakin merasa, bahwa aku sedang berada dalam dunia mimpi.
“Kak Rio, kenapa Kak Rio nggak kenal sama aku? Kenapa kak? Apa kakak lupa? Apa kakak nggak inget? Aku yang selama ini, selalu sembunyi-sembunyi memmberikan perhatian-perhatian kecil untuk kakak. Aku yang terlalu jauh kau bawa ke dalam dimensi semu. Dan aku yang tak pernah kau lirik sedikitpun.” Hati kecil ku bergaung, mendermakan kata-kata yang sangat bermakna.
Rio Stevent, dua kata yang merangkai nama indahnya. Nama, yang tanpa aku sadari, sudah lebih dari dua tahun selalu membuat telingaku berdesing, kala mendengarnya. Nama yang tak seorang pun mampu menghapusnya. Kak Rio adalah kakak kelasku sewaktu SMP dulu. Kak Rio cinta pertamaku. Hanya kepada Kak Rio lah, hatiku terpaut. Walaupun tidak dengan dirinya. Aku hanya mampu mengagumi Kak Rio dari sisi gelapku. Yang tak diketahui oleh siapapun. Kecuali sahabat-sahabatku sewaktu SMP dulu.
Aku tahu, Kak Rio tak tahu dan mungkin tak pernah mau tahu tentang siapa aku. Dan aku pun terlalu pengecut untuk mendekati Kak Rio. Untuk datang, menghampirinya, secara nyata. Tapi, aku tidak seberani itu. aku hanya mampu menyapanya, melalui dunia maya. Tak lebih dari itu. haha, banyak orang yang mencemoohku. Begitupun dengan diriku sendiri. Betapa tidak beraninya aku. Betapa pengecutnya aku. Aku adalah orang yang selalu diremehkan oleh orang lain.
“Kak Rio, nama aku Shelly.” Kataku, terbata. Karena jujur saja, dihadapannya, semua berubah. Aku yang biasanya banyak bicara, menjadi kehilangan kata-kata ketika harus dihadapkan dengan Kak Rio. Ya, hanya dengan Kak Rio. Kak Rio, terdiam lagi. “Shelly Aurelia.” Tiba-tiba saja, Kak Rio kaget. Aku tahu, dia menyadari sesuatu. Aku tahu, dia ingat siapa aku..
“Elo…”. Aku hanya mengangguk. Aku sudah mengerti dengan apa yang akan dia katakan. ‘aku memang terlalu mengenal kamu, kak’ batinku pelan. Setelah itu, aku tak berani lagi untuk berbicara apapun. Semuanya mendadak kaku. Begitu pun dengan Kak Rio. Tanpa berujar lagi, aku segera pergi meninggalkan Kak Rio. Pergi menjauh, membuang rasa malu itu jauuh-jauh.
Seandainya, apa yang aku rasa, dapat kau pahami.
Andai kamu tahu, bahwa aku telah bertahan sejauh ini.
Sampai detik ini, hatiku, tetap menyimpan,
Sederet nama sederhana yang tak pernah berubah.
Namamu, pemilik hati.
*
Dan hari ini, aku akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Arsya. dia adalah teman sekelasku, di SMA Pelita Bangsa. Kami akan mengerjakan tugas bahasa Inggris yang telah ditugaskan tempo hari. Aku bahkan tahu, rumah Arsya dekat dengan rumah Kak Rio. Hanya dibatasi oleh satu rumah saja. Aku yang memaksa, bahwa kita harus kerja kelompok di rumah Arsya. Karena entah mengapa, aku memiliki sebuah firasat tersendiri. Perasaan, yang aku pun tak tahu, maksudnya apa.
Sepulang mengerjakan tugas kelompok, saat aku baru saja keluar dari halaman rumah Arsya, aku melihat seorang lelaki, berbaju merah, mengenakan celana biru. Dia tengah berjalan dengan santai. Dan aku tahu siapa dia. Bahkan, aku tahu persis bagaimana caranya berjalan. Aku pun mengenalinya, bahwa itu Kak Rio.
Aku terkesima, melihat Kak Rio. Sedangkan dia? Yah, sudah bisa ditebak bukan? dia hanya berjalan dan berjalan. Aku tahu, bahwa dia tahu, ada aku disini. Sedang menatap ke arahnya. Dan aku pun tahu, dia berpura-pura tak melihatku. Kak Rio, kenapa tak bisa kau menyapaku? Apakah sulit untuk sekedar menyebutkan nama ku saja?
Tuhan, sebenarnya, apa kesalahan yang pernah aku perbuat? Hingga aku tak kau izinkan untuk mengecap kebahagiaan ini. aku, aku yang sudah dua tahun lebih, menyimpan perasaan norak ini. yang sebelumnya, tak pernah aku rasakan. Dan sekalinya aku merasa, kenapa harus kepada orang seperti dia? Yang tak pernah mau peduli, tentang hati yang tanpa ia sadari, selalu ia rapuhkan ini.
**
“Shel, kakak nggak pernah tahu, kamu punya kisah kayak gini.” Kak Kevin, terheran-heran mendengarkan ceritaku. “Aku kan sudah bilang, ini benar-benar privasi.”. “Jadi, kamu udah suka sama Rio sejak kapan?”. “Aku bahkan masih ingat persis, awal mulanya aku mengenal dia. Yaitu, waktu aku masih duduk di kelas 7 SMP.”. “Dan sampai sekarang?” Kak Kevin benar-benar tak percaya. Aku hanya mengangguk kecil. “Iya,kak, dari kelas 7, sampai sekarang. Sekarang saat aku sudah berganti seragam menjadi putih abu-abu.” Kataku mantap. “Kenapa kamu mempertahankan perasaan ini sejauh itu, shel?” aku hanya mengangkat bahu.
*
Aku tahu, namanya Kak Rio. Karena, begitulah ia kerap dipanggil oleh teman-temannya. Kak Rio pernah mengikuti lomba di Bandung. Entah lomba apa namanya. Dan, teman sekelas ku pun, turut mengikuti perlombaan itu. namanya Nisa. Dia sangat dekat dengan Kak Rio. Bahkan, ketika ulangan semester, Kak Rio selalu datang dan menggoda Nisa. Sebenarnya, berniat untuk sekedar bercanda.
“Cie Nisaaa….sama kakak kelas cieee…” aku dan teman-temanku menyoraki Nisa dengan girang (saat itu, aku hanya menganggap Kak Rio, sebagai kakak kelas biasa. Dan tak ada yang special darinya). Nisa hanya tersenyum malu. Aku tahu, ini tak serius. Karena kami semua, gemar bercanda. Dan sekarang, korban dari keisengan kami adalah Nisa, yang sudah ada di depan mata.
“Hai Nisa…” panggil Kak Rio tiba-tiba masuk ke ruangan kami. Aku dan teman-teman berbisik-bisik melihat kejadian itu. hingga salah satu dari kami, berteriak. “Cieee Kak Riooo…” Kak Rio hanya tertawa terbahak. Semenjak kejadian itu, selama ulangan semester, aku dan teman-teman sering mengejek Nisa dengan Kak Rio. Padahal, object yang menjadi korban tidak bereaksi apa-apa.
Hingga, dua hari terakhir sebelum ulangan semester berakhir, aku duduk di bangku Nisa. Aku, Nisa, dan yang lainnya, sedang memperbincangkan tentang materi yang akan di ulangankan hari ini. dan, Kak Rio kembali memasuki kelas kami. Dengan segera, Nisa menghindar dan menjauh dari tempat duduknya. Karena ia tahu, Kak Rio pasti akan mengganggunya. Dan, bangku sebelah ku pun kosong. Tanpa kuduga, Kak Rio duduk begitu saja di bangku sebelahku. Dan, dengan tampang datar, ia tak berkomentar apapun. Hanya berbincang dengan teman-temannya
**
“Setelah hari itu, Kak Rio semakin sering muncul, kak. Dan aku pun tak tahu, sejak kapan perasaan aneh itu mulai tumbuh.” Kataku menerawang. “kalau boleh tahu, apa kamu bisa mendeskripsikan bagaimana sih si Rio itu?” Tanya Kak Kevin. “Kak Rio, hm..” ada yang berdesir kecil, dalam hatiku, saat aku menyebutkan kembali nama istimewa itu. “Kak Rio biasa aja. Bahkan, lebih biasa dari Kak Ahsan.” Kataku tak sengaja. “Cie tiba-tiba bicarain Ahsan nih.” Aku hanya terkekeh geli.
“Eh, boleh nanya nggak?” aku mengernyit mendengar perkataan Kak Kevin. “Kamu, sebenarnya suka sama Ahsan nggak sih Shel? Kayaknya, kamu kalau digodain sama dia, senyum-senyum terus. Ahsannya juga sama lagi.” aku terkekeh lagi. “Aku suka sama Kak Ahsan. Tapi, hanya sebatas perasaan kagum.” Kataku jujur. “Loh? Jadi nggak….” Aku hanya menggeleng. “Emang apa sih bagusnya Rio dibanding Ahsan, Shel?”
“Kak Rio sama Kak Ahsan jelas beda, kak. Kak Rio itu, orangnya ramah, terkecuali sama aku. Entah mengapa, dari dulu juga, Kak Rio nggak pernah baik sama aku. Sedangkan Kak Ahsan sebaliknya. Dia mungkin nggak terlalu akrab dengan orang yang belum ia kenal. Tapi, dia sangat baik sama aku.”. “Ya, mendingan Ahsan lah, Shel. Dari pada Rio.” Kata Kak Kevin enteng. “Kakak ternyata emang belum mengerti ya?”
*
Aku tak sabar untuk pergi ke kursus musik hari ini. tak sabar melihatnya. Melihat lelaki tampan itu, hehe. Dia, bernama Ahsan. Semalam, dia mampir ke dalam mimpiku. Dan aku tak pernah menduganya. Aku mempersiapkan diri, hanya untuk bertemu dengan Kak Ahsan. Aku sudah berpenampilan semaksimal mungkin. Ya, walaupun aku orangnya tidak terlalu modis. Tapi, aku rasa, ini penampilan terbaikku.
Dan sesuai yang aku harapkan, baru saja aku memasuki kelas, dia tersenyum ke arahku. Aku merasakan kedamaian dari senyuman indah itu. kak Ahsan, dia itu sangat dewasa. Dia selalu berpikir rasional, dan dia sederhana. Itulah yang membuat aku kagum pada Kak Ahsan. Disamping itu, Kak Ahsan pun sangat baik. Terlalu baik malah.
Sepulang dari kursus, aku memilih untuk pulang dengan angkutan umum, dibandingkan dijemput oleh Pak Darsono (sopir). Dan, tanpa aku duga, di dalam angkot, aku bertemu dengan Kak Rio. Sepertinya, dia baru pulang sekolah. Karena ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia duduk di sudut angkot, dan terlihat lelah sekali. Sesekali, ia mengusap butiran keringat yang membasahi pelipisnya. Aku terus memperhatikannya, hingga membuat ia sadar, bahwa ada seseorang yang sedari tadi melihat ke arahnya.
Ketika ia melihat ke arahku, dengan segera kupalingkan wajahku. Tapi, tetap saja, dia telah memergokiku. Aku malu sekali. Namun, berbeda dengan aku yang terlihat begitu gelisah, justru dia tetap memasang wajah datarnya. Dia tak bereaksi sedikitpun. Padahal aku tahu, biasanya, dia gemar bicara.
Dia turun lebih dulu. Dan aku hanya menatap nanar kepergiannya. Sekilas, ia melihat kearahku. Aku hanya menunduk, masih merasakan rasa malu itu. sampai rumah pun, efeknya masih terasa. Lihat! Begitu hebat efektor yang dia beri untuk aku. Walau hanya sekedar tatapan dingin yang ia suguhkan, tapi, justru hal ini malah membuatku tak bisa tidur. Aku benar-benar gelisah.
Semua, semuanya tentang Kak Ahsan hilang. Semuanya tentang bagaimana sempurnanya sosok Kak Ahsan musnah. Digantikan oleh tatapan dingin itu. digantikan oleh cuplikan-cuplikan kejadian, yang selama ini pernah aku lalui dengan object itu. dengan masa laluku. Aku membuka buku diary ku perlahan, dan mulai menorehkan apa yang ingin aku tulis kedalamnya.
Selasa, 24 Januari 2012
Aku mengagumi dirinya.
Tapi, aku sudah terlalu jauh terperosok dalam lubang berporos hitam.
Kegelapan, ketakutan, dan kegundahan
Semua itu, sering menimpaku, hanya karena, aku tak bisa melihatmu lagi setiap hari
Hanya karena aku tak bisa menyesap senyummu lagi setiap saat
Hanya karena aku tak bisa menatap bola matamu dari jarak dekat
Padahal kini, aku menemukan dia.
Orang yang lebih baik dari kamu
Lelaki yang lebih dewasa dari kamu
Dia, yang tampan dengan lesung pipit di setiap sunggingan senyumnya
Dia yang aku harap, bisa menggantikanmu menjadi pemilik hatiku
Dia, yang aku ingin, namanya dapat memberhentikan hatiku yang tak mau diam menggemakan namamu.
Tapi ternyata, semua itu, tak semudah yang aku pikirkan
Apa sih hebatnya kamu?
Kamu cokelat, dia putih
Kamu pendek, dia tinggi
Kamu dingin, dia ramah
Tulisanmu jelek, tulisan dia begitu rapi
Tatapanmu membekukan suasana, tapi tatapannya mencairkan suasana
Siapa yang patut disalahkan?
Jika ada orang yang seharusnya disalahkan adalah kamu. Mengapa?
Karena kamu, terlalu egois. Tak pernah mau pergi, dari otakku
Tapi, apa bagusnya kamu?
Bahkan, orang akan menilai, dia lebih baik.
Namun, hatiku selalu mengatakan yang sebaliknya
Sekarang apakah kamu sudah puas? Sampai saat ini pun, kamu masih tetap menjadi pemenangnya.
**
“Jadi, sekarang Kak Kevin ngerti? Hati itu nggak bisa dipaksakan, kak. Segimanapun tampannya Kak Ahsan, tetap Kak Rio yang selalu didaulat sebagai pemenang.” Kak Kevin mengangguk pertanda ia mengerti. “Kak, aku nggak mau selamanya terus terpuruk kaya gini. Aku nggak mau kalau seterusnya keputusan hati kecilku nggak bisa diganggu gugat lagi. jujur aja, aku lelah, kak. Sangat lelah. Kak Rio, sampai sekarang pun, tak pernah mengerti bagaimana perasaanku terhadapnya. Hiks..” aku tak kuasa menahan tangisan yang sedari tadi telah aku tahan. Dan ini, untuk yang keberapa kalinya aku menangis? Mungkin, sudah tak bisa dihitung. Dan ironisnya, aku menangis, untuk orang yang sama. Orang yang tak pernah mau peduli dengan tetesan air mata yang aku keluarkan. “Sebelumnya, kakak mau nanya, apa sih yang kamu suka dari Rio? Ya..aku tahu, kamu suka Rio tulus dari hati kamu. Nggak lihat siapa Rio. Tapi, maksud aku itu, kamu paling suka kalau Rio lagi ngapain?” aku bertanya heran kepada Kak Kevin. Maksudnya apa ia berbicara seperti itu?
“Santai aja kali, Shel. Cuman pengen tahu, kok.” Jawab Kak Kevin enteng. “Aku masih inget, dulu, aku paling suka kalau Kak Rio lagi ketawa bareng teman-temannya. Aku suka saat Kak Rio tersenyum, meskipun senyuman itu, ia persembahkan buat orang yang ia sayang. Aku suka, waktu Kak Rio sok-sok an maen basket. Padahal aku tahu, dia nggak mahir dalam permainan itu. Tapi dia sangat jago, dalam sepak bola. Aku suka, kalau lihat Kak Rio lagi ngobrol biasa dengan teman-temannya. Dan aku paling suka, waktu Kak Rio jatuh, haha. Waktu itu, lucu banget deh pokoknya. Aku masih inget persis.” Aku tertawa, mengingat kejadian di masa lalu itu.
“Kok orang yang kamu suka jatuh, kamu malah seneng sih?” Tanya Kak Kevin heran. “Haha. Abisan, dia waktu itu, sok banget sih. Jadi, waktu pelajaran penjas, dia lagi main basket. Padahal kan, dia nggak terlalu hebat main basketnya. Dan, pas dia sok-sok-an mimpin pertandingan basket itu, ternyata, dia keserimpet. Dan akhirnya jatuh. Hahahahaha…”. “Heettdaaahh, ketawanya biasa aja kali, Shel. Seneng banget sih. Terus kamunya gimana deh waktu itu?”. “Aku? Ya..aku sih biasa aja. Nggak lucu kan kalau aku langsung nolong dia gitu aja. Yang ada, nanti dia jadi tambah benci sama aku, lagi.” suaraku merendah. Kak Kevin merenggut.
“Benci? Emang, kenapa kamu bilang, Rio benci sama kamu?”
*
Bel istirahat berbunyi, aku sedang berjalan di koridor sekolah bersama teman-temanku. Ugh, nampaknya, kantin sangat sesak. Tapi, perut ku yang terus memberontak untuk diberi asupan makanan, tak bisa ditahan lagi. akhirnya, aku menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tak peduli kalau nantinya, aku bisa pingsan karena mencium bau keringat dimana-mana. Yang penting, aku ingin makan.
Dari jauh, seseorang yang aku rasa kenal, berjalan mendekat. Dia mengenakan topi berwarna biru. “Shel, Kak Rio, shel.” Bisik seorang teman kepadaku. Dia tahu, kalau aku menyukai Kak Rio. Aku hanya mematung. Melihat Kak Rio yang terus berjalan semakin mendekat. Dan akhirnya, dia berjalan tepat disampingku. Ia melirik sekilas ke arahku, dengan tatapan yang begitu dingin. Aku menunduk, pilu.
Dan, selalu begitu. Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, asalkan disana ada aku, tatapannya tak pernah berubah. Dingin. Tajam. Menusuk. Menyakitkan. Memilukan. Tak bisakah ia bersikap lebih baik kepadaku? Aku pun ingin diperlakukan seperti ia memperlakukan teman-temannya. Sapaan. Celotehan. Candaan. Aku pun ingin mendengar ia mengatakannya. Tapi, nyatanya, mungkin itu hanyalah sebuah angan semu.
**
“Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu Shelly. Kamu nggak tahu kan gimana perasaan dia sebenarnya?”. “Aku tahu. Dan yang paling aku tahu, adalah dia benci aku.” Kataku menatap Kak Kevin, dengan menantang. Abis, Kak Kevin ngelak mulu sih. “Sampai kapan kamu terus menyimpan hatimu untuk Rio?” aku hanya mengangkat bahu. “Kalau menurut aku, mending, mulai sekarang, kamu coba lupa! Lupain semua hal tentang Rio. Jangan pernah ingat dia lagi.” Kak Kevin menasihati. “Kak, aku pun dulu pernah melakukannya. Aku pernah mencoba untuk melupakan dia. Segala cara udah pernah aku coba. Pertama, mulai dari aku pikirin semua keburukan dia. Kedua, dengan aku pura-pura memasang tampang benci, kala salah satu dari temanku menyebut namanya. Bahkan, sampai-sampai aku membuat keputusan untuk berpura-pura menyukai teman sekelasku. Itu adalah ide terkonyol, yang udah aku implementasikan. Dan, semua cara itu gagal.” Kataku mendesah
Kak Kevin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kak, bantu aku…” kataku memohon. Menatap Kak Kevin, nanar. Masih dengan sisa-sisa air mata yang menempel di pipiku. “Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang, kan? hati itu nggak bisa dipaksakan.” Kata Kak Kevin. Aku hanya menunduk. Menahan air mata, yang mungkin akan mengalir lagi. “Sekarang, jawabannya ada pada diri kamu sendiri, Shelly. Kamu yang bisa menentukan. Apa harus selamanya, kehidupanmu dibayang-bayangi oleh es batu dari masa lalu?”. “Ih, kok es batu sih?” tanyaku memprotes. “Loh kan dia Mr. Dingin, hehe.”. “Ih, Kak Kevin rese.” Kataku mencubit tangan Kak Kevin. “Tuh kan, masih aja ngebela Rio.” Kak Kevin mencibir
“Harapan kamu sekarang apa sih, Shel?”. “Aku ingin bertemu Kak Rio, sekali lagi aja. Sebelum, aku kembali belajar untuk melupakan dia.” Aku menerawang ke langit-langit kafe. “Woalaaahh, harapannya aja masih berkaitan sama Rio. Sama Ahsan kek, Shel.”. “Kak Ahsan lagi, Kak Ahsan lagi. bosen tahu nggak.”. “Tapi suka kaann?”. “Sok tahu…” setelah itu, aku dan Kak Kevin sama-sama terdiam. Kami seperti kehabisan kata-kata.
“Lorong waktu.” Ucapku pelan, tiba-tiba. Kak Kevin mendongak mendengar apa yang baru saja aku katakan. “Apa shel?”. “Satu-satunya yang aku harapkan saat ini adalah lorong waktu. Lorong waktu, yang akan membawaku kembali ke masa lalu. Kalau kakak bertanya, mana yang akan aku pilih, masa lalu ataukah masa depan? Aku masih ingin berpijak dengan masa lalu. Karena masa lalu lah yang mempertemukan aku dengan dia. Dengan pemilik hatiku, yang pertama kali.” Kak Kevin menatapku terkesima. Ia tak mengedipkan mata sedikit pun mendengar kata-kata yang baru saja aku ucapkan.
“Shelly, hati kamu dan hati Rio ternyata terbuat dari bahan yang berbeda.” . “Apaan sih, kak. Nggak jelas banget. Haha.” Kataku meracau, karena tak tahu, apa lagi yang akan aku katakan. “Maaf ya Shel, kakak nggak bisa bantu kamu secara maksimal. Tapi, sekarang gimana? Bebannya udah terangkat?” Tanya kak Kevin lalu tersenyum. “Ia,kak. Lumayan. Makasih banyak ya.” Jawabku, namun masih dengan tatapan sendu. “Udah, masa lalu itu kan udah berlalu, sekarang yang kamu pikirkan adalah masa depan kamu. Kamu bakalan jadi orang yang tertinggal bila terus terpatri dengan bayangan si Mr. Es itu. sekarang, kita pulang, yuk! Udah sore juga. Kakak anter ya.” Aku hanya mengangguk, dan membuntuti Kak Kevin menuju motornya
**
Aku membuka-buka laciku. Mencari cari sesuatu. Ya, aku masih ingat. Sudah berapa tahun ya aku menyimpan sesuatu itu? ah, akhirnya aku menemukannya. Sebuah miniatur bola sepak, dan secarik kertas yang bahkan masih terlipat rapi sampai sekarang. Aku tersenyum sendu menatapi kedua benda itu.
Aku masih ingat bagaimana suasana dulu itu
*
Aku tahu, ya, Kak Rio akan menerima kelulusannya hari ini. dan aku menyusun sebuah rencana. Untuk memberikan kenang-kenangan kepada dirinya. Aku sudah bertekad, agar aku tidak jadi seseorang yang pengecut. Aku sudah berlatih, untuk menghadapi dirinya keesokan pagi. Ya, aku sudah dengan matang mempersiapkan semua itu.
Keesokan harinya, tanpa diduga ia mengunjungi kelasku. Ia datang, untuk menemui salah satu temanku, Aqra. Ya, Kak Rio dan Aqra memang bersahabat sejak lama. Aku pun tahu akan hal ini. Perlahan aku mendekat kea rah Kak Rio, aku sudah mengucapkan basmallah berulang kali. Dan tak bisa kupungkiri bahwa aku gugup sekali. “Kak R..” dia melirikku sekilas. “Eh, yaudah, gue duluan ya. Byee.” Dia pamit kepada Aqra dan berlalu begitu saja. Sebuah kilatan petir menyayat hatiku. Dalam hati, aku menangis. Dalam hati, aku menjerit. Ada apasih? Apa yang terjadi? Ini semua bagai mimpi. Begitu lancangnya aku, mendekati dia. Tanpa memikirkan hal ini lebih matang lagi. aku merutuki diriku, yang telah bersikap sok berani.
**
Aku kembali membuka kertas yang masih terlipat rapi itu. aku tersenyum getir, membaca tulisan tanganku, yang tersusun di sana. Sekarang, tintanya sudah mulai memudar. Maklum saja, aku menulis surat ini, sepertinya sudah sekitar dua tahun yang lalu.
Dear Kak Rio,
Hai kak, nama aku Shelly Aurelia. Aku cuman mau minta maaf sama kakak. Karena selama ini, aku udah ganggu kehidupan kakak. Maaf kalau kakak risih akan sikap aku yang terlalu sok deket dan sok kenal sama kakak. Maaf kalau selama ini, aku udah dengan lancang selalu memperhatikan kakak dari jauh. Dan terima kasih. Makasih buat semua yang nggak pernah kakak lakuin. Tapi, aku merasa kehadiran kakak itu begitu nyata. Makasih banyak udah segan norehin tintanya dalam catatan buku kehidupan aku. Sekarang, aku cuman mau ngasih ini. mungkin, sesuatu yang nggak berharga. Tapi, aku harap, kakak bisa menyimpannya. Maaf ngerepotin, kak. Hehe
Regard,Shelly_
Aku memberanikan diri. Kunyalakan korek api yang sedari tadi telah aku pegang. Aku gesekkan korek itu ke bungkusnya, hingga disana, terpercik si jago merah. Aku dekatkan korek yang tengah aku pegang, ke ujung surat masa-lalu itu. dan, hanya dalam hitungan menit. Surat itu, telah hancur, menjadi abu. Dengan sedikit bergetar, ku buang miniatur bola yang telah aku beli di Bandung dua tahun lalu. Aku tinggalkan kedua barang itu. untuk segera dilahap api, dan musnah. Ternyata, aku menyerah. Dan mengakhiri perasaan ini, sampai disini.
Walau takdir telah memutuskan tali yang kita simpulkan bersama.
**
Hari semakin gelap. Dan keputusan mama sudah bulat. Bahwa kami baru akan kembali ke Solo, 2 hari yang akan datang. Kalian tahu? Aku merasa, 2 hari yang harus terlewati itu bagaikan jutaan tahun di muka bumi. Mungkin, kesannya sangat berlebihan, tapi itulah kenyataan. Bahwa aku sudah muak tinggal di sini. Muak dengan semua kenangan yang aku lihat bagai klise yang kini telah memudar.
*
Aku membuka kedua kelopakku dengan sangat enggan. Mengerjapkannya berkali-kali, dan mendapati sebuah sinar yang menyilaukan menyapaku pagi ini. ternyata matahari sudah memulai rutinitasnya yang tak pernah ia lalaikan. Aku terlonjak kaget. 2 jam lagi, tepat pukul 09.00 aku akan meninggalkan kota terindah ini. indah bukan karena nuansa alam yang menjadi pelengkapnya. Tetapi, karena dia, Pangeran Kecil di Kota Hujan. Yang telah merubah segalanya.
Kubuka pintu kamarku, ternyata semua koper telah siap. Barang-barang yang kami bawa dari Solo, telah di bungkus dengan rapi. Aku mendengus kesal. Mengapa waktu harus berjalan secepat ini. dan mengapa, nestapa ini harus memilih aku sebagai lakon utamanya. Aku tak berani, dan sama sekali tak berminat lebih lama lagi untuk terus melihat semua itu dan menyadari bahwa waktuku di sini hanya diibaratkan mimpi yang menjadi bunga tidur dan tak akan menjadi sebuah cerita nyata.
“Sesil, mandi sana. Setengah jam lagi kita bakal langsung berangkat.” Seruan mama membuatku terlonjak dan hatiku histeris. “Bukannya 2 jam lagi, ma?” kataku mengelak. “Nggak sayang, papa bilang, keberangkatannya dipercepat. Supaya tiba di Solo nggak terlalu malam.”. “Tapi Sesil pengen main sama Ayi dulu,ma. Masa langsung pergi gitu aja.” Tahukan? Pernyataanku tadi, sesuungguhnya membuat hati ini sesak. Semua ini terasa begitu sulit dan aku tak mampu untuk menerimanya. “Nggak ada waktu sayang.”
Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Aku tak bisa beralasann apapun lagi untuk memperhambat keberangkatan. Aku hanya bisa pasrah dan menerima segalanya. Walau, melihat pangeranku pun tak bisa.
*
Aku berharap, kau akan datang.
Datang untuk menanamkan perasaan itu padaku.
Agar aku bisa menyesapnya setiap saat
Kala kita dalam jarak yang tak terjamah
*
Haaahh, saatnya tiba. Saat dimana aku harus mengucapkan selamat tinggal. Ucapan paling berat yang harus aku koarkan dari lidahku. Semuanya telah menaiki mobil silver itu. terkecuali, aku. Hanya aku yang masih berada di halaman rumah Tante Suci. Aku meminta waktu untuk menunggu. Menunggu kehadiran dan kesungguhan ucapannya bahwa dia akan mendatangiku.
*
“Kenapa cessi harus pergi? Kenapa Cessi lakuin ini semua?” ucapnya sendu. “Aku juga gak mau, tapi, itu tempat tinggal ku. Jadi aku harus kembali ke sana.” Kataku lirih. “Ayi bakal kangen banget sama Cessi. Ayi nggak akan punya teman kalau Cessi pergi.” Cukup! Aku mohon hentikan. Tak tahukah Engkau? Lawan bicara di hadapanmu ini pun menggugat semua itu. aku pun tak ingin itu terjadi. Tidakkah kau mengerti seperti apa perasaanku saat ini?
“Aku boleh minta satu hal sama Ayi?” kataku pelan. Dia mengangguk kecil. “Besok, jangan lupa Ayi datang ke sini,ya. Biar aku bisa bertemu Ayi. Walau untuk yang terakhir kalinya.” Dia tersenyum. Walau aku tahu, wajah itu menunjukkan betapa sedihnya dia saat ini.
*
Sudah hampir setengah jam aku menunggu kedatangan Ayi. Namun, ia tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Aku merutuki dirinya yang tidak menepati janjinya tadi malam. Aku kesal, sungguh sebal. Tak tahukah ia bahwa aku benar-benar membutuhkannya? Butuh sesuatu yang harus aku simpan dalam waktu lama. Senyum manis yang akan dipotret oleh hati kecilku.
“Sesil, lebih baik kamu menitipkan pesan saja pada tante mu. Dari pada perjalanan kita semakin tertunda. Ini sudah terlalu lama. Mungkin, temenmu itu lupa atau sengaja tak ingin datang.” Papa ini bicara seenaknya saja. Mana mungkin Ayi sengaja tak ingin datang dan bertemu denganku. Itu jelas sangat mustahil. Karena aku yakin, Ayi bukanlah sosok yang seperti itu. “Yaudah, tante, aku nitip salam aja buat Ayi. Makasih ya,tan.” Kataku, seraya menaiki mobil. Beberapa saat, mobilku pun mulai melaju. Menggiling, kerikil kerikil kecil dijalananan yang berkeletak merdu. Namun, tidak dengan hatiku. Yang terus melantunkan nada-nada pilu. Mobil silver ini semakin menjauh. Aku hanya bisa melihat bayangan Tante Suci yang tengah melambai pada kaca spion. Sesaat, sebelum mobil berbelok, aku –entah nyata atau tidak- melihat dia. Pangeranku, sahabat hatiku. Dia tengah berlari terengah-engah. Namun, kau tahu? Itu hanya penglihatanku dalam sepintas. Ahaha, itu tak mungkin.
***
Aku ini seperti gadis kecil yang berandai-andai untuk menyelami samudera pasifik. Seberapa pun aku bermimpi, namun itu mustahil untuk terjadi. Sama seperti mimpiku untuk bertemu Ayi. Untuk menyapanya, tersenyum kepadanya, berbincang, ataupun sekedar menatap kedua bola matanya lagi. semua itu, semua itu telah berakhir pada hari itu. hari dimana segala kenangan indah tersebut, harus musnah, sirna, bahkan lenyap. Hari dimana waktu harus dengan tiba-tiba menghentikan sebuah pementasan drama. Dan tokoh yang menjadi lakon didalamnya, harus mengakhiri jalan cerita yang telah tercatat dalam skenario.
Semua ini, semua ini benar-benar tidak adil. Mengapa? Mengapa harus aku yang menderita seperti ini? mengapa harus aku? Aku yang menanggung sesak selama ini? ternyata, rindu yang selama ini menghantui, tak bisa kutepis. Aku, sampai kapanpun, tak akan pernah menemukan kembali dirinya. Dia, seseorang, orang pertama yang telah mengenalkan aku kepada indahnya cinta. Sejujurnya, baru kali ini aku menyadari –setelah umurku beranjak dewasa- bahwa, dia telah membuatku jatuh hati.
‘Tuhan, siapakah laki-laki itu?
Apakah ia yang lazimnya disebut dengan pangeran?
Apakah ia yang sepantasnya menjadi figura, yang membingkai hati kecilku?
Tidak adakah orang lain? Aku sungguh berharap Tuhan
Berharap bukan hanya dia, pemilik hati ini.
Karena aku, tak akan sanggup menahan lebih lama lagi kesakitan ini
Sungguh, rindu ini membunuhku’
**
Ketika suatu hari, seseorang bertanya kepadaku. “sil, first love lo siapa? Kok perasaan selama ini, lo gak pernah cerita sama gue tentang seseorang yang special gitu di hati lo.” Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan teman sebangku ku tersebut. Jujur, aku bingung, sungguh. Karena, selama ini, sama sekali belum ada seseorang yang mampu menempati suatu ruang yang masih sangat kosong di hatiku. Lagi pula, aku bingung, siapa first love ku? Sepertinya tak ada. Aku menggelengkan kepale kecil untuk menjawab pertanyaannya. “Hah? Lo gak punya first love sil? Serius lo?” aku hanya tersenyum kecil. “Gue gak lagi ngerasain suka sama siapapun.” Jawab ku singkat dan semakin membuatnya tercengang. “Sesil, apa dari dulu lo gak pernah jatuh cinta?” aku menggeleng kecil. Aku rasa, memang itu jawaban yang tepat. AKU TIDAK PERNAH MERASAKAN CINTA. Lagi pula, aku tak mengerti seperti apa cinta itu. haha. Aku memang seorang gadis culun yang bahkan tidak tahu apa itu cinta.
“Jangan-jangan lo suka sama sesama jenis lagi? ih, jangan bilang kalau lo naksir gue?” jangan heran, karena teman sebangku ku memang seperti inilah adanya. Dia ngomongnya ngaco sekali. “Emang, rasanya jatuh cinta kayak gimana?” tanyaku kecil. Kalian tahu? Mulut dia semakin ternganga lebih lebar dari pada sebelumnya. “Dosa apa gue punya temen kaya lo sel?”. “Oke, elo gue end.” Kataku sambil hendak beranjak dari kursi yang sedang aku duduki.
“Iya iyaa, gitu aja ngambekan ah. Gak seru lo mah. Jadi, rasanya seseorang jatuh cinta itu, PERTAMA, kalau sama orang yang lagi dia suka, jantungnya selalu berdetak tak beraturan.” . “Perasaan, selama ini, kalau deket sama siapapun, jantung gue biasa aja.” Kataku dengan jawaban yang paling jujur. Temanku ini menggeleng-gelengkan kepala kecil. “Kayaknya lo emang bener-bener udah nggak normal sil.” Aku mendorong pundaknya pelan. Sebagai tanda bahwa aku tak menyukai gurauannya. Dan aku, memberinya aba-aba untuk melanjutkan ucapannya.
“Kedua, lo tuh selalu pengen merhatiin orang yang lo sukain.”, “Sumpah deh ya, demi apa gue belum pernah pengen ngeliatin orang. Apa lagi ngeliat elo. Yang ada enek duluan.” . “Elo ada waktu gak? Ngajak duel banget sih.” Katanya tersinggung. Aku hanya tersenyum geli. “Ketiga, mungkin orang itu selalu hadir di mimpi lo. Dan rutinitas yang elo lakuin setiap malam adalah, mikirin dia. Dan bilang ‘gue kangen elo’.”
Hatiku terlonjak. Aku tak bisa memungkiri, bahwa hanya dia. Seseorang yang selalu membuat ku merasakan rindu ini. hanya dia yang namanya selalu aku sebut setiap malam. Dia yang seberapa besar pun aku berharap, tapi dia tak akan pernah hadir. Aku percaya. Mungkin harapanku hanya sia-sia. Haha, siapa yang akan peduli? tak akan ada seorang pun yang mau dengan susah mengurusiku. Tidak ada.
Mulai sekarang, aku telah membuat keputusan. Bahwa aku, akan melupakannya. Melupakan masa laluku. Masa kecilku. Tapi, tidak dengan kenangan yang telah ia ukir untukku. Kenangan terindah, dengan cinta pertamaku
“Sebenernya mau kamu apa, sen?” tanyaku sinis. “Loh, kok kamu bilangnya gitu sih? Emang, belum cukup jelas? Bukannya, ehm, kamu juga punya rasa yang sama kayak aku?” Sendy tersenyum dan menatapku. “Aku bukan tipe perempuan yang suka dipermainkan, sen. Sedang, dari gaya bicaramu aja, nggak menunjukkan keseriusan sama sekali. Aku nggak tahu harus menanggapinya kaya apa. Aku rasa, ini pantas dibilang lelucon yang sama sekali tidak lucu.” Ucapku sakratis. “Vira, lihat aku!” Sendy menarik pundakku, memutar badanku agar menghadap ke arahnya. Dia menatapku tajam, dengan tatapan yang mampu membuat bulu kudukku meremang. “Aku serius..” katanya pelan.
Tuhan, harus dengan apa aku menjawab perkataannya ini? apakah aku harus menerimanaya? Karena, jika boleh jujur, bukankah perasaan ini aku yang memulainya? Bukankah dia yang belakangan ini merasuki pikiranku? Tapi, setelah aku membaca surat tadi, masih haruskah aku percaya padanya?
“Mantanmu, gimana? Bukannya kamu mau balikan lagi ya sama dia?” Sendy mematung mendengar pertanyaanku. Aku bisa membaca perubahan ekspresi wajahnya. “Maksud kamu apa, Vir?” tanyanya dengan tatapan bertanya. “Kamu masih sempet Tanya? Apa kamu nggak nyadar? Siapa yang meng-sms mu semalam? Siapa yang membuat ia serasa melayang dengan ucapan pujian yang kamu berikan? Siapa Sen?” sial! Air mata itu, mengalir sesukanya, membentuk riak-riak kecil di kedua pipiku.
“Aku bener-bener nggak ngerti, vir. Maksud kamu, mantan siapa? Aku pun nggak pernah punya pacar dari dulu. Dan kamu tahu, you’re my first love.” Tatapannya sendu sekali. Seperti memohon. Aku tak tega melihatnya. Ingin sekali saat itu aku menerima permintaannya. “Tadi pagi, aku menemukan sebuah surat di mejamu. Aku membacanya, dan itu dari mantanmu.” Ujarku. “Ini semua fitnah. Pacaran aja belum pernah, apa lagi punya mantan.” Dia tersenyum miring. “Kamu, cemburu?” ia memandangku jahil. “Apaan sih, nggak kok.” Aku mengelak. “Terus, ngapain kamu nangis?” pipiku memerah, mendengar ucapannya.
“Kamu nggak boleh nangis. Aku nggak akan biarin kamu sedih, lagi. mulai sekarang, aku akan jagain kamu. Semampuku.” Dia mengusap bekas air mata yang masih tercermin dalam wajahku, dan ia tersenyum, sangat manis. Oh Tuhan, apakah aku tidak bermimpi jika aku memiliki lelaki ini, nantinya? “Emang kamu siapanya aku?” tanyaku menyelidik, menahan tawa. “Aku nggak mau tahu, mulai sekarang kamu itu udah resmi jadi pacar aku.”. “kalau akunya nggak mau?”. “Mana mungkin nggak mau. Orang kamu nangis gara-gara cemburu ke aku kan?”. “Ihhh, Sendy, ngeselin banget sih.” Kataku mencubit tangannya. Ia meringis kecil. Kami berdua pun tertawa bersama, menikmati indahnya langit di siang hari.
***
“Aku menyukai orang yang salah. Orang yang sudah termiliki. Tapi, sudikah kau? Bila setiap harinya, aku tak akan pernah absen untuk mengawasimu dari jauh. Bukan apa, hanya sekedar memastikan bahwa kau baik-baik saja”-You’re secret admirer
***
“Aku mau, hubungan kita cukup sampai di sini aja. Maaf kalau aku bikin kamu sakit.” Aku terlonjak mendengar ucapannya, bagai duri yang menohok dadaku, sesak. “Maksud kamu apa?” tanyaku masih tak mengerti. “Sori, vir, aku nggak bisa. Aku nggak mungkin bahagia diatas penderitaan orang lain. Apalagi dia sahabatku. Dia pun menyukaimu, vir.” . “Dia? Dia siapa?” tanyaku panik, aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi. “lama-lama kamu pun akan tahu.”. “Jadi, kamu lebih mentingin perasaan sahabatmu, dari pada aku?”. “Bukan gitu. Aku tahu nantinya, bakal banyak hati yang akan tersakiti kalau kita melanjutkan hubungan ini.”. “Tapi, hati aku? Gimana dengan hati aku sen? Apa kamu…”
Tut..Tut..Tut…
Ada apa sebenarnya dengan lelaki ini? apa yang terjadi? Telepon itu, ia matikan begitu saja. Kalian tahu? Hubungan kami, baru berjalan 2 hari. Minim sekali bukan? tapi, tanpa alasan yang jelas, ia memutuskanku. Hanya karena sahabatnya, tadi ia bilang? Astaga, tapi siapa?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sms yang aku terima tadi malam, aku yakin, itu pasti dari orang yang Sendy maksud. Aku membuka sms itu. Dan menelepon nomor yang tertera di sana.
“Halo..”
“Halo, ini siapa ya?” sapaku ramah
“Orang.”
“Eh seriusan dong.”
“ini udah serius.”
“Tunggu..tunggu kayaknya aku kenal deh sama suara kamu..” aku mencoba menerka. Siapa orang yang berbicara di sana.
“Ini Robi.”
“Apa? Ja..jadi, kamu. Hm, maaf sebelumnya. Bukan maksud GR. Tapi kamu…”
“Iya vir. Jet’aime.”
Dengan segera, aku memutuskan sambungan telepon itu. tega sekali orang itu. ia Robi. Teman sekelasku. Teman sebangkunya Sendy. Ia telah menghancurkan hubungan kami. Aku benar-benar tak menyangka akan jadi seribet ini. Sendy yang memulai, dia pula yang mengakhiri. Tiba-tiba, handphone di sakuku bergetar, dengan segera aku membukanya.
From Sendy : “Maaf, aku tahu karena ini, sebuah hati yang begitu suci telah aku sakiti. Tapi, aku berjanji. Ketika menginjak kelas 12 nanti, aku akan kembali menyatakan perasaan ini padamu. Aku harap, kau mau menunggu. Hingga waktu yang tepat tiba. Dan, tetaplah jaga hatiku”
To Sendy : I hope so
Aku tersenyum memandangi sms itu, aku harap, itu semua bukan sebuah dusta.
Seluruh jiwa telah ku serahkan
Menggenggam janji setiaku
***
Aku tersenyum bangga mendapati kabar itu. Dua minggu yang lalu –tepat beberapa bulan setelah aku menginjak kelas 12-, Sendy mengikuti lomba Jurnalis, dan ia berhasil merebut juara pertama se-Indonesia. Lihat, bagaimana aku tidak bangga padanya? Tuhan, andaikan lelaki ini, aku yang memilikinya. Aku pasti akan sangat menyayanginya. Dan, dia diundang oleh Presiden Indonesia, untuk menghadiri acara di Bali. Entah apa acara itu. ia tinggal di sana selama dua minggu. Aku tak tahu, apa saja yang ia lakukan di sana. Dia tak pernah mengirimiku kabar via sms. Kami benar-benar lost contact.
Ah, tetapi bukan hanya saat ini saja kami tidak saling berkomunikasi lagi. semenjak aku dan Sendy mengakhiri hubungan kami yang bertahan dua hari itu, satu tahun yang lalu, dia tak pernah mengirimiku sms lagi. Bahkan, dia telah mengganti nomor teleponnya. Apakah dia bersikeras melupakan aku dan merelakannya untuk sahabatnya? Hh, aku pun tak tahu. Namun, yang aku senang, ia tetap memberikanku perhatian-perhatian kecil, di sekolah. Misalkan, ketika aku sakit, ia membelikanku sebotol air mineral. Namun, ia tak berujar apa-apa. Hanya tersenyum kecil. Pernah sekali, tanganku tergelincir, dan aku tak kuat untuk menaikkan bangku ku ke atas meja. Dengan sigap, dia mengangkatkan bangku itu untuk ku. Dan setelahnya, pergi begitu saja.
Banyak pertanyaan yang berkelebatan dalam pikiranku. Aku heran, mengapa dia memberikanku perhatian-perhatian itu belakangan ini? setelah hati ini hampir mati karena terus ia kikis perlahan, dengan sikap dinginnya setelah memutuskan hubungan kami. Aku sakit, kenapa dia tak berkata sepatah kata pun setelah itu? sungguh, aku ingin berbincang dengannya. Aku rindu saat-saat itu, dimana aku bisa bercerita panjang lebar. Menceritakan apapun terhadapnya. Namun, sejujurnya, aku senang dan bersyukur. Entah, aku merasa, hatiku hidup kembali. Tapi tetap saja, dia itu orang yang misterius. Aku tak bisa menebak, apa yang sedang terjadi padanya.
Dan, setelah dua minggu di Bali. Ia pulang. Kembali menyapa kelas, dengan senyuman manisnya. Anak-anak satu kelas, menghampirinya dengan ramai. Mereka seperti sangat merindukannya. Berbeda dengan ku, yang hanya tersenyum dari kejauhan. “Vir, nggak seneng Sendy pulang?” Tanya Robi, dan duduk di sebelahku. Kebetulan Sofi yang dari dulu tetap menjadi teman sebangkuku, sedang menghampiri Sendy. Aku hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan Robi.
“Maaf ya, vir, semua ini gara-gara gue. Salah gue yang dulu bilang ke Sendy kalau gue suka sama lo. Salah gue hubungan kalian jadi berantakan. Sendy salah paham, vir. Gue nggak maksud untuk…”.
“Semuanya udah terlanjur. Nggak ada yang perlu disalahkan. Aku pikir, sekarang pun Sendy udah lupa dengan semuanya yang berkaitan dengan aku. Semuanya, termasuk perasaanku.” Kataku miris. “Nggak, itu nggak bener. Gue tahu, Sendy masih sayang banget sama lo. Sendy masih nyimpen hati lo. Terbukti dari perhatian yang dia kasih ke lo. Jadi, lo nggak perlu khawatir tentang janji Sendy.” Robi menatapku, mencoba menghibur. “Kamu tahu tentang janji itu?” jawabku heran. “Gue baca sms Sendy. Nggak sengaja.” Robi nyengir. “Ih, kamu rese banget sih, Rob. Aku malu banget sumpaahhh.” Kataku gemas, mencubit tangan Robi. “Bahkan, walau udah satu tahun yang lalu, gue masih inget persis loh gimana isi sms itu, dan jawaban singkat dari lo. Hahaha.” Robi tertawa puas dan lari meninggalkanku. Aku mengejarnya, keluar kelas. Anak yang satu ini, benar-benar menyebalkan sekali.
Dia masih tertawa, dan aku terus meneriakkan namanya. Kami berlari, dan saling tertawa, melewati Sendy yang masih dikelilingi oleh anak-anak sekelas, yang terlihat berminat sekali mendengar cerita Sendy. “Robi, tunggu. Jangan kabur, rese banget sih!” kataku kencang. Aku tak sadar, kalau kala itu, aku tengah menarik perhatian Sendy. Karena aku tak tahu, waktu aku mengejar Robi, ternyata Sendy melihat ke arahku. “Mungkin, dengannya kamu akan bahagia.” . “Apa sen?”. “Eh, nggak sof.”
***
Dear diary,
Aku masih sangat dan sangat menjaga perasaan ini. sampai detik ini. sampai menit ini. sampai hari ini. dan bahkan, hingga esok, nanti, seterusnya, dan selamanya akan selalu begini. Tak pernah ada seorang pun yang bisa menjadi bingkai hati kecilku, kecuali dia. Aku pun sangat heran. Mengapa hanya dia? Mengapa hanya sederet nama itu, yang selalu bergaung dalam pikiranku. Tak adakah yang bisa membantuku dari semua ini? bahkan, aku pun tahu. Mungkin, kali ini, dia sudah benar-benar melupakan janji itu. janji kecil, yang dengan bodohnya, aku tetap menantikan kebenarannya.
Bintang, jika boleh aku berharap, malam ini saja, tolong sampaikan pesan hati kecilku ini padanya. Bahwa aku sangat dan sangat merindukannya. Tawanya, parasnya, dan ucapannya. Segalanya masih tetap terekam rapih dalam memori otakku. Aku hanya berharap, aku, gadis lugu dari desa ini, akan selalu ia kenang, walau rasanya, itu benar-benar tak mungkin.
Kamu, kamu adalah kamu.
Kamu yang hadirnya selalu membayang dalam muara kehidupanku
Kamu. Kamu yang senyumannya tak pernah pudar dari anganku.
Dan aku tak tahu mengaapa. Mengapa kamu tak pernah mau tau tentang bagaimana perasaanku selanjutnya, Sendy Claudio
Ku mohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
***
Dia menyukai perempuan itu? ya, perempuan yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Perempuan yang bertemu dengannya saat di Bali itu. apa aku tak salah menerka? Dari manakah harus aku dapatkan kepastian kabar ini? Hhhh, bodohnya kau vir. Kau masih tetap saja memikirkan laki-laki itu dan mengharapkan pembuktian dari janjinya. Padahal apa? Hatinya pun telah terpaut dengan wanita lain. Wanita yang jauh di sana, Bali.
Sejauh yang aku lihat di jejaring sosial, gadis ini memang cantik dan sangat menarik. Malah, mungkin, lebih cantik dari pada aku. Pantas saja ia menyukainya. Rambutnya panjang dan hitam legam, sepinggang. Senyumnya, manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Matanya sipit, membuat parasnya semakin ayu. Dan, dia putih. Aku jelas kalah. Hm, kini aku menyerah. Aku tak ingin banyak berharap lagi dengannya. Aku ingin melupakan segalanya. Tentang semua perasaan ini yang membuat hatiku begitu sesak. tapi, bagaimanakah caranya. Haruskah dengan berpura-pura menyukai pria lain? Tapi siapa? Robi? Ah, lelaki itu, memang selalu membuat ku ingin tertawa.
Tiba-tiba, handphone ku bergetar. Dan aku terkejut melihat nama yang tertera dalam layar ponsel ku. Ternyata Robi. Panjang umur sekali lelaki ini. baru saja aku mengingat-ingat tentangnya. Hahaha.
“Gue suka sm Febby, Rob. Gw gk tahu knapa. Ya, mungkin awalnya krna gw ngerespon perasaan dia. Tp, yg gw bingung, apa dia tulus cinta sm gw? Apa hnya krna ketampanan gw aja? Dan lo tau, dia msh jd pcr orng.” itu sms dari Sendy vir. Gue cuman mau ngasih tau lo informasi tentang ini aja. Biar mengklarifikasikan semua pertanyaan lo. Sori, if it hurts you.
Mataku terbelalak membaca sms yang Robi kirimkan kepadaku itu. lensa mataku mulai mencembung, dipenuhi oleh gumpalan bening yang siap meluncur kapan saja. Jadi, memang benar adanya. Dia menyukai wanita lain. Dan benar-benar melupakan perasaannya kepadaku. Dia lupa, dengan janji yang ia buat sendiri. Namun, aku tak habis pikir. Dia menyukai orang, yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, tapi masih memiliki kekasih? Hei, mau dibawa kemana hati perempuan ini. bagaimana jika kekasihnya tahu?
Sendy, harusnya, harusnya kamu sadar sen. Hanya begitu saja, orang sudah bisa menilai, bahwa dia perempuan yang tidak bisa menjaga hatinya. Kenapa sen, kenapa kamu nggak sadar, disini, seorang wanita, selalu menjaga hatinya, hanya untuk mu. Bukan untuk lelaki lain. Tapi, nyatanya? Kau malah mengikis harapan semu yang selalu aku angankan. Sudah, semuanya sudah berakhir. ‘Lupakan dia vir. Dia bukan untuk kamu. Kamu harus bisa menghapus semua kenangan tentang dan bersamanya.’ Tekadku kuat.
***
“Vira Azzahra..” aku melangkah ke depan ruang musik, dengan perasaan gugup. “Mau memainkan apa kamu?” Tanya Pak Dicky dingin. “Piano,pak.” Jawabku sambil menunduk, untuk terus menetralisir rasa gugup ku. Aku berjalan ke arah piano berukuran sedang, berwarna putih pucat dan sudah kusam di sudut ruangan. Aku merasakan, seisi kelas menatapku dengan heran. Selama pelajaran seni berlangsung, tidak ada yang memainkan alat musik yang akan aku mainkan ini. Mereka memainkan gitar, drum, bahkan hanya bernyanyi saja tanpa alat musik. Karena, sudah menjadi rahasia umum, bahwa piano ini lama tidak ada yang menggunakannya. Dan, tak seorang pun tahu kalau aku bisa memainkan piano.
Aku menatap seisi ruangan. Teman-teman yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Dan huft, sial, mengapa dia harus masuk hari ini? bahkan dia duduk dalam deret bangku paling depan. Membuatku semakin enggan untuk memulai permainanku. Aku hanya diam. Siapkah aku menyanyikan lagu ini untuk seseorang yang tengah menatapku itu? aku rasa tidak.
Sudah 10 menit berlalu. Dan aku masih saja diam. Tak berniat sedikit pun untuk menyentuh tuts-tuts piano yang ada di hadapanku ini. kegaduhan mulai ku dengar. Mereka sepertinya sudah merasa bosan dengan apa yang aku lakukan di depan. “Vira, kapan kau akan mulai bermain? Mau mendapatkan nilai atau tidak? Apa kau hanya menampilkan gaya mu yang terus mematung seperti itu?” Pak Dicky membentakku. Nyaliku semakin menciut diperlakukan seperti itu. “Bismillahirrahmanirrahim.” Bisikku pelan. Bahkan sangat pelan, hingga hanya aku yang dapat mendengarnya.
Aku memulai menekan-nekan tuts-tuts piano itu, dengan sebisa mungkin, selembut mungkin, agar lagu yang akan aku persembahkan ini, bisa ia tangkap dan ia sadari. “This is for someone…” kataku memulai.
“Berulang kali, kau menyakiti. Berulang kali, kau khianati. sakit ini, coba pahami. Kupunya hati bukan tuk disakiti.”
Ternyata, baru sebait aku menyanyikan lagu itu, semuanya hening. Hanya suara ku yang bergema dalam ruangan itu.
“ku akui, sungguh beratnya. Meninggalkanmu yang dulu pernah ada. Namun harus aku lakukan. Karena ku tahu ini yang terbaik.”
Aku menatap sekilas ke depan, mereka, seperti orang-orang yang tidak bernyawa. Mereka mematung. Ah Tuhan, sejelek itu kah suaraku?
“Ku harus pergi meninggalkan kamu. Yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…”
“Gue harap, lo bisa ngerti makna dari lagu itu, sen.” Sofi berkata tajam kepada Sendy yang duduk di depannya.
“Ku akui sungguh beratnya. Meninggalkanmu yang dulu pernah ada. Namun harus aku lakukan. Karena ku tahu ini yang terbaik. Ku harus pergi meninggalkan kamu. Yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya. Cintaku lebih besar dari cintanya. Mestinya kau sadar itu. bukan dia, bukan dia, tapi aku…”
Aku tersenyum kecil setelah menyanyikan lagu itu. aku heran, mengapa tepukan teman-temanku begitu riuh, dan mereka menyeru-nyerukan nama ku. Apakah, aku tampil dengan memuaskan? “Bagus sekali Vira,” kata Pak Dicky yang tadinya marah padaku. “Bapak, akan memasukkanmu ke tim paduan suara SMA kita. Bapak harap kamu tidak akan menolaknya.” Aku hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Pak Dicky.
“Vira, lo gila, ya? Kenapa lo nggak pernah cerita ke gue kalau lo punya suara kayak malaikat, dan lo mahir main piano?.” Sofi memelukku bangga, dan menepuk-nepuk punggungku. “Hehe, itu kan bukan informasi yang penting, sof.” Kataku sambil tersenyum. “Vir, gue nggak nyangka, suara lo sebagus itu. tapi ya, kalau dibandingin sama gue sih, masih bagusan gue ya vir. Sori aja.” Robi mengangkat kerahnya, berlagak seperti orang yang menyombongkan diri. “iyadeehh, yang jadi vokalis band mah beda aja.” Kataku sambil menyindir. Dia hanya tersenyum lebar. “Lo tahu nggak gimana ekspresi Sendy tadi?” Tanya Sofi. Mendengar nama itu disebut, seperti ada sesuatu yang menohok saluran pernapasanku. “Gak, dan nggak mau tahu. Aku duluan ya, lafaaarrr. Hehe.” Kataku berusaha menutupi.
Sebenarnya, aku bukan ke kantin. Tapi aku berlari kea rah atap sekolah. Tempatku biasa berpijak, jika suasana hatiku sedang kacau. Aku benar-benar ingin menangis. Lagu itu, mengapa lagu itu membius diriku sendiri? Mengapa dia tidak? Dan kenapa tadi dia sudah tak ada di ruang music? Ah, dia lagi dia lagi. sudah lah! Aku lelah bila harus memikirkan dia.
Dari atas sini, aku merasakan kesejukan dan kedamaian yang luar biasa. Angin yang berhembus, mengibaskan rambutku yang sengaja aku gerai. Untungnya, langit sedang mendung. Jadi, tidak terlalu panas. “Meskipun cintamu tak hanya untukku. Tapi cobalah sejenak mengerti.” Aku bersenandung kecil, sambil menatap langit. Namun, hatiku terus mendesah, galau dan risau itu masih ada.
“Maaf…” sebuah suara dingin menyapaku begitu saja(seperti satu tahun yang lalu). Aku terlonjak kaget, aku pikir setan. Karena, tak ku lihat siapapun di sekitarku. Tapi, beberapa menit kemudian, dia mendekat. Dan duduk disampingku. Hhh, kenapa harus ada dia? Sungguh, aku ingin sendiri. “Apa, lagu tadi buat aku, vir?” tanyanya perlahan, dan menatap ku yang sama sekali tak menggubris kehadirannya. “Apa kamu masih jaga hati aku?” dia kembali bertanya. Pertanyaan yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Karena semuanya sudah jelas. “Aku sama sekali nggak nyangka, vir. Aku pikir, kamu menyukai Robi.” Aku tertawa mengejek. “Febby ternyata nggak lebih baik.” Aku terus diam. “maaf aku sering ngebuat kamu sakit, nangis, dan hancur.”. “PD” jawabku singkat. “Kamu marah sama aku?” ia masih terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dan aku masih terus bungkam. “Makasih buat lagunya. Aku suka.”
“Emang itu buat kamu? Sok tahu.” . “Gausah nutupin gitu deh, aku tahu kok. Bahkan, sebelum itu pun, aku udah bisa nerka kalau kamu bakal bawain sebuah lagu buat aku. Dan hanya buat aku selamanya.”. “Aku nggak habis pikir, kenapa kamu bisa ngira kalau aku suka sama Robi. Jelas-jelas Robi sahabat kamu.” Sendy terdiam, tak menanggapi ucapanku. Dia menghela nafas. “Vir, semua wanita itu cantik.” Dia berdiplomatis. Entah, apa maksudnya berkata seperti itu.”Tapi, aku tak menilai paras nya yang cantik. Aku tahu, aku suka sama Febby, itu cuman perasaan sesaat. Aku dibutakan oleh kecantikan seorang wanita.” Febby, Febby, dan Febby terus yang ia ceritakan. Tak mengertikah ia? “Dan, seharusnya dari dulu, aku mengikuti kata hati aku. Karena hati selalu benar bukan? hanya kamu, vir, wanita sederhana yang mempunyai kecantikan luar dalam. Itulah alasan mengapa dari dulu, aku selalu menjaga hati aku untuk kamu, walau kamu tahu yang sebaliknya. Bahwa aku telah melupakan segalanya. Itu yang kamu tahu bukan? tapi, tidak pada kenyataannya. Karena, dari awal, aku tahu, bahwa kamu dan hanya kamu yang terbaik.” Tuhan, kejutan apa lagi yang Engkau berikan? Apakah sebetulnya ini sebuah cobaan?
“Aku, kangen kamu, vir.” Hatiku berdesir mendengar kalimat singkat yang baru saja ia serukan. Setelah sekian lama, ia menyakitiku, ia memupuskan anganku, akankah ia memberikan kembali sayap yang telah ia patahkan sendiri? Harus bagaimana nantinya?
Bila rasaku ini rasamu. Sanggupkah engkau, menahan sakitnya terhianati cinta yang kau jaga. Coba bayangkan kembali, betapa hancurnya hati ini, kasih, semua telah terjadi
***
“Ayah pulang.” Sapanya ketika ia membukakan pintu. Aku tahu, ia pasti lelah. Namun, yang aku kagumi dari dia adalah, tetap tersenyum untuk menyapa anak-anaknya di rumah. “Yeah, Ayaahh pulaaanngg. Asik, apa itu,yah? mainan ya? Pasti buat aku kan, yah?” . “Enak aja, kamu tuh selalu PD. Itu mainan pasti buat aku. Aku kan anak kesayangannya ayah.”. “Kalian kok malah bertengkar? Kalau kakak sama adik itu, harus saling menjaga, bukannya malah bertengkar seperti ini.” kataku melerai mereka
“Ayah bawa mainan untuk kalian berdua kok. Lihat, ada kimmi and friends buat Alyssa, dan mobil remote control untuk Rio.” Dia membagikan hadiah-hadiah itu. aku hanya tersenyum melihatnya. “Makasih ya, ayaaahh.” Mereka berdua memeluk Sendy dengan penuh rasa sayang. “Yasudah, sekarang, kalian main sana.” Mereka menurut dan berlarian ke teras.
“Nggak kerasa ya, vir. Sekarang, anak kita sudah tumbuh sebesar itu.”. “Iya, siapa dulu ibunya.”. “Ayahnya yang lebih hebat, dong.”. “Tapi kan, aku yang melahirkan mereka.”. “Dan kalau nggak ada aku, mereka nggak akan ada.”. “Kamu itu dari dulu, dari SMA, bahkan saat menjadi mahasiswa pun sifatnya sama aja ya. Nyebelin, dan nggak mau ngalah.”. “Kamu juga sama. Polos, lugu, tapi tetap cantik. Dan kecantikan itu, cantik sempurna.” Aku tersenyum mendengar penuturan Sendy. Ah, lelaki ini, memang sama sekali tidak berubah. Kata-katanya, selalu saja membiusku. Terima kasih Tuhan, untuk kebahagiaan yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan kepada keluarga kami ini. terima kasih, karena kau telah menciptakan lelaki di hadapanku ini, untuk menjadi pendamping hidupku.