The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams :)

RSS

Absurd-_-


Sebuah rasa yang menyesakkan, adalah rasa sayang dari seorang penggemar terhadap idola mereka. Memang, kita tak boleh mengidolakan seseorang dengan terlalu berlebihan bukan? begitu pula yang disyariatkan oleh agama Islam. Seseorang yang patut diidolakan hanyalah Rasulullah SAW.

Lantas, harus aku beri nama apa perasaan ini? gejolak candu, menerjang dalam sekejap. Hanya karena, rona bahagia itu sudah kian mendekat. Iya. Lelaki yang satu   ini, betul-betul aku rindukan. Hari itu, kedua sudut kecil dibibirku, tak henti-hentinya membentuk lengkungan semu. Yang mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Tetapi, tak tahukah mereka? Seberapa kuat aku menahan buncahan rasa bahagia saat menanti waktu itu tiba.

Aku tak ingin sedikitpun melewatkan aksinya saat itu. dan aku mulai menerka, akan segila apakah aku ketika waktu itu telah tiba? Ah, ingin rasanya aku mencabik hatiku saat itu juga. Bukan apa, hanya sekedar meredakan detakan yang sangat tak beraturan itu. 

Sudah beberapa lama ini kunanti. Keeksistensiannya di layar kaca itu, aku bersungguh-sungguh tak akan pernah melupakannya. Bahkan saat itu, rasanya, aku ingin menitikan air mata. Saat mengetahui, bahwa benteng jarak antara kita kembali menebal dan semakin sulit untuk dihancurkan. Dan aku tahu, mungkin itu bukan waktu yang tepat. Tak ada lagi harapan. Kegelapan menghancurkan angan yang selalu aku susun sendiri. Hanya sendiri. Tanpa dia. Haha. Bicara apa aku ini? ia tak mungkin bersedia menyusun angan ini bersama. Aku mungkin terlalu egois. Berharap, takdir akan mempertemukan kita dalam jangka waktu yang dekat ini. tapi aku sadar, apalah daya, aku tak bisa. Sebesar apapun usaha yang aku lakukan. Mungkin, saatnya belum tiba. Saat bahagia itu. ketika aku dapat menyadari, bahwa dia bukan hanya pangeran dalam mimpi.

Lalu, apakah aku bersalah? Ketika aku tak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Saat aku selalu membawa alam khayalku kedalam realita. Aku sering secara tak sadar, menganggap bahwa aku dan dia adalah kita. Hingga akhirnya, aku kembali harus terbentur oleh takdir realita. Aku dan dia. Tak akan pernah mungkin menjadi kita. Sampai kapanpun. 

Dia mungkin berbeda. Aku tak pernah memiliki perasaan sehangat ini terhadap lelaki lain. Karena aku mencoba untuk tidak menyukai lawan jenis dalam beberapa waktu kedepan. Aku hanya ingin bermunajat dengan penciptaku. Kecuali, hingga waktunya telah tiba. Saat aku benar-benar harus memilih tentang pangeran hatiku. Tapi, aku benar-benar berada dalam status kegagalan. Aku tak bisa terus menerus bermunafik, bahwa aku tidak menyukai –ehm tepatnya menyayangi- dirinya. Maksudku, dia yang berada di layar kaca sana. Apa, seperti inikah perasaan seorang penggemar terhadap superstar? Apa benar sekuat ini? atau……..benarkah ini perasaan dari seorang penggemar? 

Andaikan. Andaikan. Dan andaikan. Andai, aku dan dia berada di jalan yang sama. Mungkin, tak akan seberat ini. kau tahu? Kita berbeda iman. Aku mencintai Allah-ku. Dan dia, mencintai Tuhannya. Dan saat menyadari hal ini lah, bibir ini tak lagi bisa mempertahankan lengkungannya. Ia terkunci rapat. Ia bungkam, terbujur kaku, dingin, pucat. Tak ada lagi senyuman seperti biasanya. Apakah, betul hipotesa ku? Bahwa kita memang tak mungkin bertemu –maksudku untuk bersatu-_-V?

Ah, mengapa rasanya harus begini menyesakkan. Kala  hati ingin menyapa. Akan tetapi, hati diseberang sana tak peduli dengan kegalauan ini. kapan, aku bisa menjadi pemilik dari setiap senyum yang engkau tunjukkan untuk publik? Entah, aku tak bisa berteriak seperti penggemarmu yang lainnya ketika melihat aksimu itu. saat itu, aku hanya terdiam. Terpaku. Dingin. Layaknya benda tak bernyawa. Bahkan, untuk sekedar mengeja namamu pun, tak semudah biasanya. Obat bius apa yang engkau pakai, sehingga menimbulkan efek yang sedemikian rupa pada diriku?

Jadi, bagaimanakah dengan perasaanku yang satu ini? layakkah ia diserukan sebagai seorang idola? Atau, pantaskah ia dinobatkan sebagai seorang pangeran? Sebetulnya, siapa dia? Mengapa dia begitu berarti? Pasalnya, kehadirannya –walau hanya sekedar dari layar kaca- dapat mengobati sesuatu yang terasa sakit di relung hati ini.

Tuhan, bagaimana mungkin perasaan ini terus tumbuh dan menancap semakin dalam. Bagaimana mungkin aku bisa menyayanginya? Padahal, aku terus meyakinkan diriku, bahwa-aku-hanya-sekedar-menyukainya? Oh tidak! Aku belum berani untuk mengoarkan kata cinta. Karena untuk saat ini, kata cinta hanya pantas ditujukan untuk-Mu, Rasulku, orang tuaku, dan keluargaku.


-Entah mengapa, malam ini, anganku tentangnya semakin terlihat nyata. Aku harap dia akan kembali datang. Dalam dunia mimpiku. Selamat malam. Aku menyayangimu…….pangeran gsd<3-




Regard,
Syifa Ahliya
-SA-

Follow me on twitter: @syifahliya
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS