Aku memegang benda itu. Dan kini aku tahu. Ternyata, di balik warna merah terangnya dan gambar singanya, tersulam tiga huruf dengan nuansa emas. “Abi,”. Nama kecil, yang sampai sekarang masih saja membekas. Tak sedikit pun berniat untuk memudar. Nama kecil, yang dengannya hidupku jadi bergantung.
*
“Popcorn, Popcorn!!! Ayo dibeli Popcornnya. Masa orang ganteng seperti saya sudah rela jualan gini, nggak ada yang beli. Apa kata dunia?” aku memutarkan kedua bola mataku mendengar celotehan penjual itu yang sedari tadi tak mau berhenti berkoar.
“Mas, beli satu mas!” pedagang itu mengangsurkan dagangannya kepada orang yang memanggilnya tadi. Aku menoleh, suaranya nampak terdengar jelas dari sini, oh ternyata pembelinya duduk bersebrangan dengan ku. Lalu, aku tak mempedulikan pedagang itu lagi. Akhirnya, aku menyibukkan diri dengan mengutak-atik I-Phone ku. “Ya, emang lo ngarti gitu sama filmnya.” Huh, orang ini benar-benar menyebalkan sekali. Apa sebegitu kampungannya aku sampe-sampe nggak ngerti film harry potter? Ya nggak lah!! Aku terdiam dan tak memberikan jawaban. “Yeh, jangan ngina gitu eyi! Kamunya juga nggak ngerti kan? Aku doang yang ngerti dong! Akunya kan udah baca novelnya dari yang ke 1-7. Jadi aku tahu persis gimana jalan ceritanya.” Kalau gadis yang satu ini, terlalu ambisius dalam Harry Potter. Tapi, aku juga tak tahu. Apa sih serunya film itu? Apa lagi novelnya, tebel-tebel gitu. Mati aja sekalian.
“Hei, kok kamu duduk di sini? Ini tempat saya!”. “Maaf, tapi saya yang lebih dulu memperoleh tempat duduk di sini. Anda siapa mengusir-ngusir saya?”. “Bukan begitu, tapi lihat! Menurut tiketnya, saya yang seharusnya duduk di sini. Apa kamu nggak ngerti peraturan di bioskop seperti apa?”. Orang itu terlihat mengecek tiketnya. Lalu, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf, hehe. Benar, saya seharusnya duduk di no 14. Maaf ya. Permisi.” Apa? No 14? Itu berarti? Yaahh!! Ah, malesin banget deh duduknya deket cowok. Enakkan tadi, kursinya kosong nggak ada yang nempatin.
Laki-laki itu berjalan kea rah kursi di sebelahku. Ia langsung saja duduk. Bertepatan dengan ia duduk, rasanya ada perasaann aneh yang tak enak di hati. Aku rasa, aku kehilangan sesuatu, namun apa? Aku melupakannya! Aku terus memandang lelaki itu. Tapi sebetulnya, aku tak memandang dia. Aku hanya berusaha mengingat, apa sesuatu –yang aku rasa- hilang itu? Dia mendelik ke arahku. Aku terus memandanginya. “Heh, apa lo liat-liat?” katanya sinis. Sejujurnya, aku tersinggung. Apa laki-laki ini tak pernah diajari sopan santun? “EH, ga pernah diajarin sopan santun ya? Lagian, emangnya ada yang ngebolehin kamu buat duduk di situ?” balasku tak kalah sengit dengannya. “Kalau ada pun, gue bakal tetep duduk di sini. Orang ini kursi gue yee.” Katanya senang dan memakan popcorn yang ia beli. Hhuh! Orang ini benar-benar menyebalkan sekali. Aku tak melihat jelas bagaimana tampang aslinya. Soalnya, dia mengenakan kaca mata hitam. Buta kali ya? Masa mau nonton kaca matanya gelap banget gitu. Err!! Kesel kesel kesel!!! Udah Eyi sama Ayas ribut mulu ngebicarain Harry Potter. Kak Iya, teleponan mulu sama pacarnya, nah sekarang? Cowok jutek nan nyebelin yang tiada terkira duduk di sebelah aku? Oh Tuhan!! Aku menyesal meng-iyakan ajakan kak Iya untuk menonton bioskop.
Lampu-lampu yang tadinya menyala, seketika dipadamkan. Itu pertanda film akan segera diputar. Aku mendengar Ayas bersorak girang. Nampaknya, anak itu benar-benar tak sabar menantikan Film Harry Potter and The Deathly Hallows part 2 ini. kontras sekali dengan aku yang merasa bodo amat dengan film yang akan diputar sekarang. Sedangkan Eyi, dia mulai memakan popcornnya. Rakus sekali. Dan laki-laki di sebelah ku ini, tak kunjung melepas kaca mata hitamnya. Ah, sudahlah, jangan pedulikan dia. Lagi pula, dia siapa sih. Aku nggak kenal kan.
“Eh, lo suka filmnya?” ada yang berbicara entah siapa. Namun, terasa sangat dekat dengan telingaku dan suara itu berdesir mengusik kesejukkan yang ada akibat dari pendingin ruangan ini. nggak mungkin banget Eyi. Dia dengan suara ricuh mulutnya, itu memberi tahu aku, bahwa dia sedang asyik makan. “Yeh, lo budeg apa bisu? Ditanya diem aja.” Aku menoleh. Oh, ternyata cowok nyebelin ini toh. Lagian, dia ngomong tapi mukanya terus ngadep ke layar sih.“Nggak, aku nggak suka dan nggak ngerti.” Jawabku sejujurnya. “Lha? Terus ngapain ke sini? Buang-buang duit aja.” . “Biarin.” Jawabku tak acuh. Aku kembali memfokuskan diri kepada film yang sekarang sedang menampakkan orang –yang aku tahu itu Harry- yang tengah terduduk di sebuah kuburan. Eh, kok tiba-tiba ke situ sih? Emangnya siapa yang mati? Ah, bodo amat deh. Nanti kalau Tanya-tanya, diomelin lagi.
Film pun terus berputar. Seiring suara riuh, tawa, dan isak para audience yang –terlihat- memang benar-benar serius menonton putaran film aneh ini. sedangkan aku? Aku hanya menonton dan tak tahu maksudnya apa? Tak ada yang aku tahu. Namun, kali ini, aku mendengar sebuah isakan. Aku menoleh, Ayas turut terisak melihat adegan melankolis yang di suguhkan film kepada dirinya. Nampaknya, ia sedang terbius. Dan aku melihat, Eyi pun mengusap kedua matanya. Aku jadi penasaran, apa yang tengah terjadi? Ku alihkan perhatianku pada layar besar itu. Di sana, terlihat orang-orang yang sedang berkumpul mengelilingi tiga orang yang tertidur. Aku tak tahu siapa mereka. Yang jelas aku tahu, dua laki-laki dan satu perempuan. Em, but, I just know one of them. Laki-laki itu bernama Fred Weasley. Soalnya, tadi Ron nyebut-nyebut namanya gitu deh “Fred! Wake up, Fred! You won’t do it to us, will you? Don’t go! We love you,Fred”. Dan tanpa terasa, seiring dengan kesedihan yang di dera oleh para lakon film di sana, air mataku pun mengucur. Aku turut merasakan kehilangan. Aku tak kuat menahan buliran bening itu. Dan seketika, dadaku terasa sesak. Kenapa aku bisa terhipnotis? Padahal, nyatanya, aku tak mengerti. Aku takut Tuhan. Aku menjadi takut dengan suratan takdir. Tanpa aku sadar, dan dengan gerakan reflek, aku menyandarkan kepalaku ke bahu laki-laki itu (maklum, karena aku masih kelas VII SMP dan masih sangat polos). Namun dia tak memberikan respon apapun. Aku tergugu dan terus terisak. Meski sekarang adegan pun sudah berganti.
Isakan ku mungkin cukup keras, karena Eyi,Ayas, dan Kak Iya menoleh ke arahku. Mereka memasang tatapan heran. Dan aku tersadar. Aku langsung bangun. Dan malu. Aku tak menoleh sedikit pun lagi kearahnya. Ada apa aku ini? mengapa aku begitu lancang berbuat seperti itu? Namun, dia tetap diam dan tak berbicara sepatah kata pun lagi.
“Yah udahan..” desah Eyi kecewa. “Jangan udahan dong! Please jangan ayolaahh..” dan Ayas berteriak kegirangan setelah melihat bacaan yang tertera di layar bioskop. “19 Tahun Kemudian”. Aku bersyukur film akan segera berakhir, dan aku membereskan semua barang-barang ku. Lalu bersiap pulang dan menjauh dari laki-laki ini. (Sorakan Ayas semakin kencang lagi saat ia melihat laki-laki tegap berwajah tampan, sedang berbincang dengan anaknya. “Draco! Itu Draco!! Aaa kereennn!!” siapa Draco? Aku pun tak kenal).
Ayas Eyi dan kak Iya telah lebih dulu meninggalkan tempat duduknya. Aku kembali ke bioskop karena ada sesuatu yang hilang, dan aku baru menyadari apa itu. I-Phone ku. Aduh, di mana ya? Sebelum film dimulai, aku sempat memainkan I-Phone ku. Tapi aku meletakkannya begitu saja, karena aku lupa. Apa I-Phone ku sudah hilang? Ya Tuhan, mama bisa marah kalau tahu. Sebuah tangan putih menyodorkan sesuatu ke hadapanku. Aku kaget mendapati tangan itu. Ternyata di sana, dia memegang I-Phone ku. Aku langsung mengambilnya. Dan, aku tersedak ketika melihat siapa yang menyodorkan I-Phone ku. “Nama lo Aya kan? Sorry gue lancang angkat telepon lo tadi. Dan, lain kali, kalau ke bioskop bawa tisu. Lihat nih baju gue basah kan jadinya.” Jujur saja, aku sudah benar-benar malu saat ini. dan aku hanya tersenyum lalu berujar maaf. “Nama kamu sia-“. “Abi, dan gue harus pulang. Bye.” Abi, hmm, nama yang entah mengapa membuat hatiku seperti ada yang mengusiknya.
Aku melangkah, namun, tiba-tiba saja telapak kakiku menginjak sesuatu. Aku tak tahu apa yang aku injak. Aku menunduk untuk memastikan. Dan ternyata, sebuah sleyer dengan warna merah, ada lambang singa emas di sana. Aku memegang sleyer itu. Nampaknya masih baru. Tapi, ini punya siapa? Tinggal aku sendiri di sini. Tak ada seorang pun lagi. tengkuk ku bergidik ngeri. Sleyer itu aku pegang erat dan aku bawa pulang. Hm, barang yang tak ada pemiliknya mungkin.
**
Pemilik hati, di mana engkau berpijak? Dengan siapa kau tengah bersanding. Sudahkah Engkau termiliki? Aku ingin tahu. Karena hati kecil ku telah memilih pemiliknya. Yang sekarang, hanya membawa ku ke dalam dimensi semu.
**
Hari pertama, di mana aku menjejakkan langkah di kota asing ini. semuanya nampak berbeda dari biasanya. Dari populasi pohon yang biasanya menawarkan aroma kesejukkan, sekarang, berganti dengan aroma kelabu dan menyesakkan. Kendaraan yang masih jarang berlalu-lalang, kini malah ribuan mesin melengking dengan raungan bising. Ugh! Rasanya aku mual bila membayangkan sekarang harus tinggal di kota yang menyesakkan ini. ribuan insan memilih tinggal di sini. Tanpa peduli, kejamnya yang mereka lakukan pada makhluk hidup lain (tanaman).
“ya, jangan cemberut mulu napa lo. Jelek tahu nggak sih?” rese! Anak yang satu ini memang nggak pernah sopan dari dia lahir sampai sekarang, bahkan mungkin hingga akhir jaman nanti. Aku kan kakaknya, tapi dia tak pernah mau memanggilku dengan sebutan itu. Ia bilang, alasannya karena aku dan dia hanya berbeda satu tahun. “Tahu dih, bukannya seneng gitu di sini. Orang-orang kan banyak loh yang pengen banget berdomisili di sini, termasuk aku. Huaahh, seneng banget deh keinginan ku tercapai juga.” Mereka berdua ini (ayas dan eyi) memang selalu bersekongkol atau bagaimana sih? Pemikirannya selalu selaras. “Iya,ya, nikmatin aja.” Kak Iya ikut berkomentar
Aku, kak Iya, Ayas, dan Eyi memang pindah ke Jakarta hari ini juga. Suasana Solo yang biasanya menyejukkan kini berubah seketika. Kami pindah, karena kami memutuskan untuk melanjutkan sekolah di sini. Tadinya, kak Iya aja yang mau ngelanjutin study nya, tapi, mama bilang, lebih baik kita semua pun ikut. Aku jelas menolak. Namun, semuanya merayu ku dengan sejuta alasan. Dan dengan sangat terpaksa, akhirnya aku harus menuruti kemauan mereka. Kontras sekali antara aku dan mereka. Mereka yang memang sangat ingin menjejakkan kaki di kota ini, terlihat begitu bersemangat menyampaikan argumennya tentang keadaan Jakarta. Sedangkan aku? Aku lebih memilih tinggal di sana (Solo) bersama teman-temanku.
**
Dengan canggung dan tak nyaman aku memasuki gerbang bercat biru itu. Err, ini sekolah apa tempat penampungan jiwa sih? Jujur saja, aku baru pertama kali ini mengikuti masa orientasi siswa yang aneh nya benar-benar seperti ini. waktu di Solo dulu, semuanya natural. Dan bahan-bahan yang kakak kakak OSIS suruh bawa pun tidak seribet ini. jujur saja, aku malu bila harus pergi ke sekolah dengan pakaian yang seperti ini.
Rambut yang biasanya aku ikat asal, kini harus ditata dengan puluhan pita. Memangnya aku hendak berjualan? Kaus kaki yang biasanya aku kenakan dengan rapi, kini harus di tempeli dengan pernak pernik, dan harus terlihat ramai. Seragam putih biru ku dulu, terpaksa harus dilengkapi dengan rompi putih dari kain bekas. Dan ini yang benar-benar menjengkelkan. Aku tak suka bila aku harus mengenakan perhiasan. Dan sekali nya aku di suruh untuk mengenakannya, kenapa harus perhiasan yang aneh begini? Anting dari buah semangka. Wakakak, bisa kejumpalit akunya. Nggak ding, antingnya dari aqua gelas. Eh,bujubuneeng nggak masuk akal banget kan ya? Gila!
Dan sialnya, sepertinya aku terlambat memasuki lapangan. Di sana, seluruh siswa yang berpenampilan senasib dengan ku sudah berbaris rapi dengan posisi siaga. Tapi, toh aku baru terlambat satu menit. Dan itu tak masalah bagiku. Dengan santai, aku masuk barisan –yang aku pilih dengan asal-. Namun, tiba-tiba ada yang menyergahku.
“Heh kamu! Sudah terlambat, masuk main nyelonong aja. Benar-benar tidak sopan.” Bentak seorang kakak kelas lelaki berperawakan tinggi, dan berkulit putih pucat, juga bermata sipit. Pipiku merona merah. Jujur saja aku malu. Karena nampaknya, semua mata terrtuju kepadaku. “Tapi, kak, saya cuman telat 1 menit aja kan?” kataku menyerukan pembelaan. “Namanya terlambat tetap saja terlambat.” Katanya keras kepala dan tak mau kalah. “Tapi saya cuman terlambat masuk barisan aja kok. Pas masuk gerbang tadi, saya udah tepat waktu.” Kataku mengelak. “Saya Tanya, kamu ada hak apa berbicara seperti itu? Bahkan, masuk sekolah ini pun kamu belum tentu.” Ia tersenyum menang. “Saya sudah masuk sekolah ini. saya sudah daftar dan dinyatakan diterima.”
“Alvin, udahlah! Biarin aja vin. Kan cuman telat sedikit.” Bela kakak kelas perempuan, dengan dagu tirus dan berparas menawan. “Nggak bisa gitu kali nis! Itu kan udah jadi peraturan.” Lelaki itu tak mau kalah. “Alvin, tapi kan dia cuman telat masuk barisan aja. Anak baru,vin.” Kata kakak cantik itu lagi. “Anis, di sini yang ketua itu gue. Jadi, ya suka-suka gue dong.” Aku mendengus jijik padanya. Baru jadi ketua OSIS aja sombongnya udah selangit. “Dan kamu bocah nggak sopan! Maju ke depan lapangan sini. Sampai upacara pembukaan MOS selesai.” Katanya sengit dan menarik tubuhku, ke depan lapangan. Tanganku terkepal. Aku sungguh dipermalukan habis-habisan kali ini. aku mendengus sebal kepada lelaki Sipit itu. He is Like the beast!
Tuhan, mengapa hari pertamaku menjadi kacau balau.
Apakah aku tak sedikit pun kau izinkan untuk menerima keadaan ini?
Aku ingin menjadi makhluk yang bisa bersyukur
**
Sedari tadi tak pernah sedikit pun aku menyentuh minuman yang aku pesan. Tiga butir es batu di dalam orange juice itu hanya saling beradu dengan gelas karena aku mengaduknya dengan sedotan. Sangat lelah ku rasa. Semuanya sibuk dengan urusannya masing masing. Akhirnya, aku memilih untuk pergi ke kafe terdekat dengan kos-an di mana aku tinggal. Kak iya sibuk ngerjain makalahnya. Ayas main sama temen-temen barunya. Dan Eyi, au ah! Penting banget mikirin anak itu. Paling molor mulu.
Aku menatapi sleyer yang terkalung di leherku. Kalian tahu? Semenjak bertemu Abi (anak jutek bin nyebelin yang bertemu denganku waktu aku masih di Solo dan kelas VII SMP, yang sekarang aku yakini bernama Abi), Sleyer itu selalu aku pakai kemanapun aku pergi. Kecuali ke sekolah. Hm, teringat sleyer ini, rasanya, hampa banget. Aku kangen sama Abi. Abi yang dulu juteknya setengah mati, tapi sekarang melekat di hati. Aku meraba tulisan yang di sulam dengan benang emas itu. Entah mengapa, hatiku teriris, hampa menggemakan serpihan-serpihan yang kini tak bisa ku temukan lagi. tanpa terasa, setetes air mengalir di kedua pipiku. Aku terkaget dan dengan segera menghapusnya.
“Jangan nangis, gue paling nggak suka liat orang yang nangis. Karena itu mencerminkan banget sisi kelemahan kita. Dan dunia nggak akan pernah memihak kepada orang-orang yang lemah.” Sapa suara dingin yang aku rasa, aku mengenalnya. Aku menengadah. Dan shock ketika mendapati kak Alvin berdiri di sana. Orang yang mempunyai gelar ‘rese’ bagiku. Karena sikapnya yang benar-benar ingin aku tinju. “Tukang ganggu.” Dengus ku kecil. “Bukannya berterima kasih lo disamperin cowok ganteng kayak gue. Lo ga liat? Tatapan cewek-cewek di sini, mengarah ke gue semua hei.” Katanya narsis. “Ganteng kok ga punya mata. Heloo, mata nya di taro di mana kak? Hebat banget deh kakak bisa ke sini. Padahal mata kakak aja segede lubang pentul.” Jawabku asal dan tak acuh.
Setelah insiden MOS itu, aku menjadi sangat membenci orang yang satu ini. dan anehnya, kenapa dia selalu hadir di kehidupanku. Dan selalu saja mencari masalah. Aku bosan, aku tak mau peduli dengannya. Tapi, kalau aku diemin aja, nanti dianya berasa menang. Err, kenapa sih aku harus dipertemukan dengan orang yang lebih dari kata aneh? Bahkan dia lebih buruk dari alien.
“Tempat penuh. Dan gue ga ada tempat duduk.” Katanya dingin. “Ngapain ke sini? Pergi aja sono!” balasku sengit. “Gue mau duduk di sini. Dan lo ga boleh nolak.” Pemaksaan macam apa ini? siapa dia seenaknya bilang seperti itu. “Berasa penting banget sih jadi orang.” Kataku malas dan mengaduk minumanku lebih kencang lagi. “Yang penting gue ganteng.”. “Ngomong sana sama tembok!”
Beberapa dari kami terdiam dalam waktu waktu berikutnya. Tak ada obrolan yang bisa diperbincangkan. Lagi pula, aku sedang malas bercakap dengannya. Aku ingin dia enyah dari sini sekarang juga. “Kak,” kataku memulai. “Hmm..” perhatiaannya tidak teralih dari minumann yang baru saja ia pesan. “Pergi sono. Hidup aku sial mulu kalau deket kakak.” Dia mendongak menatapku, dan –aku bisa membaca itu- air wajahnya terlihat kecewa. “Lo ngusir gue?”. “Iya!”. “Seberapaa bencinya sih lo sama gue?”. “Aku ga seneng kakak di sini. Kak Alvin Cuma bisa ganggu aja.” Alvin terdiam, dan menunduk. ‘apa aku salah ngomong? Kenapa kak Alvin tiba-tiba kayak gitu? Padahal niatnya sih, Cuma mau mancing dia aja. Biar dia marah, dan kesannya jadi lebih rame kan kalau saling adu mulut? Eh, kok tapi hari ini, kayaknya dia lagi sensitive’. “kak,” panggilku lagi untuk memastikan. Ia mendongak dan menatap tajam kea rah ku.
Aku sangsi sendiri melihat tatapannya. Dia menatapku tajam. Tak mengalihkan matanya dari mataku. ‘Hei, apa yang terjadi? Sudahlah! Jangan berpikir dan menerka terlalu jauh. Tapi, kenapa Kak Alvin natap akunya kayak gitu.’ Batinku dengan hati yang sudah tak karuan.
Tiba-tiba, tangan kak Alvin bergerak ke arahku. Aku pikir, kak Alvin akan melakukan sesuatu. Tapi, ternyata dugaanku salah. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih sleyer yang aku pakai. Dia melepaskannya dari leherku. Dan dia meneliti sleyer itu. “Kenapa kak?” tanyaku heran. Melihat mata kak Alvin yang tambah nggak keliatan gara-gara mengernyit memperhatikan sleyer itu. “Ga, pengen liat aja. Ini dari cowok lo?” katanya dengan ekspresi yang tak bisa diterka. “Aku nggak punya cowok kak.” Entah hanya halusinasi atau apa, tapi aku mendengar dia menghelakan nafas. “Terus lo dapet dari siapa?” . “Someone.”. “Siapa?”. “siapa aja boleh yang penting oke.”. “Ayolaahh,”. “Ih, penting banget ngasih tahu kakak ya?”. “Gue pengen tahu aja.” Paksanya dengan hidung yang sudah kembang kempis.
“kakak baca, di situ ada ukiran nama yang tertera.” Kataku singkat. Aku melihat Kak Alvin meneliti sleyer itu. Dan dahinya –kembali- berkerut. Tiba-tiba dengan spontanitas yang tak bisa diterka, kak Alvin pergi. “Loh, kak Alvin kok pergi.” Teriakku kencang. “Nyokap suruh gue pulang tadi.” Katanya dan menghilang dari pandangan. “Perasaan tadi Kak Alvin ga nerima sms apalagi telepon dari mamanya.” Aku berusaha melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Mengapa hati kecil terus bertanya?
Menyeruakkan kata-kata yang tak bisa terbaca
Mengapa dirinya terlihat berbeda?
Menyalakan kembali lentera yang dulu padam
Dan mengapa ini semua adalah nyata?
Tapi aku merasa, There’s something when you look at me.
**
Aku melangkah memasuki kelasku yang masih sepi. Aku memang sengaja datang lebih pagi. Karena aku ada jadwal piket hari ini. lagi pula, aku berniat pergi ke perpustakaan pagi ini, untuk mencari buku sejarah. Ku lihat sekeliling. Suasana sekolah begitu kontras dengan keadaan biasanya.
Aku mendudukan diri di kursi ke dua dari depan sebelah kiri. Ini sudah menjadi tempat duduk ku semenjak aku masuk sini. Baru ada satu atau dua orang di kelas itu. Ketika aku hendak duduk, ku lihat sebuah surat. Surat dengan amplop merah terang. Aku berkerut heran. Ku ambil surat itu. Amplop nya nampak kosong. Tak ada guratan sekecil apapun. “Eh, ini punya siapa?” tanyaku kepada –siapapun yang akan menjawab- temanku yang ada di sana. Mereka hanya menggeleng kecil dan mengangkat bahu.
Aku putuskan untuk membuka amplop itu. Di dalamnya, kudapati sebuah surat. Surat cantik yang terikat rapi pita emas. Aku membuka pita itu lalu membacanya. Dengan nafas yang sedikit tertahan
Ternyata selama ini, alamanda ku begitu dekat
Terang mahkotanya telah nampak menjadi secercah sinar kehidupan
Pertemuan dalam ruangan gelap namun terisi puluhan insan atau lebih
Dan kini, bersama dalam tempat bernaung untuk membuka jendela dunia
Kau akan mengerti. Jika kau benar-benar alamanda kecilku
Jika tak mengerti sama sekali, bacalah berulang ulang dan pahami dengan hati
Maka di sana, ketika tiba waktu untuk meregangkan kontraksi otak
Pergilah ke tempat khalayak ramai bersua
Namun, kau harus berjalan dengan kaki sendiri
Dan bawalah dirimu ke tempat di mana kau bisa melihat pantulan dari figurmu
Di sana, kau tak akan menerka
Figure lain dari yang selama ini kau lihat
To: Aya
“Aya? Maksudnya aku?” kataku sambil menunjuk kea rah diriku sendiri. Aku membolak-balik surat kecil itu. Tak ada nama pengirimnya di sana. Dan aku sama sekali tidak mengerti apa makna dari isi surat ini. mengapa dia tak memberikan jawaban yang pasti dengan apa yang akan ia sampaikan?
**
TENG..TENG..TENG..
Bunyi bel istirahat itu bagaikan anugerah bagiku. Dan mungkin juga bagi semua teman-temanku yang sudah jengah dengan pelajaran kimia ini. Dengan segera, aku mengajak Isna –teman sebangkuku- untuk pergi ke kantin.
Siang ini, kantin begitu penuh. Ternyata, orang-orang ini mempunyai nasib yang sama dengan ku. Mereka benar-benar merasa perutnya harus dan wajib diisi. Aku dan Isna memandang sekeliling. Tak ada tempat duduk di sana. Semua bangku sudah terisi. Dan tiba-tiba saja muncul niat di dalam hatiku, aku harus memberikan usul kepada kepala sekolah agar memperbesar kantin yang –awalnya sudah besar- terlihat menyempit ini.
Tiba-tiba Isna berseru girang, aku heran apa yang telah terjadi hingga dia sampai bersorak kecil. Ku pandang Isna, wajahnya bercahaya dan bening matanya berbinar-binar. “Ada tempat,ya.” Aku mengikuti arah pandangan Isna. “Please deh,na. mata kamu dipake untuk ngeliat apa sih. Nggak ada tempat sama sekali gini juga.” Kataku jengkel. “Balik ke kelas aja yuk. Tibatiba selera makan ku jadi hilang gini deh.” Kataku dan bersiap untuk memutar arah.
“Jangan!” sergah Isna dan menahan langkahku. Ia tersenyum lebar. “Isna, nggak ada tempat. Masa mau makan sambil berdiri gitu?” kataku yang sekarang semakin kesal akan kegilaan Isna. “Ada, di sana.” Isna menunjuk kea rah sudut ruangan dekat cermin. Benar juga, di sana sedikit sepi. Hanya ada satu orang yang melahap makanannya dan sama sekali tak mempedulikan keadaan sekitarnya. Aku terbelalak dan menepis ajakan Isna. “Cuman ada kak Alvin,kan. Ayolaahh Ayaaa.” Isna menarik-narik lengan bajuku. Aku sedikit heran padanya. Wajahnya menjadi sangat cerah seperti itu, apa karena ia melihat tempat duduk yang kosong. Apa jangan-jangan Cuma karena cina blangsak itu.
Aku tak bisa menolak ajakan Isna. Karena ia menarikku paksa dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya, aku hanya bisa pasrah. “Kak Alvin,” sapa Isna dengan senyum yang dibuat-buat. Orang –yang mirip es batu- itu mendongak dan kembali melahap makanannya. Terlihat tidak peduli. “Kak,” panggil Isna dengan volume suara yang diperbesar. Lagi-lagi kak Alvin hanya diam. Isna menunduk lesu mendapati respon dingin dan tidak peduli dari kak Alvin. Aku tak tega melihat Isna yang begitu kecewa seperti itu.
BRAK! Aku menggebrak meja dengan keras dan itu berhasil membuat ia –dan seluruh isi kantin- menoleh ke arahku dengan tatapan mendelik. “Kakak itu diajari sopan santun nggak sih? kakak tuli atau bisu? Kenapa kakak nggak ngerespon sama sekali?” kataku dengan suara keras dan kasar. Air wajahnya mengeras, dan sejujurnya aku sedikit takut. “Lo, siapa? Beraninya lo ganggu gue.” Katanya dingin. “Kak Alvin kenapa sih, selalu cari masalah. Dimana pun kak Alvin, dari dulu sampe sekarang. Nyebelin banget jadi orang!” kataku ketus. “emang dulu lo kenal gue?”. “Nggak!” jawabku sengak. Dia hanya membulatkan mulutnya dan tak peduli lagi.
Isna masih bergeming di tempatnya. Melihat aku yang meraung begitu kencangnya. “Aya, orang bilang, Kak Alvin itu kayak macan tidur. Kalau dibangunin seluruh dunia bisa rusuh.” Bisik Isna. “Jadi, jangan cari masalah sama dia.” Lanjutnya menasihati ku yang tengah terguncang amarah. “Aku nggak cari masalah. Dia yang mulai.” Aku menatap sinis padanya.
“Ternyata, lo sama sekali ga berubah ya?” kata Kak Alvin tiba-tiba. “Emang! Dari dulu sampe sekarang, masih jadi manusia kan?” kataku asal. “Polosnya pun masih sama.” Kak Alvin tersenyum meremehkan. “terus kakak peduli apa? Hidup hidup orang ini! ngapain di urusin.” Aku menatap tepat di kedua bola matanya. “Terus mau lo apa sekarang?” tanyanya mendelik. “Aku sama Isna mau duduk.”. “Kenapa lo ga datang sendiri ke sini? Manja lo! Maunya ditemenin orang mulu.”. “Apa sih urusannya?” aku sangat kesal. “Nih, kalo lo sama temen lo itu mau duduk.” Dia bangkit berdiri, dan menyudahi acara makannya. “Tumben ngalah, biasanya selalu ingin menguasai.” Aslinya aku menyindir dia yang sekarang berdiri di sampingku. “Cuman tempat duduk. Lagian gue udah beres makannya. Dan lo ga usah GR!” aku memutar bola mataku. “Gue udah bersikap baik kan sama lo? Bahkan, kalo gue harus minjemin bahu gue untuk jadi sandaran lo lagi, saat lo berubah jadi bocah cengeng, itu ga masalah.” Dia berlalu pergi meninggalkan aku yang terheran-heran akan ucapan terakhirnya. Aku terus memandang sosoknya sampai ia benar-benar menghilang.
“What? Aya?? Lo pernah nangis di bahu kak Alvin? Kapan Ayaaa? Kok nggak pernah cerita ke gueee. Huaaa, pangeran gue udah lo rebut deh.” Kata Isna heboh. “Orang abnormal kayak dia jangan dipercaya.” Kataku singkat dan kembali meneruskan pikiranku. ‘Kapan aku nangis di bahunya dia? Idih, PD amat idupnya’ batinku bertanya.
Aku pikir kamu telah mengetahui
Skenario apa yang telah Tuhan gariskan untuk menjadi adegan selanjutnya yang harus kita lakoni
Ternyata kamu belum begitu mengerti
Bagaimana alur sebenarnya dari semua ini
**
Aku memegang surat yang membuat ku bingung setengah mati ini di gazebo. Berulang-ulang aku menerka apa maksud dari surat misterius ini. dan siapa pengirimnya. Ternyata, otakku benar-benar buntu dan tak sanggup lagi untuk berpikir.
Tiba-tiba, ada yang merebut suratku, dan itu membuatku terlonjak sadar. Eyi dengan seringaiannya sedang tertawa lepas sambil mengangkat-angkat suratku. “Ayaaaasss!! Kak Iyaaa !! Aya dapet surat cintaaa.” Teriak Eyi kencang. “Eeehh, balikin suratnya!” kataku mencoba merebut kembali surat itu. “Ogah wleek.” Eyi memeletkan lidahnya dan mencoba kabur dari ku. Aku terus berusaha merebut surat itu dari Eyi, namun, gerakan Eyi terlalu gesit. Hingga akhirnya, aku pun kesulitan untuk mendapatkannya.
Ayas dan Kak Iya berlari menghampiri dengan semangat membara. Mereka berebutan untuk membaca surat kecil itu. Kak Iya yang telah menerima surat dari tangan Eyi, langsung bersiap untuk membacanya dengan keras.
Namun, alisnya bertaut, pertanda bahwa ia bingung. “Kenapa? Itu bukan surat cinta kan? Kakak bingung? Apa lagi aku.” Kataku dengan nada sinis. “Ini surat teka-teki. Dan isinya benar-benar tak dapat diterka.” Kata Ayas dengan nada yang dibuat-buat. “Pinter juga ni orang.” Kak Iya berkomentar. “Ada yang mau bantu mecahin surat itu ga?” kataku bertanya, akhirnya. “Ini serius buat kamu emang,ya?” Tanya Kak Iya. “Liat aja, itu ada nama akunya. Lagi pula, tadi pagi, surat itu ada di bangku aku.”
Kak Iya, Eyi, dan Ayas mendekat kea rah ku. Mereka mendudukkan diri di gazebo. Mengikuti ku, dan duduk melingkar. Seperti akan mengadakan pertemuan. “Gimana, kalau kita pecahin bareng-bareng?” usul Ayas. “Percuma, pemilihan diksi nya sulit.” Kataku pesimis. “Payah deh si Aya, udah pesimis aja. Kita kan mikirinnya bareng-bareng. Kemampuan pola pikir otak kita kan masing-masing dengan porsi yang beda. Apa lagi ada Kak Iya yang udah jadi mahasiswa. Usul aku sih, biar lebih gampang, mendingan pikirinnya perkalimat deh.” Eyi menerangkan. Aku memegang dahi Eyi. Dan Eyi menepis tanganku. “Apaan sih?” protesnya. “Kayaknya kamu sakit deh.” Kataku sekenanya. “Maksud?”. “Tumben otaknya encer.” Eyi hanya merengut mendengar tanggapanku. “Yaudah, perkalimat kita pecahin ya.” Komando kak Iya
“Ternyata selama ini, alamanda ku begitu dekat,”
“Perasaan, kata ‘alamanda’ inii nggak asing deh.” Komentar Kak Iya
“Oh iya kak Iya, bukannya kakak pernah bilang, kalau di kampus kakak itu ada bunga cantik namanya alamanda?” Mata Ayas berbinar saking senangnya. “Cakep! Jadi, alamanda itu nama bunga. Si pengirim ini, kayaknya, mengumpamakan bunga alamanda sebagai dirimu.” Aku berkerut heran mendengar kesimpulan dari kak Iya. “Emang, bunga alamanda kayak gimana?” tanyaku kemudian. “Bunga itu warnanya kuning pekat. Selalu menawarkan kegairahan dan membuat siapapun yang mengendus harumnya, akan mengulum senyum” Aku tersenyum sendiri mendengar penuturan Kak Iya. “Sekarang lanjut ke baris kedua.”
“Terang mahkotanya telah nampak menjadi secercah sinar kehidupan”
“Begini sih, gampang! Kan mahkota bunga alamanda itu warnanya kuning pekat. Terang. Kayak sinar matahari. Ya, mungkin, kak Aya itu punya sinar tersendiri yang bermanfaat untuk si objek. Dan sekarang, sinarnya Kak Aya udah nampak kali bagi kehidupannya.” Kata Ayas asal namun jawabannya tepat. “Oke, lanjut!” sorak Eyi.
“Pertemuan dalam ruangan gelap namun terisi puluhan insan atau lebih”.
“Yang satu ini kelihatannya mulai ada tingkat kesulitannya deh.” Eyi mengernyit membaca kalimat itu berulang-ulang. “Pertemuan dalam ruangan gelap? Emangnya siapa yang mau ketemuan di ruangan yang gelap coba? Apa yang mau dilihat kalau gitu?” eyi berkomentar. “Tunggu, tapi si pengirim bilang, ruangan gelap ini terisi puluhan insan.” Ralat Kak Iya. “Jadi menurut kalian, ruangan apa yang gelap tapi banyak orangnya?” aku bertanya. “Mungkin, pas si pengirim ketemu sama kakak, lagi mati lampu kali.” Jawab Ayas asal lagi. “Ng..ngg..” aku berpikir keras. Selama ini, selama aku hidup, kayaknya aku nggak pernah ngalamin mati lampu di ruangan yang banyak orangnya deh. Kecuali, kalau di rumah. Tapi, apa benar pengirim surat misterius ini satu rumah denganku. Ah, That’s impossible. Batinku menduga-duga. Beberapa tempat. Yang gelap, tapi banyak orangnya. Tempat macam apa itu.
Dengan gerakan mendadak, aku mendapati Eyi merogoh-rogoh sakunya. Ternyata ponsel nya bergetar. Dia menjauh dari gazebo dan mengangkat teleponnya. Tak berselang lama, dia kembali dengan perasaan lega. “Kenapa yi?” Tanya Kak Iya. “Laras telepon, terus dia bilang, dia ada acara hari ini, jadi nggak bisa nepatin janjinya sama aku deh.” Eyi mengangkat bahu. “malah, aku sendiri lupa kalau ada janji sama Laras.” Eyi menyeringai. “Woo, Playboy cap kaki lima dasar.” Kataku meledek dan menoyor kepalanya. “Sakit, gila!” ia mengusap rambutnya. “Kamu tuh gila.” Balasku. “Eh, emang ada janji apa yi?” Tanya Ayas. “Nonton. Itu loh, film baru. Insidious.” Kata Eyi ringan. Aku sama sekali tak memikirkan ucapan Eyi. Dan kembali meneruskan fokusku kepada teka-teki ini.
“Aha! Hebat kamu yi.” Seru Kak Iya semangat sambil bersorak. “Kenapa kak? Udah gila? Tapi, aku emang hebat kok. Dari orok malah.” Jawab Eyi enteng. “Bioskop! Ruangan gelap dan terisi puluhan insan atau lebih.” Seru Kak Iya. “Jadi mungkin, si pengirim ketemu kamu pas lagi di bioskop ya.” Kak Iya menyimpulkan. DEG! Jantungku terhenti. Ia menolak untuk bekerja lebih jauh lagi. aku tersentak. Apa mungkin pengirim ini Abi? Abi ? apa betul Abi? Apa Abi masih mengingatku? Astaga.. ini hantaman apa? Namun, pikiran lain menepis semua itu. Nggak, itu nggak mungkin Abi. Lagian, Abi itu kan orangnya cuek setengah mati. Masa iya dia masih inget aku yang notabenenya dikategorikan anak aneh?.
“Kenapa ya?” Kak Iya menyadarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng kecil dan tersenyum tipis menutupi perasaan ku yang tengah dilanda gundah. “Lanjutin aja kak,”
“Dan kini, bersama dalam tempat bernaung untuk membuka jendela dunia”
“Emangnya, dunia punya jendela ya kak?” tanyaku polos. “Nggak, menurut kakak ini ada hubungannya sama pepatah.” Komentar kak Iya. “Aku pernah baca, di sebuah buku, katanya, Raihlah ilmu sebanyak-banyaknya, because of it, you can open the window of the world.” Jawab Ayas mantap. Aku terkesan dengan adik ku yang satu itu. Nampaknya, pengetahuannya jauh lebih maju dari pada aku. “Jadi, menurut kamu,yas, kita bisa membuka jendela dunia itu dengan ilmu?” Tanya Eyi. “Yeah, that’s right.”
“Aku tahu, menurut kalimat ini dikatakan, kalau aku sama si pengirim ‘bersama dalam tempat bernaung untuk membuka jendela dunia’. Di mana lagi tempat untuk mencari ilmu? Sekolah! Jadi, apakah kalian setuju kalau aku bilang bahwa dia satu sekolah denganku?” tanyaku. Mereka semua mengangguk dan menyetujui ucapanku. Aku terkejut sendiri mendengar apa yang baru saja aku katakan. Kalau pengirim ini adalah Abi, bolehkah aku tersenyum karena mendapati pemilik hatiku sekarang begitu dekat denganku?
“Kau akan mengerti. Jika kau benar-benar alamanda kecilku”
“Dari sebagian yang udah kita temuin jawabannya bareng-bareng, menurut kakak, orang yang mengirim surat ini dan menyamakan kau dengan figure bunga alamanda, sepertinya, dia sudah lama menantikan kehadiranmu lagi, setelah pertemuannya dengan mu di waktu silam. Apakah kamu keberatan kalau kakak bilang pengirim ini adalah Abi si Pria berkaca mata hitam itu?” perkataan Kak Iya barusan berhasil membius diriku. Aku menjadi kaku. Ternyata, pemikiranku dengan Kak Iya pun sama. Aku memang sudah menceritakan pertemuanku dengan Abi dulu, kepada ketiga saudara sekandungku ini. “Tapi, apa di sekolah kakak ada yang namanya Abi?” Tanya Ayas. Aku mengingat-ingat lagi semua orang yang aku kenal di sekolah. Dan, tak ada yang bernama Abi selama ini. aku menggeleng untuk memberikan jawaban kepada mereka.
“Jika tak mengerti sama sekali, bacalah berulang ulang dan pahami dengan hati”
“Dari semua yang ada Dalam isi surat ini, Cuma kalimat yang ini yang menurutku terlihat paling mudah dan bisa diserap ke otak. Bagus deh kalau si pengirim sadar, kalau surat nya itu surat paling gila yang pernah kamu baca, ya.” Komentar Eyi santai.
“Maka di sana, ketika tiba waktu untuk meregangkan kontraksi otak
Pergilah ke tempat khalayak ramai bersua”
“Pengirim surat mu ini, keren banget deh pemilihan diksi nya. Jangan-jangan dia penulis hebat Ya.” Eyi mengernyit melihat kalimat yang akan dipecahkan selanjutnya. “Tapi, kayaknya yang ini lumayan gampang deh.” Kata Ayas. “Woo, sok dasar! Mentang-mentang pinter, baca dong yang jelas! Kayak beginian di bilang gampang.”
“kakak setuju sama Ayas, ini emang lumayan masuk akal.” Aku mendelik. “Kalau menurut kakak, waktu untu meregangkan kontraksi otak itu, maksudnya, kalau tiba waktu istirahat.” Jawab Kak Iya enteng. “Dan dimana lagi tempat teramai waktu istirahat kalau bukan di kantin?” lanjut Ayas semangat. “Penulis menyuruh kamu untuk mendatanginya di kantin kalau tiba waktu istirahat kak.” Aku mengangguk mengerti menyanggupi perkataan Ayas. “Tapi, dikantin itu kan orang berjubel-jubel?” aku teringat kejadian tadi saat dengan Isna. “Dan, gimana bisa nemuin orang yang identitasnya nggak jelas gini?” . “Mungkin ada petunjuk dikalimat lain.”
“Namun, kau harus berjalan dengan kaki sendiri
Dan bawalah dirimu ke tempat di mana kau bisa melihat pantulan dari figurmu
Di sana, kau tak akan menerka
Figure lain dari yang selama ini kau lihat”
“Tapi, pengirim ini mikir nggak pake otak apa gimana sih? Emangnya selama ini, kita tuh jalan pake apa coba? Jelas pake kaki kan?” lagi-lagi Eyi selalu menanggapi seperti itu. Adik laki-laki ku –satu satunya- ini memang terlihat sekali, kalau ia tak mau berpikir secara logis dan kritis.“Aku tahu! mungkin kak Aya, kalau mau datengin dia, harus sendiri, dan nggak boleh bareng orang lain.” Lagi-lagi perkataan Ayas kembali mengingatkan ku kepada sosok Abi. Namun, sosok lain melintas di pikiranku. Jawaban Ayas mengingatkanku, akan conversation yang aku buat dengan seseorang. Walaupun aku tahu, dari nada bicaranya, orang itu hanya terlihat meremehkan, tapi sekarang aku mempunyai kesimpulan lain. Dia? Apakah betul dia? Dia yang ingin aku datang seorang diri ke kantin tadi? “Kenapa lo ga datang sendiri ke sini? Manja lo! Maunya ditemenin orang mulu.” Argh! Aku ini berpikir apa? Nggak mungkin kan kalau Kak Alvin itu Abi? Abi, salah kamu sih, waktu dulu sok-sok-an pake kaca mata item. Jadi,kan aku nggak tau jelas wajah kamu seperti apa?
“Dan bawalah dirimu ke tempat di mana kau bisa melihat pantulan dari figurmu”
“di dunia ini sepengetahuan ku, ada dua yang bisa mantulin bayangan diri kita. Pertama, benda yang terbuat dari kaca. Kedua, genangan air mungkin.” Kata Eyi. “Hm, kak, di kantin sekolah kamu, ada kamar mandi gitu ,gak?” Tanya Ayas. Aku menggeleng. “Ada cermin?” Tanya Kak Iya. Aku mengangguk. “Jadi, kemungkinan, dia nyuruh aku untuk ke tempat di mana deket cermin?” tanyaku. Tiba-tiba, naluri ku berkata bahwa ia benar-benar Kak Alvin. Bukankah tadi Kak Alvin mengambil tempat duduk di dekat cermin? Jelas! Karena itu satu-satu nya tempat yang jauh dari keramaian. Kak Alvin itu, orangnya emang lebih senang menyendiri. Tapi, anehnya, dia mempunyai banyak teman. Walau sikapnya yang dingin, dia selalu bisa membius para gadis yang terpana akan dirinya. Err, kenapa jadi mikirin Kak Alvin sih? Otak ku ini sudah di luar kenormalan apa gimana?
“Di sana, kau tak akan menerka
Figure lain dari yang selama ini kau lihat”
“Kak, demi apa aku ngerasa orang ini bakal nunjukkin sesuatu yang selama ini kakak nggak tahu. Diperjelas dengan keberadaan dari kalimat itu.” Ucap Ayas. Aku menelan ludah. Hati kecil ku meneriakkan romansa bahagia. Tiba-tiba saja, aku merasa, ada banyak sulur yang membakar wajahku dan menumbuhkan rona-rona merah jambu disekitarnya. Aku tak sabar menanti hari esok. Aku harus menemukan siapa pengirim surat ini. pengirim surat, YANG SESUNGGUHNYA.
Salahkah bila aku kini berharap?
Bahwa serpihan puzzle yang hilang di masa lalu,
Akan ku temukan esok.
Saat fajar mulai berkumandang
**
Aku berlari dengan tergesa. Bahkan, aku sempat menabrak orang-orang yang tak bersalah. Dan aku harus berbohong kepada Isna yang mengajakku ke kantin. Aku bilang, aku akan ke perpustakaan untuk meminjam buku. Padahal sebetulnya, setelah Isna melesat pergi, aku pun langsung berlari menuju kantin.
Sudah ku rencanakan semua ini dari awal aku melangkah ke dalam gedung sekolah besar ini. sudah ku tunggu-tunggu saat waktu istirahat tiba. Dan, sesampainya di kantin, aku langsung melaraskan tujuanku. Melangkah, menuju tempat duduk di sudut, tepat di samping sebuah cermin. Namun, di sana, tak kudapati seorang pun yang –aku pikir- tengah menanti. Bangku itu kosong, terpisah dengan yang lain. Kalau bukan untuk mengungkap misteri itu, aku tak akan pernah mau duduk di sini.
Ku putuskan untuk memesan makanan, dan tak lama, pesananku pun diantar ke meja. Aku memang lapar dan sangat tergiur dengan pesananku ini. namun, perasaan ku tak mendukung. Karena aku masih –dengan jantung yang berdetak tiada tara- menunggu kehadiran seseorang –yang aku duga dia adalah Abi- itu.
Tak lama, aku melihat seseorang yang sudah tak asing bagiku mendekat kea rah dimana aku duduk. Aku –yang sedang meminum minumanku- tersedak keras dan terbatuk. “Kenapa lo?” kata Kak Alvin cuek. Aku hanya menggeleng. “Gue gak dapet tempat duduk, ni kantin penuh, tapi mereka nggak pada nempatin tempat ini kayaknya. Dari kemarin, ga pernah ada yang duduk di sini.” Aku tak menggubris perkataan kak Alvin. Dan aku sibuk memainkan logikaku. ‘Apa Kak Alvin itu Abi? Tapi, dari sisi mana pun dia sama sekali ga mirip sama Abi. Ahhh.’ Aku mendesah kecil, namun, sinyal itu ditangkap Kak Alvin. “Lo, keliatannya gelisah banget, kenapa?” tanggap Kak Alvin. Aku menggeleng lagi.
“Eh, gue numpang duduk di sini ya.” Tanpa, persetujuanku, dia dengan seenaknya duduk di hadapanku. “Eh,” kataku spontan yang tidak menyadari Kak Alvin duduk di situ. Aku mendelik ke arahnya. “Itu untuk orang,kak.” Jawabku langsung. “Siapa?”. “Aku ada janji sama orang. Dan kita cuman mau ngobrol berdua. Tapi, entah, orangnya pun belum dateng juga.” Aku mengangkat kedua bahuku. Walau, -entah mengapa- aku sedikit yakin, Kak Alvin pengirim surat itu. Tapi, kenapa Kak Alvin kayak yang nggak pernah punya urusan sama aku. “Lo tahu orang itu siapa dan anak kelas mana?” Tanya Kak Alvin (aku sudah tak mood lagi untuk memakan pesananku). “Maka dari itu, aku aja nggak kenal dia siapa.” Desahku kecil. “Lha? Maksud lo apa sih? Lo mau ketemuan tapi lo gak tahu dia siapa? Gimana lo bisa pastiin.” Perkataan Kak Alvin ini benar juga. Aku sama sekali tidak mengetahui siapa pengirim surat itu. Argh! Semua ini membuatku bingung. Nampaknya, dugaan dan perkiraan ku salah, Kak Alvin bukan orang yang tepat. Namun, entahlah, hati ini tak tenang dan dilanda gundah. Sisi lain hatiku, masih menyeruakkan bahwa Kak Alvin orang yang sebenarnya.
“Ehm,kak, kamu pernah ngerasa kenal sama aku sebelumnya ga? Atau pernah liat aku gitu?” tanyaku langsung. “Kayaknya pernah deh.” Aku terkejut mendengar komentar Kak Alvin. “Jadi, kakak?”. “Apa?”. “Kakak yang waktu itu kita ketemu di bioskop?” tanyaku untuk mengklarifikasikan semuanya. “Wooo, ngomong apa sih lo! Gue pernah ngeliat lo, soalnya muka lo tuh pasaran.” Katanya cuek dan terlihat bangga melihat ku yang melengos. Tuhan, rasanya aku ingin mencincang orang-paling-menyebalkan-di dunia ini. aku pikir, dia adalah orang yang tepat. Aku pikir, argh!! Skenario mu sungguh sulit Tuhan. Aku tak sanggup untuk terus menjalankan peran dalam drama ini. kak Alvin sama sekali tak membicarakan soal surat atau Abi. Dan, aku –rasanya- aku ingin menghukum diri ku sendiri. Atas segala rasa GR yang telah melanda.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku mengeluarkan segalanya. Semua penat yang menggangguku. Aku lelah Tuhan. Aku ingin segera menemukan dia hari ini juga. Walau, mungkin, bagi dia, untuk membuka kedok yang ia pakai, itu semua terlalu cepat. Dan entah, aku sendiri tak mengerti, aku benar-benar kecewa ketika mendapati Kak Alvin sepertinya sama sekali tak tahu tentang surat itu, dan tentang pengirimnya. Kak Alvin menganggap itu semua hanya sebuah lelucon. Tanpa terasa, air mataku sudah menggenangi mataku. Dan aku tak bisa membendungnya lagi. dia berlari kecil meniti langkah di kedua pipiku. Aku terisak lirih. Kak Alvin, yang mendengar isakan ku yang tersedu, kemudian menatap heran ke arahku.
“Eh, lo kok nangis sih? Lo kenapa tiba-tiba nangis gitu? Apa ada hubungannya sama gue?” tanyanya dengan nada khawatir. Aku tak menanggapi ucapannya. Hanya terus terisak dan meluapkan segalanya. Aku bisa merasakan, sebuah tangan memaksa telapak tanganku untuk lepas dari wajahku. Aku terkejut melihat siapa orang itu. Masih orang yang sama. Ia memegang kedua bahuku dan memaksa ku untuk menghadap ke arahnya. Tatapannya benar-benar tak bisa diartikan. Perasaanku semakin kacau mendapati perlakuan seperti itu dari Kak Alvin. Aku menunduk. Ingin rasanya aku menyembunyikan air mata ku yang tak mau berhenti. Tapi, tak bisa. Itu terlalu sulit bagiku. Dan aku merutuk kesal. Kak Alvin mengangkat daguku, dan membuat aku tak bisa menunduk. Ia kembali menatapku tajam dan dalam. “Gue mau Tanya, dan lo harus jawab. Lo kenapa tiba-tiba nangis? Apa lo lagi ada masalah? Atau, karena gue ganggu lo? Mungkin juga, Karena orang yang lo tunggu itu, gak temuin lo?” Tanya Kak Alvin panjang. Namun, pertanyaannya tak bisa aku jawab satu pun. Aku tak mungkin mengungkapkan semuanya ke Kak Alvin,kan? dan aku hanya diam merespon ucapannya.
“fine kalo lo gak mau cerita. Tapi, apapun masalah lo, lo nggak boleh nangis. Lo harus kuat dan harus tegar. Gue kan pernah bilang, Air mata itu cuman bisa bikin orang terlihat lemah. Dan gue yakin, lo bukan tipe yang seperti itu kan?” Tanya Kak Alvin lebih lembut. Sangat kontras dengan biasanya. Aaa Kak Alvin, kenapa sih Kak Alvin jadi baik banget gini sama aku? Ini juga, kenapa jantung aku jadi ketar-ketir nggak karuan gini. Tuhan, tolong netralisirkan perasaan ku yang tak biasa ini. “Gue juga pernah bilang kan sama lo. Gue bakal rela minjemin bahu gue untuk jadi sandaran lo lagi. dan gue rela baju gue basah, karena air mata lo. Karena gadis cengeng yang pernah nangis dan buat baju gue berlumur air mata.” Katanya sungguh-sungguh. Dan aku menatapnya heran.
“Kak, emangnya kakak-“. “Apa lo lupa? Empat tahun silam. Tempat gelap dan dipenuhi puluhan insan bahkan lebih.” Aku terkejut mendengar apa yang baru saja ia ucapkan. “Lo masih belum inget? Bocah yang beli popcorn dan dengan songong duduk di sebelah lo. Harry Potter and The Deathly Hallows. Dan, sleyer merah dengan gambar singa. Juga orang yang ngembaliin I-Phone lo.” Dia tersenyum tipis ketika mendapati mimik kaget dari wajahku. Ini bagai hantaman batu besar. Membuatku menjadi diam, tak sanggup bergerak. Membuat semua organ ku berteriak kencang. Dan membuat dadaku sesak. Ternyata semuanya benar adanya. Abi itu,Kak Alvin? Dan aku sama sekali nggak mimpi,kan?
Air mata yang tadi sempat terhenti kembali mengalir, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ini, air mata haru. Keharuan yang tak pernah aku duga sebelumnya dan akhirnya terkuak. Romansa ini, bagai menyeruak dan memantul di kantin yang ramai ini. hingga membuatku tak sadar akan skenario sebenarnya yang mulai aku lakoni dengan alur yang selaras. Aku masih bergeming. Tak mampu untuk berkata-kata lagi.
“Gue sama sekali nggak nyangka, pertemuan sehari itu bisa membuat gue jadi gila gara-gara Aya kecil yang polos dan nggak ngerti apa-apa tapi sok-sok-an nonton film bioskop.” Aku tertawa kecil mendengar penuturan Kak Alvin. Jadi, selama ini, dia pun merasakan kegundahan yang sama seperti yang aku rasa. “Tapi, kenapa kakak sama Abi itu nggak ada mirip-miripnnya sama sekali?” tanyaku masih dengan suara serak. Kak Alvin tersenyum, dan dia merogoh sesuatu di kantongnya. Sebuah kaca mata hitam ia keluarkan, dan ia kenakan di kedua matanya. “Jadi?” katanya sambil menaik turunkan alisnya. Sekarang, Kak Alvin benar-benar mirip dengan Abi. Dan ini tak mungkin salah lagi. “Berarti, sleyernya aku kembaliin deh kak. Tapi, nanti pulang sekolah ya. Hehe. Rasanya masih gak rela kalau sleyer berharga itu pergi.” Kataku tersenyum kecil. “Buat lo aja gak apa-apa kok. Kan biar lo bisa terus inget sama gue.” Kak Alvin tersenyum lebar. Baru kali ini aku melihat dia tersenyum sebegitu cerianya. “Wooo,PD amat kak!” obrolan seru kami pun terpaksa harus terputus karena bel masuk telah berbunyi.
**
“Mau kemana sih kak?” kataku berontak dan terus bertanya tiada henti kepada Kak Alvin. “Bawel amat sih lo ah!” kak Alvin mulai jengkel dengan kelakuanku yang tak bisa diam. Aku jelas kesal, sebenarnya siapa yang berhak menyeruakkan kemarahan itu? Tentu aku! Aku yang menjadi korbannya. Aku yang dia culik tiba-tiba. Aku yang dia paksa mengenakan penutup mata dengan warna hitam pekat. Jadi, menurut mu, siapa yang sepantasnya marah? Aku bukan?
“Lo diem di sini.” Kak Alvin mendudukkan ku di sebuah bangku. Aku masih menerka, apa yang selanjutnya akan terjadi. “Hitungan ketiga, lo buka mata lo. Satu, dua, tiga!” dengan tergesa aku membuka penutup mata ku. Dan aku terkejut mendapati apa yang baru saja terpeta dalam mataku. Aku speechless melihat semua ini. “Kak,” kataku gugup dan masih tak mampu untuk berucap sedikit pun. “Tampang lo biasa aja kali. Kayak nunggu Bang Toyib yang nggak pulang pulang aja deh lo.” Aku tak menggubris perkataan Kak Alvin. aku masih saja terkagum-kagum dengan apa yang aku lihat saat ini. Tuhan, ternyata, lukisan-Mu adalah yang terindah
Aku duduk di sebuah tempat –aku tak tahu ini apa-. Dengan hamparan rumput hijau yang masih berembuh sebagai alasnya. Di sekitarnya, tumbuh barisan bunga alamanda yang menambah keterpesonaanku akan tempat ini. di tambah, padang ilalang di sekitarnya. “Lo ngerti maksud surat misterius gue?” Aku mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum kecil. “Gue kira, lo nggak akan ngerti. Soalnya otak lo kan polos dan lemot.”. “Ih, kak Alvin maahh!! ” kataku berpura marah kepadanya. “Lo mecahin teka-teki itu sendiri, Ya?” aku mengangguk dan tersenyum kecil. (padahal kan di bantuin hehe) “Jadi, apa yang lo tangkep dari isi surat gue?” Tanya kak Alvin dan memiringkan kepalanya ke arahku. “Pertamanya aku bingung alamanda itu apa, dan karena aku udah bingung dari kalimat pertama, makanya, aku nanya Kak Iya, Ayas dan Eyi. Hehe” kataku dengan wajah tak berdosa. Kak Alvin melengos mendengar pengakuanku yang tertunda (?). “tapi, aku tau kok maksudnya apa. Menurut aku, isi yang paling penting itu, yang dua baris di awal. Kalau yang seterusnya kan, cuman buat ngasih petunjuk ke aku, tentang Abi. Hehe. Dan kalau boleh GR, dua baris di awal itu, kayaknya ngegambarin banget perasaan kakak yang rindu setengah mati sama aku. Dan juga, tentang kakak yang nyamain aku secantik bunga alamanda.” Aku tersenyum lebar. “PD amat lo!”
“Kak Alvin, ini, sleyer yang udah kakak titipin di aku selama empat tahun lampau.” Kataku ketika mengingat aku akan mengembalikan barang berharga itu. “Lo serius bakal ngembaliin ini, ya?” Tanya Kak Alvin sedikit bingung. “Emang kenapa? Ini punya kakak kan?”. “Tapi, setau gue, itu berharga banget kan buat lo. Abisan, kayaknya sleyer gue, lo pake terus deh kemana-mana.” Perkataan kak Alvin barusan itu, membuat aku malu. “Tapi,kak, itu kan dulu, sebelum aku temuin Abi. Dan sekarang, Abi kecil ku udah kembali. Dan aku mau mengembalikan benda ini. aku tahu kok,kak, pasti, sleyer ini berharga banget kan buat kakak?” kak Alvin tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
“Gue kangen berat sama lo Aya..” kata Kak Alvin dan spontan mendekapku. Aku menurut saja dan hanya pasrah. Meski sejujurnya, jantungku sudah dangdutan (?). “Lo jangan ngilang lagi ya. Dan lo jangan pergi kayak dulu.” Kak Alvin tersenyum penuh arti. “lagian kan, waktu dulu, pertemuan kita nggak sengaja kak. Aku juga bingung, kenapa tiba-tiba Abi yang nyebelin banget itu jadi gangguin pikiranku terus.” Jawabku polos. Dan aku balas tersenyum kepadanya. “Apa lo bersedia kalo gue minta lo untuk sesuatu?” air wajahnya berubah serius. “Apa kak?” tanyaku heran. “Lo boleh kembaliin sleyer itu kepada pemiliknya. Tapi, gue mohon, jangan paksa gue untuk nerima hati gue yang udah gue simpen dalam diri lo. Lo boleh aja pergi dan nggak muncul-muncul lagi setelah pertemuan sehari lo dengan Abi. Tapi, kali ini, lo gak boleh pergi setelah lo bersua di tempat seindah ini bersama Alvin.” kak Alvin kenapa sih kak? Apa kakak udah kesamber petir? Hingga petir-petir itu kini terasa menyambar-nyambar hati kecilku (Lebay amat idup gue). Dan membuat jantungku semakin berdetak tak tahu arah. Namun, aku tak banyak bicara lagi. aku hanya tersenyum kepadanya.
“Kau Pemilik Hatiku, Aya.”
Tuhan, ternyata Kau Lah Yang Maha Adil
Kau izinkan aku untuk mengecup bahagia setelah beberapa lama ku terpuruk
Aku mengucap syukur kepada-Mu Tuhan
Yang telah mempertemukan aku kembali dengan Pemilik Hati
Pemilik Hati yang telah lama aku cari
Because Of One Day
**








0 komentar:
Posting Komentar