The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams :)

RSS

Kritikan Ababil Sebagai Warga Negara

Lihatlah sekarang ini, Indonesia, negara kita semua mengalami kemunduran yang sangat pesat. korupsi terjadi dimana-mana. Para pejabat negara tidak memiliki kesadaran tersendiri dari dalam dirinya. Apakah mereka tidak memikirkan bagaimana rakyat-rakyat kecil yang untuk mencari mendapatkan uang saja, harus berapa peluh yang mereka keluarkan? sedangkan para pejabat pejabat di sana, berfoya-foya dengan banyaknya uang yang mereka dapatkan. Mengapa mereka harus tergoda dengan uang rakyat? Apakah gajih yang diberikan oleh pemerintah belum cukup bagi mereka? Apakah semua itu masih kurang untuk kebutuhan sehari-hari mereka? Manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Sekalinya mendapatkan nikmat berupa harta, dalam dirinya terus ada keinginan agar bisa mendapatkan yang lebih dari itu? Coba bayangkan, apabila semua uang rakyat digunakan untuk kepentingan sehari-hari para pejabat. untuk kesenangan mereka. Jadi, bagaimana nasib Rakyat Negara kita? 

Saya baru anak kelas 3 SMP. tapi terkadang, saya pusing memikirkan tentang nasib negara kita. Mau jadi apa negara kita untuk kedepannya. Apakah kita sebagai warga negara tidak merasa malu? Negara Indonesia, adalah negara dengan Persentase Korupsi tertinggi se-Asia Tenggara. Dan, kalau tidak salah pun, sedunia kita masuk 10 besar. Bagaimana pandangan bangsa-bangsa asing terhadap Negara kita. Mereka pasti akan merendahkan kita, menganggap kita ini memiliki derajat yang jauh di bawah mereka. 

Sekarang, jika ditinjau dari lingkungan alam. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. tapi, mengapa Rakyat Indonesia tidak bisa mempertahankan ITU SEMUA sampai sekarang? Pada saat ini, zaman dimaanaa terjadinya pemanasan global. Seharusnya, kita tidak perlu khawatir akan semua itu. Karena kita masih dilindungi oleh hutan-hutan. dan masih banyak pohon yang tertanam. Tapi, sekarang apa? Pohon-pohon ditebang, dijadikan department store. Menurut saya pribadi, sepohon kayu lebih berharga dari pada satu  mall. Pohon-pohon telah tiada. Flora dan fauna banyak yang hilang. Ditambah lagi, ketidak adanya kesadaran manusia untuk membuang sampah pada tempatnya. Alhasil, banyak sampah yang berceceran dimana-mana. Saya pusing sendiri, di dekat tempat tinggal saya pun banyak sekali sampah. entah itu sampah organik ataupun anorganik. Saya sering melihat orang-orang dengan seenaknya membuang sampah di tengah jalan. Padahal itu berarti mengurangi keasrian negara kita yang sudah kotor dan dipenuhi banyak sampah. Saya tahu, membiasakan sesuatu yang salah memang mudah. tapi, untuk mengubah kebiasaan itu sangatlah sulit. Saya iri dengan negara Singapura. Menurut informasi yang saya dapatkan, di sana itu, sangat bersih. tidak ada sampah yang berceceran di jalan raya. tidak ada orang-orang yang dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. karena, mereka akan langsung dikenai denda. Seandainya, negara kita memberlakukan undang-undang seperti itu.

Hal terakhir tentang kritikan saya adalah PELAJAR. Jaman sekarang ini, di negara kita, banyak terjadinya tawuran antar pelajar. Hal ini semakin menambah keterpurukan negara kita. Dahulu, para pahlawan berjuang, sampai titik darah penghabisan. Mereka rela mati, asal, Negara ini  bisa meraih kemerdekaan. Dan, jika kita tinnjau keadaan sekarang. Banyak terjadinya tawuran antar pelajar. Mereka tidak mengerti akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan. Jika sesama rakyat berkelahi, bagaimana bisa kita melawan bangsa asing yang mungkin suatu saat nanti akan kembali menjajah Indonesia. Pantas saja Indonesia hancur, muda mudinya saja gemar mengejek atau menjelek-jelekan nama baik sekolah lain. Bagusnya, ada sebagian yang tidak menanggapi kejadian itu, namun ada juga yang melawannya. SOK BERANI BANGET KAN YA? Padahal, lebih baik dibiarkan saja. dari pada untuk kedepannya malah akan menimbulkan permasalahan yang lebih panjang.Kita lihat saja, siapa yang akan lebih sukses di masa yang akan datang?

Pesan saya satu, saya harap Indonesia akan menjadi negara maju di masa depan. Bhinneka Tunggal Ika.

***
Creater 
"S"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KAMU-Coboy Junior

Lirik Lagu Coboy Junior Kamu Lyrics
kamu buat aku tersipu buatku malu-malu
saat bersamamu, saat ku sapa dirimu
aku kok merinding buluku, kok jadi gugup aku
saat bersamamu, saat kau senyum padaku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu apa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu
nanti aku follow twitter-mu aku tunggu retweet-mu
agar aku tahu sukakah kamu kepadaku
mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu apa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu
yeah cuma kamu cuma kamu yang bisa membuatku
tidur tak tentu memikirkanmu pujaan hati
oh kamu cantik sekali
oh Tuhan aku hanya ingin dia tahu
kau lucu kau sangat lucu
mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama aku bertanya facebook-mu apa nomermu berapa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu
mungkin inilah rasanya rasa suka pada dirinya
sejak pertama (sejak pertama) aku bertanya
(kulihat senyumanmu lirikanmu begitu cantiknya kamu)
facebook-mu apa nomermu berapa
mungkin inilah rasanya cinta pada pandang pertama
senyuman manismu itu buat aku dag dig dug melulu
kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu
kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu kamu

---------
Silahkan di liat video nya =)
http://www.youtube.com/watch?v=GElaPTmLwmg&feature=related


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Dewi Malam Bercerita

Saat udara malam mulai menguak
Diantara segala skenario yang akan terangkai
Saat itu aku termenung
Di bawah naungan gugusan rasi bintang
Tercenung..
Mendesah..
Gelisah..

Sebanyak mungkin lautan oksigen dingin itu ku hirup
Sekedar penentram rasa beku yang kini menjalar
Segala rusuk ku menjadi sedingin kutub
Beberapa kali ku coba untuk mencari pelipur

Tanganku menggenggam sehelai perkamen
Di dalamnya telah ku ukir sesuatu
Goresan goresan pena yang ku punya
Ternyata telah membantuku melaraskan segalanya

Segala Harapan
Yang sempat melambung
Namun kendur seketika
Kala aku menyadari siapa dia siapa daku
Dimana dia dimana daku
tentu itu menepis segala angan

Berjalan entah kemana
Angan indah ini terus membawa diriku membumbung angkasa
Tatapan kosong yang entah apa yang sedang ku ratapi
Sementara gradasi langit bertambah kelabu

Sebuah gita ku dengar
Indah..
Aku tak tahu apa itu
Tapi kedengarannya seperti melodi orkestra yang di padukan

Di sana..
Dalam Naungan langit yang terhalang oleh butiran awan
Sebuah suara serasa memanggilku
Menghancurkan angan belaka yang tengah aku susun
Menyadarkanku dari takdir sebenarnya yang aku jalani
Dia bergaung dalam kedua organ pendengaranku
Menggelitik merdu setiap senti otak ku yang sedang beku

Aku mulai bertanya
Siapa itu ? ada urusan apa ?
Tapi dia tetap berlagu
Dengan potongan bait yang tak terbaca olehku
Tidak, itu bukan potongan bait
Sesuatu yang sedang dia koarkan

Aku membuka telinga perlahan
Menahan napas agar tak tercekat
Gumpalan empedu serasa menyumbat tenggorokanku
Hingga aku tak kuasa untuk bernafas
Dia..suara itu, bukan hanya kebetulan
Tapi dia berbicara padaku
Menjalin cerita yang sedikit tak ku mengerti

"Seorang umat manusia. Tidak lah baik. Ini tempat yang berbahaya untukmu. Racun. Bualan. Kebohongan. Tempat ini
sungguh tak perlu diperagungkan. karena efeknya telah mempengaruhimu. jiwamu dibiarkan kosong. menghilang diterpa hembusan angin yang menerbangkan kesadaran. dan hendak apa umat manusia itu ? Biarkan aku membantu. biarkan."

Ku tadahkan lekuk wajahku.
Mencari sumber lakon yang tengah berdiplomatis itu

"Perkamen itu. buanglah ! semuanya hanya bualan. kau tak akan mungkin menemukan garis takdirmu yg sebenarnya. jika kau terus merenungi sesuatu bersama sebuah perkamen. aku perintahkan kau sekali. jika kau tak ingin mendengarku. akan ku curi sesuatu yang sangat berharga bagi dirimu."

Tanpa berpikir untuk memperpanjang waktu lagi
Diriku terasa terkena kutukan imperius*
Tanganku melakoni apa yang telah suara itu deklamasikan
Apa ini ? aku membuang perkamen berharga itu ?
Perkamen yang kelak akan ku kirim untuk pemiliknya
Perkamen lusuh yang selalu setia berada di sisi ku
Perkamen yang didalamnya terdapat beberapa rangkaian kata yang sudah aku susun lama
Aku mendesah
Amat gelisah
Seandainya dibawah tempat ku berdiri adalah pijakan tanah
Akan ku bawa ia kembali
Tapi, aku menerjunkannya
Di bawah gelombang laut malam
Yang tentu tak tahu di bawa kemana perkamen berharga ku itu

***

Aku tak tahu sudah berapa lama merasakan desiran ini
Aku tak tahu bagaimana awalnya bisa kucetuskan dia adalah pangeran
Aku tak tahu mengapa setiap ku lihat lekuk wajahnya aku selalu ingin tersenyum

Semuanya di sini..
Sesuatu berdenyut indah dalam pilar nadi
Darah ku menjalar melewati organ tubuh
Dan wajahku selalu bersemu kala mendapati pangeran kecil itu

Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama
Semua yang melihatnya dalam gambar bergerak
Semua yang melihat sandiwara panggungnya
Mereka sama seperti ku
Mereka selalu ikut tersenyum kala mendapati senyuman ramah itu pun terpeta

Kini aku mulai mengerti
Seberapa besar pengaruhnya yang bisa membius diri
Bahkan aku sudah dengan pasihnya merapal nama indah itu
Pesonanya selalu tak bisa ku tepis
Hanya dia yang mengisi setiap senti memori otak ku
Kala mataku dengan berbinar setiap melihat air wajahnya
Kala nafasku yang mendesah merdu menyeruakan namanya
Kala semua memori yang pernah di lakoninya berpusar cepat menjadi satuan warna

Tapi, tak bisa ku pungkiri
Aku terkadang merutuki semua ini
Dia hanya sebagai lakon sebuah cerita
Dia ada di sana
Di dalam sebuah layar yang di lapisi kaca
Aku tak melihatnya dari kenyataan
Bahkan suaranya pun hanya bisa terekam
Dari pengeras suara yang terkadang tak terdengar jelas

Dia jauh..
Bagaimana mungkin bisa ?
Aku jelas tak akan pernah bisa
Aku mengutuk diri yang terlalu melambungkan khayalan semu
Dengan berharap bisa bertemu dengan pangeran kecilku

Beberapa kali kesempatan bertemu dengannya
Berhasil meloloskan diri begitu saja
Beberapa kali semua itu aku lewatkan begitu saja
Sedih tentu
Kapan aku bisa melihat sosok nyata
Dari lakon pangeran kecil yang selalu dalam cerita ?

Dan akhirnya ku dapati
Aku telah berkutat dengan keras menemukan kembali kesempatan itu
Ketika dia bernyanyi
Merdu
Suaranya yang menggema di setiap pilar 'department store' itu
Menuntun langkahku untuk segera menemukan figur pangeran kecil yang selalu dalam cerita
Aku menemukannya
Sosoknya telah menjadi kenyataan
Dewa surga sungguh memberi keberuntungan
Tapi sesuatu kembali memperkokoh dinding yang perlahan mulai merapuh
Kenyataan pahit bahwa aku hanya bisa melihat nya dari jauh tertelan bagai racun
Sebuah acara di Bandung Super Mall ini sungguh ingin ku terjang
Ada syarat tertentu untuk masuk ke sana
Melihat pangeran kecilku dari dekat
Namun semua itu kembali ku terima dengan tulus
Walau aku hanya dapat melihatnya dari rentan jarak yang tak bisa terbilang dekat

Kesempatan itu muncul lagi sekarang
Waktu mulai menggerogoti hari demi hari di mana pertemuan itu akan diadakan
9 July dengan terasa cepat mulai mendekat
Hari di mana kesempatan besar tengah melambaikan tangan
Hari di mana seharusnya aku akan menemukan kembali figur pangeran kecil
Dan tentu aku akan bersapa dengan mereka
Mereka yang sama seperti aku

Tetapi seperti biasanya
Ada yang -lebih- memperkokoh lagi pilar penghalang
Sekarang lebih tinggi dari sebelumnya
Membuat aku kembali meruntuhkan angan besar itu
Dengan hati yang amat di landa lara

Tuhan..
akankah kau izinkan aku untuk -hanya sekedar- melihatnya
walau mungkin ini yang pertama dan terakhir kali
walau mungkin ini kesempatan yang tak akan lagi datang dalam hidupku
aku selalu menantikan rangkaian harapan ini Tuhan
untuk dijadikan sebuah kisah nyata
ditulis dengan tinta semu
dan mengukir sebuah tulisan yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam kisah ku


Dalam garis khatulistiwa aku menerka
akan kah kau izinkan aku untuk bisa membaca ramalan masa depan
agar aku dapat mengetahui
apakah semua bayang bayang khayalan itu bisa menjadi kenyataan
atau mungkin aku hanya bisa kembali di suguhkan kepahitan yang harus aku telan
walau enggan

Dalam diam aku berharap
secercah cahaya keajaiban menyapa ku pagi esok
membawaku melewati lorong waktu
mengikuti jalurnya yang selaras
dengan apa yang aku harap

Tapi aku tak akan begitu kecewa
bila Engkau belum membimbing angan semuku ke depan pintu kenyataan
aku akan selalu menerima semua itu dengan tulus
karena aku yakin
ini semua adalah kenyataan yang tertunda
selamanya aku percaya pada-Mu

Dengan harap, surat sederhana ku ini bisa sampai ke pemiliknya
with love,
♥☺Secret☺♥

***

Aku mengerjap
Lantunan suara indah itu bergaung dalam mimpi
Dia membacakan guratan pena yang telah aku salin dalam sebuah perkamen
Dan, dalam mimpi aku melihat
Dewi malam (bulan)  membacakan semua yang ada dalam perkamen
Apa yang berbicara padaku pun itu suaranya ?
Apa yang menggugat ku dengan tiba-tiba adalah dewi malam ?
Dan aku tak tahu pasti
Aku hanya berharap
Saat dewi malam itu bercerita pada para penghuni singgasana langit
Barisan bait itu akan sampai pada seseorang yang berlakon sebagai pangeran kecil dalam cerita hidupku



:)

***

*kutukan imperius adalah sebuah mantra atau kita bisa menyebutnya (dalam buku Harry Potter and the Goblet of Fair) sebagai kutukan tak termaafkan. akibat dari kutukan ini adalah seseorang yang menjadi korban dan menjadi objek yg dikutuk oleh si pengutuk akan melakukan apa yang si pengutuk inginkan

***
Creater
"S"


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Until The Very End (kisahku dibalik putaran roda) -Part 1-

Hening..Sepi…
Duduk bersimpuh di tempat ini memang benar-benar memilukan. Perasaan sesak terus saja menggelayuti batinku. Aku tak tahu, sudah berapa lama aku berdiam di tempat ini. Membatin, merutuki, dan menyalahkan dengan apa yang sudah terjadi. Berkali-kali hatiku mendesah. perasaan itu sungguh menyayat hati. Sedih. Sendu. Sesak. Entah, aku ini sekarang seperti apa ? mungkin, penampilan ku terlihat tak waras.
Sudah beratus-ratus waktu aku lewati dengan sesal. Dan selalu sendiri. Aku sadar, aku hanya gadis lemah tanpa ada yang mau menopang dan menemani diriku lagi. Aku tersudutkan dari dunia luar. Tapi aku tak pernah sedikit pun peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Aku hanya berharap, sebuah keajaiban akan datang. Menghampiriku, saat ini juga.
            Memori masa lalu ku 4 tahun lalu, terus berputar. Tak pernah berhenti meracuni ruang kosong di dalam otakku. Sudah kali keberapa aku coba menepisnya. Namun,rasanya aku tak pernah bisa. Dan saat ini, ingatan itu kembali bergema. Menusuk-nusuk dahi ku, yang di sana ada sedikit bekas luka.
            Mataku tertutup. Mencoba menghalau pikiran yang berpusar itu. Hatiku melantunkan sebait doa. Agar aku, bisa menghunus dan mengklarifikasikan memori itu menjadi potongan-potongan tak berdaya. Namun, aku tetap tak bisa.
***
            Taman komplek tempat tinggal ku memang sangat indah. Aku menyukai tempat ini. Berkeliling dengan menggunakan sepeda baru, yang kemarin di belikan ayah. Aku tersenyum ramah kepada semua orang yang melihatku.
            Angin sepoi di sore hari, menyibakkan rambutku yang tergerai halus. Hingga helai-helai itu berkibar elok tanpa ku pinta. Mataku berkeliling menatap satu persatu orang yang sedang nampak asik juga di taman ini. Tapi, ada yang ganjil rasanya, di sana. Di sebuah bangku kecil,terpencil dari taman. Di dekat pepohonan, seorang gadis bertopi abu tengah terduduk dengan tatapan sendu. Ia terlihat tengah mendekap sesuatu di tangannya. Aku mencoba menghampirinya,perlahan, lalu ku sapa dia dengan lembut.     
“Hai,” kataku ramah dan mendudukkan diri di sampingnya. Dia menoleh, wajahnya datar. Gadis ini, aku rasa umurnya sebaya denganku. Mungkin sekitar 10 tahun. Rambutnya diikat asal. Dan seperti tadi ku bilang, dia mengenakan topi abu.
“eh, kenapa ?” tanyaku. Desahan kecil terdengar dari sela-sela nafasnya
“kamu anak orang kaya kan? Kamu mau apa dekat-dekat saya?” bahasa yang ia gunakan sangat formal. Aku berkedut heran. “Golongan macam kamu itu punya hati yang benar-benar busuk.” Jawabnya dingin sembari melirikku sinis.
“Kenapa kamu di sini? Nggak main kayak yang lain?” tanyaku mengabaikan ucapannya barusan. Dia mengacuhkan ucapanku
 “Kamu kenapa sih?” Dia masih terdiam.
“Aku kesepian. Sudah berapa tahun. Terlantar dalam dunia yang begitu kejam.” Ucapnya lirih. “Aku selalu iri dengan anak-anak yang gemar bermain di taman ini. Hh..taman yang indah jika ada teman untuk bersanding.” Entah mengapa, aku menggeser dudukku. Dan aku memeluknya. Membimbingnya dalam dekapanku.
 “Kamu yang sabar ya. Di dunia ini, Tuhan telah menyusun beragam macam kehidupan untuk manusia. Dan pasti, ada sisi positive juga negatif didalamnya.” Kataku dalam dekapannya. “Nama kamu siapa?” tanyaku setelah menghapus air matanya.
“Tyas..kamu?”
“Nadia. Biasa dipanggil nanad. Hehe. Lucu kan? Kesannya imut-imut gitu.” Dia terkekeh mendengar ucapanku.
“Eh, kamu mau jual koran koran itu ya? Aku bantu yuk!” dia mendelik ke arahku, setelah melihat aku yang memohon kepadanya, akhirnya dia mengiyakan ajakan ku itu.
***
            “Koran..koran..” teriakku cempreng. Begini lah suaraku. Hehe. Tyas hanya tersenyum melihat perlakuan ku yang seperti itu. Ini baru pertama kali dalam hidupku berjualan koran.
            Sudah berkali-kali Tyas melempar koran-koran ke rumah-rumah yang kami lewati. Aku tak mengerti apa maksudnya itu? Aku pun jelas ingin mencobanya. Mencoba hal baru yang belum pernah aku coba.
            “Nah, rumah ini,aku yang lempar koran ya.” Kataku memohon kepadanya. “Yakin, nad?” aku mengangguk mantap. Ini saat-saat yang mendebarkan. Ah..apa sih aku ini? Berlebihan sekali. Tapi, ini hal yang mengasyikan sepertinya.
            Aku bersiap melemparkan koran itu ke dalam rumah yang kini berada di depan mata kami. Rumah megah. Indah. Luas. Rumah yang pagarnya bercat putih pucat dan menjulang. Aku malah jadi sangsi ingin melemparkannya. “Nad, ayo cepet!” perintah Tyas membuyarkan lamunanku. Dengan mengucapkan sebait doa, koran itu pun aku lemparkan dengan mulus. Aku menyeringai.
“Hebat kan. Nanad gitu!!” tak berapa lama kemudian, kepuasaan ku memudar kala aku mendengar suara yang sudah tak asing lagi.
“GOOGG. GOGOGGG..” gonggongan anjing membuat wajahku pucat. Aku berhenti tersenyum. Tyas pun nampaknya menyadari apa yang tengah dan akan terjadi. Sepertinya, lemparanku mengenai anjing pemilik rumah besar itu. Tyas sudah bersiap mengayuh sepedanya.
“Lariiiiiiii….” Komando Tyas dan mengayuh kencang sepedanya. Aku belum terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Aku malah diam tak bergeming. Ini baru pertama kalinya dalam hidupku, aku berada dalam situasi membahayakan. Biasanya, ayah selalu ada, untuk menolongku. Tapi, sekarang siapa? Ayah mungkin lagi sibuk di kantornya, aku hanya sendiri di sini. Tuhan, tamatkah riwayatku? Tyas meninggalkanku jauh. Mungkin dia tak sadar, kalau aku belum pernah melewati tempat ini. Sekali pun aku harus berlari, ini sudah terlanjur. Otakku terasa macet. Tak mengerti apa yang tengah berlangsung.
            Gonggongan anjing yang terdengar lebih keras dan lebih dekat kali ini, menyadarkan lamunanku. Aku tahu, situasi ku dalam keadaan bahaya yang kentara. Namun, kenapa rasanya susah sekali bagiku untuk mengayuh sepeda ini. Dan setelah anjing itu hampir mendekat, bodohnya aku malah meninggalkan sepedaku dan berlari sekencang mungkin. Aku tak berpikir panjang. aku merutuki perbuatanku. Jelas saja berlari lebih sulit dibandingkan mengayuh sepeda. Kenapa aku harus berlari. Ini membuang waktu saja. Dan ini tentunya mempersilahkan maut lebih dulu menjemputku. Aku berdiri. Di balik sebuah pohon besar tak jauh dari sana. Aku berusaha menyembunyikan diri. Beberapa menit, gonggongannya sudah tak terdengar lagi. Sama sekali tak terdengar. Aku menghela nafas lega.
            “Lain kali, kayuh sepedanya. Bukan ditinggalin.” Sapa suara dingin yang tiba-tiba berdesir di telingaku. Aku membalikkan tubuhku, dan terperanjat. Melihat siapa yang ada dihadapanku. Aku bersiap untuk melarikan diri kembali. Aku takut, laki-laki ini akan berbuat sesuatu kepadaku. Aku teringat perkataan ayah. ‘Jangan mudah percaya pada seseorang yang tiba-tiba saja mengajakmu bicara. Apa lagi laki-laki’.  Ah bodoh sekali! Dia kan masih cukup belia. Sama seperti ku. Mana mungkin, dia mau berbuat jahat kepadaku. aku Mendelik sosoknya. Memperhatikannya dari atas sampai bawah. Pakaiaannya terlihat berkualitas tinggi, namun, dia memakai baju yang asal-asalan. Rambutnya mencuat ke atas dan berantakkan. Dia nampak tak peduli.
            “Kamu bukan penculik, kan?” tanyaku dengan hati-hati, dan terkesan sangat bodoh sekali. Dia terkekeh, menertawakanku, namun senyumannya tampak mengejekku. Aku jelas tersinggung. Aku merubah air mukaku, seperti menantang padanya. “Lucu,ya?” tanyaku tak kalah dingin dengannya. Dia kembali mendelik.
            “Biasa aja kali. Nih sepeda lo. Lain kali, jangan ditinggal. Kalau ada anjing lagi, jangan kaya gitu. Sorry, tadi anjingnya bikin lo takut. Fluffy emang gitu. Dia sensitive banget.” Datar dan dingin. Ekspresi itu sama sekali tak kunjung berubah semenjak tadi. Aahh..ternyata itu anjingnya? Anjing yang udah bikin aku ketar-ketir setengah mati. Anjing yang ngejengkelin dan menjadi momen ‘jualan koran’ ku ancur? Pantes aja anjingnya nyebelin. Turunan dari pemiliknya kali ya. Haha.
“Eh,  ngapain lo senyam-senyum? Stress lo?” katanya. Aku langsung terdiam. Mendengus kecil.  “Nama lo siapa?”.
“Nadia Natural Aurora Saputri.” Jawabku seadanya.
“Lo anak komplek mana?”
 “Hallows.”.
 “Berani juga lo main jauh-jauh. Ngapain lo disini?”
 “Jualan koran.”
 “wih hebat deh lo. Baru tau gue anak rumahan macem lo, bisa jualan juga.” Huh! Bodo amat deh. Emangnya aku peduli? Aku mencoba menetralisir emosi ku yang mulai memuncak. Dengan satu tarikan nafas, aku buang perasaan itu jauh-jauh dan berusaha untuk tak menggubrisnya sama sekali.
 “Oh,udah selesai kan nyudutinnya? Yaudah aku mau pulang byee.” Kataku kesal dan berlalu. Namun, selewat beberapa langkah, aku melupakan sesuatu. Langkahku terhenti. Beberapa pilihan berkelebat di benak ku. Mana yang harus ku pilih? Terus atau kembali? Namun, dia pasti akan mengejekku lagi jika aku kembali. Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?
            “katanya mau pulang? Kok diem? Oh iya, lo ga tau jalan pulang ya? Pantes.” Dia tersenyum miring, ada kesan kemenangan di sana. Telak. Perkataan itu menusuk. Menjelaskan apa yang tengah aku rasakan. Aku tak tahu. Aku tak tahu harus berbuat apa? Aku bingung. Dan akhirnya, aku masih tak bergeming. Namun, dia terus melontarkan perkataan-perkataan yang menyudutkanku. Hingga aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Aku mual kalau harus mendengarkan apa yang dia ucapkan lebih lama lagi. Aku ingin muntah rasanya.
            “Kamu itu siapa sih? Ada masalah apa sama aku? Aku pikir kamu bantuin aku itu ikhlas, tanpa harus bersikap kayak gini? Ga usah cari masalah deh, sipit!” balas ku dan berhasil membuatnya mati gaya. Beberapa lama dia terdiam, dan kemudian, bibirnya tersungging. Senyum meremehkan seperti biasanya.
            “Enak banget lo ngatain gue sipit. Mentang-mentang mata lo kayak setan bali rumahan. Hahaha.” Argh..sial. dia selalu saja menang. Perkataannya selalu membuatku kekurangan kosa kata. Kata-kata yang dia lontarkan benar-benar menyindir.
            “Pampir Sipit! Udah sipit, jelek, putih pucet, gentayangan lagi. Gak seharusnya pampir berkeliaran di komplek sore-sore gini kali ya.” Aku tertawa menang, dan berhasil membuatnya tak bergeming lagi. Namun, aku melihat tangannya terkepal. Sebetulnya, aku takut. Tapi, aku sudah muak dengan perkataannya. Dia sudah hendak membuka mulut, namun aku menyelanya. “Oh iya satu lagi, kenapa kamu gak pake itu tuh.” Kataku iseng sambil menunjuk ke arah dahi nya. Dia berkerut bingung. “Itu loh, kalau pampir yang di film-film kan suka pake tempelan di dahi gitu wkwk. Byee pampir sipit, pulang dulu yaaa.” Kataku riang dan berbalik sambil menuntun sepedaku. Aku hampir lupa kalau aku tidak tahu jalan pulang. Namun, aku tak peduli. Pertarungan sengit itu sudah aku menangkan. Dan dia tak bisa lagi melawannya.
            “Hei,Nad!” aku mendengar sebuah suara memanggil ku. Langkahku terhenti. Kaget. Siapa itu yang memanggil ku? Apa tak salah dengar? Sepertinya tidak, kan? Aku berbalik hati-hati untuk memastikan. Dan ternyata, pendengaranku sama sekali tak bermasalah. Itu dia, hanya dia yang berdiri sendiri di sana. Tak ada lagi orang lain.
            “Lo ga tau jalan pulang kan? Gimana lo mau nyampe rumah? Tunggu bentar ya! Gue mau ambil sepeda dulu. Gue anterin lo pulang.” Dia berlari menuju pagar putih menjulang tinggi itu. Aku masih di tempatku, dengan rasa tak percaya yang masih berkelebat bak angin puting beliung.
Terkadang, sesuatu yang terjadi di dunia ini tak pernah terbaca jelas dengan logika.
Namun itu lah kenyataannya. Dan aku heran,
Itu bisa terjadi kepadaku.
***
            Angin sore memang selalu menyejukkan. Mengibaskan helaian rambutku seperti biasanya saat aku mengayuh sepedaku. Sore hari memanglah waktu yang sangat aku nanti-nanti kan. Dimana rutinitasku yang sudah menjadi kebiasaan semenjak hari itu. Di balik putaran roda, di sana lah yang membawaku ke Taman –yang menjadi tempat favorit ku- itu. Dengan kayuhan riang gembira, menuju tempat yang ingin aku kunjungi. Untuk bertemu dengan dia. Sahabatku. Perempuan tomboy yang selalu mengenakan topi abunya. Perempuan yang berhati lembut itu, kini tengah duduk di bangku yang biasanya. bangku pertama, yang menjadi saksi bisu awal mula persahabatan dengan simpul sederhana itu dimulai. Bangku dekat air mancur. Yang selalu menjadi penyangga tempat kami berbagi dan duduk bersama.
            kini berbeda, delapan tahun sudah persahabatan kami berjalan. kami sudah semakin beranjak dewasa. Namun, salam perpisahan tak pernah terkoar di antara kami. Bahkan sekarang, semuanya bertambah erat. Seperti ada perekat di antara kami. Perekat yang membuat persahabatan kami semakin erat. Perekat yang menjadi alasan kami ingin selalu bersua. Dialah perekat itu, dia yang muncul setelah pertemuan singkat ku dengannya. Dia yang kini pun menjadi sahabat ku dan Tyas. Dia yang umurnya lebih tua satu tahun dari kami. Dan meskipun begitu, dia tak pernah sudi jika kami memanggilnya ‘kakak’. Dan selalu bilang “ogah banget gue dipanggil kakak. Berasa tua tau ga? Padahal gue kan ganteng dan masih muda gitu.” Dia selalu menjadi penghibur diantara kami. Dia yang tak pernah absen kehadirannya. Walau sampai saat ini, aku dan dia masih selalu bertengkar. Meski hal yang kami pertengkarkan adalah hal yang sama sekali tak masuk akal. Namun Tyas selalu menjadi penengah kala kami tengah beradu mulut.
            Persahabatan indah ini dimulai ketika kami berkumpul di Taman ini. Taman Hollow. Ternyata dia mengunjungi taman itu setiap sore setelah dia mengantar ku pulang. Awalnya, aku tak suka dan selalu mendumal kesal. Dan yang paling membuatku kesal, saat Tyas selalu memaksa agar aku mau bergabung dan bermain bersama mereka –Tyas dan dia-. Aku kadang tertawa kecil kala mengingat pertemuan pertama kami. Pertemuan konyol yang sampai saat ini langit pun masih mengenangnya.
*
“Nad, kita dapet temen baru.” Teriak Tyas saat aku –datang dan- memasangkan standar sepedaku.
“Hah?” jawab ku tak acuh. Aku masih membelakangi Tyas.
“Hei,” suara itu, aku mengenalnya. Namun, ketika aku berbalik, dia langsung terdiam dan memasang muka jijik dan kesal.
“Heh pampir, ngapain disini! Mau ketemu sama aku? Sorry ya nggak ada waktu.”
“Yeehh setan bali rumahan, siapa juga yang mau ketemu lo. Dih males banget. Mimpi apa gue semalem, sampe harus berurusan sama lo lagi?”
“Loh? Kalian udah saling kenal kalau gitu?” tanya Tyas heran.
“Tau ga, yas? Dia ini pemilik anjing yang siap nerkam kita waktu itu. Biasa lah, manusia yang abnormal. Milih binatang piaran yang kayak begituan. Gak selevel banget deh sama kucing anggora punya aku dari Perancis.” Kataku menyombong,memanas-manasinya.
“Sombong banget lo jadi orang? Pantesan muka lo mirip anggora.” Katanya dengan seringaian menyebalkan.
            Tanpa berpikir panjang dan –sebetulnya tanpa aku sadari pula- tanganku melayang, dan mendarat mulus di sekitar ruas wajahnya. Hingga ia jatuh tersungkur dengan wajah memerah. Tyas memekik pelan. Mungkin Tyas tak pernah menduga hal ini. Aku yang biasanya bersikap lemah lembut, childish, dan polos, kini menjadi seperti itu. Meninju orang bukanlah perilaku yang baik. Namun, untuk orang yang seperti dia, aku rasa itu hal yang sangat baik.
            Ia meringis pelan. Hidungnya berdarah. Aku terpekik. Astaga..se-kriminal itu kah perbuatan yang baru saja aku lakukan? Namun, emosi masih saja mengendap dalam dinding hatiku yang terus menggedor-gedor dan minta di salurkan lagi. Tapi, sekuat tenaga berusaha ku tahan. “Sial..” geramnya. Tyas terlihat bingung dan khawatir.
“itu pembalasan yang setimpal sebagai ucapan terima kasih kemarin!” kataku tenang.
“Gue seneng bisa ketemu perempuan –yang pukulannya- hebat dan hampir sederajat kayak gue ketiban kontener. Cewek lain mana ada yang kayak gitu.” Dia tersenyum miring. “Boleh gue berteman dan kenal sama lo?” ucapnya tiba-tiba. Dan membuatku terperanjat.                    
“Aku nggak mau.” Sergah ku segera. “Sebelum aku tahu nama kamu siapa.” Ucapku dan langsung tersenyum menyeringai. “Oh haha..ciee mau kenalaannn…” goda Tyas sembari menaik-turun kan alis hitamnya.
“Gue Alvan..” Ucapnya langsung dan mengulurkan tangannya. Dia tersenyum sekarang. Senyum yang bersahabat. “Dan gue udah tahu nama,lo. Nadia Natural Aurora Saputri dipanggil Nanad. Jadi elo ga usah ngomong panjang lebar lagi.” Katanya dilanjutkan dengan gaya bicaranya yang semula. Aku pun tersenyum. Perasaan menggelitik menjalari sulur-sulur urat nadiku. Haha. Ternyata dia masih hafal rangkaian namaku yang panjangnya tak terhingga itu. Aku pikir, ingatannya parah.
            “Tapi sori..” Alvan menyela. “Sori kenapa?” ucap ku. “Gue ga suka manggil lo Nanad.” Katanya dingin. Aku sudah punya firasat. Pasti dia akan menjelekkan namaku lagi. Pasti dia akan mengajak aku untuk ribut kembali. Ini tak salah lagi. Aku melihat seringaiannya. Dan dengan lancar dia berucap, “Gue lebih suka manggil lo Nadia. Kesannya lebih manis..”
*

            semenjak sore itu, kami bertiga selalu berkeliling komplek dengan sepeda kami masing-masing. –Tyas dengan sepeda hitamnya yang sudah sedikit berkarat. Aku dengan sepeda merah muda dengan lonceng nyaring dan sebuah keranjang yang aku hias dengan untaian bunga. Dan Alvan dengan sepeda merah berpadu abu nya yang mengkilat, -. Sambil membantu Tyas menjual koran-korannya. Dan untungnya, karena bantuan aku dan Alvan, koran Tyas menjadi cepat laris.
            Kala berbaring bersama di hijaunya rumput taman, kami bahkan biasanya mengingat-ingat tragedi lain yang pernah terjadi. Bahkan yang membuat ku tersenyum dalam hati. Dan membuat Tyas dan Alvan tertawa.
*
“Eh, lo tuh kalau ngendarain sepeda yang bener napa sih? Makanya, jangan deket-deket gue. Nabrak sepeda mahal gue kan jadinya.”
“Ih! Bukannya di bantuin. Sakit nih kaki. Noh kan nyampe berdarah gini. Abisnya, lain kali, ngendarain sepeda jangan lelet gitu. Kayak Putri Ayu aja sih.” Ucapku yang masih terkapar di jalanan beraspal.
“Bangun sendiri! Masih bisa kan lo?”
“Bisa dari mana? Berdarah gini juga? Tyas..bantuin.” kataku merengek kepada Tyas yang baru saja datang menghampiri tampat berlangsungnya kejadian. Tadi Tyas baru selesai menyetandarkan sepedanya.
“Manja lo! Dari dulu ga pernah berubah.” Alvan memalingkan muka dan memasang tampangnya yang seperti biasa. Err..padahal kan Cuma gara-gara aku ga sengaja nabrak sepedanya waktu kami sedang bersepeda bersama.
“Berisik amat sih mulut kamu itu,pit! Nggak usah berkicau sehari aja bisa ga sih. Mulut mu itu bawelnya nggak ketulungan.”
“suka-suka gue dong! Mulut-mulut gue! Yang nyiptain siapa? Bukan lo kan?”
“Harusnya kamu tuh jadi interview orang-orang deh. Jaman ternyata udah bener-bener berputar ya. Canggih banget pampir bisa ngomel.”
“Sekali lagi lo ngatain gue pampir..”
“Berisiiiiiiiikkkkkkkk!!!!!!!!” Tyas berteriak di tengah kicauan kami. “Bisa nggak sih jangan ribut dulu. Nad, kamu kan lagi keadaan berdarah gitu, masih aja bisa ngebales. Kamu juga! Lagian, Nanad kan nggak sengaja nabrak sepeda kamu. Makanya, kalau ngendarain sepeda jangan lelet! Pengennya sih deket-deket Nanad mulu. Niat gak sih bantuin jualin koran? Udah sore juga.” Tyas memarahi kami dengan tampang kesal. Mulut ku ternganga melihat Tyas yang seperti itu, sedangkan si sipit jelek itu, masih saja memasang tampang dinginnya.
“Apa tadi lo bilang? Sori, gue ga sudi deket-deket Nadia.” Entah mengapa, ada sebuah sakit yang mengiris. Aku pun tak mengerti, kala mendengarnya hatiku bereaksi secepat itu. Namun, aku tak pernah mempertanyakan rasa tak nyaman ini lebih lanjut lagi.
“Kamu satu tahun lebih tua dari aku dan Nanad. Kamu udah jadi sahabat kita selama satu tahun. Kamu pernah ga sih pikirin dulu apa yang mau kamu omongin sebelum mulut kamu mengatakannya? Produksikan kata-kata yang akan terluncur dengan baik. Jangan asal bicara.” Tyas menghela nafas. “Dan jangan munafik!” lanjutnya singkat. Tyas menatapnya tajam dan berpaling ke arahku. Dia berjalan mendekat dan siap membantuku bangun dari posisi ku yang tersungkur.
“Maaf…” sela Alvan dan menghentikan gerakan Tyas. “Gue salah ngomong. Gue minta maaf,yas.” Katanya. Air wajahnya kembali melunak dan memetakan permohonan.
“Aku ga ada urusan. Minta maaf sama orang yang bersangkutan.” Jawab Tyas dingin.
Terdengar sebuah helaan nafas. Orang ini, sepertinya sangat enggan berucap kepadaku. “Nadia, gue minta maaf.” Katanya berpaling ke arahku. Menatapku, menelusuri bening dan gumpalan hitam mataku. Aku balas menatapnya, dia bagai mengarungi samudera beningnya. Mendayung dalam sebuah perahu, dan tenggelam. Setelahnya, dia seperti memohon pertolongan yang akan membawanya kembali ke dalam perahu tersebut. pertolongan itu, adalah ucapan maaf dari ku.
“Nggak apa-apa kok.” Balas ku tersenyum, akhirnya. Merasa berbelas kasihan melihat permohonannya yang malang itu. Alvan balas tersenyum.
“Nah kalau gitu kan enak jadinya.” Tyas tersenyum kecil kepada kami berdua. Namun, aku rasa, tetap tak ada yang memperdulikan bagaimana aku saat ini.
“Ekhem..ini aku mau dibiarin aja kali ya kayak gini. Sampe kapan woy? Sampai perang dunia III dan akhirnya aku harus mati karena kena tembak?” kataku –yang masih tersungkur- menyindir mereka.
“Hehe..sori nad. Gara-gara Alvan nih.” Kata Tyas sembari beranjak akan menolongku –lagi-.
“Lo diem aja,yas. Biar gue yang bangunin. Lo bisa ga tuntunin sepedanya? Biar sepeda gue di sini aja. Gue bakal nyuruh sopir gue buat ngambil sepeda gue. Dan kita anterin dia ke rumahnya.” Katanya menjelaskan. Tyas lalu mengangguk singkat. Pertanda dia mengerti. Hanya aku yang terdiam. Sebenarnya, gimana mau jalan? Bahkan darah yang di keluarkan kakiku pun sudah tak terhitung dalam satuan mil.
“Van, kalau sepeda aku di bawa Tyas, aku pulang naik apa? Mending naik sepeda lah dari pada harus jalan?” kataku protes.
“Lo, gue gendong.” Telak! Tiga kata yang menjadi pembius. Menghilangkan kembali nyeri di kakiku. Dan membuat aku terlonjak kaget. Tak percaya. Apa? Bukan! Bukan karena jantungku yang akan berdetak. Bukan karena seperti yang terjadi biasanya di telenovela. Namun, tiga kata yang ditujukan untuk menolongku itu terucap kembali. Dulu, dianterin. Sekarang, mau di gendong? Manusia pampir yang satu ini, terkena jampi-jampi apa sih? Tak pernah menyangka orang stress dan abnormal seperti dia bisa membuahkan sebuah kebaikan untuk menolong orang.
“Gila! Ogah!” aku mengelak. Jangan-jangan, dia mau nyakitin aku lagi. Tahunya, nanti pas dia tolongin, aku malah di lempar kemanaaa gitu. Dia kan benci banget kayaknya sama aku. Sama sekali tak menutup kemungkinan kalau dia akan mencelakai ku di tengah jalan.
“Ga usah bawel,lo.” Jawabnya tak acuh.
“Kamu ga akan ngelemparin aku ke pohon kan nantinya?” kataku hati-hati. Tak pernah terpikirkan kata-kata yang satu itu akan terluncur. Pertanyaan yang sungguh konyol. Alvan tersenyum miring, dan Tyas terbahak mendengar pertanyaan ku yang mungkin tak masuk akal baginya namun masuk akal bagiku.
“Kebiasaan deh lo. Setiap gue bantuin, lo selalu ngelontarin pertanyaan yang bener-bener childish banget. Apa menurut sudut pandang lo itu gue sekejam itu?” aku meringis sendiri mendengar perkataan Alvan. Tyas masih terkikik, dan menekap mulutnya dengan tangannya.
“Lo tahu ga? Lo itu, manusia terpolos yang pernah gue temuin.” Kata Alvan dan bergegas menggendong ku begitu saja tanpa menunggu persetujuan dariku.
*
            Tak terasa pikiranku yang berkelebatan tadi membawaku lebih dekat ke tempat tujuan utamaku. Ya di taman ini. Taman dengan dekor alam yang begitu kentara. Rangkaian bunga-bunga ephorbia di sekitar air mancur. Bunga matahari di tepi sudut, dan bermacam bunga hias lainnya yang ada. Sementara itu, di sisi lain taman,  sebuah bangku bercat biru muda tengah di duduki oleh dua orang anak remaja, gadis yang memakai topi abunya sekitar berusia 18 tahun, dan laki-laki putih dengan mata sipit –yang mengajakku untuk datang ke taman sore itu- yang duduk di sebelahnya berusia 19  tahun. Mereka berdua tengah asik berbincang dan saling menguar kebahagiaan. Wah..sepertinya aku sedikit telat untuk bergabung dengan mereka.
            “Cieee..mesra banget nih kayaknya.” Goda ku setelah aku berada di jangkauan jarak yang cukup dekat dengan mereka. “Ah, tahu deh yang cemburu pasti bedaa aja responnya.” Balas Alvan dengan seringaiannya yang biasa. Aku berjalan mendekat kearah mereka, lalu mendudukan diri di tengah-tengah mereka. Aku tersenyum bangga atas perlakuanku. Membalas tatapan heran dari Tyas. “Aku sama sekali ga cemburu. Oke, dan sekarang,”
“Kalau ga cemburu ngapain duduk di tengah-tengah gini? Mau jadi kuncen ceritanya?” balas Alvan sengit.
“Ih rese!.” Ucapku kesal.
“Bodo! Yang penting, intinya elo cemburu dan harus begitu.” Aku menatap Alvan heran. Sesaat, Alvan menutup mulutnya, lalu untuk menjaga image, dia cepat-cepat merubah ekspresinya dengan gelagat yang mengherankan. Wajah cuek dan datar. Aku menatap Tyas sekilas, dia nampak menahan tawa.
 “Eh,pit! Dengerin dulu makanya,ya. Aku itu duduk di tengah-tengah gini bukan karena cemburu atau apa. Tapi kan ceritanya aku jadi love. Jadi, Alvan love Tyas. Yeeeaahhh..” kataku senang lalu bertepuk riang. Namun, nampaknya kedua sahabatku itu tak memberikan respon sama sekali. Mereka berdua hanya menatapku bingung.
“Kalian kapan sih jadiannya? Gak usah ngulur-ngulur waktu gitu kali. Kan udah terbukti kalau kalian punya perasaan yang sama satu sama lain, nah ngapain gak jadian-jadian coba?” aku tak tahu kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut ku. “Ehiya, kamu nyuruh aku datang ke sini sore ini mau apa sih, van? Katanya penting banget. Padahal di rumah, aku lagi bantu mama bersih-bersih loh. Terpaksa harus ke sini karena paksaanmu,” dan tiba-tiba, otakku diterangi oleh sebuah lampu. “Aha! Atau jangan-jangaann…kamu mau nembak Tyas sekarang,ya? Biar aku bisa bantuin kamu kan,van? Ayo ngaku!!” paksa ku pada Alvan dan menarik-narik lengan bajunya.
“Ngomong apa dan sama siapa sih lo?” respon Alvan dingin.
“Gini nih kalau ngomong sama orang autis. Lolanya tingkat tinggi,”.
“Sialan lo, ujung-ujungnya gak enak di gue jadinya.” Protes Alvan.
“Nanad..nanad,” Tyas menggelengkan kepala. “Kamu tuh ngomong apa sih? Perkataannya nggak masuk akal sama sekali.”
“Aku berbicara sesuai fakta. Sesuai realita. Bukan dusta.” Protesku.
“Elo bakat deh kalo jadi tukang gosip. Kerjaan sehari-harinya ngegosip mulu sih.” Alvan malah menanggapinya dengan tidak serius.
“Nad, perkiraan kamu salah. Jangan jangan kamu lagi yang pengen jadian sama Alvan ya? Hayoo ngakuu!!” Tyas malah tertular Alvan dan ikut menyudutkanku. Aku memutar bola mataku. Seenaknya dia menuduhku seperti itu.
“Bodo ah! Kalian tuh ngeselin. Apa apa kompakan mulu dan selalu aja aku yang jadi korban. Males disini.” Aku marah pada mereka yang tidak menanggapi ucapan ku dengan serius.
“Cie anak mami marah.” Dan yang membuat aku lebih kesal lagi, Alvan malah terus saja menghina ku.
“Berisik!” kataku tajam dan langsung berjalan ke arah sepedaku.
“Yaahh dia beneran ngambek. Elo mah gak seru ah! Nad, tunggu!” sergah Alvan.
“Nanad, kita bercanda doang kok.” Tyas juga turut memanggilku.
“Nad, gue mau ngomongin sesuatu sama lo! Ini beneran, serius nad!” ketika sepedaku mulai melaju, Alvan masih berusaha menahanku. Dia mengejarku bersama Tyas. Mereka berlari sekencang mungkin untuk menyamakan jarak dengan sepeda yang aku kayuh dengan kecepatan tinggi.
“Nggak usah ngejar! Toh paling sesuatu yang mau kalian omongin gak berguna gak penting dan gak bermutu sama sekali.” Teriak ku kencang di sela-sela kayuhanku. Aku merasakan mereka berdua berhenti berlari. Dan dengan cepat aku kayuh lagi sepedaku agar segera sampai rumah.
*di tempat Alvan dan Tyas*
“Apa lo pikir berita kepergian gue itu nggak penting,nad?” lirih Alvan pelan sambil menyelaraskan nafasnya. Tyas menepuk pundak Alvan halus dan memeluknya. Memberinya kekuatan dan ketegaran.
“Kenapa perpisahan gue sama dia harus ancur begini,yas?” Alvin menghela napas dalam pelukan  -bersahabat- Tyas. “Dia bahkan nggak tahu apa yang akan terjadi sama gue besok. Sekarang, dia pasti marah besar sama gue,yas. Err..kenapa gue kalau bercanda ke dia keterlaluan banget sihh”
“Nanad juga marah sama aku,van. Dia marah sama kita berdua yang nggak nanggepin ucapannya dan malah nyalah-nyalahin dia.” Hibur Tyas. Alvan terdiam dan memandang lurus ke depan.
“Selama gue di sana, lo jaga dia baik-baik ya! Gue nggak mau dia kenapa-napa. Lo tahu kan?”
“Aku ngerti kok,van. Kamu udah cerita kayak gitu berapa kali sih sama aku. Janji ya? Kamu harus datang empat tahun lagi. Dan kamu juga udah janji, setelah kepulangan kamu ke Indonesia, apa yang akan dan harus kamu lakuin. Nyali kamu harus kuat loh,van. Haha, nanti dikatain autis lagi loh.”
“Rese lo!”
***

Creater
"S"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Until The Very End (kisahku dibalik putaran roda) -Part 2-

***

              Sinar matahari yang menyusup ke dalam sela-sela jendela mengusik ku kala aku tengah tertidur. Burung kecil yang mematuk matuk kaca jendela yang nampak sudah terang itu, menimbulkan Tuk..Tuk.. kecil. Ternyata sudah siang. Namun, entah mengapa suasana siang hari ini begitu sendu. Tak terdengar orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah ku. Semuanya nampak senyap. Ah, mungkin aku tak pernah memperhatikan suasana siang hari. Jadi, aku merasa begitu asing.
            Perlahan, aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Dan membersihkan diri dalam waktu yang relative singkat. Tiba-tiba setelah selesai aku membasuh tubuhku, aku teringat akan pertengkaran –yang tidak jelas- antara aku dan kedua sahabatku itu. Namun aku sedang malas dan enggan memikirkan siapapun diantara mereka. Jadi, aku putuskan untuk membaringkan diri di kamar ku. Dan tidak keluar kamar seharian itu. Karena hari ini aku benar-benar malas.
            Karena bosan, aku mengambil laptop ku dan ku putuskan untuk mengaktifkan kembali acc twitter ku yang sudah lama tak aku buka. Ketika aku melihat siapa-siapa saja yang ada di timeline twitter ku, di sana tertera nama sahabatku. Salah satu sahabatku ada di sana. Sebuah user dengan nama @Alvanadyas. Bahkan user itu menggambarkan seberapa sayangnya dia pada kami. Pada aku dan Tyas. Tapi,tunggu. Aku menajamkan penglihatanku kepada apa yang ditulisnya.
@Alvanadyas
OTW . Byee Indonesia. I’ll go home on several years again (y).
            Hah? Apa? Apa yang dikatakannya? Aku tak mengerti. Apa ini sebuah lelucon atau kenyataan. Entah mengapa perasaanku begitu khawatir. Ini sungguh membingungkan. Apa ini yang dia ingin bicarakan? Soal keberangkatannya yang entah kemana. Rasa bersalah menggebu-gebu dalam kalbu. Di sisi lain, hatiku teriris. ‘ON SEVERAL YEARS AGAIN’. Aku tahu, karena aku bukan anak bodoh dan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia pasti akan pergi beberapa tahun. Tapi, untuk apa? Dan –yang lebih utama- adalah kenapa? Apa karena dia tak suka pada ku? Apa karena dia membenci ku begitu kuat? Sehingga dia memutuskan untuk pergi. Ah..tapi itu tak mungkin. Buktinya, dia akan kembali. Walau –aku yakin- dalam waktu yang relative panjang.
            Aku berlari gelisah menuju garasi. Mengambil sepeda merah muda kebanggaan ku, dan mengayuhnya sekencang mungkin.  Ke sebuah tempat yang sedari tadi sudah bergaung di otakku. Keluar komplek, dan melewati jalan raya yang –untungnya- lengang. Walau sedikit jauh, tapi aku tak peduli.
            Yak! Belokan itu adalah belokan terakhir yang aku –harus- lewati untuk sampai ke depan pintu gerbang putih pucat yang menjulang tinggi. Perlahan, aku standarkan sepedaku, dan berjalan mendekati pagar tersebut. Ketika pintu pagar aku buka, anehnya, tak ada yang menjaganya. Tak ada gonggongan Fluffy seperti biasanya. Kemana anjing itu? Apa dia mati? Aku harap begitu. Ah, berpikir apa aku ini.
            Aku berjalan lagi, menyusuri petak-petak bunga yang terhampar di taman depan. Aku tak peduli jika nanti ada yang mengira aku ini pencuri. Yang terpenting, aku harus memastikan bahwa semua itu hanya lelucon belaka. Dan tak ada artinya sama sekali. Hanya –akal Alvan- agar aku mencarinya. Namun, aku terus melangkah.
            Rumah itu begitu sepi. Tanpa penghuni. Tak ada jejak kehidupan sama sekali. Rumah itu sama sekali tak seperti biasanya. Yang selalu menyuguhkan roman kehidupan yang begitu nyata, hidup, dan berwarna. Aku mulai gundah. Apakah ini semua benar adanya? Namun, aku belum ingin menyerah.
            Ku ketukkan pintu berpelitur kayu jepara itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, bahkan hingga sepuluh kali, tak ada yang membukanya. Ku pijit bel beberapa kali. Namun percuma. Hasilnya sia-sia. Aku merosot. Menyenderkan diri di pintu depan itu. Duduk menghadap taman depan. Aku menelungkupkan kedua telapak tanganku menutupi wajahku yang frustasi. Aku benar-benar ingin menangis saat itu. Namun dengan sepenuh hati, aku tahan buliran bening untuk mengalir. Karena Alvan selalu bilang, ‘jangan nangis. Gue nggak suka kalau lihat cewek nangis. Lo mau jadi orang cengeng dan lemah?’
            Walau kata-kata itu terkesan sinis, namun aku selalu mengingatnya. Ah, jika teringat oleh perkataannya, rasanya buliran kesedihan dan kepedihan Itu terus saja meraung ingin di keluarkan. Alvan, sebenernya ada apa sih? Kenapa kejadiannya tiba-tiba gini. Ah ah aaahh!! Tuh kan, air matanya ngalir. Kamu cengeng banget sih,nad! Alvan nggak akan suka kalau kamu nangis gini. Udahlah, jangan nangis.
            Bodohnya aku, tak pernah terpikir! Benar! Alvan pasti di sana. Belum jauh dari sini. Karena status yang dia update masih –sekitar- 10 menit yang lalu. Aku nggak boleh nyerah. Aku pasti akan temuin Alvan.
            Dengan kayuhan super dahsyat, aku menuju lokasi yang terlintas dipikiran dan perkiraanku. Alvan akan pergi meninggalkan Indonesia. Orang kaya seperti dia nggak akan mungkin lebih milih naik kapal laut. Dan dia pasti masih di Bandara. Tapi, aku ke bandara naik sepeda seperti ini? Apa nggak akan ditangkap satpam? Tak menutup kemungkinan juga. Ah, tapi, itu urusan belakangan. Yang terpenting aku harus melakukan ini. Semoga saja aku bisa menahan kepergiannya Alvan.
            Selewat satu jam, setelah melewati segumpalan asap kelabu, dan rentetan suara klakson yang di padukan, akhirnya aku sampai di Bandara. Aku tahu ini sudah melampaui batas waktu. Aku tahu, mana mungkin pesawat akan menunda keberangkatannya selama 1 jam. Itu tak mungkin. Namun, aku terus berpikiran positif. Kalian boleh mencontoh perilakuku. Walau kenyataan di depan sudah tak mungkin, namun, tetaplah berpikir posistif.
            Aku berlari menapaki lantai berkilau di bandara. Menubruk orang-orang yang sedang berjalan. Beberapa mendelik marah kepadaku. Mengata-ngataiku, mencemoohku yang tak punya sopan santun. Tapi, mereka sama sekali tak mengerti apa yang tengah terjadi kepadaku. Mereka sama sekali tak tahu. Lagi pula, aku pun tak mengenal mereka. Jadi, kenapa perlu dipermasalahkan?
            Langkah ku tiba-tiba terhenti. Melihat siapa yang tengah terduduk sendiri di bangku pojok itu. Tangan ku terkepal. Muka ku memerah. Aku merasa terkhianati. Orang itu, tengah menunduk dan menatap sendu ke lantai-lantai yang tak bernyawa. Dan ia sama sekali tak menyadari kedatangan dan kemarahanku yang tengah menderas.
            Sesampainya berada tepat di depan orang itu, aku terdiam. Menatapnya lekat-lekat. Namun, dia masih tak mengangkatkan kepala. Entah apa yang ia lihat di lantai sehingga begitu enggan untuk merubah posisinya itu. Namun, beberapa detik kemudian, ia mendongak. Untuk melihat siapa yang tengah berdiri di depannya. Ia terbelalak menatapku. Dan aku menatapnya tajam dengan tatapan penuh amarah dan kekecewaan.
            Aku tak menyadarinya, tiba-tiba saja, tanganku yang terkepal mendarat mulus di kedua pipi nya yang berderai air mata. Mungkin cukup keras. Karena tamparan itu cukup membuatnya –begitu- terlonjak dan pipinya memerah. Beberapa helai rambut menempel pada pipinya yang sembab. Ia nampak begitu kusut, lusuh, dan seperti orang yang tidak waras.
            “Nad?” lirihnya perlahan. Ia masih memegang pipi nya yang memerah. “Apa yang kamu,”
“Harusnya gue yang nanya itu. Apa yang lo lakuin?” bentakku keras. Bahkan, entah mengapa, aku merubah gaya bahasaku dengan otodidak.
“Maksud kamu apa?” dia terisak kecil.
“Elo ga punya otak apa gimana? Apa yang udah lo lakuin?” kataku lebih keras dari sebelumnya menanggapi ucapannya yang terkesan begitu lugu.
“Aku salah apa,nad? Aku sama sekali nggak ngerti.”
“Lo tuh sahabat apa pengkhianat sih? Lo tega banget tau gak sama gue! Lo tega ngebiarin gue sendirian yang nggak tahu akan kabar ini. Lo tega biarin Alvan pergi tanpa pamit ke gue. Lo sengaja kan ngebiarin ini,hah? Biar lo yang bisa nganter Alvan sendiri. Biar lo yang bisa ngasih perhatian ke Alvan seorang diri. Itu kan maksud lo? Gue sama sekali nggak habis pikir. Elo yang selama ini lugu, rendah hati, dan penyayang, ternyata punya hati yang busuk! Elo ngerti kan, nad? Di sini yang berperan bukan Cuma elo, tapi juga gue. Kita bertiga yang menjadi tokohnya.” aku tahu ini sama sekali tak sopan dan seharusnya tak aku ucapkan. Namun, lidah ku pun ternyata sudah terbakar sulur-sulur emosi itu.
“Aku sama sekali nggak berniat kayak  gitu,nad. Sama sekali nggak!”
“Gue nggak nyangka ya,yas. Elo tahu kan Alvan itu sahabat kita? Dan elo tahu dia juga berarti buat gue. Bukan hanya buat lo. Kita berdua sayang sama dia. Kita berdua udah nganggap dia kayak gue nganggep elo dan sebaliknya kan,yas? Tapi kenapa lo lakuin ini sama gue?” emosi ku belum juga surut.
“Aku juga mau ngasih tahu kamu,nad. Aku udah bujuk Alvan biar izinin kamu tahu semua ini.” Tyas menatapku lirih. Air mata yang ia produksi semakin banyak.
“Terus kenapa nggak lo lakuin? Kenapa harus minta persetujuan Alvan? Biar lo terkesan baik kan di depan dia? Gue tahu,yas. Gue tahu lo suka sama Alvan. Meskipun lo nggak pernah cerita sama gue akan hal itu. Gue tahu lo selalu ingin dapetin perhatiaannya Alvan. Mata lo nunjukkin itu,yas. Dan gue waktu itu pengen bantu lo.” Jelasku.
“Dugaan kamu salah,nad. Aku sama sekali nggak nyimpen perasaan sama Alvan. Sama sekali nggak. Karena aku yang lebih tahu dari kamu. Aku tahu kamu pun menkodratkan Alvan lebih special di hati kamu,kan?” iuh, bicara apa sih orang ini.
“Nggak usah sok tahu deh,lo. Gue bahkan nggak pernah akur kan sama dia. Perasaan gue ke Alvan tuh biasa aja. Bukannya elo ya yang luar biasa?” ucapku sinis. “Dan tadinya, gue harap Alvan pun punya perasaan yang sama ke elo. Gue harap kalian jadian. Tapi, toh sekarang gue nggak ngarepin itu semua bakal terjadi. Karena,”
“Karena tanpa kamu sadari, sebenarnya yang nyimpen perasaan ke dia itu kamu. Dan begitupun dengan dia.” Potong Tyas.
“Nggak usah ngelantur deh kalau ngomong.”
“Aku sama sekali nggak ngelantur. Alvan sering ceritain itu sama aku. Kenapa aku yang lebih dekat dengan dia? Kenapa dia selalu ngajak kamu untuk adu mulut? Apa kamu sama sekali nggak peka? Dia itu ingin ngedapetin perhatian kamu. Dia nggak betul-betul benci kamu. Dan dia selalu ceritain itu ke aku. Begitu pun dengan aku. Aku selalu kasih solusi yang baik buat dia.” Aku terdiam mendengar penjelasan Tyas, kenapa semuanya terdengar begitu mengada-ngada?
 “Aku bingung.” Respon ku singkat.
“Kamu tahu? Kemarin sore itu, dia berniat untuk ngasih tahu kita apa yang akan terjadi padanya. Apa kamu lupa kalau dia udah kelas 12 dan berhasil meraih kelulusan? Orang tuanya memutuskan akan menyekolahkan dia ke London. Dan mereka sekeluarga juga akan ikut dengannya. Kamu nggak tahu kan kalau dia sedih dan nyesel banget pertemuan terakhirnya dengan kamu begitu ancur dan berantakkan. Sedangkan dia harus ketemu lagi sama kamu setelah 4 tahun ke depan. Karena saat itu, dia sudah meraih gelar sarjana.”.
“Tapi itu nggak mungkin. Aku sama sekali nggak percaya.” Volume suara ku mengecil dan nyaris tak terdengar.
“Dan kamu juga nggak tahu, tentang rencana dia dan janji dia sama aku. Sebetulnya, bukan kamu yang berusah mendekatkan aku dengan Alvan. Tapi aku yang berusaha melakukan itu. Dan aku suruh dia janji, kalau setelah 4 tahun itu berlangsung, dia akan nemuin kita lebih dahulu. Terlebih kamu,nad. Dan dia bakal ngungkapin sesuatu ke kamu hari itu juga.” Tyas mengakhiri ucapannya dan dia tersenyum kea rah ku yang masih saja mematung. Ini benar-benar di luar dugaanku. Ini tak mungkin. Ini mimpi kan?
“Mana Alvan?” tanyaku singkat. Tyas terdiam.
 “Mana Alvan?” tanyaku lebih keras.
“Dia udah pergi.”
“Maksudnya?”
“Pesawatnya berangkat pukul 07.00. pagi sekali.”
“Dan kamu sedang apa?”
“Aku nunggu kamu. Karena aku percaya, kamu akan datang.”
“4 jam kamu nunggu? Di sini? Kenapa?”
“Cuma untuk ngasih ini. Ini titipan dari Alvan buat kamu. Dan ini dari aku, sebagai ucapan permintaan maaf dari aku karena bikin kamu kesel kemarin. Tapi sepertinya, hadiah ini tak akan berarti bagi kamu. Karena sekarang, aku kembali membuat kamu marah. Maaf nad.” Tyas menunduk, air matanya mengalir lebih deras lagi. Namun aku tak mau ambil pusing sama sekali. Aku tinggalkan dia begitu saja. Aku ingin pulang. Aku capek. Aku lelah. Dan aku sama sekali tak menyentuh barang-barang yang Tyas pegang. Baik dari Alvan maupun darinya.
“Nad!” bahkan aku sama sekali tak menoleh waktu ia panggil
***
            Ketukan halus dari pintu membuyarkan lamunanku. Dengan malas, aku beranjak dari tempa tidur ku dan membukakan pintu perlahan. Ternyata mama berdiri di sana dengan tersenyum. Ada apa gerangan pagi-pagi begini membangunkanku? Apakah beliau belum berangkat bekerja? Ternyata mama memberi tahuku, bahwasanya Tyas datang dan ingin bertemu denganku. Aku menolak untuk menemuinya. Namun, mama membujukku agar aku menemuinya.perlahan –masih dengan tangan terkepal- aku keluar kamar mendatangi Tyas yang sedang terduduk di kursi tamu.
            Tyas tersenyum menatapku. Namun aku menatapnya dingin. Dan masih tak peduli.
 “Aku nggak mau kesalahan yang sama terjadi. Walau kemarin kamu nolak ini, sekarang akan aku usahain kalau kamu nerima ini.” Kata Tyas langsung, sembari menyodorkan sesuatu yang sama seperti kemarin.
“Pergi.” Kataku singkat. Tyas terdiam.
“Nggak ngerti apa yang baru aja aku bilang?” Tyas melangkah mundur melihat tatapan ku yang kian geram.
“Pergi sekarang!” perintahku lagi.
 “Tapi,nad, apa kamu sama sekali nggak mau nerima ini? Alvan udah nitip sama aku dan ini berarti amanah yang harus aku  laksanakan.” Tyas mengelak.
“Nggak usah sok SUCI.” Aku tetap saja keras kepala dan enggan mendengarkannya.
“Kamu tahu? Alvan buatin kamu ini semalaman sebelum dia pergi ke London.” Aku terdiam. “Dan sekarang kamu nggak mau nerima ini?”
“Kenapa sih kamu selalu tahu apa yang Alvan lakuin. Kenapa sih aku nggak pernah tahu sama sekali. Bahkan semua tentang dia, rahasia dia, dan apapun yang kamu tahu tentang dia, aku nggak pernah tahu dan di beri tahu. Apa artinya kata-kata ‘sahabat tempat untuk berbagi’ ?” sinisku keras.
“Nad, please ! aku nggak mau bertengkar lagi sama kamu. Yang aku mau, kamu terima ini dan aku akan langsung pergi.” Katanya memohon dengan tangan tertangkup.
“Oke, biar kamu cepet pergi, aku terima pemberian Alvan. Dan sori, aku nggak sudi nerima pemberian kamu. Pasti Cuman sampah yang terbuat dari Koran.” Tuhan, kenapa aku begitu kejam pada sahabat ku sendiri? Kenapa aku tak punya hati? Tyas tersenyum perih mendengar ucapanku yang –aku duga- pasti begitu menyakitkan untuk dilontarkan.
“Nggak apa-apa nad. Asal kamu mau nerima pemberian dari Alvan. Ini (Tyas memberikan sesuatu itu) dan aku pulang sekarang,ya.”
            Aku hanya mengangguk singkat melepas kepergiannya meninggalkan rumahku. Perlahan, meski tak ia ketahui, aku mengikutinya dari belakang dan melihatnya mengambil sepedanya dan pergi begitu saja. Aku kembali masuk ke dalam rumahku, dan duduk di ruang tamu. Penasaran juga apa yang Alvan berikan kepadaku.
            Belum sempat aku membuka bungkusan itu, Bi Inah lari tergopoh-gopoh ke arahku. Aku menatapnya heran. Kenapa ia? Dari air wajahnya, ia terlihat begitu gelisah. “Kenapa bi?” tanyaku langsung. “Maaf,non. Bibi tahu non marah sama neng Tyas,” .
“Nggak perlu bicarain dia sekarang,bi, aku lagi males.”
“Tapi Neng Tyas kecelakaan non.” Sambung bibi.
“Orang tadi dia baik-baik aja kok. Jangan-jangan bibi sekongkol” Responku tak peduli.
“Bibi lagi beli sayur di depan non, lalu, bibi lihat, Neng Tyas meninggalkan rumah ini dengan bersimbah air mata. Bibi Tanya kenapa gerangan. Dan dia hanya bilang “Salah aku,bi. Salah aku yang udah ngecewain Nanad.”. setelah itu, dia pamit, katanya mau jualin Koran-korannya lagi. Namun, saat keluar komplek ini, truk besar menabraknya yang sedang melamun saat dia mengayuh sepeda. Hingga ia menjadi hancur berkeping kep,”
“Cukup bi! Aku nggak mau denger lagi. Cukup!” kataku keras dan menutup telingaku. Apakah yang bi Inah katakan adalah kenyataan? Apa benar Tyas…..
            Dengan sendu yang menggebu gebu, aku keluar rumah dan mengambil sepedaku. Ketika tengah mengayuh sepeda, aku melihat dengan jelas menggunakan mata kepala ku sendiri, orang-orang tengah berlarian kea rah depan komplek. Aku tak mau ini semua terjadi. Aku harap penglihatan Bi Inah tak normal. Dan sebenarnya yang tertabrak adalah orang lain. Bukan Tyas
            Namun, setelahnya sampai di depan komplek, aku melihat para warga tengah bergerumul. Dan aku tak bisa melihat jelas siapa yang tengah mereka gerumpuli. Aku mendorong mereka untuk mundur agar aku bisa melihat siapa yang ada di sana. Dan aku harap, bukan Tyas.
            Namun, aku mencelos. Ketika melihat sepeda yang aku kenal terguling di sana. Di samping seseorang yang keadaannya tak bisa aku jelaskan sama sekali. Karena aku tak tahan dan benar-benar tak berani mengatakannya. Aku mendekati korban itu. Menatap matanya dengan mataku yang sudah bergumpal mutiara perak. Air mata ku tak tertahankan lagi. Aku memeluknya. Tak peduli darah darah yang melekat ke tubuhku. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap ke arahku. Aku hanya ingin, orang yang tengah aku peluk ini, akan kembali hidup dan ia selalu ada di dekatku. Hanya itu Tuhan. Apa aku bersalah?
            “Tyas,” panggilku lirih kepadanya. Namun,ia tak kunjung bereaksi. Tuhan, tolong, aku mohon, walau hanya untuk beberapa saat, hidupkanlah kembali sahabatku. Sadarkan dia. Aku hanya ingin menatap matanya untuk yang terakhir kali. Mata indah yang selalu menyuguhkan kebahagiaan kepadaku. Mata indah yang dengannya aku bisa melihat dunia yang sebenarnya. Aku mohon Tuhan untuk kali ini saja, jabahlah doaku. Aku tak akan sanggup untuk melihatnya seperti ini.
            “Tyas bangun! Aku minta maaf Tyas. Yas, ayo bangun! Aku sayang sama kamu. Maaf yas maaf. Aku bener bener minta maaf dan aku tahu kalau sikap aku keterlaluan sama kamu. Yas, kamu kan udah janji, kalau kita bakal nunggu Alvan bersama-sama. Untuk 4 tahun mendatang kan yas? Ayo yas, bangun.” Aku mengguncang tubuhnya yang mengeluarkan begitu banyak darah. Aku menangis dan tersedu begitu dahsyat. Tubuhku bergetar keras. Tak ada yang aku pedulikan sekarang, dibanding kesadaran Tyas.
            Mungkin ini keajaiban atau anugerah dari Tuhan. Perlahan,Tyas membuka matanya dan tersenyum ke arahku. Meski tatapan itu begitu letih, namun, dengan bergairah aku terus menatapnya. “Kamu nggak salah nad. Maaf ya.” Bisiknya kecil. Sahabatku ini, adalah sahabat yang paling hebat di dunia. Bahkan, saat maut tengah meregang nyawanya, dia pun masih bersikap seperti ini. Aku rela menukar apapun, agar dia tetap berada di sampingku. “Tyas jangan pergi,yas. Aku nggak mau ini terjadi. Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu.”. “Maaf nad, mungkin ini harus terjadi. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal kamu untuk tunggu Alvan selama 4 tahun lagi?” ia terus mengumbar senyum di depanku. Dan aku tak sampai hati melihatnya. Aku sudah memarahinya. Ini semua karena aku. Kecelakaan ini nggak akan pernah terjadi jika aku tak memarahinya. Ini semua tak akan pernah terjadi.
            “Kamu tahu,nad (Tyas menyeringai kecil), aku lebih pilih mati kalau kamu bisa bersikap baik lagi sama aku. Aku senang ini terjadi. Karena dengan ini, aku melihat ketulusan sahabatku ada di sini. Dan sinar ketulusan itu akan menjadi penerang untuk menuntun hidupku di masa yang lain.” Tolong Tyas hentikan! Hentikan semua yang kau katakan! Aku tak tahan. Sama sekali tak tahan. Aku ingin melaknat semua kejadian ini. Aku ingin meminta kepada Tuhan semuanya kembali. Aku belum cukup siap untuk sendiri,yas. Belum.
            “Aku pamit ya,Nad.” Dengan satu tarikan nafas, segala anganku sirna. Angan untuk menghadapi dunia bersama. Karena kini, kata ‘bersama’ tak akan pernah ada lagi. Yang ada hanya aku sendiri. Sendiri dan akan tetap sendiri. Aku menutup mataku. Mencoba menetralisir segalanya yang terjadi secepat lorong waktu membawanya. Sebenarnya dunia ini apa sih? Mengapa ia mengambil orang yang kita sayangi? Mengapa?
            Sesuatu tergeletak tak jauh dari sana. Bungkusan merah muda dengan pita emas. Aku mengambil bungkusan itu. Memeluknya erat. Seperti ingin memeluk pembuatnya. Yang kini sudah tak bernyawa. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar ingin menghukum diriku sendiri.
“Selamat jalan,yas. Walau aku nggak tahu, setelah saat ini, siapa lagi yang bakal nemenin aku bersepeda.” Batinku sambil menatap langit biru dengan mata sembab ku.
Apakah Engkau sedang melaknatku Tuhan?
Apakah Engkau benci padaku?
Hingga sesuatu paling berharga dalam hidupku pun telah kau ambil
Siapa lagi setelah ini Tuhan?
Aku tak sanggup jika harus merasakan kepedihan yang sama
Satu yang kau ambil, segudang kepiluan yang membara.
***
            Aku terduduk lesu sambil terus mendekap Tape kecil hitam. aku masih terus merutuki diriku. Aku yang sudah salah besar. Aku yang sudah tega melakukan hal sekejam itu kepada orang yang berhati mulia seperti dia. Aku yang harusnya tertabrak truk itu, dia sama sekali tak pantas untuk mendapatkan kecaman itu.
            Aku kini betul-betul merasa sepi dan sendiri. Aku pun tak pernah tahu bagaimana kabar sahabatku yang satunya. Ia tak pernah mengabarkan suatu hal apapun. Terkadang, aku merasa khawatir. Apa yang sedang terjadi kepadanya? Aku tak ingin dia mengalami hal yang sama seperti wanita mulia itu. Dan aku, telah melewati masa-masa –dimana aku seharusnya melakukan itu bersama Tyas- menanti 4 tahun mendatang. Semua itu telah aku lewati dengan setegar mungkin. Namun, dalam setapak jalan, aku hanya bisa menangis. Hingga tanah yang aku jejaki terkena genangannya. Dan sebetulnya, aku masih bisa bersyukur. Karena aku masih bisa terus melangkah, walau orang normal melangkah dalam tiga langkah sekalipun, dan aku hanya mampu berjalan setengah langkah, aku tetap bahagia. Padahal, bagiku, boro-boro untuk melangkah menapaki jalan-jalan di depan yang suram. Berdiri saja aku sangsi dan sangat lemah dan letih. Karena air mata yang aku keluarkan entah telah berapa mil selama beberapa tahun ini.
            Kalian mungkin tak tahu, apa yang aku lakukan untuk menghukum diriku. Kalian mungkin tak akan tahu apa yang setiap harinya aku perbuat. tape kecil hitam pemberian Tyas, tak pernah aku putar. Aku tak tahu apa yang ada dalam tape kecil itu. Dan aku hanya menggunakannya, untuk memukul mukul dahiku hingga akhirnya terbentuklah bekas luka di dahiku. Aku selalu melakukan itu kala aku  teringat Tyas. Mungkin ini suatu hal yang bodoh. Mungkin ini tak masuk akal. Mungkin ini tak setimpal dengan nyawa Tyas. Mungkin ini belum cukup untuk menghukum diri. Namun, setelah aku mendapati bekas luka tepat di mana aku selalu memukul dahiku, aku merasa cukup puas. Tapi entah karena kekuatan magis atau apa, setiap teringat Tyas, luka itu selalu sakit. Menusuk-nusukku. Hingga aku merasa tersiksa sekali. Mungkin, ini cara yang benar. Mungkin Tyas akan senang dengan aku menghukum diri seperti ini. Dan di kala luka itu terasa sakit, aku kembali memukulkan tape kecil hitam hingga akhirnya, nyeri nya pun hilang.
            Dan sama seperti saat ini, luka itu kembali terasa nyeri. Dengann segera, aku memukul-mukulkan lagi tape kecil hitam ke dahiku. Aku merasa pusing akan pukulanku sendiri. Aku menatap puas ke arah gundukkan tanah yang tepat berada di depanku. Di sana, sebuah papan dengan ukiran nama Tyas terpampang. Aku tersenyum bangga kepadanya. “Aku senang ngelakuin ini selama 4 tahun,yas. Dengan ini membuat aku bertahan.”
            “Bodoh.” Sebuah suara dingin menyapa gendang telingaku. Aku tercekat. Meneliti lebih jauh lagi suara yang aku kenal. Ya..ini tak salah, sama sekali tak salah lagi. Itu suara dia. Orang yang telah aku tunggu kehadirannya selama ini. “Tyas nggak mungkin seneng dengan apa yang kamu lakuin.” Apakah selama di luar sana, dia diajari sopan santun? Hingga bisa selembut ini. aku masih menatap lurus kea rah gundukan tanah di depanku.
            “Dan mulai sekarang, jangan lagi hukum diri kamu sendiri seperti ini.” aku berbalik. Mendapati dirinya yang tengah tersenyum ke arahku. Aku bangkit berdiri. Namun, tak bergerak lagi. Aku dan dia sama sama terdiam. Aku benar-benar tak menyangka dia kembali tepat pada waktunya. Dia kembali, setelah aku pikir ada yang tak beres dengannya. Dia kembali dengan keadaan yang tak tergores sedikit pun. Dia kembali –dan aku mengakuinya- dengan lebih tampan dari sebelumnya.
            Aku benar-benar merindukkan dia. Dia yang semula terasa begitu jauh, dan kini menjadi nyata. Berdiri di depanku dengan menggunakan kaus putih. Rasa rindu ini terus bergemuruh. Dia yang tersisa yang aku miliki ketika yang lain telah pergi. Kaki ku membawaku, ke arahnya. Aku berlari kepadanya, memeluknya seerat mungkin. Dan tak ingin kehilangannya. Dia kaget melihat gerakkan ku yang mendadak. Namun, dia tersenyum kepadaku. Dan mengusap usap rambutku. Aku pun balas tersenyum kepadanya.
“Ini salah aku,” kataku memulai.
“Bukan, ini kecelakaan.” Balasnya.
“Tapi karena aku,”
“Aku tahu. Mama kamu udah cerita.”
“Maaf,”
“Nggak ada yang perlu di salahkan.”
“Tapi, karena aku, yang tadinya ‘kami’, hanya berarti menjadi kita. Cuma kita. Gara-gara aku, Tyas harus pergi tanpa pamit sedikit pun sama kamu. Gara-gara aku, pertemuan di taman itu, jadi pertemuan terakhir kalian. Dan gara-gara aku, kamu kehilangan cinta pertama kamu.” Kataku lirih.
“Apa kamu masih belum ngerti?”
“Aku tahu, dan Tyas udah ngasih tahu. Tapi, aku pikir itu terlalu aneh untuk dijadikan sebuah kenyataan. Itu aneh kalau kamu, kalau kamu,”
“Kalau aku sayang sama kamu?” balasnya dengan menatap mataku dalam. Aku menunduk, menyembunyikan gurat kemerahan yang mulai terpeta. “Apa kamu sama sekali nggak percaya?” Tanya Alvan dan memegang erat kedua pundakku. “Tatap aku,nad.” Paksanya dan mengangkat daguku. Aku menelan ludah. Aku tak tahu ini apa maksudnya. Alvan kerasukan apa?
“Aku udah janji sama Tyas. Aku janji setelah kepulangan aku ke sini, aku bakal ngungkapin ini ke kamu. Di depan Tyas. Dan terbukti, aku udah nepatin janjinya Tyas.” Kata Alvan sungguh-sungguh.
“Ngungkapin apa?” kataku berpura.
“Nadiaa mohon banget deh, nad! Kali iniii aja bantuin gueee.” Wajah Alvan memelas.
“Hah? Bantuin apa sih?”
“Jadi mau terima apa nggak?” ini orang kenapa sih. Perkataannya meracau banget. Nggak masuk akal.
“Terima apanyaaa? Kalau ngomong yang bener napa sih? Kayak alien bahasanya.”
“Sumpah nyebelin banget sih,nad. Oke, nad, aku suka sama kamu, jadi gimana?” katanya dengan satu tarikan nafas.
“mau ngomong apa balap lari?”
“Kentut,nad.” Aku hanya menahan geli mendengar perkatannya. “Nadia please.” Katanya memohon lagi. Dan dia merendahkan diri di hadapanku. Dengan memasang tampang memelas dan ekspresi yang menggelikan.
“Apaan sih van? Gak jelas banget tingkahnya.” Kataku sinis.
“Oke deh oke. Aku ngerti kok. Kamu kan sama sekali nggak punya perasaann yang sama. Kasihan banget deh aku yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau nggak diterima gapapa kan, nad? Yang penting aku udah nepatin janji aku untuk ngungkapin semua ini ke dia. Tapi, dianya aja ngeselin banget.” Kata Alvan berbicara kepada nisan Tyas.
“Cie yang curhat. Iya deh iyaaaa, aku terima kok.” Kataku dengan seringaian jahil. Tapi Alvan tak berekpresi apa-apa. Dia hanya tersenyum sendiri mendengar ucapanku. “Heh, kok diem aja sih?” protesku. “Nggak seneng? Bukannya loncat-loncat kek apa kek peluk aku kek. Ini nggak ada responnya sama sekali. Cuma gitu doang? Beuh, tahu gitu nggak aku terima aja kali.” Decakku kesal.
“Wah nggak ikhlas. Tapi, kalau pengen dipeluk gapapa kok (“Dih genit” kataku). Lagian, aku udah tahu dari Tyas kamu bakalan bilang apa. Tyas udah bilang dulu, kalau kamu juga punya rasa yang setimpal. Jadi, ya, kenapa harus kaget?” dia tertawa melihat ekspresi ku.
“Ahhh siaall” teriakku kencang. Alvan terus saja tertawa, sampai-sampai aku, ia abaikan begitu saja. Tapi tiba-tiba, ia bangkit berdiri dan menatap wajahku lekat. Namun tatapannya terarah ke bekas luka di dahiku.
“Harusnya aku hukum Tyas.” Katanya sambil meraba luka itu.
“Loh kenapa?” kataku kaget
“Tyas udah janji, kalau aku pulang nanti, kamu dalam keadaan baik dan nggak lecet sedikit pun. Tapi nyatanya, nih ada bopeng di dahi kamu. Tapi, tetep manis kok. Nadia Natural Aurora Saputri, nama terindah yang pernah aku dengar.” Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya yang nggak jelas sama sekali. Setelah itu, kami duduk bersama di depan makam Tyas sebagai saksinya. Dan tertawa bahagia atas rintangan Tuhan yang telah kami lewati.

Hai Nad,
Aku sama Alvan minta maaf ya sama kamu
Aku tahu kalau kamu marah besar
Tapi, aku nggak mau sampai persahabatan kita hancur
Kamu tahu Nad?
Sesuatu yang paling berharga bagi aku, adalah kamu
Kamu itu bagai matahari
Terang dan tak pernah redup
Ceria dan tak pernah Sayup
Bersinar namun tak pernah sirna.
Aku selalu ingin berada di dekat kamu,nad
Kalau aku udah ke surga nanti dan ternyata kamu masih marah,
Aku cuman mohon maaf sama kamu
Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba ingin bikin rekaman ini
Aku punya sebuah firasat yang aku pun tak mengerti nad
Aku nggak mau persahabatan kita terhenti sampai di sini
Alam yang berbeda tak menyebabkan semua nya akan terputus kan
Karena aku selalu ada di sana
Di hati kamu,
Until The Very End.
KLIK.
***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pangeran Kecil di Kota Hujan (Part 1)


Aku tersenyum bahagia mendengar keputusan yang baru saja terucap. Setelah hampir 5 tahun silam aku tidak berkunjung. Hm, aku yakin, liburan kali ini pasti akan menyenangkan sekali. Menyenangkan, seperti biasanya. Bukan, bukan karena aku akan pergi ke luar kota, tapi, karena aku akan menemuinya di sana. Di kota di mana pertemuan ku dengan pangeran kecil pertama kalinya. Kota di mana kami saling menautkan kelingking untuk berikrar.
                Scenary yang bisa aku pandangi dari dalam mobil, rasanya sejuk sekali. Aku ingin segera turun. Untuk menghirup jutaan oksigen yang tersedia tanpa harus membayarnya. Rasanya, ingin cepat ku raba butiran embun di pagi hari. Dan ingin ku endus harumnya bau hujan
*
                Aku terduduk dengan lengan memeluk lutut. Aku gemetar, tak tahu harus kemana. Seluruh tubuhku diguyur rinaian air hujan. Aku memandang ke sekeliling, dan berujar pelan dalam hati. “Tuhan, segan kah Kau bila harus ku pinta. Kali ini saja, aku benar-benar membutuhkan uluran tangan-Mu. Kirimkan aku seorang malaikat. Untuk menyelamatkan aku dari sini.”
                Bunyi gesekan semak-semak semakin membuat ku takut. Aku menutup air wajahku yang sudah pucat. Aku menangis. Aku tahu aku ini seorang gadis cengeng. Gadis remaja yang tak bisa berbuat apa-apa. Seorang gadis yang sangat mudah mengeluarkan isak tangis. Padahal aku sudah berumur 14 tahun. Namun, ketakutan itu benar-benar menghantuiku saat ini. aku terus memanggil siapapun yang terpikirkan oleh otakku saat itu. Namun, teriakan itu hanya bisa bergema dalam hati. “Mama, tante, om, siapapun, tolong aku. Apakah kalian tak ada yang menyadari ketidakhadiranku?”. Batinku lirih. Aku mendengar derap kaki mendekat. Kalian tahu? Aku ini, seorang yang penakut. Aku tak kuasa untuk melihat siapakah itu. Aku hanya bisa berharap dan berucap agar itu malaikat yang hendak menyelamatkanku. Entah halusinasi atau apa –karena mataku yang masih ku tutup dengan telapak tangan- ada seseorang yang mendekat di depanku. Dan dia menyampirkan sesuatu di tubuhku, hingga aku merasakan kehangatan. Aku mengerti sekarang, naluri berkata, nampaknya dia orang baik-baik. Dan tak mungkin sekali ada orang jahat, yang mau menyelamatkan aku dari kedinginan yang sudah di luar batas ini. akhirnya, dengan ragu, aku angkat kepalaku. Untuk mengetahui, siapa gerangan yang berada di depankuu ini.
                Walau gelap, namun aku bisa melihat, seukir senyum yang terulum di depanku. Dan aku tahu, Tuhan telah mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkanku dari semua ini. dia, laki-laki berwajah oriental dan terkesan manis, dia yang umurnya tak jauh berbeda dariku. Dan dia, yang memiliki senyum yang membuat aku hangat. “Lain kali, jangan main sendiri di sini. Di Bogor, sering hujan. Kamu pasti akan terguyur rinaian ini dan merasa dingin kalau kamu belum terbiasa. Kamu tersesat,kan? Di mana rumah kamu?”. “Cikaret.” Dan dia menuntun ku untuk kembali pulang, tempat di mana aku bernaung selama aku berlibur.
**
                Haaahh karena terbayang oleh sosoknya, tak terasa, mobil silver ini terhenti. Dan sepertinya, yang berdiri di depan itu tante ku bersama kedua sepupu kecil ku ya? Aih, sudah lama tak bertatap muka dengan mereka.
                Aku tersenyum riang menyapa mereka. Dan mereka pun begitu. Kami semua, yang jauh-jauh datang dari Solo, karena merasa lelah langsung mengistirahatkan diri di ruangan yang hangat ini. malam hari, dimana aku biasa tiba di sini. Malam yang sepi. Berbeda dengan di Solo. Jam segini, biasanya semua anak masih betah bermain dan tertawa ria. Begitupun dengan diriku. Meski aku telah menjadi wanita remaja yang umurnya sudah berbeda dengan anak-anak kecil itu. Namun, aku selalu gemar untuk bermain di malam hari.
                Aku sama sekali belum merasakan kantuk. Sepertinya, imsonia ku yang biasanya terjadi kembali menerpa. Dan kali ini benar-benar parah. Aku keluar dari kamar yang telah di sediakan oleh tanteku. Melongok ruang depan. Semuanya telah gelap. Lampu-lampu sudah dimatikan. Aku berani bertaruh, pasti semua insan di rumah ini telah terbuai dalam mimpi indah. Aku berlari kecil tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Aku ingin melihat para penghuni lazuardi langit malam ini. dan aku berharap, sesuatu yang sama, akan terjadi malam ini.
                Aku mendudukkan diri di Balkon rumah. Menatap halaman sekitar yang gelap dan menyepi. Hanya deru angin yang berbisik. Dan helain daun yang menari ke sana kemari. aku menengadah mengangkasa. Dan aku tersenyum simpul. ‘Cantik’. Batinku damai. Tapi, dewi malam nampak sendiri. Tak ada penghuni angkasa lain yang menampakkan kehadirannya. Tak ada yang menyuguhkan tawa untuknya. Sinarnya pun tak seterang biasanya. Aku tersenyum pedih melihat lakon langit itu.
*
“Oiya, makasih ya ayi yang kemarin.” Kataku tulus. “Hehe, tenang aja kok cesi,” katanya lucu. “Nama aku sesil tahu, bukan cesi.” Kataku mengoreksi. “Iyaiya, tapi boleh kan punya panggilan tersendiri. Kan biar special. Hehe. Soalnya, kamu orang pertama yang mau jadi temen aku di sini.” Katanya nyengir. “Aku juga punya panggilan tersendiri untuk kamu.” Kataku semangat dan tak mau kalah.  “Hm, Gimana kalau Pangeran kecil di kota hujan? Aihihi, lebay ya kedengerannya.” Aku terkekeh sendiri. “Cie, berarti aku pangerannya kamu gitu ces?” aku mengangguk bersemangat. “Soalnya kamu udah nyelametin aku dari guyuran hujan deras itu. Kalau nggak ada pangeran, wah, aku nggak tahu deh jadi apa. Makasih banget yaaa.” Kataku lagi lalu mencubit kedua pipi nya. “Ih, cesii!! Kamu udah berapa kali sih bilang makasih? Berjuta juta kali sih bisa jadi ya.”. “Abisnya, kamunya baik banget udah mau nolongin aku kemarin.”.
“Hm, eh, lihat deh! Ada bulan purnama! Dewi malam yang satu itu, emang cantik banget ya?” aku mengalihkan perhatianku kepada benda langit yang ia tunjuk. Memang indah, batinku kecil. “Kamu tahu cesi? Aku selalu senang kalau keluar malam hari, karena di sana, selalu ada bulan yang menjadi teman malam. Dan ada bintang yang tak pernah lepas dengan bulan. Bulan indah dan terang, walaupun sinarnya tak seterang venus yang disebut bintang kejora. Tapi, bulan purnama itu selalu bikin hati aku bersinar.” Katanya menerawang. “Emang kenapa?” tanyaku sambil menatapnya. Namun, nampaknya laki-laki di depanku ini, fokusnya sedang teralih kepada angkasa. “Bulan itu cantik. Sebelumnya, aku menyukai bulan, karena bulan mengingatkan aku pada sosok teman kecil ku yang udah 3 tahun pergi. Dan kemarin, saat bulan muncul, aku bertemu dengan kamu cesi. Peri kecil yang cantik.” Aku tersenyum malu mendengar perkataannya. “Dan aku harus berterima kasih pada bintang, karena, rasi-rasi bintang itu yang menjadi saksi pertemuan kita. Kamu tahu? Semenjak kemarin, dan aku menatap langit, aku menganggap, bulan itu adalah kamu. Dan saat itu, aku merasa damai.” Katanya tersenyum kecil kearahku. “Kamu lihat di sana,” katanya sambil menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku mengikuti arah yang ia tunjuki. “Disana, tepat di samping bulan, ada bintang yang bersinar. Hanya ada sebuah bintang. Bintang itu, terpisah dari yang lain. Terpisah dari kawanannya.  Karena ia merasa, rupanya tidak semenawan teman-temannya. Ia lebih memilih untuk sendiri. Dan mala mini, bulan muncul lagi. menjadi kawannya bersanding setiap malam. Membuatnya lebih bersinar lagi.” aku terus menunggu apa yang akan ia ucapkan kemudian. “Itu hanya analogi, bulan itu kamu. Dan bintang itu aku. Aku yang sekarang sudah menemukan kamu. Jadi, di mana ada bulan dan di sampingnya ada bintang, tandanya kita akan terus bersama. Aku harap, hingga dewasa nanti. Kamu, mau kan jadi temen aku dan nggak ngebiarin aku sendiri lagi?” tanyanya sambil menatap tepat di kedua bening mataku. “Iya pangeran .”. “Kamu janji peri kecil?” aku mengangguk mantap. Dan kedua kelingking kami bertautan sebagai symbol akan semua yang telah kami ikrarkan.
**
Aku pun berharap begitu
Tapi kenyataannya dunia tak berpihak
Karena bagaimanapun aku tak akan selamanya di sini
Mungkin itu akan terjadi padamu kelak
**
                Langit, mengapa malam ini kau begitu kelam? Tanpa teman dan kawan. Tak adakah yang menyuguhkan kegairahan untukmu? Entah mengapa, itu menyiratkan isi hatiku. Aku yang sendiri dan kesepian malam ini. aku yang tak berkawan. Aku yang hanya bisa berdiam sambil melongok jejak jejak masa lalu yang pernah terpatri sebagai serpihan dari kisahku.
“Itu aku Ayi, bulan yang sendiri.                Tak berkawan. Dan tepatnya, nggak ada bintang yang menemaniku. Sekarang kita layaknya berubah posisi. Apa kamu marah sama aku? Karena ku buat kau menanti selama lima tahun? Aku tahu itu waktu yang tak singkat. Ternyata, bentangan jarak telah menghalau segalanya.” Kataku lirih. “Aku pikir, kamu akan menepati janji  kamu untuk selalu menunggu aku. Tapi, sekarang? Huft.” Aku menghela nafas berat. Dan tak terasa, selaput tipis telah terbentuk di kedua mataku. Dan dengan ringan, riak-riak kecil itu menyusuri jalannya.
                Ada bintang jatuh. Itu pun tiba-tiba ku lihat. Aku segera berucap dalam hati, ‘Tuhan aku rindu akan kehadiran sosok pangeran kecilku. Tolong pertemukan aku dengannya Tuhan.’. tapi, semua itu sudah terlanjur. Jarak yang aku tempuh dari Solo-Bogor sungguh sia-sia. Segalanya yang telah terbayang ternyata tak dapat menjadi nyata.
*
                “Kamu mau nanya apa sil?” aku menunduk mencoba menguatkan diriku. Berkali-kali aku menghirup nafas, agar itu bisa menjadi pendorong akan terungkapnya pertanyaanku yang sudah terlintas semenjak aku tiba di sini. Tapi lidahku kelu. Mengapa aku tak berani –dan tak seperti biasanya- untuk bertanya. Dan aku menyadari, ada sebuah ketakutan –yang selalu berusaha aku tepis- di sana. “Tante, kenal kan sama semua penduduk di sini?” kataku dengan volume suara yang sangat kecil. “Tante masih ingat waktu aku tersesat di pesawahan dulu?” Tante Suci mengangguk mendengar perkataanku. “Dan, tante ingat siapa  yang,” tiba-tiba kata kata ku terhenti. Tak bisa dilanjutkan. Ada yang tersangkut di tenggorokanku. Hingga membuatku sulit berujar. Dan perasaan takut semakin mengontrol diriku saat aku melihat perubahan air wajah tante Suci.
                “Ayi pindah rumah sil.” Empat kata yang keluar dari mulut Tante Suci bagaikan bongkahan batu besar bagiku. Menghantamku, dan membuat dadaku tiba-tiba sesak. “Tante sudah menduga kamu pasti akan bertanya soal itu. Dan maaf sil tante nggak pernah bilang sama kamu. Mama kamu sering cerita via telepon. Tante miris mendengar kelakuan kamu setiap malam di Solo. Yang katanya, kamu selalu ke luar rumah, duduk di balkon, dan termenung. Tante tak sampai hati sil menyampaikan ini sama kamu. Tante nggak bisa bayangin gimana reaksi kamu waktu mendengar kabar ini.” tante Suci memelukku dan membelai lembut rambut ku. Aku masih bergeming tak percaya mendengar segalanya ini.
                Aku tak kuasa menahan butiran air mata ku yang sudah memberontak. Dalam pelukan Tante Suci, aku terisak kecil. “Pindah kemana?” tanyaku –yang sudah tak mampu untuk berujar apapun lagi- dengan singkat. “Tante gak tahu. Soalnya, kabar keberangkatan keluarga Ayi saat itu sangat mendadak. Dan tante tak sempat bertanya lebih lanjut lagi. Ayi bilang, ia titip pesan untuk kamu.” Tante Suci menghela nafas untuk ancang-ancang. “Peri kecil, jangan sedih kalau nanti bulan sudah tak berkawan. Tapi, bintang akan selalu awasin walau dari jarak yang tak terhitung.” Kata Tante Suci menirukan kata-kata yang diucapkan Ayi untuk disampaikan kepadaku. Aku tahu, tante mungkin kurang mengerti dengan perkataan Ayi itu. Tapi, aku? Aku benar-benar tahu. Dan sulur sulur kesedihan itu semakin menjalar, hingga membuat semua organ ku mati rasa.
Kenyataan yang paling sesak yang harus dihadapi adalah
Saat kau tahu sesuatu yang berharga telah menghilang dari hadapanmu.

**
                “Ma, sesil mau pulang.” Kataku lirih keesokan paginya. Mama menatapku heran. Aku terus menunduk, menyembunyikan gurat kesedihan yang mulai tersirat dalam air wajahku. “Sesil nggak betah di sini, ma. Sesil kangen rumah. Kangen teman-teman.” Aku terus menahan ucapanku agar tak bergetar. Aku menggigit bibirku kencang. Menahan segala isakan yang mungkin akan terdengar. “Tapi, kita baru tiba kemarin, sayang. Perjalanannya kan butuh waktu tempuh yang panjang.” mama mendelik menatapku.
                Apa mama sama sekali nggak ngerti? Apa mama tak mau ambil pusing untuk menyelami perasaan ku saat ini. aku pikir mama akan paham tanpa aku harus menjabarkannya. Aku tak sanggup ma. Aku tak ingin membicarakan ini lebih lanjut lagi.
                “Kamu tahu sesuatu sayang?” aku menghela nafas mendengar perkataan mama. Yang sudah aku mengerti menjurus kemana. Aku mengangguk lemah dan tersenyum hambar, penuh kehampaan. “Kamu rindu Ayi?” tiga kata yang sangat menggambarkan segalanya. Segalanya yang penuh makna. Segalanya yang membuat pilar kerapuhan diri semakin terpeta. Iya ma! Mama benar dan sangat tepat! AKU RINDU AYI. Pangeran kecil di kota hujan. Aku benar-benar rindu padanya,ma. Mengapa setelah lima tahun tak bersua dan aku harus mendapati kabar yang menyesakkan ini. mengapa? Tak ada kah yang peduli dan mengerti akan perasaan ku yang sesungguhnya? Mengapa dari awal tak jujur saja padaku. Mungkin, tak akan sesakit ini rasanya.
                Mama mengusap rambutku halus. Aku tahu mama melihatnya. Melihat air mataku yang tengah menganak pinang. Melihat gurat kepedihan yang tercermin dalam riak-riak kecil itu. aku beringsut terkulai lemah di pelukan mama. Semuanya terasa damai dan tentram. Perasaan ku sedikit lebih baik
*
                “Cesi kenapa? Kok nangis?” suara kecil nya menyadarkanku dari lamunan ku. Aku menggeleng kecil menanggapi perkataannya. “Iya deh, nggak mau cerita sama akunya.” Dia menggelembungkan pipinya. Aku tertawa melihatnya. Hingga aliran bening itu pun perlahan mulai terhenti mengalir. “Nah gitu dong! Aku seneng kalau lihat cessi senyum. Alhamdulillah yah, sesuatu banget gitu.” Ayi tersenyum lebar melihat tatapan geliku.
                “Cessi tahu, sebelumnya, aku belum pernah lihat cessi loh. Padahal aku sering main ke sini. Dan untungnya, Cessi jadi penghuni baru di komplek ini. akunya kan jadi nggak kesepian lagi.” penghuni baru? Haahh, mana mungkin. Aku kembali menunduk. “Loh, akunya salah ya sama Cessi? Kok Cessi jadi sedih gitu?” aku terus terdiam dan sama sekali tak menghiraukan apa yang ia katakana. Ayi memiringkan wajahnya. Mendekatkannya ke depan wajahku. Dia terus menilik figurku. Lama-lama, aku menjadi resah dibuatnya.
                “Apa sih kamu ngeliatin akunya gitu banget?” kataku lemah. “Hari ini cessi nggak seru ah. Akunya dikacangin terus.” Ayi menatap risau kearahku. Aku hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu sendu untuk mewakili kenyataan yang tak ingin aku harapkan datang menghampiri. Aku mendengar desahan kecil yang terhembus dari bibir mungil Ayi. Sepertinya, ia sudah mulai jerah menghadapiku dan berusaha memancing celotehanku. Aku tak tega jika harus terus mendiamkannya seperti ini. tapi, aku pun tak sanggup untuk berujar lebih lanjut lagi dengannya.
                “Aku boleh nanya?” kataku singkat. Namun, pertanyaan ini –sepertinya- adalah sesuatu yang berharga bagi Ayi. Karena raut wajahnya berubah menjadi sangat bergairah. Dengan lucu, ia mengangguk-anggukan kepalanya. “Silahkan Putri Cantik.” Katanya sambil berseri. Ah, sudahlah Ayi. Jangan bertingkah terus seperti ini. aku tak sampai hati sebenarnya untuk menyampaikan sesuatu ini. “Aku ingin menanyakan tiga hal sama kamu.” Dia mengernyit. Aku menunduk dalam, tak ingin menatap kedua bola matanya.
                “Kalau akhirnya, matahari itu tak memancarkan sebuah sinar untuk di suguhkan kepada para insane peribumi lagi, apakah masih ada sebuah kehidupan di sana? Jika  akhirnya sinar matahari telah sirna, apakah langit masih sanggup untuk memberi efek ketenangan kepada seluruh penghuni alam? Bila akhirnya matahari benar-benar mengucapkan sebuah salam perpisahan karena ia tak bisa lagi menjadi penghuni angkasa, apakah kawanan burung pun masih dengan riang mengepakkan sayapnya?” aku mengangkat wajahku perlahan. Tak sanggup bila harus menatap wajah Ayi. Sebetulnya, aku tak tega. Aku tak bisa untuk mengungkapkan hal yang ingin aku sampaikan itu secara langsung. Aku betul-betul tak siap melihat bagaimana reaksi yang Ayi pertunjukkan. Namun, aku heran. Melihatnya yang tengah tersenyum menatapku. Sebuah senyuman kecil, yang terselip berbagai makna di sana.
                “Kalau matahari tak memancarkan lagi sinarnya untuk para insan peribumi, aku yakin, masih ada kehidupan di sana. Karena, ketika sinar matahari tak lagi bersinar, itu pertanda malam telah siap untuk menggantikan tahtanya. Dan di sana, di langit malam. Juga ada beberapa penghuni, yang aku yakin di senangi oleh banyak insan peribumi. Mereka menemukan ketenangan di sana. Di malam hari. Seperti aku yang selalu menyukai datangnya malam.” Aku tersenyum pedih mendengar jawabnya. Akankah ia mengerti maksud dari pertanyaan ku itu?
                “Jika sinar matahari telah sirna, apakah langit masih sanggup untuk memberi efek ketenangan kepada seluruh penghuni alam? Langit memberikan ketenangan bukan hanya karena sebuah alasan. Dan sebuah sinar matahari saja tak bisa dijadikan alasan. Aku tahu, sinar matahari memang sangat dominan dalam segalanya. Namun, bagi aku, sinar matahari itu bukan segalanya. Dan aku yakin, langit akan berusaha, berusaha semampunya, berusaha sebisanya, menciptakan romansa keharmonisan itu, untuk di suguhkan kepada para penghuni alam, walau tanpa teman yang sangat berperan penting dalam arti kehadirannya.” Ayi, kata-kata yang baru saja engkau lontarkan, sesungguhnya benar-benar membius segalanya. Segala organ maupun system organ yang tengah berkontraksi dan menjalankan peranannya menjadi beku hanya karena sebuah kalimat yang engkau lontarkan.
                “Dan bila matahari benar-benar mengucapkan sebuah salam perpisahan, aku nggak tahu harus menjawabnya dengan apa.” Ayi tertunduk lesu. “Ces, aku mengerti sekarang. Mengerti akan apa yang mau kamu pertanyakan. Aku paham maksud dari semua analogi itu. dan, apabila matahari itu benar-benar pergi, mungkin, itu adalah racun terpahit yang akan aku cicipi di dunia ini. walau hanya satu kali aku menyicipinya, namun, itu akan menjadi hal yang paling krusial dan berpengaruh bagi segalanya.” Aku melihat gurat kesedihan itu terpeta jelas di air wajah Ayi. Ia lelaki, ia berusaha tegar. Walau air matanya tak mengalir. Tak seperti aku yang begitu rapuh saat ini. rapuh untuk menghadapi sesuatu yang datang esok hari. Tetapi, perasaan itu tak bisa tersembunyi. Dan aku bisa menemukannya pada wajah Ayi saat ini.
                “cessi, If you let me to make a wish, I don’t want something happen for me and for you. I wanna you to stay here. With me. Become My Bestiest. And we’ll be happy. Don’t go,please. I need you, Purnamaku.” Akhirnya, air mata itu luruh juga. Aku tak bisa membendungnya lebih lama lagi. aku tak bisa terus menahan gejolak buliran air yang terus memberontak. Perkataan Ayi yang telah memancingnya keluar dan seperti yang telah ku duga, butiran itu tak bisa dihentikan secepat mungkin.
                “Bilang sama aku ces, kamu kenapa?” Tanya Ayi dengan lembut. Mata indahnya, menatap tepat di kedua pusat kerapuhanku. Aku menunduk. Aku tak mampu lagi jika terus menatapnya. Aku tak sanggup, sungguh. “Ayi, besok aku bakalan pergi ke S…” . “Ahaha, mau nipu aku ya kamunya ciee. Aku tadi denger kok dari tante Suci, besok kamu mau ke Supermarket kan? Jangan lupa oleh..”. “Solo.” Ayi menghentikan senyumannya mendengar kelanjutan dari ucapanku.

**
Creater
"S"

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS