Tau tidak ? aku benar benar benci hari ini. Hari yang sungguh menyebalkan yang pernah aku alami. Hari yang membuat seluruh hatiku berawan kelabu. Dari tadi pagi, semua orang di kelas sudah buat aku kesal setengah mati. Yaaa memang tidak semuanya, tapi yang paling mendominasi ‘keruhnya hari hariku’ itu, adalah “S”. gara gara dia,kesal sekali rasanya. Masa iya,dia tidak menepati janji. Sungguh janji yang palsu. Kemarin malam, dia membuat janji denganku dan teman teman sekelompok drama ku yang lainnya. Tapi sungguh, dia benar benar menjengkelkan. Bilangnya, mau ngirim lewat pesan fb tentang naskah drama bahasa inggris. Tapi, tak kunjung ada pemberitahuan di pesan fb ku. Aku benar benar sebal dengannya. Dari pagi, aku cuekin dia. Bodo amat ah ! walau pun anggota kelompok drama ku yang lain tidak berbuat begitu. Terlihat begitu jelas bahwa aku sedang kesal padanya. Beberapa kali dia mengajakku bicara. Ah tapi…peduli apa ? aku sungguh tak peduli. Dan aku terus menyindir nyindirnya. Namun, dengan cara yang tidak langsung .
“Eh,emang kalian udah hapal belum sama drama nya ?” tanyaku pada teman teman yang lain.
“Ya…belum lah emang kapan coba mau ngapalinnya ?” jawab salah satu diantara mereka.
“Noh.kalian tahu kan ? kita belum hapal . mana bisa kita menghapal ini semua dengan waktu yang sebegitu singkat ?” tanyaku, ada nada tajam menyindir di sana.
“Ya..semoga aja kita ga akan tampil hari ini.” Jawab yang lain santai sementara raut wajahnya juga menggambarkan kecemasan.
“Ya itu kan Cuma bisa berharap.” Kataku lagi dengan memutar bola mata.
“Kan mungkin aja,kita bisa minta waktu sama Mrs kali,syif. Nggak gitu juga kali.” Kata si ‘terdakwa’
“Yaudah lah Ter-se-rah. Emangnya aku pikirin gitu ? bodo ah.” Jawabku –sedikit- tidak sopan -dengan gaya bicara yang masih menajam- lalu berlalu keluar tanpa mempedulikan apa apa lagi.
Tiba-tiba, guru PLH masuk kelas. Aku langsung duduk di tempatku. Huh…ingin rasanya aku pulang ke rumah saat itu juga. Karena entah mengapa,semenjak tadi pagi, suasana hatiku sudah tak enak. Ya Allah..harus berapa lama aku menahan hasrat ingin pulang, sedangkan ini baru jam pertama pelajaran ?
“Mana tugas kalian ?” begitu yang dikatakan guru PLH,kala ia memasuki kelas. Lalu ia berjalan menyusuri setiap meja yang –sangat tiba tiba menjadi rusuh masuk dalam kelompok- mulai megerjakan tugasnya kembali.
“sedikit lagi,pak.” Jawab salah satu anggota kelompok yang kerap ditanyai oleh guru itu.
Lalu,guru PLH itu, mendekat ke arah kelompok ku. “Udah ?” tanyanya dengan wajah datar.
“udah dong,pak.” Jawab salah satu teman sekelompokku.
“Mana sini bapak liat ?” beliau mengambil kertas kelompok kami.
“Ini ada yang kurang nih. Harusnya ada dampak positifnya. Ayo tambahin.” Guru itu –mengembalikan tugas kami kepada kami dan- kembali berlalu ke meja meja lain yang masih berhara huru mengerjakan kembali tugasnya
“ih…jadi gimana dong ?” teman ku yang sedikit kesal,mengeluh.
“Tahu tuh ih. Padahal kita udah susah nyari nyari ya.” Aku merenggut.
“males ah..” kata yang lainnya.
“Yaudah lah, mau gimana lagi coba ? mending kita kerjain aja dari pada gak dapet nilai.” Aku pasrah.
Setelah beberapa menit berkutat dengan –melengkapi- tugas kami, Pak Guru itu kembali mendatangi meja kami.
“ Mana ? udah belum ?” katanya.
“Ini udah pak.” Jawabku sambil mengangsurkan kertas itu. Beliau menerimanya, dan berlalu begitu saja. Huh…spele sekali mungkin dipikirannya. Hanya menerima tugas itu dan pergi begitu saja.
Setelah itu, kami bercakap ria. Membicarakan apa pun yang ada di pikiran kami. Bahkan sesuatu yang tidak –begitu- penting. Tiba-tiba, seorang temanku –yang tidak satu kelompok- mengeluarkan sebuah teko kecil untuk drama bahasa inggris nanti . dia menunjukkannya dan tertawa tawa sambil membicarakan scenario dramanya. Aku tertarik dengan teko itu. Lalu aku meminjamnya dan berniat –keluar kelas lalu- mengisikan air ke dalamnya. Akhirnya, aku diantar seseorang keluar kelas. Untung saja, pak guru itu telah menghilang entah kemana. Jadi, mungkin aku akan lebih leluasa untuk melakukan kejahilan ku pada seseorang.
Melangkah ke luar kelas, dengan jejak yang begitu ringan. Dengan mimic yang lebih ceria dari pada tadi pagi. Namun,begitu terkejutnya aku ketika baru saja beberapa meter dari kelas,-saat aku melihat kea rah lapangan- aku melihatnya ! ya Tuhan… aku sungguh tak pernah menduga hal ini sebelumnya. Ini sangat diluar perkiraanku. Ini tak pernah ku bayangkan. Walau ia berjalan beberapa meter dari tempat ku berdiri, walau dia hanya dapat ku lihat dari samping saja –ketika dia melangkah dengan tas yang tersampir menuju ke kelasnya, walau aku tidak melihat ‘siapakah sebenarnya dia?’ tapi,aku bisa menebaknya. Aku bisa mengenalnya walau hanya dilihat dari samping –dan dalam jarak yang terbilang relative jauh.-, aku bisa –dengan segera- mengulas memori memori otakku yang telah 1 tahun ini merekam raut wajahnya . padahal, sudah 1 bulan lebih aku tidak pernah bertemu dengannya…
“Innalilahi…Astaghfirullah..” dua kata itu,dengan spontanitas aku ucapkan kala melihat sosok tersebut.
Teman yang tengah berjalan bersandingan –santai- denganku, dengan segera menoleh –terkejut- ke arahku kala aku melontarkan dua kalimat itu. Dia menatapku heran. Karena dia melihatku terus menatap ke arah lapangan, dia ikut mengikuti kemana arah mataku tertuju. Untungnya saja, objek yang –sekejap- tadi aku perhatikan telah menghilang. Aku menghembuskan nafas lega.
“Ada apa ?” Tanya nya masih heran.
“Hehehe nggak. Bercanda doang.” Kataku dan segera mengubah mimic kekagetanku dengan seringaian lebar. “Tadinya mau ngagetin kamu. Kamu kan orangnya suka kagetan.” Kataku menambahkan, agar dia tidak keheranan. Dan setelah itu, dia kembali melangkah dan tak membahas apa apa lagi.
Akhirnya, kami sampai ke tempat tujuan kami. Karena,kami sudah melihat di depan kami nampak sebuah kran air sedang berdiri tegak menunggu siapapun yang membutuhkannya. Teman ku itu,mengisi teko tersebut dengan air. Sementara aku, berusaha melihat lihat ke sekelilingku. Namun, entah mengapa, mataku menyusuri ke arah kelasnya. Aku terperanjat. Dan,hatiku tertohok. Aku kerap merutuki mataku –yang malah menyorot wajah itu-. Aku meneguk ludah. Mataku terpejam. Kejadian yang baru saja terjadi sepersekian detik itu, langsung menghantui pikiranku. Tuhan..mengapa aku harus melihatnya ketika dia sedang menghadap ke arah ku ? mengapa pandangannya harus bertemu –lagi- dengan kedua bening cair ku. Mengapa juga sekarang pandangan itu terus mengisi penuh pikiranku. Semua memori yang pernah terjadi dan berkaitan dengan aku dan dia kembali berkumandang.
Tatapan sinis,senyuman ramah,kebaikan hati,sikap tak acuh,seringaian lebar,kesenduan mata,semua nya tentang dia kembali berayun di setiap ruang ruang kecil otakku. Aku mendecak kesal,dan langsung mengalihkan pandangan ku. Ke arah yang lain. Apa sih maksudnya itu ? argh ! sungguh tak mengerti. Tak pernah bisa ku tebak jalan pikirannya. Tapi, siapa peduli ? pandangan dinginnya satu bulan yang lalu benar benar mematahkan hatiku. Aku kembali meneriakkan dan mengingat goresan goresan kepedihan yang pernah ia torehkan. Agar membuat perasaan ‘berbahaya’ itu kembali menyeruak. Terus berkumandang. Sisi lain hatiku terus menyuap relung jiwa yang kini –dengan tiba-tiba saja- dipenuhi ruam ruam kesenangan. Sisi lain hatiku terus menyulut sesuatu yang pernah ia lakukan hingga sakit yg kurasa. Agar relung jiwa tak terpengaruh oleh kedua mata tersebut.
Teman ku mengalihkan pandangan. Oh..ternyata dia sudah selesai mengisi air. Dan ia menepuk ku pelan. Hingga membuyarkanku dari lamunan itu. Aku sungguh bersyukur bisa mengakhirinya. Mengakhiri pikiranku yang sedang berpetualang kemana mana. Mengakhiri hatiku yang mulai –kembali- bertalu talu. Hingga akhirnya, aku berjalan dan kembali masuk ke dalam kelas. Dan berusaha sekeras hati agar tidak memberi tahu apa yang baru saja aku lihat dan aku alami. Lalu, aku akan melakukan rencana –menjahili temanku- ku dengan membasahi –baju- nya menggunakan air yang telah aku (temanku) isi.
‘Tuhan..mengapa ini harus terjadi
Saat memori yang dulu dipenuhi oleh dirinya
Saat hati yang terkuras habis karenanya
Saat kerinduan yang selalu menggebu gebu
Mulai menghapus jejaknya
Saat aku mulai berhasil menghapus dan memupuskan segalanya
Saat aku hampir berhasil menghilangkan sosoknya dalam gelapku
Saat aku selalu berusaha tidak berpikir apa pun tentangnya
Mengapa semua kembali hadir dalam waktu yang sangat singkat
Dalam itungan yang relative kilat
Mengapa perasaan berdegup itu kembali mengetuk
Padahal sebentar lagi aku akan mencapai puncak garis final
Saat aku akan mengibarkan bendera kemenangan
Dan menyatakan dengan sangat bangga bahwa aku telah berhasil menguburnya dalam dalam
Bahwa aku berhasil tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya
Bahwa aku berhasil mencetak rekor
Hahaha
Harusnya aku tertawa bangga saat mencapai garis final itu
Namun, semuanya tidak berjalan dan sangat terhambat
Hanya tinggal beberapa jengkal menuju kemenangan
Rintangan kembali hadir dan menghadang
Menjatuhkan sesongsong harapan yang telah terangkai
Menyuburkan sedikit demi sedikit –lagi- perasaan yang pernah membekas
Menjadikan semuanya tidak berjalan selaras dalam jalurnya
Oh Tuhan..
Aku akui,
Memang beberapa hari itu, aku merasakan romansa kesenduan
Karena kerinduan terus bersenandung
Karena mataku sudah terus memohon agar dipersuguhkan bayangan indah
Tapi, dengan kerja keras..
Dengan tekad kuat
Sisi lain hatiku terus menyerang
Menyakiti hati kecilku
Agar dia merasakan kembali bagaimana rasanya sedih kala itu
Bagaimana rasanya tak diacuhkan dan diabaikan
Sisi lain hatiku terus meneguhkan tugasnya yg seharusnya
Mengalahkan segala hasrat rindu
Dan akhirnya,
Selangkah lagi..
Namun, dia menyerah karena sosok itu tiba tiba saja lagi hadir tanpa permisi
Hati kecil ku bersorak ria
Karena akhirnya kemenangan jatuh ditangannya
Tapi, aku sungguh tak bisa menutupi
Kalau aku ingin menangkap bayangan itu lagi,
Walau hanya dalam sekejap dan akhirnya
Dia benar benar akan terbang dan pergi sangat jauh’
“Sekeras mungkin hati menutupi,tapi Tuhan tak bisa dibohongi. Tuhan,aku ingin melihatnya”-Nikki Murniathi
**
Regard,
-SA-







