Aku tersenyum bahagia mendengar keputusan yang baru saja terucap. Setelah hampir 5 tahun silam aku tidak berkunjung. Hm, aku yakin, liburan kali ini pasti akan menyenangkan sekali. Menyenangkan, seperti biasanya. Bukan, bukan karena aku akan pergi ke luar kota, tapi, karena aku akan menemuinya di sana. Di kota di mana pertemuan ku dengan pangeran kecil pertama kalinya. Kota di mana kami saling menautkan kelingking untuk berikrar.
Scenary yang bisa aku pandangi dari dalam mobil, rasanya sejuk sekali. Aku ingin segera turun. Untuk menghirup jutaan oksigen yang tersedia tanpa harus membayarnya. Rasanya, ingin cepat ku raba butiran embun di pagi hari. Dan ingin ku endus harumnya bau hujan
*
Aku terduduk dengan lengan memeluk lutut. Aku gemetar, tak tahu harus kemana. Seluruh tubuhku diguyur rinaian air hujan. Aku memandang ke sekeliling, dan berujar pelan dalam hati. “Tuhan, segan kah Kau bila harus ku pinta. Kali ini saja, aku benar-benar membutuhkan uluran tangan-Mu. Kirimkan aku seorang malaikat. Untuk menyelamatkan aku dari sini.”
Bunyi gesekan semak-semak semakin membuat ku takut. Aku menutup air wajahku yang sudah pucat. Aku menangis. Aku tahu aku ini seorang gadis cengeng. Gadis remaja yang tak bisa berbuat apa-apa. Seorang gadis yang sangat mudah mengeluarkan isak tangis. Padahal aku sudah berumur 14 tahun. Namun, ketakutan itu benar-benar menghantuiku saat ini. aku terus memanggil siapapun yang terpikirkan oleh otakku saat itu. Namun, teriakan itu hanya bisa bergema dalam hati. “Mama, tante, om, siapapun, tolong aku. Apakah kalian tak ada yang menyadari ketidakhadiranku?”. Batinku lirih. Aku mendengar derap kaki mendekat. Kalian tahu? Aku ini, seorang yang penakut. Aku tak kuasa untuk melihat siapakah itu. Aku hanya bisa berharap dan berucap agar itu malaikat yang hendak menyelamatkanku. Entah halusinasi atau apa –karena mataku yang masih ku tutup dengan telapak tangan- ada seseorang yang mendekat di depanku. Dan dia menyampirkan sesuatu di tubuhku, hingga aku merasakan kehangatan. Aku mengerti sekarang, naluri berkata, nampaknya dia orang baik-baik. Dan tak mungkin sekali ada orang jahat, yang mau menyelamatkan aku dari kedinginan yang sudah di luar batas ini. akhirnya, dengan ragu, aku angkat kepalaku. Untuk mengetahui, siapa gerangan yang berada di depankuu ini.
Walau gelap, namun aku bisa melihat, seukir senyum yang terulum di depanku. Dan aku tahu, Tuhan telah mengirimkan malaikat-Nya untuk menyelamatkanku dari semua ini. dia, laki-laki berwajah oriental dan terkesan manis, dia yang umurnya tak jauh berbeda dariku. Dan dia, yang memiliki senyum yang membuat aku hangat. “Lain kali, jangan main sendiri di sini. Di Bogor, sering hujan. Kamu pasti akan terguyur rinaian ini dan merasa dingin kalau kamu belum terbiasa. Kamu tersesat,kan? Di mana rumah kamu?”. “Cikaret.” Dan dia menuntun ku untuk kembali pulang, tempat di mana aku bernaung selama aku berlibur.
**
Haaahh karena terbayang oleh sosoknya, tak terasa, mobil silver ini terhenti. Dan sepertinya, yang berdiri di depan itu tante ku bersama kedua sepupu kecil ku ya? Aih, sudah lama tak bertatap muka dengan mereka.
Aku tersenyum riang menyapa mereka. Dan mereka pun begitu. Kami semua, yang jauh-jauh datang dari Solo, karena merasa lelah langsung mengistirahatkan diri di ruangan yang hangat ini. malam hari, dimana aku biasa tiba di sini. Malam yang sepi. Berbeda dengan di Solo. Jam segini, biasanya semua anak masih betah bermain dan tertawa ria. Begitupun dengan diriku. Meski aku telah menjadi wanita remaja yang umurnya sudah berbeda dengan anak-anak kecil itu. Namun, aku selalu gemar untuk bermain di malam hari.
Aku sama sekali belum merasakan kantuk. Sepertinya, imsonia ku yang biasanya terjadi kembali menerpa. Dan kali ini benar-benar parah. Aku keluar dari kamar yang telah di sediakan oleh tanteku. Melongok ruang depan. Semuanya telah gelap. Lampu-lampu sudah dimatikan. Aku berani bertaruh, pasti semua insan di rumah ini telah terbuai dalam mimpi indah. Aku berlari kecil tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Aku ingin melihat para penghuni lazuardi langit malam ini. dan aku berharap, sesuatu yang sama, akan terjadi malam ini.
Aku mendudukkan diri di Balkon rumah. Menatap halaman sekitar yang gelap dan menyepi. Hanya deru angin yang berbisik. Dan helain daun yang menari ke sana kemari. aku menengadah mengangkasa. Dan aku tersenyum simpul. ‘Cantik’. Batinku damai. Tapi, dewi malam nampak sendiri. Tak ada penghuni angkasa lain yang menampakkan kehadirannya. Tak ada yang menyuguhkan tawa untuknya. Sinarnya pun tak seterang biasanya. Aku tersenyum pedih melihat lakon langit itu.
*
“Oiya, makasih ya ayi yang kemarin.” Kataku tulus. “Hehe, tenang aja kok cesi,” katanya lucu. “Nama aku sesil tahu, bukan cesi.” Kataku mengoreksi. “Iyaiya, tapi boleh kan punya panggilan tersendiri. Kan biar special. Hehe. Soalnya, kamu orang pertama yang mau jadi temen aku di sini.” Katanya nyengir. “Aku juga punya panggilan tersendiri untuk kamu.” Kataku semangat dan tak mau kalah. “Hm, Gimana kalau Pangeran kecil di kota hujan? Aihihi, lebay ya kedengerannya.” Aku terkekeh sendiri. “Cie, berarti aku pangerannya kamu gitu ces?” aku mengangguk bersemangat. “Soalnya kamu udah nyelametin aku dari guyuran hujan deras itu. Kalau nggak ada pangeran, wah, aku nggak tahu deh jadi apa. Makasih banget yaaa.” Kataku lagi lalu mencubit kedua pipi nya. “Ih, cesii!! Kamu udah berapa kali sih bilang makasih? Berjuta juta kali sih bisa jadi ya.”. “Abisnya, kamunya baik banget udah mau nolongin aku kemarin.”.
“Hm, eh, lihat deh! Ada bulan purnama! Dewi malam yang satu itu, emang cantik banget ya?” aku mengalihkan perhatianku kepada benda langit yang ia tunjuk. Memang indah, batinku kecil. “Kamu tahu cesi? Aku selalu senang kalau keluar malam hari, karena di sana, selalu ada bulan yang menjadi teman malam. Dan ada bintang yang tak pernah lepas dengan bulan. Bulan indah dan terang, walaupun sinarnya tak seterang venus yang disebut bintang kejora. Tapi, bulan purnama itu selalu bikin hati aku bersinar.” Katanya menerawang. “Emang kenapa?” tanyaku sambil menatapnya. Namun, nampaknya laki-laki di depanku ini, fokusnya sedang teralih kepada angkasa. “Bulan itu cantik. Sebelumnya, aku menyukai bulan, karena bulan mengingatkan aku pada sosok teman kecil ku yang udah 3 tahun pergi. Dan kemarin, saat bulan muncul, aku bertemu dengan kamu cesi. Peri kecil yang cantik.” Aku tersenyum malu mendengar perkataannya. “Dan aku harus berterima kasih pada bintang, karena, rasi-rasi bintang itu yang menjadi saksi pertemuan kita. Kamu tahu? Semenjak kemarin, dan aku menatap langit, aku menganggap, bulan itu adalah kamu. Dan saat itu, aku merasa damai.” Katanya tersenyum kecil kearahku. “Kamu lihat di sana,” katanya sambil menunjukkan sesuatu kepadaku. Aku mengikuti arah yang ia tunjuki. “Disana, tepat di samping bulan, ada bintang yang bersinar. Hanya ada sebuah bintang. Bintang itu, terpisah dari yang lain. Terpisah dari kawanannya. Karena ia merasa, rupanya tidak semenawan teman-temannya. Ia lebih memilih untuk sendiri. Dan mala mini, bulan muncul lagi. menjadi kawannya bersanding setiap malam. Membuatnya lebih bersinar lagi.” aku terus menunggu apa yang akan ia ucapkan kemudian. “Itu hanya analogi, bulan itu kamu. Dan bintang itu aku. Aku yang sekarang sudah menemukan kamu. Jadi, di mana ada bulan dan di sampingnya ada bintang, tandanya kita akan terus bersama. Aku harap, hingga dewasa nanti. Kamu, mau kan jadi temen aku dan nggak ngebiarin aku sendiri lagi?” tanyanya sambil menatap tepat di kedua bening mataku. “Iya pangeran .”. “Kamu janji peri kecil?” aku mengangguk mantap. Dan kedua kelingking kami bertautan sebagai symbol akan semua yang telah kami ikrarkan.
**
Aku pun berharap begitu
Tapi kenyataannya dunia tak berpihak
Karena bagaimanapun aku tak akan selamanya di sini
Mungkin itu akan terjadi padamu kelak
**
Langit, mengapa malam ini kau begitu kelam? Tanpa teman dan kawan. Tak adakah yang menyuguhkan kegairahan untukmu? Entah mengapa, itu menyiratkan isi hatiku. Aku yang sendiri dan kesepian malam ini. aku yang tak berkawan. Aku yang hanya bisa berdiam sambil melongok jejak jejak masa lalu yang pernah terpatri sebagai serpihan dari kisahku.
“Itu aku Ayi, bulan yang sendiri. Tak berkawan. Dan tepatnya, nggak ada bintang yang menemaniku. Sekarang kita layaknya berubah posisi. Apa kamu marah sama aku? Karena ku buat kau menanti selama lima tahun? Aku tahu itu waktu yang tak singkat. Ternyata, bentangan jarak telah menghalau segalanya.” Kataku lirih. “Aku pikir, kamu akan menepati janji kamu untuk selalu menunggu aku. Tapi, sekarang? Huft.” Aku menghela nafas berat. Dan tak terasa, selaput tipis telah terbentuk di kedua mataku. Dan dengan ringan, riak-riak kecil itu menyusuri jalannya.
Ada bintang jatuh. Itu pun tiba-tiba ku lihat. Aku segera berucap dalam hati, ‘Tuhan aku rindu akan kehadiran sosok pangeran kecilku. Tolong pertemukan aku dengannya Tuhan.’. tapi, semua itu sudah terlanjur. Jarak yang aku tempuh dari Solo-Bogor sungguh sia-sia. Segalanya yang telah terbayang ternyata tak dapat menjadi nyata.
*
“Kamu mau nanya apa sil?” aku menunduk mencoba menguatkan diriku. Berkali-kali aku menghirup nafas, agar itu bisa menjadi pendorong akan terungkapnya pertanyaanku yang sudah terlintas semenjak aku tiba di sini. Tapi lidahku kelu. Mengapa aku tak berani –dan tak seperti biasanya- untuk bertanya. Dan aku menyadari, ada sebuah ketakutan –yang selalu berusaha aku tepis- di sana. “Tante, kenal kan sama semua penduduk di sini?” kataku dengan volume suara yang sangat kecil. “Tante masih ingat waktu aku tersesat di pesawahan dulu?” Tante Suci mengangguk mendengar perkataanku. “Dan, tante ingat siapa yang,” tiba-tiba kata kata ku terhenti. Tak bisa dilanjutkan. Ada yang tersangkut di tenggorokanku. Hingga membuatku sulit berujar. Dan perasaan takut semakin mengontrol diriku saat aku melihat perubahan air wajah tante Suci.
“Ayi pindah rumah sil.” Empat kata yang keluar dari mulut Tante Suci bagaikan bongkahan batu besar bagiku. Menghantamku, dan membuat dadaku tiba-tiba sesak. “Tante sudah menduga kamu pasti akan bertanya soal itu. Dan maaf sil tante nggak pernah bilang sama kamu. Mama kamu sering cerita via telepon. Tante miris mendengar kelakuan kamu setiap malam di Solo. Yang katanya, kamu selalu ke luar rumah, duduk di balkon, dan termenung. Tante tak sampai hati sil menyampaikan ini sama kamu. Tante nggak bisa bayangin gimana reaksi kamu waktu mendengar kabar ini.” tante Suci memelukku dan membelai lembut rambut ku. Aku masih bergeming tak percaya mendengar segalanya ini.
Aku tak kuasa menahan butiran air mata ku yang sudah memberontak. Dalam pelukan Tante Suci, aku terisak kecil. “Pindah kemana?” tanyaku –yang sudah tak mampu untuk berujar apapun lagi- dengan singkat. “Tante gak tahu. Soalnya, kabar keberangkatan keluarga Ayi saat itu sangat mendadak. Dan tante tak sempat bertanya lebih lanjut lagi. Ayi bilang, ia titip pesan untuk kamu.” Tante Suci menghela nafas untuk ancang-ancang. “Peri kecil, jangan sedih kalau nanti bulan sudah tak berkawan. Tapi, bintang akan selalu awasin walau dari jarak yang tak terhitung.” Kata Tante Suci menirukan kata-kata yang diucapkan Ayi untuk disampaikan kepadaku. Aku tahu, tante mungkin kurang mengerti dengan perkataan Ayi itu. Tapi, aku? Aku benar-benar tahu. Dan sulur sulur kesedihan itu semakin menjalar, hingga membuat semua organ ku mati rasa.
Kenyataan yang paling sesak yang harus dihadapi adalah
Saat kau tahu sesuatu yang berharga telah menghilang dari hadapanmu.
**
“Ma, sesil mau pulang.” Kataku lirih keesokan paginya. Mama menatapku heran. Aku terus menunduk, menyembunyikan gurat kesedihan yang mulai tersirat dalam air wajahku. “Sesil nggak betah di sini, ma. Sesil kangen rumah. Kangen teman-teman.” Aku terus menahan ucapanku agar tak bergetar. Aku menggigit bibirku kencang. Menahan segala isakan yang mungkin akan terdengar. “Tapi, kita baru tiba kemarin, sayang. Perjalanannya kan butuh waktu tempuh yang panjang.” mama mendelik menatapku.
Apa mama sama sekali nggak ngerti? Apa mama tak mau ambil pusing untuk menyelami perasaan ku saat ini. aku pikir mama akan paham tanpa aku harus menjabarkannya. Aku tak sanggup ma. Aku tak ingin membicarakan ini lebih lanjut lagi.
“Kamu tahu sesuatu sayang?” aku menghela nafas mendengar perkataan mama. Yang sudah aku mengerti menjurus kemana. Aku mengangguk lemah dan tersenyum hambar, penuh kehampaan. “Kamu rindu Ayi?” tiga kata yang sangat menggambarkan segalanya. Segalanya yang penuh makna. Segalanya yang membuat pilar kerapuhan diri semakin terpeta. Iya ma! Mama benar dan sangat tepat! AKU RINDU AYI. Pangeran kecil di kota hujan. Aku benar-benar rindu padanya,ma. Mengapa setelah lima tahun tak bersua dan aku harus mendapati kabar yang menyesakkan ini. mengapa? Tak ada kah yang peduli dan mengerti akan perasaan ku yang sesungguhnya? Mengapa dari awal tak jujur saja padaku. Mungkin, tak akan sesakit ini rasanya.
Mama mengusap rambutku halus. Aku tahu mama melihatnya. Melihat air mataku yang tengah menganak pinang. Melihat gurat kepedihan yang tercermin dalam riak-riak kecil itu. aku beringsut terkulai lemah di pelukan mama. Semuanya terasa damai dan tentram. Perasaan ku sedikit lebih baik
*
“Cesi kenapa? Kok nangis?” suara kecil nya menyadarkanku dari lamunan ku. Aku menggeleng kecil menanggapi perkataannya. “Iya deh, nggak mau cerita sama akunya.” Dia menggelembungkan pipinya. Aku tertawa melihatnya. Hingga aliran bening itu pun perlahan mulai terhenti mengalir. “Nah gitu dong! Aku seneng kalau lihat cessi senyum. Alhamdulillah yah, sesuatu banget gitu.” Ayi tersenyum lebar melihat tatapan geliku.
“Cessi tahu, sebelumnya, aku belum pernah lihat cessi loh. Padahal aku sering main ke sini. Dan untungnya, Cessi jadi penghuni baru di komplek ini. akunya kan jadi nggak kesepian lagi.” penghuni baru? Haahh, mana mungkin. Aku kembali menunduk. “Loh, akunya salah ya sama Cessi? Kok Cessi jadi sedih gitu?” aku terus terdiam dan sama sekali tak menghiraukan apa yang ia katakana. Ayi memiringkan wajahnya. Mendekatkannya ke depan wajahku. Dia terus menilik figurku. Lama-lama, aku menjadi resah dibuatnya.
“Apa sih kamu ngeliatin akunya gitu banget?” kataku lemah. “Hari ini cessi nggak seru ah. Akunya dikacangin terus.” Ayi menatap risau kearahku. Aku hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu sendu untuk mewakili kenyataan yang tak ingin aku harapkan datang menghampiri. Aku mendengar desahan kecil yang terhembus dari bibir mungil Ayi. Sepertinya, ia sudah mulai jerah menghadapiku dan berusaha memancing celotehanku. Aku tak tega jika harus terus mendiamkannya seperti ini. tapi, aku pun tak sanggup untuk berujar lebih lanjut lagi dengannya.
“Aku boleh nanya?” kataku singkat. Namun, pertanyaan ini –sepertinya- adalah sesuatu yang berharga bagi Ayi. Karena raut wajahnya berubah menjadi sangat bergairah. Dengan lucu, ia mengangguk-anggukan kepalanya. “Silahkan Putri Cantik.” Katanya sambil berseri. Ah, sudahlah Ayi. Jangan bertingkah terus seperti ini. aku tak sampai hati sebenarnya untuk menyampaikan sesuatu ini. “Aku ingin menanyakan tiga hal sama kamu.” Dia mengernyit. Aku menunduk dalam, tak ingin menatap kedua bola matanya.
“Kalau akhirnya, matahari itu tak memancarkan sebuah sinar untuk di suguhkan kepada para insane peribumi lagi, apakah masih ada sebuah kehidupan di sana? Jika akhirnya sinar matahari telah sirna, apakah langit masih sanggup untuk memberi efek ketenangan kepada seluruh penghuni alam? Bila akhirnya matahari benar-benar mengucapkan sebuah salam perpisahan karena ia tak bisa lagi menjadi penghuni angkasa, apakah kawanan burung pun masih dengan riang mengepakkan sayapnya?” aku mengangkat wajahku perlahan. Tak sanggup bila harus menatap wajah Ayi. Sebetulnya, aku tak tega. Aku tak bisa untuk mengungkapkan hal yang ingin aku sampaikan itu secara langsung. Aku betul-betul tak siap melihat bagaimana reaksi yang Ayi pertunjukkan. Namun, aku heran. Melihatnya yang tengah tersenyum menatapku. Sebuah senyuman kecil, yang terselip berbagai makna di sana.
“Kalau matahari tak memancarkan lagi sinarnya untuk para insan peribumi, aku yakin, masih ada kehidupan di sana. Karena, ketika sinar matahari tak lagi bersinar, itu pertanda malam telah siap untuk menggantikan tahtanya. Dan di sana, di langit malam. Juga ada beberapa penghuni, yang aku yakin di senangi oleh banyak insan peribumi. Mereka menemukan ketenangan di sana. Di malam hari. Seperti aku yang selalu menyukai datangnya malam.” Aku tersenyum pedih mendengar jawabnya. Akankah ia mengerti maksud dari pertanyaan ku itu?
“Jika sinar matahari telah sirna, apakah langit masih sanggup untuk memberi efek ketenangan kepada seluruh penghuni alam? Langit memberikan ketenangan bukan hanya karena sebuah alasan. Dan sebuah sinar matahari saja tak bisa dijadikan alasan. Aku tahu, sinar matahari memang sangat dominan dalam segalanya. Namun, bagi aku, sinar matahari itu bukan segalanya. Dan aku yakin, langit akan berusaha, berusaha semampunya, berusaha sebisanya, menciptakan romansa keharmonisan itu, untuk di suguhkan kepada para penghuni alam, walau tanpa teman yang sangat berperan penting dalam arti kehadirannya.” Ayi, kata-kata yang baru saja engkau lontarkan, sesungguhnya benar-benar membius segalanya. Segala organ maupun system organ yang tengah berkontraksi dan menjalankan peranannya menjadi beku hanya karena sebuah kalimat yang engkau lontarkan.
“Dan bila matahari benar-benar mengucapkan sebuah salam perpisahan, aku nggak tahu harus menjawabnya dengan apa.” Ayi tertunduk lesu. “Ces, aku mengerti sekarang. Mengerti akan apa yang mau kamu pertanyakan. Aku paham maksud dari semua analogi itu. dan, apabila matahari itu benar-benar pergi, mungkin, itu adalah racun terpahit yang akan aku cicipi di dunia ini. walau hanya satu kali aku menyicipinya, namun, itu akan menjadi hal yang paling krusial dan berpengaruh bagi segalanya.” Aku melihat gurat kesedihan itu terpeta jelas di air wajah Ayi. Ia lelaki, ia berusaha tegar. Walau air matanya tak mengalir. Tak seperti aku yang begitu rapuh saat ini. rapuh untuk menghadapi sesuatu yang datang esok hari. Tetapi, perasaan itu tak bisa tersembunyi. Dan aku bisa menemukannya pada wajah Ayi saat ini.
“cessi, If you let me to make a wish, I don’t want something happen for me and for you. I wanna you to stay here. With me. Become My Bestiest. And we’ll be happy. Don’t go,please. I need you, Purnamaku.” Akhirnya, air mata itu luruh juga. Aku tak bisa membendungnya lebih lama lagi. aku tak bisa terus menahan gejolak buliran air yang terus memberontak. Perkataan Ayi yang telah memancingnya keluar dan seperti yang telah ku duga, butiran itu tak bisa dihentikan secepat mungkin.
“Bilang sama aku ces, kamu kenapa?” Tanya Ayi dengan lembut. Mata indahnya, menatap tepat di kedua pusat kerapuhanku. Aku menunduk. Aku tak mampu lagi jika terus menatapnya. Aku tak sanggup, sungguh. “Ayi, besok aku bakalan pergi ke S…” . “Ahaha, mau nipu aku ya kamunya ciee. Aku tadi denger kok dari tante Suci, besok kamu mau ke Supermarket kan? Jangan lupa oleh..”. “Solo.” Ayi menghentikan senyumannya mendengar kelanjutan dari ucapanku.
**
Creater"S"








0 komentar:
Posting Komentar