The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams :)

RSS

Ketika Dewi Malam Bercerita

Saat udara malam mulai menguak
Diantara segala skenario yang akan terangkai
Saat itu aku termenung
Di bawah naungan gugusan rasi bintang
Tercenung..
Mendesah..
Gelisah..

Sebanyak mungkin lautan oksigen dingin itu ku hirup
Sekedar penentram rasa beku yang kini menjalar
Segala rusuk ku menjadi sedingin kutub
Beberapa kali ku coba untuk mencari pelipur

Tanganku menggenggam sehelai perkamen
Di dalamnya telah ku ukir sesuatu
Goresan goresan pena yang ku punya
Ternyata telah membantuku melaraskan segalanya

Segala Harapan
Yang sempat melambung
Namun kendur seketika
Kala aku menyadari siapa dia siapa daku
Dimana dia dimana daku
tentu itu menepis segala angan

Berjalan entah kemana
Angan indah ini terus membawa diriku membumbung angkasa
Tatapan kosong yang entah apa yang sedang ku ratapi
Sementara gradasi langit bertambah kelabu

Sebuah gita ku dengar
Indah..
Aku tak tahu apa itu
Tapi kedengarannya seperti melodi orkestra yang di padukan

Di sana..
Dalam Naungan langit yang terhalang oleh butiran awan
Sebuah suara serasa memanggilku
Menghancurkan angan belaka yang tengah aku susun
Menyadarkanku dari takdir sebenarnya yang aku jalani
Dia bergaung dalam kedua organ pendengaranku
Menggelitik merdu setiap senti otak ku yang sedang beku

Aku mulai bertanya
Siapa itu ? ada urusan apa ?
Tapi dia tetap berlagu
Dengan potongan bait yang tak terbaca olehku
Tidak, itu bukan potongan bait
Sesuatu yang sedang dia koarkan

Aku membuka telinga perlahan
Menahan napas agar tak tercekat
Gumpalan empedu serasa menyumbat tenggorokanku
Hingga aku tak kuasa untuk bernafas
Dia..suara itu, bukan hanya kebetulan
Tapi dia berbicara padaku
Menjalin cerita yang sedikit tak ku mengerti

"Seorang umat manusia. Tidak lah baik. Ini tempat yang berbahaya untukmu. Racun. Bualan. Kebohongan. Tempat ini
sungguh tak perlu diperagungkan. karena efeknya telah mempengaruhimu. jiwamu dibiarkan kosong. menghilang diterpa hembusan angin yang menerbangkan kesadaran. dan hendak apa umat manusia itu ? Biarkan aku membantu. biarkan."

Ku tadahkan lekuk wajahku.
Mencari sumber lakon yang tengah berdiplomatis itu

"Perkamen itu. buanglah ! semuanya hanya bualan. kau tak akan mungkin menemukan garis takdirmu yg sebenarnya. jika kau terus merenungi sesuatu bersama sebuah perkamen. aku perintahkan kau sekali. jika kau tak ingin mendengarku. akan ku curi sesuatu yang sangat berharga bagi dirimu."

Tanpa berpikir untuk memperpanjang waktu lagi
Diriku terasa terkena kutukan imperius*
Tanganku melakoni apa yang telah suara itu deklamasikan
Apa ini ? aku membuang perkamen berharga itu ?
Perkamen yang kelak akan ku kirim untuk pemiliknya
Perkamen lusuh yang selalu setia berada di sisi ku
Perkamen yang didalamnya terdapat beberapa rangkaian kata yang sudah aku susun lama
Aku mendesah
Amat gelisah
Seandainya dibawah tempat ku berdiri adalah pijakan tanah
Akan ku bawa ia kembali
Tapi, aku menerjunkannya
Di bawah gelombang laut malam
Yang tentu tak tahu di bawa kemana perkamen berharga ku itu

***

Aku tak tahu sudah berapa lama merasakan desiran ini
Aku tak tahu bagaimana awalnya bisa kucetuskan dia adalah pangeran
Aku tak tahu mengapa setiap ku lihat lekuk wajahnya aku selalu ingin tersenyum

Semuanya di sini..
Sesuatu berdenyut indah dalam pilar nadi
Darah ku menjalar melewati organ tubuh
Dan wajahku selalu bersemu kala mendapati pangeran kecil itu

Aku yakin semua orang akan merasakan hal yang sama
Semua yang melihatnya dalam gambar bergerak
Semua yang melihat sandiwara panggungnya
Mereka sama seperti ku
Mereka selalu ikut tersenyum kala mendapati senyuman ramah itu pun terpeta

Kini aku mulai mengerti
Seberapa besar pengaruhnya yang bisa membius diri
Bahkan aku sudah dengan pasihnya merapal nama indah itu
Pesonanya selalu tak bisa ku tepis
Hanya dia yang mengisi setiap senti memori otak ku
Kala mataku dengan berbinar setiap melihat air wajahnya
Kala nafasku yang mendesah merdu menyeruakan namanya
Kala semua memori yang pernah di lakoninya berpusar cepat menjadi satuan warna

Tapi, tak bisa ku pungkiri
Aku terkadang merutuki semua ini
Dia hanya sebagai lakon sebuah cerita
Dia ada di sana
Di dalam sebuah layar yang di lapisi kaca
Aku tak melihatnya dari kenyataan
Bahkan suaranya pun hanya bisa terekam
Dari pengeras suara yang terkadang tak terdengar jelas

Dia jauh..
Bagaimana mungkin bisa ?
Aku jelas tak akan pernah bisa
Aku mengutuk diri yang terlalu melambungkan khayalan semu
Dengan berharap bisa bertemu dengan pangeran kecilku

Beberapa kali kesempatan bertemu dengannya
Berhasil meloloskan diri begitu saja
Beberapa kali semua itu aku lewatkan begitu saja
Sedih tentu
Kapan aku bisa melihat sosok nyata
Dari lakon pangeran kecil yang selalu dalam cerita ?

Dan akhirnya ku dapati
Aku telah berkutat dengan keras menemukan kembali kesempatan itu
Ketika dia bernyanyi
Merdu
Suaranya yang menggema di setiap pilar 'department store' itu
Menuntun langkahku untuk segera menemukan figur pangeran kecil yang selalu dalam cerita
Aku menemukannya
Sosoknya telah menjadi kenyataan
Dewa surga sungguh memberi keberuntungan
Tapi sesuatu kembali memperkokoh dinding yang perlahan mulai merapuh
Kenyataan pahit bahwa aku hanya bisa melihat nya dari jauh tertelan bagai racun
Sebuah acara di Bandung Super Mall ini sungguh ingin ku terjang
Ada syarat tertentu untuk masuk ke sana
Melihat pangeran kecilku dari dekat
Namun semua itu kembali ku terima dengan tulus
Walau aku hanya dapat melihatnya dari rentan jarak yang tak bisa terbilang dekat

Kesempatan itu muncul lagi sekarang
Waktu mulai menggerogoti hari demi hari di mana pertemuan itu akan diadakan
9 July dengan terasa cepat mulai mendekat
Hari di mana kesempatan besar tengah melambaikan tangan
Hari di mana seharusnya aku akan menemukan kembali figur pangeran kecil
Dan tentu aku akan bersapa dengan mereka
Mereka yang sama seperti aku

Tetapi seperti biasanya
Ada yang -lebih- memperkokoh lagi pilar penghalang
Sekarang lebih tinggi dari sebelumnya
Membuat aku kembali meruntuhkan angan besar itu
Dengan hati yang amat di landa lara

Tuhan..
akankah kau izinkan aku untuk -hanya sekedar- melihatnya
walau mungkin ini yang pertama dan terakhir kali
walau mungkin ini kesempatan yang tak akan lagi datang dalam hidupku
aku selalu menantikan rangkaian harapan ini Tuhan
untuk dijadikan sebuah kisah nyata
ditulis dengan tinta semu
dan mengukir sebuah tulisan yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam kisah ku


Dalam garis khatulistiwa aku menerka
akan kah kau izinkan aku untuk bisa membaca ramalan masa depan
agar aku dapat mengetahui
apakah semua bayang bayang khayalan itu bisa menjadi kenyataan
atau mungkin aku hanya bisa kembali di suguhkan kepahitan yang harus aku telan
walau enggan

Dalam diam aku berharap
secercah cahaya keajaiban menyapa ku pagi esok
membawaku melewati lorong waktu
mengikuti jalurnya yang selaras
dengan apa yang aku harap

Tapi aku tak akan begitu kecewa
bila Engkau belum membimbing angan semuku ke depan pintu kenyataan
aku akan selalu menerima semua itu dengan tulus
karena aku yakin
ini semua adalah kenyataan yang tertunda
selamanya aku percaya pada-Mu

Dengan harap, surat sederhana ku ini bisa sampai ke pemiliknya
with love,
♥☺Secret☺♥

***

Aku mengerjap
Lantunan suara indah itu bergaung dalam mimpi
Dia membacakan guratan pena yang telah aku salin dalam sebuah perkamen
Dan, dalam mimpi aku melihat
Dewi malam (bulan)  membacakan semua yang ada dalam perkamen
Apa yang berbicara padaku pun itu suaranya ?
Apa yang menggugat ku dengan tiba-tiba adalah dewi malam ?
Dan aku tak tahu pasti
Aku hanya berharap
Saat dewi malam itu bercerita pada para penghuni singgasana langit
Barisan bait itu akan sampai pada seseorang yang berlakon sebagai pangeran kecil dalam cerita hidupku



:)

***

*kutukan imperius adalah sebuah mantra atau kita bisa menyebutnya (dalam buku Harry Potter and the Goblet of Fair) sebagai kutukan tak termaafkan. akibat dari kutukan ini adalah seseorang yang menjadi korban dan menjadi objek yg dikutuk oleh si pengutuk akan melakukan apa yang si pengutuk inginkan

***
Creater
"S"


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar