Hai^^, datang lagi nih cerpen terbaruku. yang ini sih, gak jelas nya lebih nggak jelas dan lebih random dari biasanya. kalau penasaran, baca aja, check it out
#NB : biar nggak pusing bacanya, kalau misalkan tanda * berarti itu FlashBack, tapi kalau ada tanda ** berarti kisah sebenarnya. thx bfr^^
**
“Excelent” Aku mencoba tersenyum, mendengar penuturan jujur yang terucap dari mulutnya. “Cie Shelly..” sekeraspun aku menutupi, tapi sesungguhnya, mata tetap saja tak bisa berbohong. Dan disudut sana, sepertinya seseorang telah membaca raut mukaku. “Ahsan-Shelly. Hahaha.” Kak Emil tertawa dan terus saja menggodaku. Hari ini ujian musik, di kursus musikku. Dan aku, mendapatkan nilai tertinggi. Aku tersenyum mendapati hal itu. akhirnya, Tuhan mendengarkan doaku. Dan, Kak Ahsan memuji hasil tesku itu. aku memang mengagumi Kak Ahsan. Beliau 3 tahun lebih tua dari aku, tapi kalau sudah bercanda dengan Kak Ahsan, rasanya, seperti sepantar dengan dia. “Apaan sih,” sahutku dengan malu.
**
“Kamu, sepertinya ada masalah?” aku tersentak mendapati Kak Kevin yang sudah ada di sebelahku. Kak Kevin juga teman satu kursusku, dan dia sobat karibnya Kak Ahsan. Kak Kevin orang yang lucu, pintar, dan sangat perhatian terhadap siapapun. “Eh, kakak belum pulang?” tanyaku mengalihkan. “Shel, kayak ke siapa aja sih?” Kak Kevin memutar bola matanya. Aku hanya tersenyum malu. Selama di kursus, aku memang paling dekat dengan Kak Kevin. Tapi, kami dekat hanya sebatas kakak-adik. Sedang, antara aku dan Kak Ahsan, sebetulnya kami tak ada hubungan apa-apa. Hanya saja, teman-teman sekelas, gemar meledek aku dengan Kak Ahsan. Hingga akhirnya, membuat kami dekat.
“Aku pulang duluan ya, kak.” Kataku cepat. Kak Kevin menarik tanganku, dan menahanku. Aku hanya mendesah melihat perlakuannya. “Cerita, yuk. Beban bakal lebih ringan kalau kita mau berbagi dengan orang lain.” Aku tersenyum. Kakak ku yang satu ini, memang paling mengerti bagaimana keadaanku. “Maaf kak, aku nggak bisa, aku harus pulang.” Sesungguhnya, yang membebani pikiranku adalah suatu hal yang sangat privasi. “Shel, kalau kamu nggak mau cerita, it’s all right. Nggak apa-apa kok. Tapi, asal kamu tahu, kamu nggak sendiri. Masih banyak orang yang peduli sama kamu.” Apa Kak Kevin orang yang tepat? Apa dia bisa meringankan beban aku? Tapi tandanya, aku harus menceritakan semuanya dari awal. Semuanya.
“Kak, tunggu!” kak Kevin yang sudah berjalan menuju motornya, menghentikan langkahnya dan menengok ke arahku. “Ayo kita ke Kafetaria. Aku ingin menceritakan sesuatu.” Kak Kevin tersenyum. Dan menghampiriku.
**
“Jadi, kamu kenapa?” Kak Kevin menatapku serius. Disana, dikedua bola matanya, aku menemukan sebuah kehangatan. Dia, benar-benar kakak ku. Walau aku tak memiliki saudara laki-laki, tapi aku sudah menganggapnya seperti kakak ku sendiri. “Kemarin, dan hari ini, aku bertemu dengan seseorang dari masa lalu..” kataku memulai
*
Aku mengayuh sepedaku dengan tergesa. Sepertinya, aku sudah telat. Tidak ada yang membangunkan ku pagi ini, karena orang tuaku sedang tak ada dirumah, dan akhirnya beginilah. Aku sudah tak lagi memikirkan sarapan. Aku sudah lupa dengan tugas-tugas apa saja yang harus aku bawa hari ini. yang aku ingat hanyalah, hari ini, pelajaran Pak Duta. Guru yang sangat terkenal dengan kedisiplinannya.
Sampai-sampai, aku tak melihat, di depanku ada sebuah kubangan lumpur. Karena, aku tak sempat mengerem sepedaku, akhirnya terpaksa aku terjatuh. Tapi untungnya, aku tidak terperosok dikubangan lumpur itu. “Argh, segala pake jatuh pula. Ini sih nambah telat, huh..” aku mendengus kesal. Dan merutuki diriku atas kecerobohan yang telah aku lakukan. “Pagi-pagi udah ngomel aja.” Seseorang menghampiriku, dan mencemooh atas apa yang baru saja aku alami. Aku mendongak, menatapnya kesal, tapi, sebelumnya, aku kaget. “Kak Rio?” kataku sangat pelan. Bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.
“Lo kenal gue?” perkataan itu, mengusik partikel-partikel halus dalam tubuhku, hingga membuat aku heran dengan apa yang baru saja ia katakan. “Kak Rio lupa sama aku?” tanyaku sedikit kecewa. Kak Rio diam sebentar, ia nampak berpikir. Dan akhirnya, menggeleng. Aku mendesah kecil. Bodoh sekali aku mengatakan hal seperti itu pada Kak Rio. Ya, tentu saja kan? tentu saja Kak Rio tidak dan tak akan pernah mau kenal kepadaku. “Eh, sini gue bantu.” Kak Rio membangunkan ku dan sepedaku. Aku semakin merasa, bahwa aku sedang berada dalam dunia mimpi.
“Kak Rio, kenapa Kak Rio nggak kenal sama aku? Kenapa kak? Apa kakak lupa? Apa kakak nggak inget? Aku yang selama ini, selalu sembunyi-sembunyi memmberikan perhatian-perhatian kecil untuk kakak. Aku yang terlalu jauh kau bawa ke dalam dimensi semu. Dan aku yang tak pernah kau lirik sedikitpun.” Hati kecil ku bergaung, mendermakan kata-kata yang sangat bermakna.
Rio Stevent, dua kata yang merangkai nama indahnya. Nama, yang tanpa aku sadari, sudah lebih dari dua tahun selalu membuat telingaku berdesing, kala mendengarnya. Nama yang tak seorang pun mampu menghapusnya. Kak Rio adalah kakak kelasku sewaktu SMP dulu. Kak Rio cinta pertamaku. Hanya kepada Kak Rio lah, hatiku terpaut. Walaupun tidak dengan dirinya. Aku hanya mampu mengagumi Kak Rio dari sisi gelapku. Yang tak diketahui oleh siapapun. Kecuali sahabat-sahabatku sewaktu SMP dulu.
Aku tahu, Kak Rio tak tahu dan mungkin tak pernah mau tahu tentang siapa aku. Dan aku pun terlalu pengecut untuk mendekati Kak Rio. Untuk datang, menghampirinya, secara nyata. Tapi, aku tidak seberani itu. aku hanya mampu menyapanya, melalui dunia maya. Tak lebih dari itu. haha, banyak orang yang mencemoohku. Begitupun dengan diriku sendiri. Betapa tidak beraninya aku. Betapa pengecutnya aku. Aku adalah orang yang selalu diremehkan oleh orang lain.
“Kak Rio, nama aku Shelly.” Kataku, terbata. Karena jujur saja, dihadapannya, semua berubah. Aku yang biasanya banyak bicara, menjadi kehilangan kata-kata ketika harus dihadapkan dengan Kak Rio. Ya, hanya dengan Kak Rio. Kak Rio, terdiam lagi. “Shelly Aurelia.” Tiba-tiba saja, Kak Rio kaget. Aku tahu, dia menyadari sesuatu. Aku tahu, dia ingat siapa aku..
“Elo…”. Aku hanya mengangguk. Aku sudah mengerti dengan apa yang akan dia katakan. ‘aku memang terlalu mengenal kamu, kak’ batinku pelan. Setelah itu, aku tak berani lagi untuk berbicara apapun. Semuanya mendadak kaku. Begitu pun dengan Kak Rio. Tanpa berujar lagi, aku segera pergi meninggalkan Kak Rio. Pergi menjauh, membuang rasa malu itu jauuh-jauh.
Seandainya, apa yang aku rasa, dapat kau pahami.
Andai kamu tahu, bahwa aku telah bertahan sejauh ini.
Sampai detik ini, hatiku, tetap menyimpan,
Sederet nama sederhana yang tak pernah berubah.
Namamu, pemilik hati.
*
Dan hari ini, aku akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Arsya. dia adalah teman sekelasku, di SMA Pelita Bangsa. Kami akan mengerjakan tugas bahasa Inggris yang telah ditugaskan tempo hari. Aku bahkan tahu, rumah Arsya dekat dengan rumah Kak Rio. Hanya dibatasi oleh satu rumah saja. Aku yang memaksa, bahwa kita harus kerja kelompok di rumah Arsya. Karena entah mengapa, aku memiliki sebuah firasat tersendiri. Perasaan, yang aku pun tak tahu, maksudnya apa.
Sepulang mengerjakan tugas kelompok, saat aku baru saja keluar dari halaman rumah Arsya, aku melihat seorang lelaki, berbaju merah, mengenakan celana biru. Dia tengah berjalan dengan santai. Dan aku tahu siapa dia. Bahkan, aku tahu persis bagaimana caranya berjalan. Aku pun mengenalinya, bahwa itu Kak Rio.
Aku terkesima, melihat Kak Rio. Sedangkan dia? Yah, sudah bisa ditebak bukan? dia hanya berjalan dan berjalan. Aku tahu, bahwa dia tahu, ada aku disini. Sedang menatap ke arahnya. Dan aku pun tahu, dia berpura-pura tak melihatku. Kak Rio, kenapa tak bisa kau menyapaku? Apakah sulit untuk sekedar menyebutkan nama ku saja?
Tuhan, sebenarnya, apa kesalahan yang pernah aku perbuat? Hingga aku tak kau izinkan untuk mengecap kebahagiaan ini. aku, aku yang sudah dua tahun lebih, menyimpan perasaan norak ini. yang sebelumnya, tak pernah aku rasakan. Dan sekalinya aku merasa, kenapa harus kepada orang seperti dia? Yang tak pernah mau peduli, tentang hati yang tanpa ia sadari, selalu ia rapuhkan ini.
**
“Shel, kakak nggak pernah tahu, kamu punya kisah kayak gini.” Kak Kevin, terheran-heran mendengarkan ceritaku. “Aku kan sudah bilang, ini benar-benar privasi.”. “Jadi, kamu udah suka sama Rio sejak kapan?”. “Aku bahkan masih ingat persis, awal mulanya aku mengenal dia. Yaitu, waktu aku masih duduk di kelas 7 SMP.”. “Dan sampai sekarang?” Kak Kevin benar-benar tak percaya. Aku hanya mengangguk kecil. “Iya,kak, dari kelas 7, sampai sekarang. Sekarang saat aku sudah berganti seragam menjadi putih abu-abu.” Kataku mantap. “Kenapa kamu mempertahankan perasaan ini sejauh itu, shel?” aku hanya mengangkat bahu.
*
Aku tahu, namanya Kak Rio. Karena, begitulah ia kerap dipanggil oleh teman-temannya. Kak Rio pernah mengikuti lomba di Bandung. Entah lomba apa namanya. Dan, teman sekelas ku pun, turut mengikuti perlombaan itu. namanya Nisa. Dia sangat dekat dengan Kak Rio. Bahkan, ketika ulangan semester, Kak Rio selalu datang dan menggoda Nisa. Sebenarnya, berniat untuk sekedar bercanda.
“Cie Nisaaa….sama kakak kelas cieee…” aku dan teman-temanku menyoraki Nisa dengan girang (saat itu, aku hanya menganggap Kak Rio, sebagai kakak kelas biasa. Dan tak ada yang special darinya). Nisa hanya tersenyum malu. Aku tahu, ini tak serius. Karena kami semua, gemar bercanda. Dan sekarang, korban dari keisengan kami adalah Nisa, yang sudah ada di depan mata.
“Hai Nisa…” panggil Kak Rio tiba-tiba masuk ke ruangan kami. Aku dan teman-teman berbisik-bisik melihat kejadian itu. hingga salah satu dari kami, berteriak. “Cieee Kak Riooo…” Kak Rio hanya tertawa terbahak. Semenjak kejadian itu, selama ulangan semester, aku dan teman-teman sering mengejek Nisa dengan Kak Rio. Padahal, object yang menjadi korban tidak bereaksi apa-apa.
Hingga, dua hari terakhir sebelum ulangan semester berakhir, aku duduk di bangku Nisa. Aku, Nisa, dan yang lainnya, sedang memperbincangkan tentang materi yang akan di ulangankan hari ini. dan, Kak Rio kembali memasuki kelas kami. Dengan segera, Nisa menghindar dan menjauh dari tempat duduknya. Karena ia tahu, Kak Rio pasti akan mengganggunya. Dan, bangku sebelah ku pun kosong. Tanpa kuduga, Kak Rio duduk begitu saja di bangku sebelahku. Dan, dengan tampang datar, ia tak berkomentar apapun. Hanya berbincang dengan teman-temannya
**
“Setelah hari itu, Kak Rio semakin sering muncul, kak. Dan aku pun tak tahu, sejak kapan perasaan aneh itu mulai tumbuh.” Kataku menerawang. “kalau boleh tahu, apa kamu bisa mendeskripsikan bagaimana sih si Rio itu?” Tanya Kak Kevin. “Kak Rio, hm..” ada yang berdesir kecil, dalam hatiku, saat aku menyebutkan kembali nama istimewa itu. “Kak Rio biasa aja. Bahkan, lebih biasa dari Kak Ahsan.” Kataku tak sengaja. “Cie tiba-tiba bicarain Ahsan nih.” Aku hanya terkekeh geli.
“Eh, boleh nanya nggak?” aku mengernyit mendengar perkataan Kak Kevin. “Kamu, sebenarnya suka sama Ahsan nggak sih Shel? Kayaknya, kamu kalau digodain sama dia, senyum-senyum terus. Ahsannya juga sama lagi.” aku terkekeh lagi. “Aku suka sama Kak Ahsan. Tapi, hanya sebatas perasaan kagum.” Kataku jujur. “Loh? Jadi nggak….” Aku hanya menggeleng. “Emang apa sih bagusnya Rio dibanding Ahsan, Shel?”
“Kak Rio sama Kak Ahsan jelas beda, kak. Kak Rio itu, orangnya ramah, terkecuali sama aku. Entah mengapa, dari dulu juga, Kak Rio nggak pernah baik sama aku. Sedangkan Kak Ahsan sebaliknya. Dia mungkin nggak terlalu akrab dengan orang yang belum ia kenal. Tapi, dia sangat baik sama aku.”. “Ya, mendingan Ahsan lah, Shel. Dari pada Rio.” Kata Kak Kevin enteng. “Kakak ternyata emang belum mengerti ya?”
*
Aku tak sabar untuk pergi ke kursus musik hari ini. tak sabar melihatnya. Melihat lelaki tampan itu, hehe. Dia, bernama Ahsan. Semalam, dia mampir ke dalam mimpiku. Dan aku tak pernah menduganya. Aku mempersiapkan diri, hanya untuk bertemu dengan Kak Ahsan. Aku sudah berpenampilan semaksimal mungkin. Ya, walaupun aku orangnya tidak terlalu modis. Tapi, aku rasa, ini penampilan terbaikku.
Dan sesuai yang aku harapkan, baru saja aku memasuki kelas, dia tersenyum ke arahku. Aku merasakan kedamaian dari senyuman indah itu. kak Ahsan, dia itu sangat dewasa. Dia selalu berpikir rasional, dan dia sederhana. Itulah yang membuat aku kagum pada Kak Ahsan. Disamping itu, Kak Ahsan pun sangat baik. Terlalu baik malah.
Sepulang dari kursus, aku memilih untuk pulang dengan angkutan umum, dibandingkan dijemput oleh Pak Darsono (sopir). Dan, tanpa aku duga, di dalam angkot, aku bertemu dengan Kak Rio. Sepertinya, dia baru pulang sekolah. Karena ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Ia duduk di sudut angkot, dan terlihat lelah sekali. Sesekali, ia mengusap butiran keringat yang membasahi pelipisnya. Aku terus memperhatikannya, hingga membuat ia sadar, bahwa ada seseorang yang sedari tadi melihat ke arahnya.
Ketika ia melihat ke arahku, dengan segera kupalingkan wajahku. Tapi, tetap saja, dia telah memergokiku. Aku malu sekali. Namun, berbeda dengan aku yang terlihat begitu gelisah, justru dia tetap memasang wajah datarnya. Dia tak bereaksi sedikitpun. Padahal aku tahu, biasanya, dia gemar bicara.
Dia turun lebih dulu. Dan aku hanya menatap nanar kepergiannya. Sekilas, ia melihat kearahku. Aku hanya menunduk, masih merasakan rasa malu itu. sampai rumah pun, efeknya masih terasa. Lihat! Begitu hebat efektor yang dia beri untuk aku. Walau hanya sekedar tatapan dingin yang ia suguhkan, tapi, justru hal ini malah membuatku tak bisa tidur. Aku benar-benar gelisah.
Semua, semuanya tentang Kak Ahsan hilang. Semuanya tentang bagaimana sempurnanya sosok Kak Ahsan musnah. Digantikan oleh tatapan dingin itu. digantikan oleh cuplikan-cuplikan kejadian, yang selama ini pernah aku lalui dengan object itu. dengan masa laluku. Aku membuka buku diary ku perlahan, dan mulai menorehkan apa yang ingin aku tulis kedalamnya.
Selasa, 24 Januari 2012
Aku mengagumi dirinya.
Tapi, aku sudah terlalu jauh terperosok dalam lubang berporos hitam.
Kegelapan, ketakutan, dan kegundahan
Semua itu, sering menimpaku, hanya karena, aku tak bisa melihatmu lagi setiap hari
Hanya karena aku tak bisa menyesap senyummu lagi setiap saat
Hanya karena aku tak bisa menatap bola matamu dari jarak dekat
Padahal kini, aku menemukan dia.
Orang yang lebih baik dari kamu
Lelaki yang lebih dewasa dari kamu
Dia, yang tampan dengan lesung pipit di setiap sunggingan senyumnya
Dia yang aku harap, bisa menggantikanmu menjadi pemilik hatiku
Dia, yang aku ingin, namanya dapat memberhentikan hatiku yang tak mau diam menggemakan namamu.
Tapi ternyata, semua itu, tak semudah yang aku pikirkan
Apa sih hebatnya kamu?
Kamu cokelat, dia putih
Kamu pendek, dia tinggi
Kamu dingin, dia ramah
Tulisanmu jelek, tulisan dia begitu rapi
Tatapanmu membekukan suasana, tapi tatapannya mencairkan suasana
Siapa yang patut disalahkan?
Jika ada orang yang seharusnya disalahkan adalah kamu. Mengapa?
Karena kamu, terlalu egois. Tak pernah mau pergi, dari otakku
Tapi, apa bagusnya kamu?
Bahkan, orang akan menilai, dia lebih baik.
Namun, hatiku selalu mengatakan yang sebaliknya
Sekarang apakah kamu sudah puas? Sampai saat ini pun, kamu masih tetap menjadi pemenangnya.
**
“Jadi, sekarang Kak Kevin ngerti? Hati itu nggak bisa dipaksakan, kak. Segimanapun tampannya Kak Ahsan, tetap Kak Rio yang selalu didaulat sebagai pemenang.” Kak Kevin mengangguk pertanda ia mengerti. “Kak, aku nggak mau selamanya terus terpuruk kaya gini. Aku nggak mau kalau seterusnya keputusan hati kecilku nggak bisa diganggu gugat lagi. jujur aja, aku lelah, kak. Sangat lelah. Kak Rio, sampai sekarang pun, tak pernah mengerti bagaimana perasaanku terhadapnya. Hiks..” aku tak kuasa menahan tangisan yang sedari tadi telah aku tahan. Dan ini, untuk yang keberapa kalinya aku menangis? Mungkin, sudah tak bisa dihitung. Dan ironisnya, aku menangis, untuk orang yang sama. Orang yang tak pernah mau peduli dengan tetesan air mata yang aku keluarkan. “Sebelumnya, kakak mau nanya, apa sih yang kamu suka dari Rio? Ya..aku tahu, kamu suka Rio tulus dari hati kamu. Nggak lihat siapa Rio. Tapi, maksud aku itu, kamu paling suka kalau Rio lagi ngapain?” aku bertanya heran kepada Kak Kevin. Maksudnya apa ia berbicara seperti itu?
“Santai aja kali, Shel. Cuman pengen tahu, kok.” Jawab Kak Kevin enteng. “Aku masih inget, dulu, aku paling suka kalau Kak Rio lagi ketawa bareng teman-temannya. Aku suka saat Kak Rio tersenyum, meskipun senyuman itu, ia persembahkan buat orang yang ia sayang. Aku suka, waktu Kak Rio sok-sok an maen basket. Padahal aku tahu, dia nggak mahir dalam permainan itu. Tapi dia sangat jago, dalam sepak bola. Aku suka, kalau lihat Kak Rio lagi ngobrol biasa dengan teman-temannya. Dan aku paling suka, waktu Kak Rio jatuh, haha. Waktu itu, lucu banget deh pokoknya. Aku masih inget persis.” Aku tertawa, mengingat kejadian di masa lalu itu.
“Kok orang yang kamu suka jatuh, kamu malah seneng sih?” Tanya Kak Kevin heran. “Haha. Abisan, dia waktu itu, sok banget sih. Jadi, waktu pelajaran penjas, dia lagi main basket. Padahal kan, dia nggak terlalu hebat main basketnya. Dan, pas dia sok-sok-an mimpin pertandingan basket itu, ternyata, dia keserimpet. Dan akhirnya jatuh. Hahahahaha…”. “Heettdaaahh, ketawanya biasa aja kali, Shel. Seneng banget sih. Terus kamunya gimana deh waktu itu?”. “Aku? Ya..aku sih biasa aja. Nggak lucu kan kalau aku langsung nolong dia gitu aja. Yang ada, nanti dia jadi tambah benci sama aku, lagi.” suaraku merendah. Kak Kevin merenggut.
“Benci? Emang, kenapa kamu bilang, Rio benci sama kamu?”
*
Bel istirahat berbunyi, aku sedang berjalan di koridor sekolah bersama teman-temanku. Ugh, nampaknya, kantin sangat sesak. Tapi, perut ku yang terus memberontak untuk diberi asupan makanan, tak bisa ditahan lagi. akhirnya, aku menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tak peduli kalau nantinya, aku bisa pingsan karena mencium bau keringat dimana-mana. Yang penting, aku ingin makan.
Dari jauh, seseorang yang aku rasa kenal, berjalan mendekat. Dia mengenakan topi berwarna biru. “Shel, Kak Rio, shel.” Bisik seorang teman kepadaku. Dia tahu, kalau aku menyukai Kak Rio. Aku hanya mematung. Melihat Kak Rio yang terus berjalan semakin mendekat. Dan akhirnya, dia berjalan tepat disampingku. Ia melirik sekilas ke arahku, dengan tatapan yang begitu dingin. Aku menunduk, pilu.
Dan, selalu begitu. Dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, asalkan disana ada aku, tatapannya tak pernah berubah. Dingin. Tajam. Menusuk. Menyakitkan. Memilukan. Tak bisakah ia bersikap lebih baik kepadaku? Aku pun ingin diperlakukan seperti ia memperlakukan teman-temannya. Sapaan. Celotehan. Candaan. Aku pun ingin mendengar ia mengatakannya. Tapi, nyatanya, mungkin itu hanyalah sebuah angan semu.
**
“Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu Shelly. Kamu nggak tahu kan gimana perasaan dia sebenarnya?”. “Aku tahu. Dan yang paling aku tahu, adalah dia benci aku.” Kataku menatap Kak Kevin, dengan menantang. Abis, Kak Kevin ngelak mulu sih. “Sampai kapan kamu terus menyimpan hatimu untuk Rio?” aku hanya mengangkat bahu. “Kalau menurut aku, mending, mulai sekarang, kamu coba lupa! Lupain semua hal tentang Rio. Jangan pernah ingat dia lagi.” Kak Kevin menasihati. “Kak, aku pun dulu pernah melakukannya. Aku pernah mencoba untuk melupakan dia. Segala cara udah pernah aku coba. Pertama, mulai dari aku pikirin semua keburukan dia. Kedua, dengan aku pura-pura memasang tampang benci, kala salah satu dari temanku menyebut namanya. Bahkan, sampai-sampai aku membuat keputusan untuk berpura-pura menyukai teman sekelasku. Itu adalah ide terkonyol, yang udah aku implementasikan. Dan, semua cara itu gagal.” Kataku mendesah
Kak Kevin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kak, bantu aku…” kataku memohon. Menatap Kak Kevin, nanar. Masih dengan sisa-sisa air mata yang menempel di pipiku. “Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang, kan? hati itu nggak bisa dipaksakan.” Kata Kak Kevin. Aku hanya menunduk. Menahan air mata, yang mungkin akan mengalir lagi. “Sekarang, jawabannya ada pada diri kamu sendiri, Shelly. Kamu yang bisa menentukan. Apa harus selamanya, kehidupanmu dibayang-bayangi oleh es batu dari masa lalu?”. “Ih, kok es batu sih?” tanyaku memprotes. “Loh kan dia Mr. Dingin, hehe.”. “Ih, Kak Kevin rese.” Kataku mencubit tangan Kak Kevin. “Tuh kan, masih aja ngebela Rio.” Kak Kevin mencibir
“Harapan kamu sekarang apa sih, Shel?”. “Aku ingin bertemu Kak Rio, sekali lagi aja. Sebelum, aku kembali belajar untuk melupakan dia.” Aku menerawang ke langit-langit kafe. “Woalaaahh, harapannya aja masih berkaitan sama Rio. Sama Ahsan kek, Shel.”. “Kak Ahsan lagi, Kak Ahsan lagi. bosen tahu nggak.”. “Tapi suka kaann?”. “Sok tahu…” setelah itu, aku dan Kak Kevin sama-sama terdiam. Kami seperti kehabisan kata-kata.
“Lorong waktu.” Ucapku pelan, tiba-tiba. Kak Kevin mendongak mendengar apa yang baru saja aku katakan. “Apa shel?”. “Satu-satunya yang aku harapkan saat ini adalah lorong waktu. Lorong waktu, yang akan membawaku kembali ke masa lalu. Kalau kakak bertanya, mana yang akan aku pilih, masa lalu ataukah masa depan? Aku masih ingin berpijak dengan masa lalu. Karena masa lalu lah yang mempertemukan aku dengan dia. Dengan pemilik hatiku, yang pertama kali.” Kak Kevin menatapku terkesima. Ia tak mengedipkan mata sedikit pun mendengar kata-kata yang baru saja aku ucapkan.
“Shelly, hati kamu dan hati Rio ternyata terbuat dari bahan yang berbeda.” . “Apaan sih, kak. Nggak jelas banget. Haha.” Kataku meracau, karena tak tahu, apa lagi yang akan aku katakan. “Maaf ya Shel, kakak nggak bisa bantu kamu secara maksimal. Tapi, sekarang gimana? Bebannya udah terangkat?” Tanya kak Kevin lalu tersenyum. “Ia,kak. Lumayan. Makasih banyak ya.” Jawabku, namun masih dengan tatapan sendu. “Udah, masa lalu itu kan udah berlalu, sekarang yang kamu pikirkan adalah masa depan kamu. Kamu bakalan jadi orang yang tertinggal bila terus terpatri dengan bayangan si Mr. Es itu. sekarang, kita pulang, yuk! Udah sore juga. Kakak anter ya.” Aku hanya mengangguk, dan membuntuti Kak Kevin menuju motornya
**
Aku membuka-buka laciku. Mencari cari sesuatu. Ya, aku masih ingat. Sudah berapa tahun ya aku menyimpan sesuatu itu? ah, akhirnya aku menemukannya. Sebuah miniatur bola sepak, dan secarik kertas yang bahkan masih terlipat rapi sampai sekarang. Aku tersenyum sendu menatapi kedua benda itu.
Aku masih ingat bagaimana suasana dulu itu
*
Aku tahu, ya, Kak Rio akan menerima kelulusannya hari ini. dan aku menyusun sebuah rencana. Untuk memberikan kenang-kenangan kepada dirinya. Aku sudah bertekad, agar aku tidak jadi seseorang yang pengecut. Aku sudah berlatih, untuk menghadapi dirinya keesokan pagi. Ya, aku sudah dengan matang mempersiapkan semua itu.
Keesokan harinya, tanpa diduga ia mengunjungi kelasku. Ia datang, untuk menemui salah satu temanku, Aqra. Ya, Kak Rio dan Aqra memang bersahabat sejak lama. Aku pun tahu akan hal ini. Perlahan aku mendekat kea rah Kak Rio, aku sudah mengucapkan basmallah berulang kali. Dan tak bisa kupungkiri bahwa aku gugup sekali. “Kak R..” dia melirikku sekilas. “Eh, yaudah, gue duluan ya. Byee.” Dia pamit kepada Aqra dan berlalu begitu saja. Sebuah kilatan petir menyayat hatiku. Dalam hati, aku menangis. Dalam hati, aku menjerit. Ada apasih? Apa yang terjadi? Ini semua bagai mimpi. Begitu lancangnya aku, mendekati dia. Tanpa memikirkan hal ini lebih matang lagi. aku merutuki diriku, yang telah bersikap sok berani.
**
Aku kembali membuka kertas yang masih terlipat rapi itu. aku tersenyum getir, membaca tulisan tanganku, yang tersusun di sana. Sekarang, tintanya sudah mulai memudar. Maklum saja, aku menulis surat ini, sepertinya sudah sekitar dua tahun yang lalu.
Dear Kak Rio,
Hai kak, nama aku Shelly Aurelia. Aku cuman mau minta maaf sama kakak. Karena selama ini, aku udah ganggu kehidupan kakak. Maaf kalau kakak risih akan sikap aku yang terlalu sok deket dan sok kenal sama kakak. Maaf kalau selama ini, aku udah dengan lancang selalu memperhatikan kakak dari jauh. Dan terima kasih. Makasih buat semua yang nggak pernah kakak lakuin. Tapi, aku merasa kehadiran kakak itu begitu nyata. Makasih banyak udah segan norehin tintanya dalam catatan buku kehidupan aku. Sekarang, aku cuman mau ngasih ini. mungkin, sesuatu yang nggak berharga. Tapi, aku harap, kakak bisa menyimpannya. Maaf ngerepotin, kak. Hehe
Regard,Shelly_
Aku memberanikan diri. Kunyalakan korek api yang sedari tadi telah aku pegang. Aku gesekkan korek itu ke bungkusnya, hingga disana, terpercik si jago merah. Aku dekatkan korek yang tengah aku pegang, ke ujung surat masa-lalu itu. dan, hanya dalam hitungan menit. Surat itu, telah hancur, menjadi abu. Dengan sedikit bergetar, ku buang miniatur bola yang telah aku beli di Bandung dua tahun lalu. Aku tinggalkan kedua barang itu. untuk segera dilahap api, dan musnah. Ternyata, aku menyerah. Dan mengakhiri perasaan ini, sampai disini.
**
Regards,
-SA-








0 komentar:
Posting Komentar