**
Kamu boleh berpikir bahwa aku pengkhianat
Tapi, hatiku tetap ada padamu dan tetap untukmu
Walau takdir telah memutuskan tali yang kita simpulkan bersama.
**
Hari semakin gelap. Dan keputusan mama sudah bulat. Bahwa kami baru akan kembali ke Solo, 2 hari yang akan datang. Kalian tahu? Aku merasa, 2 hari yang harus terlewati itu bagaikan jutaan tahun di muka bumi. Mungkin, kesannya sangat berlebihan, tapi itulah kenyataan. Bahwa aku sudah muak tinggal di sini. Muak dengan semua kenangan yang aku lihat bagai klise yang kini telah memudar.
*
Aku membuka kedua kelopakku dengan sangat enggan. Mengerjapkannya berkali-kali, dan mendapati sebuah sinar yang menyilaukan menyapaku pagi ini. ternyata matahari sudah memulai rutinitasnya yang tak pernah ia lalaikan. Aku terlonjak kaget. 2 jam lagi, tepat pukul 09.00 aku akan meninggalkan kota terindah ini. indah bukan karena nuansa alam yang menjadi pelengkapnya. Tetapi, karena dia, Pangeran Kecil di Kota Hujan. Yang telah merubah segalanya.
Kubuka pintu kamarku, ternyata semua koper telah siap. Barang-barang yang kami bawa dari Solo, telah di bungkus dengan rapi. Aku mendengus kesal. Mengapa waktu harus berjalan secepat ini. dan mengapa, nestapa ini harus memilih aku sebagai lakon utamanya. Aku tak berani, dan sama sekali tak berminat lebih lama lagi untuk terus melihat semua itu dan menyadari bahwa waktuku di sini hanya diibaratkan mimpi yang menjadi bunga tidur dan tak akan menjadi sebuah cerita nyata.
“Sesil, mandi sana. Setengah jam lagi kita bakal langsung berangkat.” Seruan mama membuatku terlonjak dan hatiku histeris. “Bukannya 2 jam lagi, ma?” kataku mengelak. “Nggak sayang, papa bilang, keberangkatannya dipercepat. Supaya tiba di Solo nggak terlalu malam.”. “Tapi Sesil pengen main sama Ayi dulu,ma. Masa langsung pergi gitu aja.” Tahukan? Pernyataanku tadi, sesuungguhnya membuat hati ini sesak. Semua ini terasa begitu sulit dan aku tak mampu untuk menerimanya. “Nggak ada waktu sayang.”
Aku berjalan gontai menuju kamar mandi. Aku tak bisa beralasann apapun lagi untuk memperhambat keberangkatan. Aku hanya bisa pasrah dan menerima segalanya. Walau, melihat pangeranku pun tak bisa.
*
Aku berharap, kau akan datang.
Datang untuk menanamkan perasaan itu padaku.
Agar aku bisa menyesapnya setiap saat
Kala kita dalam jarak yang tak terjamah
*
Haaahh, saatnya tiba. Saat dimana aku harus mengucapkan selamat tinggal. Ucapan paling berat yang harus aku koarkan dari lidahku. Semuanya telah menaiki mobil silver itu. terkecuali, aku. Hanya aku yang masih berada di halaman rumah Tante Suci. Aku meminta waktu untuk menunggu. Menunggu kehadiran dan kesungguhan ucapannya bahwa dia akan mendatangiku.
*
“Kenapa cessi harus pergi? Kenapa Cessi lakuin ini semua?” ucapnya sendu. “Aku juga gak mau, tapi, itu tempat tinggal ku. Jadi aku harus kembali ke sana.” Kataku lirih. “Ayi bakal kangen banget sama Cessi. Ayi nggak akan punya teman kalau Cessi pergi.” Cukup! Aku mohon hentikan. Tak tahukah Engkau? Lawan bicara di hadapanmu ini pun menggugat semua itu. aku pun tak ingin itu terjadi. Tidakkah kau mengerti seperti apa perasaanku saat ini?
“Aku boleh minta satu hal sama Ayi?” kataku pelan. Dia mengangguk kecil. “Besok, jangan lupa Ayi datang ke sini,ya. Biar aku bisa bertemu Ayi. Walau untuk yang terakhir kalinya.” Dia tersenyum. Walau aku tahu, wajah itu menunjukkan betapa sedihnya dia saat ini.
*
Sudah hampir setengah jam aku menunggu kedatangan Ayi. Namun, ia tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Aku merutuki dirinya yang tidak menepati janjinya tadi malam. Aku kesal, sungguh sebal. Tak tahukah ia bahwa aku benar-benar membutuhkannya? Butuh sesuatu yang harus aku simpan dalam waktu lama. Senyum manis yang akan dipotret oleh hati kecilku.
“Sesil, lebih baik kamu menitipkan pesan saja pada tante mu. Dari pada perjalanan kita semakin tertunda. Ini sudah terlalu lama. Mungkin, temenmu itu lupa atau sengaja tak ingin datang.” Papa ini bicara seenaknya saja. Mana mungkin Ayi sengaja tak ingin datang dan bertemu denganku. Itu jelas sangat mustahil. Karena aku yakin, Ayi bukanlah sosok yang seperti itu. “Yaudah, tante, aku nitip salam aja buat Ayi. Makasih ya,tan.” Kataku, seraya menaiki mobil. Beberapa saat, mobilku pun mulai melaju. Menggiling, kerikil kerikil kecil dijalananan yang berkeletak merdu. Namun, tidak dengan hatiku. Yang terus melantunkan nada-nada pilu. Mobil silver ini semakin menjauh. Aku hanya bisa melihat bayangan Tante Suci yang tengah melambai pada kaca spion. Sesaat, sebelum mobil berbelok, aku –entah nyata atau tidak- melihat dia. Pangeranku, sahabat hatiku. Dia tengah berlari terengah-engah. Namun, kau tahu? Itu hanya penglihatanku dalam sepintas. Ahaha, itu tak mungkin.
***
Aku ini seperti gadis kecil yang berandai-andai untuk menyelami samudera pasifik. Seberapa pun aku bermimpi, namun itu mustahil untuk terjadi. Sama seperti mimpiku untuk bertemu Ayi. Untuk menyapanya, tersenyum kepadanya, berbincang, ataupun sekedar menatap kedua bola matanya lagi. semua itu, semua itu telah berakhir pada hari itu. hari dimana segala kenangan indah tersebut, harus musnah, sirna, bahkan lenyap. Hari dimana waktu harus dengan tiba-tiba menghentikan sebuah pementasan drama. Dan tokoh yang menjadi lakon didalamnya, harus mengakhiri jalan cerita yang telah tercatat dalam skenario.
Semua ini, semua ini benar-benar tidak adil. Mengapa? Mengapa harus aku yang menderita seperti ini? mengapa harus aku? Aku yang menanggung sesak selama ini? ternyata, rindu yang selama ini menghantui, tak bisa kutepis. Aku, sampai kapanpun, tak akan pernah menemukan kembali dirinya. Dia, seseorang, orang pertama yang telah mengenalkan aku kepada indahnya cinta. Sejujurnya, baru kali ini aku menyadari –setelah umurku beranjak dewasa- bahwa, dia telah membuatku jatuh hati.
‘Tuhan, siapakah laki-laki itu?
Apakah ia yang lazimnya disebut dengan pangeran?
Apakah ia yang sepantasnya menjadi figura, yang membingkai hati kecilku?
Tidak adakah orang lain? Aku sungguh berharap Tuhan
Berharap bukan hanya dia, pemilik hati ini.
Karena aku, tak akan sanggup menahan lebih lama lagi kesakitan ini
Sungguh, rindu ini membunuhku’
**
Ketika suatu hari, seseorang bertanya kepadaku. “sil, first love lo siapa? Kok perasaan selama ini, lo gak pernah cerita sama gue tentang seseorang yang special gitu di hati lo.” Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan teman sebangku ku tersebut. Jujur, aku bingung, sungguh. Karena, selama ini, sama sekali belum ada seseorang yang mampu menempati suatu ruang yang masih sangat kosong di hatiku. Lagi pula, aku bingung, siapa first love ku? Sepertinya tak ada. Aku menggelengkan kepale kecil untuk menjawab pertanyaannya. “Hah? Lo gak punya first love sil? Serius lo?” aku hanya tersenyum kecil. “Gue gak lagi ngerasain suka sama siapapun.” Jawab ku singkat dan semakin membuatnya tercengang. “Sesil, apa dari dulu lo gak pernah jatuh cinta?” aku menggeleng kecil. Aku rasa, memang itu jawaban yang tepat. AKU TIDAK PERNAH MERASAKAN CINTA. Lagi pula, aku tak mengerti seperti apa cinta itu. haha. Aku memang seorang gadis culun yang bahkan tidak tahu apa itu cinta.
“Jangan-jangan lo suka sama sesama jenis lagi? ih, jangan bilang kalau lo naksir gue?” jangan heran, karena teman sebangku ku memang seperti inilah adanya. Dia ngomongnya ngaco sekali. “Emang, rasanya jatuh cinta kayak gimana?” tanyaku kecil. Kalian tahu? Mulut dia semakin ternganga lebih lebar dari pada sebelumnya. “Dosa apa gue punya temen kaya lo sel?”. “Oke, elo gue end.” Kataku sambil hendak beranjak dari kursi yang sedang aku duduki.
“Iya iyaa, gitu aja ngambekan ah. Gak seru lo mah. Jadi, rasanya seseorang jatuh cinta itu, PERTAMA, kalau sama orang yang lagi dia suka, jantungnya selalu berdetak tak beraturan.” . “Perasaan, selama ini, kalau deket sama siapapun, jantung gue biasa aja.” Kataku dengan jawaban yang paling jujur. Temanku ini menggeleng-gelengkan kepala kecil. “Kayaknya lo emang bener-bener udah nggak normal sil.” Aku mendorong pundaknya pelan. Sebagai tanda bahwa aku tak menyukai gurauannya. Dan aku, memberinya aba-aba untuk melanjutkan ucapannya.
“Kedua, lo tuh selalu pengen merhatiin orang yang lo sukain.”, “Sumpah deh ya, demi apa gue belum pernah pengen ngeliatin orang. Apa lagi ngeliat elo. Yang ada enek duluan.” . “Elo ada waktu gak? Ngajak duel banget sih.” Katanya tersinggung. Aku hanya tersenyum geli. “Ketiga, mungkin orang itu selalu hadir di mimpi lo. Dan rutinitas yang elo lakuin setiap malam adalah, mikirin dia. Dan bilang ‘gue kangen elo’.”
Hatiku terlonjak. Aku tak bisa memungkiri, bahwa hanya dia. Seseorang yang selalu membuat ku merasakan rindu ini. hanya dia yang namanya selalu aku sebut setiap malam. Dia yang seberapa besar pun aku berharap, tapi dia tak akan pernah hadir. Aku percaya. Mungkin harapanku hanya sia-sia. Haha, siapa yang akan peduli? tak akan ada seorang pun yang mau dengan susah mengurusiku. Tidak ada.
Mulai sekarang, aku telah membuat keputusan. Bahwa aku, akan melupakannya. Melupakan masa laluku. Masa kecilku. Tapi, tidak dengan kenangan yang telah ia ukir untukku. Kenangan terindah, dengan cinta pertamaku








0 komentar:
Posting Komentar