Sudah satu minggu lebih aku bersekolah di sekolah baru ini. aku memang anak baru. Pindahan dari Aceh. Namun, aku bersyukur. Ternyata, hanya dalam jangka satu minggu saja aku sudah mendapatkan banyak sekali teman baru. Mereka semua ramah. Mengasyikkan, dan tentunya mau menerima aku apa adanya. Aku bangga memiliki teman seperti mereka.
Sudah satu minggu pula perasaan ini tertanam. Ternyata kini, ia mulai membentuk tunas. Apa sih aku ini? aku hanya anak baru di sini. Seharusnya, aku tak berhak menyimpan rasa yang sungguh istimewa ini. tapi aku pun tak bisa mengelak. Perasaan ini semakin mengada-ada.
Seseorang yang telah jatuh hati, ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi padanya. Kemungkinan pertama, ia akan merasakan cumbu-cumbu kebahagiaan. Namun kedua, itu tandanya ia telah siap sakit hati. Seperti aku. Kalian tahu? Ternyata, DIA. Orang yang membuatku menyimpan cinta diam-diam ini. tapi, rasa ku tak terbalaskan olehnya. Sejauh yang aku bisa ambil kesimpulan selama satu minggu ini adalah, Dia pintar, cerdas, aktif, dan anak yang manis, tentunya mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi, sepertinya, dia sedikit antipati denganku. Karena, semenjak aku masuk sekolah ini, dia tak pernah sekalipun menegurku atau mengulum senyum. Aku sedikit sakit, tapi, apapun yang terjadi aku telah siap menerima segala kemungkinannya.
“Vir, lo nanti terusin makalah presentasi kita ya.” Aku terlonjak mendengar sebuah suara yang menegurku secara tiba-tiba. Aku menoleh. Ternyata itu dia. Nafasku tertahan. Melihat sosok yang sangat aku kagumi berdiri tepat dihadapanku. “Apaan sih? Malah bengong.” Katanya dengan nada tak acuh. “Pokoknya besok harus udah jadi.” Dia pergi begitu saja setelah memberikanku makalah tersebut. Apa ini? dia mendekat hanya untuk mengangsurkan makalah ini? aku ingin tahu. Jika bukan karena tugas, apakah dia mau mendekatiku seperti tadi?
Aku membuka-buka makalah yang tadi diangsurkan olehnya. Dahiku mengernyit, aku tak mengerti. Aku tak bohong. Sedikit pun, aku tak paham dengan isi makalah itu. bahasanya pun berbelit-belit. “Harus jadi besok? Mana bisa? Ngerti aja nggak. Aku aja nggak tahu bagian mana yang harus aku kerjain.” Aku duduk di tempatku dengan gelisah. Membayangkan ekspresi wajahnya esok, apabila aku tak menyelesaikan makalah ini. “Apa aku Tanya aja sama dia, ya? Tapi, aku gak berani.” Aku menimbang-nimbang. Di depannya, nyaliku menciut. Hilang begitu saja. Aku benar-benar seperti pecundang. Tak memiliki keberanian sama sekali bila berada di dekatnya. Padahal dia siapa? Manusia bukan?
“Heh! Kenapa? Kebiasaan deh lo mah. Dari pertama masuk sini, bengong mulu. Kaya gak punya semangat hidup tahu ga?” Sofi teman sebangku ku mendekatiku dan menegurku. Aku hanya tersenyum kecil. “Kenapa sih, vir? Lagi ada masalah?” aku menggeleng. Berusaha menyembunyikan semuanya yang terjadi.
Tiba-tiba mata Sofi melihat benda yang sedari tadi berada di dekap ku. Makalah itu. ah, mati saja aku. Dia pasti akan langsung bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan makalah ini. perasaannya kan peka sekali. Aku takut Tuhan. Aku takut dia mengerti apa yang sedang aku pikirkan ini. “Apa itu?” tanyanya sambil menunjuk makalah yang aku pegang. Benar saja apa dugaanku. “Makalah presentasi IPA.” . “Oh, punya kelompok lo?” aku mengangguk. “Sekelompok sama siapa?” aku menelan ludah. Apa harus aku menyebutkan nama itu? sungguh, aku tak berbohong. Menyebut namanya saja bagai menghadapi ujian terbesar dalam hidup ini. lidahku mendadak kelu, jika harus melafalkan nama istimewa itu. “Yeh, malah diem. Gue Tanya juga.”
Aku berpikir sebentar, dan memutuskan untuk menjawabnya, walau dengan takut-takut. “S..en..dy” jawabku tergugu. Sofi langsung tersenyum jahil. Dan menyimpulkan semuanya secepat itu. “Lo, suka sama Sendy ya, vir?” tanyanya sambil menunjuk tepat di depan muka ku, dengan suara yang kencang pula. Aku langsung membekap mulutnya. Dia meronta meminta dilepaskan. “Apaan sih lo ah. Gue berasa jadi korban mutilasi.” . “Bawel.” Cerca ku padanya. “Ketahuan nih, Vir. Ahaha. Iya kan? kan kan kan?” sofi menaik turunkan alisnya. Muka ku memerah dibuatnya. Huft, anak ini selalu bikin gara-gara saja padaku. “kamu kenapa sih, sof? Cepet banget ngambil sebuah kesimpulan? Belum tentu kan dugaanmu itu tepat.” Kataku mencoba mengalihkan. “Semua orang yang ngeliat ekspresi lo dan cara bicara lo tadi, juga pasti bakal nyimpulin hal yang sama, vir. Mana ada kalau nggak suka, tapi ngeja namanya aja gugup gitu.” Apakah aku separah itu dalam menyembunyikan perasaan ini? apakah sekelas akan tahu tentang perasaan yang tengah bersemayam dalam diriku ini?
“Sendy!” Sofi memanggil nama itu, nama yang memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Aku terlonjak. Apa sih maksudnya? Ahh…Sofi, apakah kau tak mengerti? “Apaan sih, Sof?” aku menyenggol pundaknya. Dia hanya tersenyum jahil, dan memberikanku isyarat untuk diam. Sendy menoleh dan memandang bertanya pada Sofi. “Sini deh!” kata Sofi sambil melambaikan tangannya pada Sendy, menyuruhnya mendekat ke tempat dimana kami berada.
“Apa, sof?” Tanya Sendy langsung. “Lo nggak punya otak apa gimana? Vira kan anak baru, sen. Lo ngasih dia tugas suruh ngerjain makalah ini, tanpa lo kasih tahu petunjuknya sedikit pun? Gimana dia bisa ngerjain?” sungguh, Sofi benar-benar membuatku malu dibuatnya. Aku takut, Sendy berpikir negative tentang diriku. “Oiya, sori gue lupa.” Sendy menggaruk tengkuknya. “Lo duduk sini, jelasin sama Vira apa yang mesti dia kerjain.” Sofi bangkit dari tempat duduknya dan mempersilahkan Sendy untuk duduk di bangku, tepat di sebelahku. Jujur saja, jantungku semakin berdetak tak menentu. Tolong Tuhan, semoga wajahku tidak sekonyol yang aku pikirkan. Aku menatap jengkel pada Sofi yang memandangku jahil.
“Tadi kenapa lo nggak bilang kalau lo gak ngerti?” tanyanya kepadaku. “Lupa, hehe.” Hanya sesimpel itu kata yang aku ucapkan. Karena jujur saja, dihadapannya aku kehilangan kata-kata. “Yaudah deh, kalau misalkan lo nggak ngerti, kita kerjain bareng bareng aja. Tadinya sih, maksudnya lo nyusun makalah dan gue bikin draft nya. Tapi, ya biar hasilnya lebih maksimal, lebih baik kita kerjakan bersama, setuju?” aku menimbang-nimbang. Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan rahasia takdir? Tugas ini akan dikerjakan berdua? Oleh aku dan dia? Hanya berdua? Apa tak salah dengar? “Tuh kan, lo bengong lagi. sebenernya, selama di Aceh lo makan apa sih? Kerjaannya bengong mulu deh.” Aku hanya tersenyum malu. “Jadi, lo punya waktu kapan? Kita kerjain di rumah gue aja gimana?” aku berpikir lagi. aku kan tidak boleh main jauh-jauh. Apa lagi ini di rumah lelaki? “Kenapa?” . “Eh? Hehe nggak. Boleh deh. Besok aja gimana? Pulang sekolah!.” Dia hanya mengacungkan jempolnya pertanda dia setuju. “Gue ke kantin dulu,ya! Laper nih hehe. Lo mau ikut?” katanya ramah sambil tersenyum. Aku hanya menggeleng kecil. “Oke, gue duluan.” Dia pergi dan berlalu begitu saja. Tapi, hal itu bukan lah suatu hal yang biasa saja bagiku. Karena, dia berpamitan kepadaku untuk pergi ke kantin, bahkan mengajakku? Ah, itu sesuatu yang luar biasa.
***
“Hari ini akan menjadi Hari Bersamanya J”
tulisku pada acc twitterku. Tak berapa lama, ada seseorang yang me-Retweet tweet ku tersebut. Ah, secepat itukah statusku di respon oleh followersku?
@Rvld_Ngrh7: Sama gue kan Vir? Cie seneng banget kayaknya RT @Virazzhr: Hari ini akan menjadi Hari BersamanyaJ
Aku kaget dan terlonjak. Ini siapa? User siapa? Aku tak mengenalinya. Jangan, jangan bilang kalau yang mengirim mention itu adalah Sendy. Jangan Tuhan. Aku putuskan untuk tidak merespon tweet tersebut. Ku pandang jam dinding di kamarku. 15 menit lagi jam 07.00. tidak, aku hampir terlambat. Segera saja aku ke garasi dan mengayuh kencang sepedaku ke sekolah.
***
“Pireeehh, lo naik sepedah ke sekolah? Yang bener aja.” Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Sofi. “Pake sepeda itu, berarti mengurangi polusi udara yang sekarang udah ada dalam status gawat. Jadi, apa salahnya?” jawabku enteng. “Tapi kan lo jadi kesannya, kayak orang kampungan.” Sofi memandangku rendah. “Oh, itu sih urusan kesekian. Yang penting kan aku udah sedikit nyelametin bumi.” Aku tersenyum, sedangkan Sofi bertambah heran mendengar apa yang baru saja aku katakan. “Oiya, gimana soal makalah lo?” tanyanya, mengalihkan perhatian. Aku hanya mengedikkan bahu, lalu berjalan begitu saja mendahuluinya. Aku takut, wajah ku memerah dan Sofi harus melihat itu.
Setibanya dikelas, tidak biasanya, Sendy tersenyum padaku. Tapi, itu lebih mirip seringaian lebar. Aku mengangkat alis, pertanda heran. “Lo seneng ya hari ini?” ia memulai. “Biasa aja, kenapa?” jawabku singkat. “Hari Bersamanya? Maksudnya apa? Hehe. Sama gue kan, ya?” dia memandangku geli. Mampus! Ternyata itu Sendy. Astagaa, kenapa harus Sendy yang melihat tweet itu? ah, bodo sekali aku ini. “Yee, sok tahu.” Kataku, hanya begitu saja perlawananku? Iya! Tak seperti kepada orang lain. Karena aku benar-benar tak tahu lagi harus berbicara apa.yang pasti aku sangat merasa malu.
“Vir tunggu!” ah, ada apa lagi sih makhluk yang satu ini? sudahlah! Jangan mengganggu ku terus. Aku risih. “Hari ini jadi kan?” tanyanya lagi. aku hanya mengangguk, dan berusaha tak mengacuhkannya lagi. Sendy heran melihat kelakuanku yang seperti itu. maafkan aku jika bersikap seperti ini, Karena aku tak mau topeng ini sampai terbuka. Dan kau akan mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.
***
Aku ternganga melihat rumah berpagar abu-abu di depanku ini. tipe rumah minimalis, tapi bernuansa alam yang begitu nyata. Dari luar saja, sudah bisa ditebak bagaimana mewahnya rumah besar ini. Sendy membukakan pintu mobil, dan dengan ragu aku pun turun. Aku sangat merasa canggung. Rumah ini beda sekali dengan rumahku. Yang sangat sederhana. “Tuh kan, bengong lagi! hobi banget deh.” Katanya menanggapi tingkahku. Aku merasa sangat kampungan sekali. “Ada siapa aja di dalem?” tanyaku ragu. “No one.” Jawabnya santai. “Sama sekali?” ia mengangguk. “Cuma kita berdua?” aku meyakinkan. “Nggak juga sih, ada pembantu dua orang.”. “Terus kenapa tadi bilangnya ga ada orang? Emangnya mereka apa kalau bukan orang?”. “Jin kali.” Jawabnya asal. Aku memelototinya. Bicara sembarangan saja dia. “Udah yuk, masuk” ajaknya kemudian.
Baru sampai di depan pintunya saja, aku ragu untuk masuk ke dalam rumah ini. sebetulnya, ini rumah atau istana? Megah nya tidak tertolong. “Loh, kok malah diem di pintu?” ia menyadarkanku dari lamunanku. “Aku pantas nggak ya masuk rumah ini?” tanyaku canggung. “lo itu betul-betul terlalu polos ya, vir, nyante aja kali anggap aja rumah sendiri.” Sendy mempersilahkan ku masuk dan ia menyuruhku untuk menunggu sebentar di ruang tamu, sementara ia berganti pakaian. Kesempatan itu, aku pergunakan untuk melihat-lihat.
“Kamu, mau minum apa?” tiba-tiba saja suara Sendy membuatku kaget. Cepat sekali dia sudah kembali. “Hah?”. “Bengong mulu sih. Aku bilang, kamu mau minum apa?” aku malah heran sendiri mendengar gaya bicaranya yang tiba-tiba saja sesopan itu. “Apa aja deh. Air putih doang juga cukup kok.” . “Kamu itu sederhana banget sih?”. “Air putih itu, lebih sehat.” Aku tersenyum padanya. Melihat tatapannya yang curiga padaku.
Sendy bergegas ke dapur untuk membawakan dua cangkir minuman untuk kami. “Eh!” panggilku tiba-tiba. Aku heran sendiri, mengapa aku memanggilnya? Aku rasa tidak ada yang ingin ku pertanyakan. “Kamu manggil aku?” Sendy menoleh. “Yaiyalah, siapa lagi emang?”. “Soalnya di sini, nggak ada yang namanya “EH”.” . “Jayus dasar. Hm, sen, kok cara ngomong kamunya jadi aneh gitu sih?” . “Oh, hehe, kalau di rumah aku emang nggak biasa pake gue-elo. Jadi udah kebiasaan aku-kamu. Mama sama Papa ngajarin begitu.” Aku membulatkan mulutku pertanda aku mengerti. Lucu juga aku mendengarnya. Seorang Sendy, berbicara aku-kamu. Haha, tadinya aku sudah merasa GR. Biasanya kan, orang yang berbicara mengenakan gaya bahasa seperti itu, tandanya ada rasa. Haha, Vira..Vira.
“Ini minumannya Vir. Oiya, ini draft yang udah aku bikin. Sekarang, kamu tinggal ketik dan lengkapin aja,ya. Hehe, aku males ngerjain lagi.” katanya mengagetkanku. Aku hanya mengangguk singkat. Aku abaikan minuman yang telah ia bawakan. Aku mengambil laptopku dan bersiap untuk meneruskan makalah yang baru separuh ia kerjakan. “Kalau gak di minum, gak usah deh tadi dibawain minum.” Dengusnya perlahan. “Oh, jadi nggak ikhlas nih?” tanyaku curiga. “Abisan nggak diminum gitu. Kamu kan capek pastinya, vir. Nanti kalau kekurangan cairan dehidrasi loh.” Jantungku berdegup mendengar kata-katanya yang terkesan perhatian kepadaku. Wajahku memerah sesaat. Oh Tuhan tolong, jangan biarkan dia melihat perubahan air mukaku. Aku pasti akan sangat malu untuk yang kedua kalinya. “Awalnya, aku pikir, kamu itu sok dan yah kayak cewek pada umumnya. Tapi, dugaanku salah.” Aku menghentikan aktivitasku. Ada rasa penasaran dengan apa yang akan dia katakan. “You’re different. And I suppose that I’m not wrong.” Aku tersenyum mendengar penuturannya yang begitu tulus. Entah maksudnya apa. Aku pun tak begitu mengerti. Tapi, aku tak akan terlalu GR lagi. karena, ini akan berakibat fatal.
Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernah ku sesali itu
***
“Good night, vir. Mimpi indah yaJ. Thanks for today. Untung aja dibantuin bikin makalah. Kalau nggak, mungkin nggak akan kelar.”
“Ini Sendy?”
“Iya, hehe.”
***
Aku pikir aku terlambat. Tapi ternyata tidak. Perkiraan ku sangat salah. Sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang. Pun dengan koridor sekolah. Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara yang memanggilku. Aku menoleh, karena aku merasa mengenal siapa pemilik suara itu.
“Lo nggak akan pernah nyangka ini, vir.” Wajah Sofi berbinar, aku jadi penasaran dengan apa yang akan ia katakan. “Lo tahu? Semalem, Sendy sms gue. Dan dia nanyain no elo.” Sofi menyeringai. “Apa? Jadi, dia dapet no aku dari kamu?” kataku kaget. “Emang dia sms apa?”. “Ya, bilang goodnight doang sih.”. “Cie, kayaknya perasaan lo nggak akan bertepuk sebelah tangan deh vir.”. “Ngaco ah!”. Aku dan Vira hampir tiba di kelas. Ternyata sama, kelas pun masih sangat kosong. Tidak berpenghuni sama sekali.
Aku berjalan menuju bangkuku. Dan melewati meja Sendy. Aku heran melihat ada sepucuk surat beramplop merah muda diatas mejanya. Karena didorong oleh rasa penasaran, aku pun mengambil surat itu. ku lihat bagian depan dan belakang amplop. Tidak ada nama pengirimnya di sana. “Um, sof, menurut kamu, ini surat buat Sendy?” sofi mendekatiku, dan mengamati surat yang aku pegang. “Dari fansnya kali. Lo kayak nggak tahu Sendy aja. Buka aja.” Komentar Sofi enteng. “Dibuka? Apa boleh? Ini kan privasi.” Tolak ku. “kalau umpamanya itu bukan buat Sendy gimana? Bisa aja kan itu pesan terakhir korban pembunuhan. Barang kali, kita bisa bantu korban itu.” ucap Sofi ngasal . “kamu terlalu banyak baca conan sih. Jadi, boleh di buka nih?” tanyaku memastikan. Sofi mengangguk menyetujui.
Dear Sendy,
Aku nggak tahu apa maksud kamu mengirim sms itu padaku. Kau tahu? Aku dibuat melayang olehmu tadi malam. Aku malu, sen. Dan seandainya kau tahu, aku, ingin hubungan kita bisa teranyam kembali. Aku masih mengharapkanmu.
-ILYSM-
Mataku sudah mencembung. Air mata itu memenuhi setiap rongga kosong di dalam mataku. Dan, aku pun tak kuasa menahannya. “lo kenapa nangis vir?” aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sofi. “Emang suratnya dari siapa?” aku hanya menggeleng kecil. “Tolong jangan cari dimana aku ya,sof. Bilang aja aku izin. Dan jangan biarkan siapapun tahu apalagi Sendy, kalau aku udah baca suratnya.” Aku meletakkan surat beramplop merah muda itu di meja Sendy. Melipatnya rapi seperti semula, dan meninggalkan kelas dengan tergesa.
Sial, sangat sial! Dalam keadaan seperti ini, aku malah menabrak Sendy di pintu kelas. Aku terjatuh, dan meringis. Jujur saja, kakiku terasa linu. “Vira? Kam…ehm, maksud gue, lo nggak apa-apa?” tanyanya sambil membantuku bangkit. Aku hanya menggeleng kecil. “Lo nangis?” Aku mendesah dalam hati. Tuhan, kenapa ia harus melihat tetesan air mata kerapuhanku? Aku malu Tuhan. Aku tak menanggapi lagi ucapannya. Dan berlari meninggalkan kelas begitu saja. Tanpa peduli dengan seruan Sendy memanggil namaku.
**
“Itu apa, sof?” Tanya Sendy pada Sofi yang sedang memegang sebuah kertas. Sofi menatap Sendy dingin dan hanya mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu dengan objek yang Sendy pertanyakan. “Vira kenapa?” ekspresi Sofi pun sama dengan sebelumnya. Ia berpura-pura tak tahu, dan berlalu begitu saja.
**
Ah, tempat ini benar-benar menyejukkan hatiku yang dilanda gundah. Atap. Ini memang tempat yang selalu aku cari ketika aku sedih. Di sini, aku bisa melihat gumpalan awan yang menari-nari riang, menghiasi langit biru yang cerah. “Haha, aku memang manusia terbodoh yang ada di dunia ini.” kataku meracau. “Kenapa Tuhan harus memupukkan rasa GR. Hingga aku dengan lancang berpikir, bahwa dia mulai menyukaiku. Lantas, apa maksud pengirim surat itu? ini mungkin hanya dunia mimpiku”. “Kenapa harus Sendy? Kenapa Tuhan? Tidak adakah orang lain untuk aku tanamkan perasaan ini? tidak adakah insan lain yang pantas untuk merasuki pikiranku? Kenapa aku jatuh cinta pada orang yang salah? Orang yang terkenal. Orang hebat, dan pintar. Memiliki banyak penggemar. Tapi, aku bisa apa? Hatiku telah mencetuskan pemiliknya.” Batin ku lirih.
“Vira!” ah, lagi-lagi harus selalu suara itu. suara yang menyerukan nama aku. Suara yang membuatku kembali lagi ke dunia mimpi. Aku tak berani menoleh. Sama sekali tidak. Aku heran, dari mana dia tahu aku sedang berada di sini? Di tempat yang tersembunyi. “kok kamu di sini?” ah, lagi lagi kata “Kamu” yang semakin membimbingku untuk masuk ke dimensi semu. “Suka-suka.” Kataku singkat dan dingin. “Kenapa, vir? Tumben banget bolos pelajaran.” Tanyanya sambil duduk di sampingku. Aku hanya mengangkat bahu. Apakah orang ini sama sekali tak mengerti? Bahwa aku, tengah memikirkannya. Hatiku sakit karenanya. Andai yang datang bukan ia, mungkin sikapku tak akan sedingin ini.
“Ngapain di sini?” tanyaku berusaha sebiasa mungkin, tapi tetap saja, aku merasa ada nada dingin dalam suaraku. “Nyusulin kamu. Kata Sofi kamu izin. Tumben banget kan ya, eh terus aku berasa liat orang gitu diatap. Yaudah aku susulin.” Terangnya. “oh.” Jawabku singkat. Tuhan, tolong usir orang ini. tolong!
“Vir, marah ya sama aku?” ia memiringkan kepalanya. Menatapku dengan pandangan bertanya. Aku hanya menggeleng perlahan. “Kok sikap kamu aneh?”. “terserah orang dong.”. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, vir.” Wajahnya berubah serius. “Apa?” tanggapku tanpa memandangnya sedikit pun. “Hm..nggak tahu kenapa, aku ngerasa belakangan ini, kalau sama kamu rasanya nyaman.”. “tapi, aku nggak ngerasain hal yang sama tuh.” Jelas, aku tidak berbohong bukan? selama berada di dekatnya, bukan kenyamanan yang ku rasa. Tapi, yah..ketidak tenangan jantungku yang terus saja berdetak dua kali lipat lebih cepat. Itukah yang namanya nyaman?
“Aku…hm, suka sama kamu.” . “Masa?”. “Iya,”. “Oh, terus?”. “Would you be my girlf?” aku mengangkat bahu. Mudah sekali lelaki ini menyatakan perasaannya pada orang lain? Ia pikir aku apa? Haha, aku tertawa miris dalam hati. Seandainya, lelaki di hadapanku ini menyatakan perasaannya dengan serius, mungkin aku akan dibuat melayang olehnya. Tapi, LIHAT! DENGARLAH! Seakan-akan dia hanya berkata lo-mau-anter-gue-beli-buku-gak? Apakah harus aku menanggapi lelucon ini?
**








0 komentar:
Posting Komentar