“Sebenernya mau kamu apa, sen?” tanyaku sinis. “Loh, kok kamu bilangnya gitu sih? Emang, belum cukup jelas? Bukannya, ehm, kamu juga punya rasa yang sama kayak aku?” Sendy tersenyum dan menatapku. “Aku bukan tipe perempuan yang suka dipermainkan, sen. Sedang, dari gaya bicaramu aja, nggak menunjukkan keseriusan sama sekali. Aku nggak tahu harus menanggapinya kaya apa. Aku rasa, ini pantas dibilang lelucon yang sama sekali tidak lucu.” Ucapku sakratis. “Vira, lihat aku!” Sendy menarik pundakku, memutar badanku agar menghadap ke arahnya. Dia menatapku tajam, dengan tatapan yang mampu membuat bulu kudukku meremang. “Aku serius..” katanya pelan.
Tuhan, harus dengan apa aku menjawab perkataannya ini? apakah aku harus menerimanaya? Karena, jika boleh jujur, bukankah perasaan ini aku yang memulainya? Bukankah dia yang belakangan ini merasuki pikiranku? Tapi, setelah aku membaca surat tadi, masih haruskah aku percaya padanya?
“Mantanmu, gimana? Bukannya kamu mau balikan lagi ya sama dia?” Sendy mematung mendengar pertanyaanku. Aku bisa membaca perubahan ekspresi wajahnya. “Maksud kamu apa, Vir?” tanyanya dengan tatapan bertanya. “Kamu masih sempet Tanya? Apa kamu nggak nyadar? Siapa yang meng-sms mu semalam? Siapa yang membuat ia serasa melayang dengan ucapan pujian yang kamu berikan? Siapa Sen?” sial! Air mata itu, mengalir sesukanya, membentuk riak-riak kecil di kedua pipiku.
“Aku bener-bener nggak ngerti, vir. Maksud kamu, mantan siapa? Aku pun nggak pernah punya pacar dari dulu. Dan kamu tahu, you’re my first love.” Tatapannya sendu sekali. Seperti memohon. Aku tak tega melihatnya. Ingin sekali saat itu aku menerima permintaannya. “Tadi pagi, aku menemukan sebuah surat di mejamu. Aku membacanya, dan itu dari mantanmu.” Ujarku. “Ini semua fitnah. Pacaran aja belum pernah, apa lagi punya mantan.” Dia tersenyum miring. “Kamu, cemburu?” ia memandangku jahil. “Apaan sih, nggak kok.” Aku mengelak. “Terus, ngapain kamu nangis?” pipiku memerah, mendengar ucapannya.
“Kamu nggak boleh nangis. Aku nggak akan biarin kamu sedih, lagi. mulai sekarang, aku akan jagain kamu. Semampuku.” Dia mengusap bekas air mata yang masih tercermin dalam wajahku, dan ia tersenyum, sangat manis. Oh Tuhan, apakah aku tidak bermimpi jika aku memiliki lelaki ini, nantinya? “Emang kamu siapanya aku?” tanyaku menyelidik, menahan tawa. “Aku nggak mau tahu, mulai sekarang kamu itu udah resmi jadi pacar aku.”. “kalau akunya nggak mau?”. “Mana mungkin nggak mau. Orang kamu nangis gara-gara cemburu ke aku kan?”. “Ihhh, Sendy, ngeselin banget sih.” Kataku mencubit tangannya. Ia meringis kecil. Kami berdua pun tertawa bersama, menikmati indahnya langit di siang hari.
***
“Aku menyukai orang yang salah. Orang yang sudah termiliki. Tapi, sudikah kau? Bila setiap harinya, aku tak akan pernah absen untuk mengawasimu dari jauh. Bukan apa, hanya sekedar memastikan bahwa kau baik-baik saja”-You’re secret admirer
***
“Aku mau, hubungan kita cukup sampai di sini aja. Maaf kalau aku bikin kamu sakit.” Aku terlonjak mendengar ucapannya, bagai duri yang menohok dadaku, sesak. “Maksud kamu apa?” tanyaku masih tak mengerti. “Sori, vir, aku nggak bisa. Aku nggak mungkin bahagia diatas penderitaan orang lain. Apalagi dia sahabatku. Dia pun menyukaimu, vir.” . “Dia? Dia siapa?” tanyaku panik, aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi. “lama-lama kamu pun akan tahu.”. “Jadi, kamu lebih mentingin perasaan sahabatmu, dari pada aku?”. “Bukan gitu. Aku tahu nantinya, bakal banyak hati yang akan tersakiti kalau kita melanjutkan hubungan ini.”. “Tapi, hati aku? Gimana dengan hati aku sen? Apa kamu…”
Tut..Tut..Tut…
Ada apa sebenarnya dengan lelaki ini? apa yang terjadi? Telepon itu, ia matikan begitu saja. Kalian tahu? Hubungan kami, baru berjalan 2 hari. Minim sekali bukan? tapi, tanpa alasan yang jelas, ia memutuskanku. Hanya karena sahabatnya, tadi ia bilang? Astaga, tapi siapa?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Sms yang aku terima tadi malam, aku yakin, itu pasti dari orang yang Sendy maksud. Aku membuka sms itu. Dan menelepon nomor yang tertera di sana.
“Halo..”
“Halo, ini siapa ya?” sapaku ramah
“Orang.”
“Eh seriusan dong.”
“ini udah serius.”
“Tunggu..tunggu kayaknya aku kenal deh sama suara kamu..” aku mencoba menerka. Siapa orang yang berbicara di sana.
“Ini Robi.”
“Apa? Ja..jadi, kamu. Hm, maaf sebelumnya. Bukan maksud GR. Tapi kamu…”
“Iya vir. Jet’aime.”
Dengan segera, aku memutuskan sambungan telepon itu. tega sekali orang itu. ia Robi. Teman sekelasku. Teman sebangkunya Sendy. Ia telah menghancurkan hubungan kami. Aku benar-benar tak menyangka akan jadi seribet ini. Sendy yang memulai, dia pula yang mengakhiri. Tiba-tiba, handphone di sakuku bergetar, dengan segera aku membukanya.
From Sendy : “Maaf, aku tahu karena ini, sebuah hati yang begitu suci telah aku sakiti. Tapi, aku berjanji. Ketika menginjak kelas 12 nanti, aku akan kembali menyatakan perasaan ini padamu. Aku harap, kau mau menunggu. Hingga waktu yang tepat tiba. Dan, tetaplah jaga hatiku”
To Sendy : I hope so
Aku tersenyum memandangi sms itu, aku harap, itu semua bukan sebuah dusta.
Seluruh jiwa telah ku serahkan
Menggenggam janji setiaku
***
Aku tersenyum bangga mendapati kabar itu. Dua minggu yang lalu –tepat beberapa bulan setelah aku menginjak kelas 12-, Sendy mengikuti lomba Jurnalis, dan ia berhasil merebut juara pertama se-Indonesia. Lihat, bagaimana aku tidak bangga padanya? Tuhan, andaikan lelaki ini, aku yang memilikinya. Aku pasti akan sangat menyayanginya. Dan, dia diundang oleh Presiden Indonesia, untuk menghadiri acara di Bali. Entah apa acara itu. ia tinggal di sana selama dua minggu. Aku tak tahu, apa saja yang ia lakukan di sana. Dia tak pernah mengirimiku kabar via sms. Kami benar-benar lost contact.
Ah, tetapi bukan hanya saat ini saja kami tidak saling berkomunikasi lagi. semenjak aku dan Sendy mengakhiri hubungan kami yang bertahan dua hari itu, satu tahun yang lalu, dia tak pernah mengirimiku sms lagi. Bahkan, dia telah mengganti nomor teleponnya. Apakah dia bersikeras melupakan aku dan merelakannya untuk sahabatnya? Hh, aku pun tak tahu. Namun, yang aku senang, ia tetap memberikanku perhatian-perhatian kecil, di sekolah. Misalkan, ketika aku sakit, ia membelikanku sebotol air mineral. Namun, ia tak berujar apa-apa. Hanya tersenyum kecil. Pernah sekali, tanganku tergelincir, dan aku tak kuat untuk menaikkan bangku ku ke atas meja. Dengan sigap, dia mengangkatkan bangku itu untuk ku. Dan setelahnya, pergi begitu saja.
Banyak pertanyaan yang berkelebatan dalam pikiranku. Aku heran, mengapa dia memberikanku perhatian-perhatian itu belakangan ini? setelah hati ini hampir mati karena terus ia kikis perlahan, dengan sikap dinginnya setelah memutuskan hubungan kami. Aku sakit, kenapa dia tak berkata sepatah kata pun setelah itu? sungguh, aku ingin berbincang dengannya. Aku rindu saat-saat itu, dimana aku bisa bercerita panjang lebar. Menceritakan apapun terhadapnya. Namun, sejujurnya, aku senang dan bersyukur. Entah, aku merasa, hatiku hidup kembali. Tapi tetap saja, dia itu orang yang misterius. Aku tak bisa menebak, apa yang sedang terjadi padanya.
Dan, setelah dua minggu di Bali. Ia pulang. Kembali menyapa kelas, dengan senyuman manisnya. Anak-anak satu kelas, menghampirinya dengan ramai. Mereka seperti sangat merindukannya. Berbeda dengan ku, yang hanya tersenyum dari kejauhan. “Vir, nggak seneng Sendy pulang?” Tanya Robi, dan duduk di sebelahku. Kebetulan Sofi yang dari dulu tetap menjadi teman sebangkuku, sedang menghampiri Sendy. Aku hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan Robi.
“Maaf ya, vir, semua ini gara-gara gue. Salah gue yang dulu bilang ke Sendy kalau gue suka sama lo. Salah gue hubungan kalian jadi berantakan. Sendy salah paham, vir. Gue nggak maksud untuk…”.
“Semuanya udah terlanjur. Nggak ada yang perlu disalahkan. Aku pikir, sekarang pun Sendy udah lupa dengan semuanya yang berkaitan dengan aku. Semuanya, termasuk perasaanku.” Kataku miris. “Nggak, itu nggak bener. Gue tahu, Sendy masih sayang banget sama lo. Sendy masih nyimpen hati lo. Terbukti dari perhatian yang dia kasih ke lo. Jadi, lo nggak perlu khawatir tentang janji Sendy.” Robi menatapku, mencoba menghibur. “Kamu tahu tentang janji itu?” jawabku heran. “Gue baca sms Sendy. Nggak sengaja.” Robi nyengir. “Ih, kamu rese banget sih, Rob. Aku malu banget sumpaahhh.” Kataku gemas, mencubit tangan Robi. “Bahkan, walau udah satu tahun yang lalu, gue masih inget persis loh gimana isi sms itu, dan jawaban singkat dari lo. Hahaha.” Robi tertawa puas dan lari meninggalkanku. Aku mengejarnya, keluar kelas. Anak yang satu ini, benar-benar menyebalkan sekali.
Dia masih tertawa, dan aku terus meneriakkan namanya. Kami berlari, dan saling tertawa, melewati Sendy yang masih dikelilingi oleh anak-anak sekelas, yang terlihat berminat sekali mendengar cerita Sendy. “Robi, tunggu. Jangan kabur, rese banget sih!” kataku kencang. Aku tak sadar, kalau kala itu, aku tengah menarik perhatian Sendy. Karena aku tak tahu, waktu aku mengejar Robi, ternyata Sendy melihat ke arahku. “Mungkin, dengannya kamu akan bahagia.” . “Apa sen?”. “Eh, nggak sof.”
***
Dear diary,
Aku masih sangat dan sangat menjaga perasaan ini. sampai detik ini. sampai menit ini. sampai hari ini. dan bahkan, hingga esok, nanti, seterusnya, dan selamanya akan selalu begini. Tak pernah ada seorang pun yang bisa menjadi bingkai hati kecilku, kecuali dia. Aku pun sangat heran. Mengapa hanya dia? Mengapa hanya sederet nama itu, yang selalu bergaung dalam pikiranku. Tak adakah yang bisa membantuku dari semua ini? bahkan, aku pun tahu. Mungkin, kali ini, dia sudah benar-benar melupakan janji itu. janji kecil, yang dengan bodohnya, aku tetap menantikan kebenarannya.
Bintang, jika boleh aku berharap, malam ini saja, tolong sampaikan pesan hati kecilku ini padanya. Bahwa aku sangat dan sangat merindukannya. Tawanya, parasnya, dan ucapannya. Segalanya masih tetap terekam rapih dalam memori otakku. Aku hanya berharap, aku, gadis lugu dari desa ini, akan selalu ia kenang, walau rasanya, itu benar-benar tak mungkin.
Kamu, kamu adalah kamu.
Kamu yang hadirnya selalu membayang dalam muara kehidupanku
Kamu. Kamu yang senyumannya tak pernah pudar dari anganku.
Dan aku tak tahu mengaapa. Mengapa kamu tak pernah mau tau tentang bagaimana perasaanku selanjutnya, Sendy Claudio
Ku mohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
***
Dia menyukai perempuan itu? ya, perempuan yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Perempuan yang bertemu dengannya saat di Bali itu. apa aku tak salah menerka? Dari manakah harus aku dapatkan kepastian kabar ini? Hhhh, bodohnya kau vir. Kau masih tetap saja memikirkan laki-laki itu dan mengharapkan pembuktian dari janjinya. Padahal apa? Hatinya pun telah terpaut dengan wanita lain. Wanita yang jauh di sana, Bali.
Sejauh yang aku lihat di jejaring sosial, gadis ini memang cantik dan sangat menarik. Malah, mungkin, lebih cantik dari pada aku. Pantas saja ia menyukainya. Rambutnya panjang dan hitam legam, sepinggang. Senyumnya, manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Matanya sipit, membuat parasnya semakin ayu. Dan, dia putih. Aku jelas kalah. Hm, kini aku menyerah. Aku tak ingin banyak berharap lagi dengannya. Aku ingin melupakan segalanya. Tentang semua perasaan ini yang membuat hatiku begitu sesak. tapi, bagaimanakah caranya. Haruskah dengan berpura-pura menyukai pria lain? Tapi siapa? Robi? Ah, lelaki itu, memang selalu membuat ku ingin tertawa.
Tiba-tiba, handphone ku bergetar. Dan aku terkejut melihat nama yang tertera dalam layar ponsel ku. Ternyata Robi. Panjang umur sekali lelaki ini. baru saja aku mengingat-ingat tentangnya. Hahaha.
“Gue suka sm Febby, Rob. Gw gk tahu knapa. Ya, mungkin awalnya krna gw ngerespon perasaan dia. Tp, yg gw bingung, apa dia tulus cinta sm gw? Apa hnya krna ketampanan gw aja? Dan lo tau, dia msh jd pcr orng.” itu sms dari Sendy vir. Gue cuman mau ngasih tau lo informasi tentang ini aja. Biar mengklarifikasikan semua pertanyaan lo. Sori, if it hurts you.
Mataku terbelalak membaca sms yang Robi kirimkan kepadaku itu. lensa mataku mulai mencembung, dipenuhi oleh gumpalan bening yang siap meluncur kapan saja. Jadi, memang benar adanya. Dia menyukai wanita lain. Dan benar-benar melupakan perasaannya kepadaku. Dia lupa, dengan janji yang ia buat sendiri. Namun, aku tak habis pikir. Dia menyukai orang, yang juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, tapi masih memiliki kekasih? Hei, mau dibawa kemana hati perempuan ini. bagaimana jika kekasihnya tahu?
Sendy, harusnya, harusnya kamu sadar sen. Hanya begitu saja, orang sudah bisa menilai, bahwa dia perempuan yang tidak bisa menjaga hatinya. Kenapa sen, kenapa kamu nggak sadar, disini, seorang wanita, selalu menjaga hatinya, hanya untuk mu. Bukan untuk lelaki lain. Tapi, nyatanya? Kau malah mengikis harapan semu yang selalu aku angankan. Sudah, semuanya sudah berakhir. ‘Lupakan dia vir. Dia bukan untuk kamu. Kamu harus bisa menghapus semua kenangan tentang dan bersamanya.’ Tekadku kuat.
***
“Vira Azzahra..” aku melangkah ke depan ruang musik, dengan perasaan gugup. “Mau memainkan apa kamu?” Tanya Pak Dicky dingin. “Piano,pak.” Jawabku sambil menunduk, untuk terus menetralisir rasa gugup ku. Aku berjalan ke arah piano berukuran sedang, berwarna putih pucat dan sudah kusam di sudut ruangan. Aku merasakan, seisi kelas menatapku dengan heran. Selama pelajaran seni berlangsung, tidak ada yang memainkan alat musik yang akan aku mainkan ini. Mereka memainkan gitar, drum, bahkan hanya bernyanyi saja tanpa alat musik. Karena, sudah menjadi rahasia umum, bahwa piano ini lama tidak ada yang menggunakannya. Dan, tak seorang pun tahu kalau aku bisa memainkan piano.
Aku menatap seisi ruangan. Teman-teman yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Dan huft, sial, mengapa dia harus masuk hari ini? bahkan dia duduk dalam deret bangku paling depan. Membuatku semakin enggan untuk memulai permainanku. Aku hanya diam. Siapkah aku menyanyikan lagu ini untuk seseorang yang tengah menatapku itu? aku rasa tidak.
Sudah 10 menit berlalu. Dan aku masih saja diam. Tak berniat sedikit pun untuk menyentuh tuts-tuts piano yang ada di hadapanku ini. kegaduhan mulai ku dengar. Mereka sepertinya sudah merasa bosan dengan apa yang aku lakukan di depan. “Vira, kapan kau akan mulai bermain? Mau mendapatkan nilai atau tidak? Apa kau hanya menampilkan gaya mu yang terus mematung seperti itu?” Pak Dicky membentakku. Nyaliku semakin menciut diperlakukan seperti itu. “Bismillahirrahmanirrahim.” Bisikku pelan. Bahkan sangat pelan, hingga hanya aku yang dapat mendengarnya.
Aku memulai menekan-nekan tuts-tuts piano itu, dengan sebisa mungkin, selembut mungkin, agar lagu yang akan aku persembahkan ini, bisa ia tangkap dan ia sadari. “This is for someone…” kataku memulai.
“Berulang kali, kau menyakiti. Berulang kali, kau khianati. sakit ini, coba pahami. Kupunya hati bukan tuk disakiti.”
Ternyata, baru sebait aku menyanyikan lagu itu, semuanya hening. Hanya suara ku yang bergema dalam ruangan itu.
“ku akui, sungguh beratnya. Meninggalkanmu yang dulu pernah ada. Namun harus aku lakukan. Karena ku tahu ini yang terbaik.”
Aku menatap sekilas ke depan, mereka, seperti orang-orang yang tidak bernyawa. Mereka mematung. Ah Tuhan, sejelek itu kah suaraku?
“Ku harus pergi meninggalkan kamu. Yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya…”
“Gue harap, lo bisa ngerti makna dari lagu itu, sen.” Sofi berkata tajam kepada Sendy yang duduk di depannya.
“Ku akui sungguh beratnya. Meninggalkanmu yang dulu pernah ada. Namun harus aku lakukan. Karena ku tahu ini yang terbaik. Ku harus pergi meninggalkan kamu. Yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya. Cintaku lebih besar dari cintanya. Mestinya kau sadar itu. bukan dia, bukan dia, tapi aku…”
Aku tersenyum kecil setelah menyanyikan lagu itu. aku heran, mengapa tepukan teman-temanku begitu riuh, dan mereka menyeru-nyerukan nama ku. Apakah, aku tampil dengan memuaskan? “Bagus sekali Vira,” kata Pak Dicky yang tadinya marah padaku. “Bapak, akan memasukkanmu ke tim paduan suara SMA kita. Bapak harap kamu tidak akan menolaknya.” Aku hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Pak Dicky.
“Vira, lo gila, ya? Kenapa lo nggak pernah cerita ke gue kalau lo punya suara kayak malaikat, dan lo mahir main piano?.” Sofi memelukku bangga, dan menepuk-nepuk punggungku. “Hehe, itu kan bukan informasi yang penting, sof.” Kataku sambil tersenyum. “Vir, gue nggak nyangka, suara lo sebagus itu. tapi ya, kalau dibandingin sama gue sih, masih bagusan gue ya vir. Sori aja.” Robi mengangkat kerahnya, berlagak seperti orang yang menyombongkan diri. “iyadeehh, yang jadi vokalis band mah beda aja.” Kataku sambil menyindir. Dia hanya tersenyum lebar. “Lo tahu nggak gimana ekspresi Sendy tadi?” Tanya Sofi. Mendengar nama itu disebut, seperti ada sesuatu yang menohok saluran pernapasanku. “Gak, dan nggak mau tahu. Aku duluan ya, lafaaarrr. Hehe.” Kataku berusaha menutupi.
Sebenarnya, aku bukan ke kantin. Tapi aku berlari kea rah atap sekolah. Tempatku biasa berpijak, jika suasana hatiku sedang kacau. Aku benar-benar ingin menangis. Lagu itu, mengapa lagu itu membius diriku sendiri? Mengapa dia tidak? Dan kenapa tadi dia sudah tak ada di ruang music? Ah, dia lagi dia lagi. sudah lah! Aku lelah bila harus memikirkan dia.
Dari atas sini, aku merasakan kesejukan dan kedamaian yang luar biasa. Angin yang berhembus, mengibaskan rambutku yang sengaja aku gerai. Untungnya, langit sedang mendung. Jadi, tidak terlalu panas. “Meskipun cintamu tak hanya untukku. Tapi cobalah sejenak mengerti.” Aku bersenandung kecil, sambil menatap langit. Namun, hatiku terus mendesah, galau dan risau itu masih ada.
“Maaf…” sebuah suara dingin menyapaku begitu saja(seperti satu tahun yang lalu). Aku terlonjak kaget, aku pikir setan. Karena, tak ku lihat siapapun di sekitarku. Tapi, beberapa menit kemudian, dia mendekat. Dan duduk disampingku. Hhh, kenapa harus ada dia? Sungguh, aku ingin sendiri. “Apa, lagu tadi buat aku, vir?” tanyanya perlahan, dan menatap ku yang sama sekali tak menggubris kehadirannya. “Apa kamu masih jaga hati aku?” dia kembali bertanya. Pertanyaan yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Karena semuanya sudah jelas. “Aku sama sekali nggak nyangka, vir. Aku pikir, kamu menyukai Robi.” Aku tertawa mengejek. “Febby ternyata nggak lebih baik.” Aku terus diam. “maaf aku sering ngebuat kamu sakit, nangis, dan hancur.”. “PD” jawabku singkat. “Kamu marah sama aku?” ia masih terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dan aku masih terus bungkam. “Makasih buat lagunya. Aku suka.”
“Emang itu buat kamu? Sok tahu.” . “Gausah nutupin gitu deh, aku tahu kok. Bahkan, sebelum itu pun, aku udah bisa nerka kalau kamu bakal bawain sebuah lagu buat aku. Dan hanya buat aku selamanya.”. “Aku nggak habis pikir, kenapa kamu bisa ngira kalau aku suka sama Robi. Jelas-jelas Robi sahabat kamu.” Sendy terdiam, tak menanggapi ucapanku. Dia menghela nafas. “Vir, semua wanita itu cantik.” Dia berdiplomatis. Entah, apa maksudnya berkata seperti itu.”Tapi, aku tak menilai paras nya yang cantik. Aku tahu, aku suka sama Febby, itu cuman perasaan sesaat. Aku dibutakan oleh kecantikan seorang wanita.” Febby, Febby, dan Febby terus yang ia ceritakan. Tak mengertikah ia? “Dan, seharusnya dari dulu, aku mengikuti kata hati aku. Karena hati selalu benar bukan? hanya kamu, vir, wanita sederhana yang mempunyai kecantikan luar dalam. Itulah alasan mengapa dari dulu, aku selalu menjaga hati aku untuk kamu, walau kamu tahu yang sebaliknya. Bahwa aku telah melupakan segalanya. Itu yang kamu tahu bukan? tapi, tidak pada kenyataannya. Karena, dari awal, aku tahu, bahwa kamu dan hanya kamu yang terbaik.” Tuhan, kejutan apa lagi yang Engkau berikan? Apakah sebetulnya ini sebuah cobaan?
“Aku, kangen kamu, vir.” Hatiku berdesir mendengar kalimat singkat yang baru saja ia serukan. Setelah sekian lama, ia menyakitiku, ia memupuskan anganku, akankah ia memberikan kembali sayap yang telah ia patahkan sendiri? Harus bagaimana nantinya?
Bila rasaku ini rasamu. Sanggupkah engkau, menahan sakitnya terhianati cinta yang kau jaga. Coba bayangkan kembali, betapa hancurnya hati ini, kasih, semua telah terjadi
***
“Ayah pulang.” Sapanya ketika ia membukakan pintu. Aku tahu, ia pasti lelah. Namun, yang aku kagumi dari dia adalah, tetap tersenyum untuk menyapa anak-anaknya di rumah. “Yeah, Ayaahh pulaaanngg. Asik, apa itu,yah? mainan ya? Pasti buat aku kan, yah?” . “Enak aja, kamu tuh selalu PD. Itu mainan pasti buat aku. Aku kan anak kesayangannya ayah.”. “Kalian kok malah bertengkar? Kalau kakak sama adik itu, harus saling menjaga, bukannya malah bertengkar seperti ini.” kataku melerai mereka
“Ayah bawa mainan untuk kalian berdua kok. Lihat, ada kimmi and friends buat Alyssa, dan mobil remote control untuk Rio.” Dia membagikan hadiah-hadiah itu. aku hanya tersenyum melihatnya. “Makasih ya, ayaaahh.” Mereka berdua memeluk Sendy dengan penuh rasa sayang. “Yasudah, sekarang, kalian main sana.” Mereka menurut dan berlarian ke teras.
“Nggak kerasa ya, vir. Sekarang, anak kita sudah tumbuh sebesar itu.”. “Iya, siapa dulu ibunya.”. “Ayahnya yang lebih hebat, dong.”. “Tapi kan, aku yang melahirkan mereka.”. “Dan kalau nggak ada aku, mereka nggak akan ada.”. “Kamu itu dari dulu, dari SMA, bahkan saat menjadi mahasiswa pun sifatnya sama aja ya. Nyebelin, dan nggak mau ngalah.”. “Kamu juga sama. Polos, lugu, tapi tetap cantik. Dan kecantikan itu, cantik sempurna.” Aku tersenyum mendengar penuturan Sendy. Ah, lelaki ini, memang sama sekali tidak berubah. Kata-katanya, selalu saja membiusku. Terima kasih Tuhan, untuk kebahagiaan yang telah Kau anugerahkan kepadaku dan kepada keluarga kami ini. terima kasih, karena kau telah menciptakan lelaki di hadapanku ini, untuk menjadi pendamping hidupku.
***








0 komentar:
Posting Komentar