Sebuah
rasa yang menyesakkan, adalah rasa sayang dari seorang penggemar terhadap idola
mereka. Memang, kita tak boleh mengidolakan seseorang dengan terlalu berlebihan
bukan? begitu pula yang disyariatkan oleh agama Islam. Seseorang yang patut
diidolakan hanyalah Rasulullah SAW.
Lantas,
harus aku beri nama apa perasaan ini? gejolak candu, menerjang dalam sekejap. Hanya
karena, rona bahagia itu sudah kian mendekat. Iya. Lelaki yang satu ini, betul-betul aku rindukan. Hari itu,
kedua sudut kecil dibibirku, tak henti-hentinya membentuk lengkungan semu. Yang
mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Tetapi, tak tahukah mereka? Seberapa
kuat aku menahan buncahan rasa bahagia saat menanti waktu itu tiba.
Aku tak
ingin sedikitpun melewatkan aksinya saat itu. dan aku mulai menerka, akan
segila apakah aku ketika waktu itu telah tiba? Ah, ingin rasanya aku mencabik
hatiku saat itu juga. Bukan apa, hanya sekedar meredakan detakan yang sangat
tak beraturan itu.
Sudah beberapa
lama ini kunanti. Keeksistensiannya di layar kaca itu, aku bersungguh-sungguh
tak akan pernah melupakannya. Bahkan saat itu, rasanya, aku ingin menitikan air
mata. Saat mengetahui, bahwa benteng jarak antara kita kembali menebal dan
semakin sulit untuk dihancurkan. Dan aku tahu, mungkin itu bukan waktu yang
tepat. Tak ada lagi harapan. Kegelapan menghancurkan angan yang selalu aku
susun sendiri. Hanya sendiri. Tanpa dia. Haha. Bicara apa aku ini? ia tak
mungkin bersedia menyusun angan ini bersama. Aku mungkin terlalu egois. Berharap,
takdir akan mempertemukan kita dalam jangka waktu yang dekat ini. tapi aku
sadar, apalah daya, aku tak bisa. Sebesar apapun usaha yang aku lakukan. Mungkin,
saatnya belum tiba. Saat bahagia itu. ketika aku dapat menyadari, bahwa dia
bukan hanya pangeran dalam mimpi.
Lalu,
apakah aku bersalah? Ketika aku tak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Saat
aku selalu membawa alam khayalku kedalam realita. Aku sering secara tak sadar,
menganggap bahwa aku dan dia adalah kita. Hingga akhirnya, aku kembali harus
terbentur oleh takdir realita. Aku dan dia. Tak akan pernah mungkin menjadi
kita. Sampai kapanpun.
Dia mungkin
berbeda. Aku tak pernah memiliki perasaan sehangat ini terhadap lelaki lain. Karena
aku mencoba untuk tidak menyukai lawan jenis dalam beberapa waktu kedepan. Aku hanya
ingin bermunajat dengan penciptaku. Kecuali, hingga waktunya telah tiba. Saat aku
benar-benar harus memilih tentang pangeran hatiku. Tapi, aku benar-benar berada
dalam status kegagalan. Aku tak bisa terus menerus bermunafik, bahwa aku tidak
menyukai –ehm tepatnya menyayangi- dirinya. Maksudku, dia yang berada di layar
kaca sana. Apa, seperti inikah perasaan seorang penggemar terhadap superstar? Apa
benar sekuat ini? atau……..benarkah ini perasaan dari seorang penggemar?
Andaikan.
Andaikan. Dan andaikan. Andai, aku dan dia berada di jalan yang sama. Mungkin,
tak akan seberat ini. kau tahu? Kita berbeda iman. Aku mencintai Allah-ku. Dan dia,
mencintai Tuhannya. Dan saat menyadari hal ini lah, bibir ini tak lagi bisa
mempertahankan lengkungannya. Ia terkunci rapat. Ia bungkam, terbujur kaku,
dingin, pucat. Tak ada lagi senyuman seperti biasanya. Apakah, betul hipotesa
ku? Bahwa kita memang tak mungkin bertemu –maksudku untuk bersatu-_-V?
Ah,
mengapa rasanya harus begini menyesakkan. Kala hati ingin menyapa. Akan tetapi, hati
diseberang sana tak peduli dengan kegalauan ini. kapan, aku bisa menjadi
pemilik dari setiap senyum yang engkau tunjukkan untuk publik? Entah, aku tak bisa
berteriak seperti penggemarmu yang lainnya ketika melihat aksimu itu. saat itu,
aku hanya terdiam. Terpaku. Dingin. Layaknya benda tak bernyawa. Bahkan, untuk
sekedar mengeja namamu pun, tak semudah biasanya. Obat bius apa yang engkau
pakai, sehingga menimbulkan efek yang sedemikian rupa pada diriku?
Jadi,
bagaimanakah dengan perasaanku yang satu ini? layakkah ia diserukan sebagai
seorang idola? Atau, pantaskah ia dinobatkan sebagai seorang
pangeran? Sebetulnya, siapa dia? Mengapa dia begitu berarti? Pasalnya,
kehadirannya –walau hanya sekedar dari layar kaca- dapat mengobati sesuatu yang
terasa sakit di relung hati ini.
Tuhan, bagaimana mungkin perasaan ini terus tumbuh
dan menancap semakin dalam. Bagaimana mungkin aku bisa menyayanginya? Padahal,
aku terus meyakinkan diriku, bahwa-aku-hanya-sekedar-menyukainya? Oh tidak! Aku
belum berani untuk mengoarkan kata cinta. Karena untuk saat ini, kata cinta
hanya pantas ditujukan untuk-Mu, Rasulku, orang tuaku, dan keluargaku.
-Entah mengapa, malam ini, anganku tentangnya
semakin terlihat nyata. Aku harap dia akan kembali datang. Dalam dunia mimpiku.
Selamat malam. Aku menyayangimu…….pangeran gsd<3-
Regard,
Syifa Ahliya
-SA-
Follow me on twitter: @syifahliya








1 komentar:
pasti mendapatkan yang lebih baik kok nanti, yang seiman. :)
event blogger: review tempat makan favorit, berhadiah Galaxy pocket dan voucher2 lho!
Posting Komentar