Bahkan, di sela-sela gemericik
hujan
Diantara cakrawala senja
Senyumanmu, masih jelas
Disana, di relung hati.
**
“Langit, bisakah kau menjawab
pertanyaanku malam ini? Apa maksud dari semua yang telah aku alami ini?
Mungkinkah hal itu dinamakan keajaiban? Atau bahkan, musibah? Disaat aku
berharap sosok itu mendekat, namun yang aku temui, malah sosoknya dalam wujud
yang sangat berbeda. Dia bukan lagi seseorang yang aku tunggu itu. Dia telah
berubah.”.
**
Aku harus menemuinya, aku tak boleh mengulur
waktu lagi. Ya, aku harus berani menemuinya. Batin Intan berkoar-koar. Ia
tak tahu mengapa keputusan hatinya begitu kuat. Yang ia tahu hanyalah, ia harus
menemui orang itu. Ya, orang yang telah membuat hatinya kalut semalaman. Masa
lalu, yang tengah menanam benih untuk kembali.
Pagar
putih itu, telah ia capai. Namun, langkahnya terhenti. Kiranya, keberaniannya
cukup sampai disini. Didepan pagar itu saja. Tanpa berani selangkah pun
memasuki rumah luas itu. “Sial, kunaon aku teh takut kieu atuh lah.” Kata Intan
putus asa. Ia masih bertanya-tanya. Masuk atau pulang. Masuk atau pulang. Masuk
atau pulang. Hanya itu yang ada dipikiran Intan. Karena saat ini, Intan harus
memikirkan keinginannya matang-matang. Baginya, bertemu dengan sosok itu,
seperti masuk ke kandang macan.
Tanpa
disadarinya, dari dalam jendela rumah, seseorang berkacamata tengah menilik
figurnya. Memperhatikan dan sedikit mewaspadainya. Takut-takut, ia adalah
seorang pencuri yang sedang menyamar. Namun akhirnya, ia putuskan untuk keluar
rumah. Dan menemui gadis yang tengah berdiri di depan pagar rumahnya.
“Siapa
kamu?” Intan tersentak mendengar suara itu. Ada seseorang yang tiba-tiba saja
memanggilnya. Intan berniat lari, karena rasa takutnya sudah sampai ke ubun-ubun.
Namun, ia urungkan niatnya setelah melihat sosok Pak Darmo berdiri di ambang
pintu. “Assalamu’alaikum, pak.” Katanya lembut, sambil mengulum senyum ramah
kepada Pak Darmo. “Wa’alaikumsalam, eh Nak Intan. Ada apa?” sapa Pak Darmo tak
kalah ramah. Karena mata Pak Darmo memang sudah presbiopi, maka tadi ia tak
melihat jelas siapa orang yang tengah berdiri di depan rumahnya (yah, walaupun
ia sudah memakai kaca mata berlensa rangkap). ‘Rasanya sungguh aneh, jika
lelaki itu adalah cucu Pak Darmo. Sifat mereka berbeda sekali. Bahkan dua ribu
kali.’ Batinnya.
“Anak
muda jaman sekarang, ditanya malah melamun.” Pak Darmo terkekeh geli, melihat
tingkah Intan. “Eh, anu pak, saya….mm…saya…” Intan berpikir sejenak. Apakah ia
akan benar-benar melaksanakan niatnya? Kalung itu, ia dekap dalam-dalam.
Berharap siempunya dapat merasakan. “Yasudah, sini masuk dulu, tan.” Dengan
ragu, Intan melangkahkan kaki ke rumah putih itu. Matanya memandang sekitar,
terlihat sangat waspada. Berharap, orang itu tak akan muncul. Ia juga tak
mengerti, mengapa niatnya berubah begitu saja. Perlahan tapi pasti. Semakin ia
melangkah ke dalam rumah itu, semakin rasa rakut itu menghadangnya. Menyergap
dalam-dalam.
“Pak,
saya sebenarnya ingin melamar kerja. Saya ingin kerja di kebun teh bapak.” Kata
Intan malu-malu, sambil menyusupkan rambutnya ke belakang telinganya (Intan pun
tak mengerti, mengapa tiba-tiba yang ia tanyakan adalah perihal ini). Pak Darmo
sedikit terkejut mendengar pernyataan Intan. Namun, tak berapa lama kemudian ia
tersenyum. “Kamu sudah dewasa sekarang, tan. Berapa lama bapak tidak bertemu
denganmu? Yah, mungkin semenjak kejadian itu, hubungan keluargaku dan kamu
semakin merenggang.” Intan bungkam mendengar jawaban Pak Darmo. Jujur saja, ia
tak mengerti.
“Maksud
bapak?” Tanya Intan. “Apa kamu tidak ingat?” Pak Darmo malah balik bertanya.
“Saya tidak mengerti, pak.” . “Apa kamu ingat dulu kita sangat sering berjumpa.
Bahkan, kamu pernah duduk di sini, dipangkuan saya.” Intan mencoba mengingat
apa yang Pak Darmo katakan. Bukannya ingat sesuatu, ia malah semakin dibuat
bingung. “Ahaha, saya tahu, mungkin semenjak kepindahanmu itu ya?” dulu, Intan
memang pernah menetap di Jakarta. Namun hanya sementara. 5 tahun saja. Dan itu
pun terpaksa. Ia harus mengikuti kemauan kakaknya. Karena Teh Ina bilang, di
Jakarta mah banyak lowongan pekerjaan. Tapi, ia tak yakin pernah bermain atau
bahkan duduk di pangkuan Pak Darmo. Toh rasanya, sekarang masih sangat canggung
ketika berbincang dengannya.
“Maaf, pak, tapi saya benar-benar
nggak paham.” Kata Intan jujur. “Hm begini…”.
“Pa,
there’s a calling for you.” Suara wanita paruh baya tiba-tiba memecah
keheningan diantara mereka. Intan menengok ke arah datangnya suara, dan ia
ternganga melihat siapa dia. “Tunggu sebentar ya, tan.” Pak Darmo beranjak dari
tempat duduknya, dan masuk ke dalam rumah untuk menerima panggilan itu. “YOU???
What’s up?” Tanya Ibu tersebut kepada Intan (setelah ia memastikan Pak Darmo
masuk ke dalam menerima panggilannya). “Ehehe, ketemu lagi sama tante yang
bengong itu. Saya ada perlu sama bapak, tante.” Kata Intan polos. “Saya minta,
sekarang juga kamu pergi dari sini!” Merry mempersilahkan Intan untuk
meninggalkan kediamannya. “Loh? Kenapa tan? Saya ingin berbicara dengan Pak
Darmo!” . “Pasti masalah itu kan yang akan kamu bicarakan dengan papa saya?
Agar kami mau menerimamu kembali? Iya?” Spontan, Merry menutup mulutnya. Dan ia
mengutuk dirinya pelan.
“Maksud
tante apa sih? Saya betul-betul nggak paham. Tadi Pak Darmo berbicara aneh. Dan
sekarang tante. Ini rumah atau gua misterius sih?” intan mulai kesal. “Saya
minta kamu pergi sekarang juga.” . “Tapi tante…”. “Ini rumah saya, dan saya
berhak bertindak semau saya. Karena ini bukan urusanmu. Sekali lagi, saya minta
kamu pergi dari rumah ini. Dan saya harap, saya tidak akan melihat tampangmu
lagi. GO AWAY!” telak, Intan tak bisa lagi berkutik dengan penekanan yang
diberikan oleh Merry. Walau ia tak mengerti mengapa ia tiba-tiba diusir, tapi
tetap saja, Intan harus menurut. Karena, semakin ia diam, semakin ia tertindas.
**
“Aku sedikit berharap, celah itu
masih ada. Walau hanya setitik. Karena, hm kau tahu? Aku selalu bertanya-tanya.
Masihkah kau menyimpan sederet namaku di hatimu yang sekarang membeku?”
**
“Teh,
teteh….” Panggil Intan kepada kakaknya. “Apa sih tan?” Ina keluar dari dapur
dengan langkah tergesa. “Teteh nggak ngebun?” Tanya Intan penasaran. “Sekarang
kan teteh libur, tan.”. “Apa kita pernah ada hubungan dekat dengan keluarga Pak
Darmo?” Ina terdiam seketika, mendengar pertanyaan Intan. “Hubu..ngan katamu?
Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?” . “Teh, teteh nggak perlu tahu
kenapa Intan nanya gini. Sekarang yang penting, teteh jawab pertanyaan Intan!”
nada bicaranya meninggi, menandakan ia sedang sungguh-sungguh. “Teteh nggak
tahu, tan.” Jawab Ina lemah. “Apa? Teteh nggak tahu? Teteh serius kalau teteh
nggak tahu? Teh, sebelum kita pindah ke Jakarta, itu pasti ada suatu hal yang
teteh sembunyikan dari aku kan? Jawab teh jawab!”
“Teteh
bener-bener nggak tahu, tan. Sungguh.”. “Kenapa sih, dari dulu, teteh selalu
ngerahasiain sesuatu dari Intan? Kenapa teteh nggak pernah mau jujur. Dulu, pas
Intan tanya, dimana orang tua kita, teteh cuman ngasih tahu mereka udah nggak
ada. Tapi, setelah Intan mencari tahu, ternyata kan kita adalah anak yang
diusir. Kenapa sih teh, teteh nggak mau jujur sama Intan? Memangnya Intan itu
anak kecil apa?”
“Bukan
gitu maksud teteh, tan. Kamu, kamu cuman….”. “Iya, Intan tahu, Intan tahu kalau
Intan cuman remaja bodoh yang nggak bisa ngelanjutin sekolah. Yang bisanya
cuman mikirin masa kecilnya yang gak jelas itu kan? Iya kok, Intan nyadar diri.
Intan mau pergi saja.” Intan marah. Sangat marah. Ia merasa, ia adalah gadis
terbodoh yang ada di desa itu. Ia hanya gadis yang diciptakan bagai seonggok
kayu, yang tidak tahu apa-apa. Sebetulnya, apa yang terjadi dengan Intan?
**
Intan
berlari ke kamarnya. Memasukkan baju-bajunya kedalam tas besar. Tas satu-satunya
yang ia miliki. Ia ingin pergi ke panti jompo saja. Tinggal bersama neneknya
lebih baik, dari pada ia terus saja diam ditempat yang dipenuhi dengan
fakta-fakta palsu dan kebohongan. Tempat yang membuat ia semakin lama, semakin
merasa terasingkan dari dunia luar. Hm, ralat, sepertinya bukan dunia luar. Sungguh,
ia tak peduli dengan dunia di luar sana. Dengan dunia di sekitarnya, ia tak
peduli. Karena, ia hanya peduli dengan teman kecilnya. Dengan masa lalunya,
yang mungkin tidak berharga bagi orang lain yang menyaksikan kisah Intan. Tapi,
siapa kira? Baginya, masa lalunya, masa kecilnya, adalah masa depannya. Karena,
bukankah orang bilang masa depan penuh dengan bahagia? Dan, tentu saja, ia
hanya bisa menemukan kebahagiaannya dengan masa lalunya. Mungkin ini bodoh,
tapi ia tak peduli. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia hanya ingin
menenangkan pikirannya. Mungkin neneknya bisa membantu.
“Tan,
Intan! Kamu teh jangan ambekan kitu atuh (jangan marah-marah kaya gitu). Emangnya
kamu mau pergi kemana gitu, tan?” Ina mendekati adiknya, dengan cara yang lebih
lembut. “Nenek.” Jawab Intan singkat, tapi mampu membuat kakaknya terkesiap. “Sekarang,
kasih tahu Intan, dimana Panti Jompo nenek!” matanya menatap tajam, tepat
dimata kakak sulungnya itu. Ina memalingkan wajah, mencoba mencari-cari alasan.
“Kamu, serius?” Tanya Ina untuk meyakinkan adiknya itu. “Aku lebih baik tinggal
bersama nenek. Dari pada disini, sama teteh, yang selalu nyembunyiin segalanya
dari Intan. Teteh pikir Intan teh masih kecil kitu?” gurat kekecewaan terpata
jelas diwajahnya.
“Tan,
teteh lupa dimana panti nenek.” Ucap Ina lirih, akhirnya. Intan memandang wajah
kakaknya tak percaya. “Gimana bisa teteh lupa? Gimana bisa teh? Itu NENEK KITA!
Nenek yang teteh bilang cuman satu-satunya keluarga yang kita miliki. Nenek yang
teteh bilang dulu merawat kita, setelah kita diusir mama papa. Dan, sekarang,
teteh bilang LUPA?” Emosi Intan kembali menggebu-gebu.
“Rahasia
apa lagi yang teteh sembunyiin dari aku teh?” kata Intan akhirnya. Ia terduduk
lesu. Menatap nanar jendela kamarnya. Memikirkan hidupnya yang berantakan ini. “Tan…”
Ina ikut duduk disebelah adiknya. Merangkulnya. Mengusap pundaknya. “Maafin
teteh…” kata Ina pelan dan melepas rangkulannya di pundak adiknya itu. Suaranya
seperti sebuah bisikan. Ah tunggu, suara apa itu yang menggelitik pendengaran
Intan. Apakah itu sebuah…..isakan?
Intan
menoleh, mendapati kakaknya yang sekarang menutupi wajahnya dengan kedua
telapak tangannya. Tubuh Ina bergetar hebat. Titik-titik air matanya,
berjatuhan ke lantai. “Untuk?” Jawab Intan dingin, berusaha tak peduli. “Selama
ini, teteh banyak bohongin kamu. Selama ini, teteh bilang bahwa……”. “Kenapa teh?”
Dahi Intan semakin berkerut. “Sebenarnya…….”
**
Thanks a lot, yang mau ngeluangin waktunya buat baca cerita ini. Tidak ada maksud apapun, hanya ingin menuliskan imajinasi yang ala kadarnya ehehe =D. Mohon apresiasinya yaa:).
Regard,
-SA-
(Syifa Ahliya).
Follow me on twitter @syifahl








0 komentar:
Posting Komentar