The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams :)

RSS

Symphoni of Sense (Part 2): Keresahan Hati


Bahkan, di sela-sela gemericik hujan
Diantara cakrawala senja
Senyumanmu, masih jelas
Disana, di relung hati.
**
“Langit, bisakah kau menjawab pertanyaanku malam ini? Apa maksud dari semua yang telah aku alami ini? Mungkinkah hal itu dinamakan keajaiban? Atau bahkan, musibah? Disaat aku berharap sosok itu mendekat, namun yang aku temui, malah sosoknya dalam wujud yang sangat berbeda. Dia bukan lagi seseorang yang aku tunggu itu. Dia telah berubah.”.
**
            Aku harus menemuinya, aku tak boleh mengulur waktu lagi. Ya, aku harus berani menemuinya. Batin Intan berkoar-koar. Ia tak tahu mengapa keputusan hatinya begitu kuat. Yang ia tahu hanyalah, ia harus menemui orang itu. Ya, orang yang telah membuat hatinya kalut semalaman. Masa lalu, yang tengah menanam benih untuk kembali.
            Pagar putih itu, telah ia capai. Namun, langkahnya terhenti. Kiranya, keberaniannya cukup sampai disini. Didepan pagar itu saja. Tanpa berani selangkah pun memasuki rumah luas itu. “Sial, kunaon aku teh takut kieu atuh lah.” Kata Intan putus asa. Ia masih bertanya-tanya. Masuk atau pulang. Masuk atau pulang. Masuk atau pulang. Hanya itu yang ada dipikiran Intan. Karena saat ini, Intan harus memikirkan keinginannya matang-matang. Baginya, bertemu dengan sosok itu, seperti masuk ke kandang macan.
            Tanpa disadarinya, dari dalam jendela rumah, seseorang berkacamata tengah menilik figurnya. Memperhatikan dan sedikit mewaspadainya. Takut-takut, ia adalah seorang pencuri yang sedang menyamar. Namun akhirnya, ia putuskan untuk keluar rumah. Dan menemui gadis yang tengah berdiri di depan pagar rumahnya.
            “Siapa kamu?” Intan tersentak mendengar suara itu. Ada seseorang yang tiba-tiba saja memanggilnya. Intan berniat lari, karena rasa takutnya sudah sampai ke ubun-ubun. Namun, ia urungkan niatnya setelah melihat sosok Pak Darmo berdiri di ambang pintu. “Assalamu’alaikum, pak.” Katanya lembut, sambil mengulum senyum ramah kepada Pak Darmo. “Wa’alaikumsalam, eh Nak Intan. Ada apa?” sapa Pak Darmo tak kalah ramah. Karena mata Pak Darmo memang sudah presbiopi, maka tadi ia tak melihat jelas siapa orang yang tengah berdiri di depan rumahnya (yah, walaupun ia sudah memakai kaca mata berlensa rangkap). ‘Rasanya sungguh aneh, jika lelaki itu adalah cucu Pak Darmo. Sifat mereka berbeda sekali. Bahkan dua ribu kali.’ Batinnya.
            “Anak muda jaman sekarang, ditanya malah melamun.” Pak Darmo terkekeh geli, melihat tingkah Intan. “Eh, anu pak, saya….mm…saya…” Intan berpikir sejenak. Apakah ia akan benar-benar melaksanakan niatnya? Kalung itu, ia dekap dalam-dalam. Berharap siempunya dapat merasakan. “Yasudah, sini masuk dulu, tan.” Dengan ragu, Intan melangkahkan kaki ke rumah putih itu. Matanya memandang sekitar, terlihat sangat waspada. Berharap, orang itu tak akan muncul. Ia juga tak mengerti, mengapa niatnya berubah begitu saja. Perlahan tapi pasti. Semakin ia melangkah ke dalam rumah itu, semakin rasa rakut itu menghadangnya. Menyergap dalam-dalam.
            “Pak, saya sebenarnya ingin melamar kerja. Saya ingin kerja di kebun teh bapak.” Kata Intan malu-malu, sambil menyusupkan rambutnya ke belakang telinganya (Intan pun tak mengerti, mengapa tiba-tiba yang ia tanyakan adalah perihal ini). Pak Darmo sedikit terkejut mendengar pernyataan Intan. Namun, tak berapa lama kemudian ia tersenyum. “Kamu sudah dewasa sekarang, tan. Berapa lama bapak tidak bertemu denganmu? Yah, mungkin semenjak kejadian itu, hubungan keluargaku dan kamu semakin merenggang.” Intan bungkam mendengar jawaban Pak Darmo. Jujur saja, ia tak mengerti.
            “Maksud bapak?” Tanya Intan. “Apa kamu tidak ingat?” Pak Darmo malah balik bertanya. “Saya tidak mengerti, pak.” . “Apa kamu ingat dulu kita sangat sering berjumpa. Bahkan, kamu pernah duduk di sini, dipangkuan saya.” Intan mencoba mengingat apa yang Pak Darmo katakan. Bukannya ingat sesuatu, ia malah semakin dibuat bingung. “Ahaha, saya tahu, mungkin semenjak kepindahanmu itu ya?” dulu, Intan memang pernah menetap di Jakarta. Namun hanya sementara. 5 tahun saja. Dan itu pun terpaksa. Ia harus mengikuti kemauan kakaknya. Karena Teh Ina bilang, di Jakarta mah banyak lowongan pekerjaan. Tapi, ia tak yakin pernah bermain atau bahkan duduk di pangkuan Pak Darmo. Toh rasanya, sekarang masih sangat canggung ketika berbincang dengannya.
“Maaf, pak, tapi saya benar-benar nggak paham.” Kata Intan jujur. “Hm begini…”.
            “Pa, there’s a calling for you.” Suara wanita paruh baya tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka. Intan menengok ke arah datangnya suara, dan ia ternganga melihat siapa dia. “Tunggu sebentar ya, tan.” Pak Darmo beranjak dari tempat duduknya, dan masuk ke dalam rumah untuk menerima panggilan itu. “YOU??? What’s up?” Tanya Ibu tersebut kepada Intan (setelah ia memastikan Pak Darmo masuk ke dalam menerima panggilannya). “Ehehe, ketemu lagi sama tante yang bengong itu. Saya ada perlu sama bapak, tante.” Kata Intan polos. “Saya minta, sekarang juga kamu pergi dari sini!” Merry mempersilahkan Intan untuk meninggalkan kediamannya. “Loh? Kenapa tan? Saya ingin berbicara dengan Pak Darmo!” . “Pasti masalah itu kan yang akan kamu bicarakan dengan papa saya? Agar kami mau menerimamu kembali? Iya?” Spontan, Merry menutup mulutnya. Dan ia mengutuk dirinya pelan.
            “Maksud tante apa sih? Saya betul-betul nggak paham. Tadi Pak Darmo berbicara aneh. Dan sekarang tante. Ini rumah atau gua misterius sih?” intan mulai kesal. “Saya minta kamu pergi sekarang juga.” . “Tapi tante…”. “Ini rumah saya, dan saya berhak bertindak semau saya. Karena ini bukan urusanmu. Sekali lagi, saya minta kamu pergi dari rumah ini. Dan saya harap, saya tidak akan melihat tampangmu lagi. GO AWAY!” telak, Intan tak bisa lagi berkutik dengan penekanan yang diberikan oleh Merry. Walau ia tak mengerti mengapa ia tiba-tiba diusir, tapi tetap saja, Intan harus menurut. Karena, semakin ia diam, semakin ia tertindas.
**
“Aku sedikit berharap, celah itu masih ada. Walau hanya setitik. Karena, hm kau tahu? Aku selalu bertanya-tanya. Masihkah kau menyimpan sederet namaku di hatimu yang sekarang membeku?”     
**
            “Teh, teteh….” Panggil Intan kepada kakaknya. “Apa sih tan?” Ina keluar dari dapur dengan langkah tergesa. “Teteh nggak ngebun?” Tanya Intan penasaran. “Sekarang kan teteh libur, tan.”. “Apa kita pernah ada hubungan dekat dengan keluarga Pak Darmo?” Ina terdiam seketika, mendengar pertanyaan Intan. “Hubu..ngan katamu? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?” . “Teh, teteh nggak perlu tahu kenapa Intan nanya gini. Sekarang yang penting, teteh jawab pertanyaan Intan!” nada bicaranya meninggi, menandakan ia sedang sungguh-sungguh. “Teteh nggak tahu, tan.” Jawab Ina lemah. “Apa? Teteh nggak tahu? Teteh serius kalau teteh nggak tahu? Teh, sebelum kita pindah ke Jakarta, itu pasti ada suatu hal yang teteh sembunyikan dari aku kan? Jawab teh jawab!”
            “Teteh bener-bener nggak tahu, tan. Sungguh.”. “Kenapa sih, dari dulu, teteh selalu ngerahasiain sesuatu dari Intan? Kenapa teteh nggak pernah mau jujur. Dulu, pas Intan tanya, dimana orang tua kita, teteh cuman ngasih tahu mereka udah nggak ada. Tapi, setelah Intan mencari tahu, ternyata kan kita adalah anak yang diusir. Kenapa sih teh, teteh nggak mau jujur sama Intan? Memangnya Intan itu anak kecil apa?”
            “Bukan gitu maksud teteh, tan. Kamu, kamu cuman….”. “Iya, Intan tahu, Intan tahu kalau Intan cuman remaja bodoh yang nggak bisa ngelanjutin sekolah. Yang bisanya cuman mikirin masa kecilnya yang gak jelas itu kan? Iya kok, Intan nyadar diri. Intan mau pergi saja.” Intan marah. Sangat marah. Ia merasa, ia adalah gadis terbodoh yang ada di desa itu. Ia hanya gadis yang diciptakan bagai seonggok kayu, yang tidak tahu apa-apa. Sebetulnya, apa yang terjadi dengan Intan?
**
            Intan berlari ke kamarnya. Memasukkan baju-bajunya kedalam tas besar. Tas satu-satunya yang ia miliki. Ia ingin pergi ke panti jompo saja. Tinggal bersama neneknya lebih baik, dari pada ia terus saja diam ditempat yang dipenuhi dengan fakta-fakta palsu dan kebohongan. Tempat yang membuat ia semakin lama, semakin merasa terasingkan dari dunia luar. Hm, ralat, sepertinya bukan dunia luar. Sungguh, ia tak peduli dengan dunia di luar sana. Dengan dunia di sekitarnya, ia tak peduli. Karena, ia hanya peduli dengan teman kecilnya. Dengan masa lalunya, yang mungkin tidak berharga bagi orang lain yang menyaksikan kisah Intan. Tapi, siapa kira? Baginya, masa lalunya, masa kecilnya, adalah masa depannya. Karena, bukankah orang bilang masa depan penuh dengan bahagia? Dan, tentu saja, ia hanya bisa menemukan kebahagiaannya dengan masa lalunya. Mungkin ini bodoh, tapi ia tak peduli. Setidaknya, untuk sementara waktu, ia hanya ingin menenangkan pikirannya. Mungkin neneknya bisa membantu.
            “Tan, Intan! Kamu teh jangan ambekan kitu atuh (jangan marah-marah kaya gitu). Emangnya kamu mau pergi kemana gitu, tan?” Ina mendekati adiknya, dengan cara yang lebih lembut. “Nenek.” Jawab Intan singkat, tapi mampu membuat kakaknya terkesiap. “Sekarang, kasih tahu Intan, dimana Panti Jompo nenek!” matanya menatap tajam, tepat dimata kakak sulungnya itu. Ina memalingkan wajah, mencoba mencari-cari alasan. “Kamu, serius?” Tanya Ina untuk meyakinkan adiknya itu. “Aku lebih baik tinggal bersama nenek. Dari pada disini, sama teteh, yang selalu nyembunyiin segalanya dari Intan. Teteh pikir Intan teh masih kecil kitu?” gurat kekecewaan terpata jelas diwajahnya.
            “Tan, teteh lupa dimana panti nenek.” Ucap Ina lirih, akhirnya. Intan memandang wajah kakaknya tak percaya. “Gimana bisa teteh lupa? Gimana bisa teh? Itu NENEK KITA! Nenek yang teteh bilang cuman satu-satunya keluarga yang kita miliki. Nenek yang teteh bilang dulu merawat kita, setelah kita diusir mama papa. Dan, sekarang, teteh bilang LUPA?” Emosi Intan kembali menggebu-gebu.
            “Rahasia apa lagi yang teteh sembunyiin dari aku teh?” kata Intan akhirnya. Ia terduduk lesu. Menatap nanar jendela kamarnya. Memikirkan hidupnya yang berantakan ini. “Tan…” Ina ikut duduk disebelah adiknya. Merangkulnya. Mengusap pundaknya. “Maafin teteh…” kata Ina pelan dan melepas rangkulannya di pundak adiknya itu. Suaranya seperti sebuah bisikan. Ah tunggu, suara apa itu yang menggelitik pendengaran Intan. Apakah itu sebuah…..isakan?
            Intan menoleh, mendapati kakaknya yang sekarang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuh Ina bergetar hebat. Titik-titik air matanya, berjatuhan ke lantai. “Untuk?” Jawab Intan dingin, berusaha tak peduli. “Selama ini, teteh banyak bohongin kamu. Selama ini, teteh bilang bahwa……”. “Kenapa teh?” Dahi Intan semakin berkerut. “Sebenarnya…….”
**
Thanks a lot, yang mau ngeluangin waktunya buat baca cerita ini. Tidak ada maksud apapun, hanya ingin menuliskan imajinasi yang ala kadarnya ehehe =D. Mohon apresiasinya yaa:).

Regard,
-SA-
(Syifa Ahliya).

Follow me on twitter @syifahl

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar