Dear Allah,
Aku tahu, aku bodoh. Benar-benar bodoh. Aku tak berdaya, sama sekali tak memiliki kekuatan apapun. Aku manusia kecil, lemah, tak berarti. Aku tak bisa apa-apa. Karena selama ini, yang aku lakukan, yang aku jalani, itu semua berkat kekuatan dari-Mu ya Rabb. Sungguh, hanya Engkau yang Maha Segalanya.
Dear Allah,
Maafkan aku. Aku yang tak berdaya ini, telah dikendalikan oleh sebuah rasa yang aku sendiripun tak mampu menjelaskannya. Sungguh, aku tak mengerti. Dengan raungan hati yang tak masuk akal ini. Mengapa? Ya, karena, apa yang hati katakan memang terkadang tidak sesuai dengan logika.
Dear Allah,
Engkau yang telah menciptakan tubuh ini, jiwa ini, ruh ini, termasuk hati ini. Kau tanamkan anugerah bagi umat-Mu, termasuk aku. Akupun menerimanya. Ya, itu adalah sebuah hasrat. Hasrat untuk merasakan sebuah perasaan yang.....ah, terlalu sulit bagiku untuk menjabarkannya. Aku dilanda bimbang. Bukankah kita tak boleh mencintai makhluk-Mu dengan berlebihan?
Dear Allah,
Izinkan aku bercerita. sebuah pengakuan dari rahasia hatiku selama ini. Pengakuan yang mungkin tak penting. Tapi, sungguh, masalah hati ini, sangat mengganggu. Tahukah Engkau, bahwa setiap malamnya, aku bahkan terkadang susah tidur. Aku terus bertanya-tanya, apa sebetulnya yang sedang terjadi padaku. Aku merasakan sebuah romansa yang berbeda. Apakah ini sebuah rasa......ah, akupun tak berani untuk mengatakannya. Karena, aku belum tahu banyak tentang hal ini.
Dear Allah,
Aku tahu, mungkin, Kau berpikir aku gila. Aku selalu mendoakan orang yang bahkan mungkin tidak pernah menyebutkan namaku, dalam munajatnya pada-Mu. Aku tersenyum hanya karena mengingat kisah yang lalu. Dan terkadang, aku bisa tiba-tiba menangis. Sungguh, apa namanya aku ini kalau bukan gila? Dan semua ini, karena orang yang sama. Betapa gilanya, bukan?
Dear Allah,
Bahkan secarik pesan kecil darinya pun, bisa membuatku sungguh tak berdaya. Hanya beberapa kata yang dia tulis, atau hanya sapaan 'hai' yang ia berikan, tapi itu berdampak besar bagiku. Terkadang, aku merutuk sendiri. Mengapa aku bisa sebodoh ini? Apa, aku terlalu berlebihan? Aku rasa, tidak. Atau bahkan....iya? Akupun tak tahu. Siapa yang menginginkan dirinya menjadi gila? Tak ada bukan?
Dear Allah,
saat ingatanku kembali ke masa itu. Masa dimana aku masih bisa dengan rutin menatap secara sembunyi akan senyuman kecilnya, ada sesuatu yang berdesir halus. Menggelitik. Tapi, indah. Sesuatu itu aku rasakan tepat di ulu hatiku. Dan aku selalu bertanya pada-Mu saat itu. "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?". Ingatanku pun kembali ke waktu yang telah lalu itu, waktu dimana aku selalu merasa tenang ketika berada dalam naungan mata teduhnya. Cahayanya, tak pernah redup. Iya, karena hingga sekarangpun (disaat aku tak lagi bisa bertemu sumber cahaya itu secara langsung) aku masih bisa merasakannya. Menerangi kegelisahanku. Dan saat itu, aku kembali bertanya "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?". Lagi-lagi, aku terbayang-bayang saat yang telah terlewati itu, saat aku selalu terkesima dengan perkataan yang terlontar dari mulutnya. Dan, saat tawanya merekah, ya Rabb.....sungguh itu menghadirkan sepercik bahkan berjuta-juta percik rasa bahagia bagiku. Akupun kembali bertanya, "ya Allah, apa yang sedang terjadi padaku?".
Dear Allah,
Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku.
Karena aku, tak pernah ingin mencoba menghapus dirinya dari alam khayalku. Karena aku terus mempertahankan bayangannya, walaupun kenyataannya, ia tak peduli denganku. Karena aku, kadang tak bisa khusyu ketika berkomunikasi dengan-Mu, hanya karena makhluk ciptaan-Mu itu.
Dear Allah,
sampai saat ini, aku masih terus berharap. Lagi-lagi, mungkin semua orang mengira aku gila. Karena aku berharap untuk sesuatu yang semu. Yang bahkan kepastiannya pun belum jelas adanya. Allah selalu tahu, apa harapanku, karena harapan itu selalu aku katakan dengan hati tulus ketika aku merendah dihadapan-Nya. Ketika aku bersujud pada-Nya. Harapan itu, tak pernah luput sedikitpun. Lagi-lagi, memang benar, aku ini gila dan tidak normal.
Dear Allah,
tapi aku tak peduli. Karena, dengan begini saja, aku sudah bahagia. Dengan bermimpi saja, aku merasakan itu seperti sebuah kenyataan. Walaupun semu.
Dear Allah,
Aku mohon, jaga dia dan jaga hatinya :----).
NB: Yang membaca ini, tolong jaga rahasi ya, jangan sampai dia tahu. HEHEHE:)))
Regard,
Syifa Ahliya
-SA-
Follow me on twitter
@syifahliya








1 komentar:
AMIIIIIINNNNN YA ALLAH..
Posting Komentar